
...***...
Beberapa menit sebelum kejadian tabrakan antara Jessica dan Xavier.
“Xavier, bukan kah Kamu sudah berjanji untuk duduk berdua dengan Ku saat Kepala Sekolah memberikan sambutan, dan menyaksikan banyak nya hal yang akan di pentaskan di panggung hari ini ?" Sebuah suara yang di buat buat agar nampak imut (Padahal menjijikkan) sedang memenuhi gendang telinga Xavier.
Xavier masa bodoh dan terus berjalan ke depan, karena akan sangat memakan tenaga nya jika harus menanggapi perkataan Tunangan nya ini.
"Ayolah Xavier, Aku sudah memilih tempat duduk terbaik yang dapat membuat kita terlihat sebagai Siswa yang langsung mendapatkan tempat duduk VVIP, dan menjadi pusat perhatian karena kita berdua sebagai Calon Raja dan Ratu bagi Kerajaan yang akan di bangun setelah kita
menikah.” Ucap Aldara lagi, kala merasa kurang puas karena Xavier tak kunjung memberikan respon yang baik kepada diri nya.
Dibelakang Xavier saat ini, sedang di ekori oleh Aldara. Mau kemana pun kecuali toilet Pria, barulah Aldara tidak mengekor
Namun tetap berdiri di depan pintu masuk sambil berkata “Xavier, cepatlah keluar. Aku kesepian.”
Mendengar kata kata Aldara yang seperti itu, sontak membuat Xavier bergidik ngeri. Dan jangan kan Xavier, pria lain saja tak akan tahan dengan situasi yang seperti ini.
Aldara terus memohon dan terus mengekor, sehingga mereka berdua berhasil menjadi pusat perhatian. Merasa kesabaran nya sudah di ujung batas maksimal, membuat Xavier mau tak mau harus berbalik dan menatap wajah yang tidak Dia sukai itu.
“Pergilah terlebih dahulu ke dalam Aula, Aku masih harus bertemu dengan kepala Sekolah. Jika kamu mengekor seperti ini, maka akan menghancurkan kesan baik saat baru bertemu Beliau, sekalipun Aku Putra Mahkota dari kerajaan Andora.”
Xavier pun memberikan perintah dengan suara yang masih terdengar lebut. Karena kontrol emosinya sudah sangat bagus, sehingga Xavier tidak akan kehilangan akal sehatnya, kecuali di situasi tertentu.
Karena Xavier seolah sudah memberikan lampu hijau, membuat mata Aldara berbinar dan langsung berlari masuk ke dalam Aula.
Setelah punggung belakang Aldara sudah tak terlihat lagi, Xavier langsung mendengus kesal dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
“Kok bisah ada manusia seperti itu ?Apakah urat malu nya sudah diputuskan saat Dia baru lahir, sehingga Dia dapat berperilaku seperti tadi?”
Setelah bermonolog seperti itu, Xavier pun berjalan ke Arah lorong yang akan membawa nya ke Ruang Kepala Sekolah. Sambil berjalan, di dalam benak Xavier tersirat banyak pertanyaan yang sulit di utarakan satu persatu.
“Aku salah telah berharap dapat hidup bahagia dan Harmonis bersama dengan Aldara. Aku salah berharap dapat mencintai Aldara seperti Aku yang mencintai Jessica. Haah, skenario takdir selalu membuat semua hal yang Aku pikirkan menjadi salah. Kapan hal yang Aku pikirkan menjadi benar ? Seperti nya-“
BUUUUKK
“AAHHH!!!”
Pikiran Xavier seketika terhenti, karena merasa ada benda kecil yang menabrak nya. Xavier yang sudah muak dengan skenario menolong wanita yang jatuh, sontak memutar bola mata nya malas, dan berbatin “Apakah ini akan menjadi drama yang sudah ratusan kali aku temui ?”
Namun, selang beberapa detik kemudian, gadis yang ditabrak oleh Xavier tak kunjung meminta pertolongan seperti wanita-wanita sebelum nya. Dan hal ini membuat Xavier berpikir, apakah kali ini diri nya yang sudah terlalu kegeeran ?
__ADS_1
“Biar Aku buka obrolan ini dengan sesuatu yang diinginkan oleh setiap wanita yang tejatuh.” Batin Xavier.
“Maaf, tapi apa Kamu baik baik saja?”
