
Suasana canggung yang terjadi akibat pernyataan gadis itu yang belum mencuci rambut selama dua minggu pun di cairkan oleh Jessica.
"Sudahlah. Sekarang naik lah ke dalam kereta kuda milik Ku, Aku akan mengantar Mu pulang. Keluarga Mu pasti sangat cemas karena kamu belum pulang ke rumah." Ujar Jessica dan hendak memanggil penjaga nya.
"Sa.. Saya.. Sudah tidak punya keluarga." Cetus si gadis itu dengan suara yang patah patah.
Seperti nya bukan karena Dia gugup karena berhadapan dengan Jessica, tetapi seperti nya gadis itu gagap. Mungkin ada faktor lain yang menyebabkan Dia gagap di suasana tertentu.
"Benar kah? Kalau begitu naik dulu saja ke dalam kereta kuda milik Ku. Kita akan sama-sama membahas tentang diri Mu, setelah Aku membereskan tiga raga manusia bodoh yang terkapar di sana." Ujar Jessica sambil menunjuk tiga sekawanan pria yang baru saja dia babat habis.
"Em.." Jawab gadis itu sambil mengangguk kan kepala nya, dan berjalan agak cepat ke arah kereta kuda.
Setelah gadis itu sudah masuk ke dalam kereta, Jessica pun memberi tanda pada para penjaga nya, yang selalu melihat Jessica dari berbagai sisi.
Setelah yakin bahwa tanda nya sudah di pahami, Jessica pun masuk ke dalam kereta kuda, dan dibuat syok dengan apa yang Dia lihat di dalam sana.
"Apa yang Kamu lakukan?" Tanya Jessica cukup heboh.
"Sa..Saya.. Saya sedang duduk." Jawab gadis itu.
Jessica menyapu wajah nya dengan cukup kasar. Jessica tahu bahwa gadis itu saat ini sedang duduk, tapi yang menjadi permasalahan nya adalah, gadis itu bukan duduk di bangku yang dilapisi dengan spons dan beludru, melainkan duduk di lantai kereta, tempat di mana kaki biasa di pijakan.
"Berdiri dan duduk di tempat yang tampak empuk itu." Perintah Jessica sambil menunjuk bangku di dalam kereta.
"Ta..Tapi.. Saya.. Saya hanya rakyat biasa.." Jawab gadis itu dan semakin menunduk.
"Memang kenapa sih kalau rakyat biasa ? Haahh, Kamu tenang saja, karena yang saat ini berbicara dengan Mu juga adalah seorang rakyat biasa. Tak ada perbedaan, jadi bersikap lah normal." Celetuk Jessica merasa frustasi. Dia tak bisa memperlakukan orang seperti budak.
Gadis itu cukup tercengang dengan perkataan Jessica. Karena baru kali ini Dia melihat ada rakyat biasa yang memiliki kereta kuda sendiri, kusir pribadi, dan juga seperti nya memiliki beberapa penjaga yang tidak dapat dilihat.
__ADS_1
***
Kereta kuda sudah dijalankan, dan gadis itu juga sudah duduk di tempat yang seharus nya. Kini Dia dan Jessica duduk saling berhadap-hadapan, dengan Jessica yang kini tengah memangku kaki nya dan melipat kedua tangan di dada. Jessica mengamati betul penampilan dari gadis yang ada di hadapannya saatnya.
"Memang jika di perhatikan lebih, seperti nya gadis ini tidak memiliki keluarga. Baju nya nampak lusuh, badan nya tanpa kotor, dan pasti rambut nya juga sudah penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Aku katakan. Dia tidak memakai sendal atau alas kaki, rambut nya juga tidak di sisir. Iyah juga sih, di cuci saja tidak apalagi di sisir. Badan nya juga tampak kurus, apa kah kehidupan rakyat biasa di luar sana ada yang lebih naas dari pada ini ? Lalu ke mana saja tindakan Raja yang memimpin negeri ini ? Apakah mereka hanya memangku kaki dan tangan mereka, dan dengan bangga nya memberitahu sampai ke semua pelosok, bahwa mereka adalah raja yang sangat kompeten ?"
Jessica terus bergelut dengan pikiran nya, sampai lupa bahwa gadis yang sedang dia tetap merasa tertekan dan hampir kesulitan dalam bernapas.
"Hei, Kamu baik baik saja ?" Tanya Jessica karena wajah gadis itu mendadak pucat dan berkeringat.
"A..Anda.. Anda terus menatap saya.." Jawab nya penuh rasa tidak nyaman.
"Ah.. Apakah itu sangat amat mengganggu Mu ? Maaf kan Aku, memang Aku terlalu tidak memikir kan perasaan Mu." Ucap Jessica dan mengurangi entitas tatapan mata nya.
Gadis itu hanya mengangguk patuh. Di dalam pikiran nya, dia sedang menebak-nebak, sampai mana kah kesatria wanita ini akan menendang nya keluar ? Karena jujur saja, gadis itu memiliki bau badan yang tidak sedap sama sekali.
Tapi yang luar biasa di sini, Jessica tidak memasang wajah jijik, dan menutup kedua lubang hidung nya dengan jemari. Jessica memasang wajah biasa-biasa saja, dan hal itu membuat gadis yang duduk di hadapan nya terheran heran. Sangat heran malah.
"Ba.. Baik.. Saya akan bercerita," ucap sang gadis.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
Awal nya, gadis ini tidak seharus nya berada di posisi di mana mirip seperti gembel. Kehidupan nya dulu bersama sang nenek sangat sederhana, namun selalu bahagia. Gadis ini dan sang nenek memiliki sebuah butik sederhana di ujung gang, yang berada di kampung halaman nya.
Tapi karena kesehatan sang nenek yang tiba-tiba menurun, membuat gadis ini terpaksa untuk meminjam uang pada sekelompok rentenir. Atau yang lebih tepat nya, para preman yang telah dihajar oleh Jessica tadi.
Namun walaupun sudah melakukan banyak upaya untuk membuat sang nenek pulih, yang di dapati oleh gadis itu malah kematian sang nenek.
Rumah nya pun disita oleh para preman itu, dengan dalih membayar bunga hutang. Tidak sampai di situ, butik dengan segala isi nya juga diambil alih oleh para preman itu, setiap kali menagih utang setiap minggu.
Dengan semua hal yang terjadi, gadis itu mendapati kemalangan hidup, yaitu menjadi miskin dengan tidak memiliki apa-apa.
Yang terakhir, karena sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk membayar hutang, para preman itu nekat ingin menjual nya ke rumah bordil.
Karena yang para preman itu tahu, gadis yang berhutang pada mereka ini lumayan cantik. Sehingga kalau dimodif sedikit saja, pasti akan menghasilkan uang untuk mereka.
Namun karena masih memiliki harga diri, gadis itu mencoba melakukan perlawanan yang seperti nya tidak berarti, sehingga diri nya terlempar ke tengah jalanan, dan hampir diinjak oleh kuda dan dilindas oleh kereta kuda miliki Jessica.
...***...
"Dan cerita selanjut nya sudah Anda ketahui. Anda datang seperti seorang kesatria wanita yang hebat, dan menolong saya yang bukan siapa-siapa ini. Bahkan para warga yang melihat saja berusaha agar tidak terlibat dengan urusan Saya."
Penjelasan pun berakhir, Jessica sempat speechless dengan penjelasan yang diberikan oleh gadis yang ada di hadapan nya saat ini. Bukan kah hal yang menimpa nya sudah sangat kelewatan ?
Memang saat di jaman modern, kehidupan Jessica lebih naas dari gadis ini. Namun Jessica tak mau ada gadis lain yang menjalani hidup seperti ini.
"Apakah kamu tidak menangis ? Jika Aku jadi Kamu, Aku pasti sudah menangis tersenggal-senggal, saat menceritakan pengalaman hidup Ku yang pahit." Kata Jessica.
Namun sang gadis yang sejak tadi hanya menundukkan kepala, menatap Jessica dengan mantap, dan menjawab perkataan Jessica barusan.
"Apakah.. Apakah jika saya menangis, semua permasalahan yang telah terjadi dapat membaik ? Atau apakah saya akan langsung mendapat sebuah keberuntungan ? Hal itu tidak akan terjadi bukan ? Bagi kami yang sejak lahir sudah ditakdirkan untuk menjadi orang miskin, menangis seperti nya tidak di perbolehkan. Apalagi tertawa, semua nya seakan menjadi semakin sulit saat seseorang menjadi miskin."
__ADS_1
Jessica tertegun. Perkataan gadis di hadapan nya ini terlalu sesuai fakta, hingga berhasil membuat ingatan masa lalu Jessica di zaman modern terputar secepat kilat di kepala nya.