“Aku mengatakan nya. Setelah ini Dia akan tersipu malu sambil berkata, Ya Aku baik baik saja. Jangan merasa bersalah, karena ini adalah keteledoran saya, jadi-“
“Bisakah Kamu tidak menanyakan pertanyaan yang bersifat omong kosong seperti itu ?”
“Maaf?”
"Ah, Aku tak sengaja mengeluarkan isi pikiran Ku, karena yang terdegar dari mulut gadis ini adalah sesuatu yang tidak pernah Aku dengar dari gadis yang selama ini menjatuhkan harga diri mereka di hadapan Ku."
Gadis ini terus mengeluarkan isi hati nya secara blak blakan, tanpa mempedulikan siapa lawan bicara nya saat ini.
"Tunggu, dia masih belum membuka mata nya ? Apakah rasa sakit yang Dia rasakan masih bagaikan setrum pada tulang belakang nya ? Ah gawat, seperti nya kali ini benar benar sebuah kecelakaan, dan bukan lah hal yang di sengaja. Aku harus membantu nya, guna sebagai permintaan maaf karena sudah menyamakan Nya dengan gadis yang selama ini Aku temui."
Meski sudah mendengar Xavier meminta maaf, Jessica masih terus meluapkan kekesalan nya. Seperti biasa, Jessica memang selalu tampil berbeda.
“Puff..”
"Astaga, Aku tak sengaja hampir tertawa, padahal kesan Dia pada Ku sedang tidak baik baik saja. Sial ! Eh ? Dia sudah membuka mata ? Apakah rasa nyerinya sudah agak berkurang? Tunggu, kenapa Dia melihat Ku dengan sangat intens ?Apakah Aku sedang di amati oleh nya ?Aku yang seorang Putra Mahkota ini sedang di amati oleh nya ?Hahh... Sudah pasti sedikit lagi Dia akan terperangah saat sadar bahwa yang ada di hadapan nya adalah Seorang Putra Mahkota. Lebih baik Aku mengulurkan tangan secepat nya, agar drama yang tidak Aku ingikan itu tidak terjadi saat ini."
Xavier pun mengulurkan tangan nya, dan sangat di luar nalar, yang di dapati nya adalah sebuah penolakan dengan wajah ketakutan yang bercampur kesedihan.
"Apa? Kenapa Dia sudah nembenci Ku ?Padahal sudah tau bahwa yang saat ini berdiri di hadapan nya adalah seorang Putra Mahkota."
Jessica terus melanjutkan percakapan yang bersifat sangat tajam untuk pertemuan pertama dengan orang baru.(Selengkapnya sudah ada di episode sebelum nya.)
Setelah Jessica melenggang pergi dari hadapan Xavier, tentu saja kebencian yang Jessica salurkan lewat perkataan nya membuat Xavier heran bukan kepalang.
...*...
...*...
...*...
...*...
...Kembali ke saat ini......
Xavier masih melihat telapak tangan nya yang tidak di raih apalagi di sentuh sedikit pun oleh Jessica.
__ADS_1
“Apakah Aku membuat nya benar benar marah, karena secara tak sengaja menabrak nya tadi ? Tapi kenapa Dia tampak seperti tidak mau bertemu sekalipun dengan Ku ? Aku Putra Mahkota loh.. Apakah ada yang salah dengan otak gadis itu ? Atau ada pemicu lain, sehingga Dia dapat berkelakuan seperti itu ? Aku rasa-“
“Yang Mulia Putra Mahkota, Kepala Sekolah sudah menunggu Anda di ruangan nya. Beliau berpesan, agar segera menemui Beliau, karena sebentar lagi acara penyambutan seluruh siswa baru akan di mulai di Aula.”
Perkataan seorang Kesatria menyadarkan Xavier dari lamunan nya yang sedang di penuhi oleh pertemuan secara tak sengaja tadi, yang berujung pada rasa penasaran tingkat tinggi.
“Ah, baiklah. Maaf harus merepotkan Mu hingga datang dan memberi tahu Ku.”
“Tidak apa Yang Mulia Putra Mahkota. Mari, Saya akan mengantar sekaligus
mengawal Anda hingga tiba di ruang Kepala Sekolah.”
Xavier pun mengangguk lalu berjalan di depan kesatria itu. Pikiran nya yang
sempat penuh tadi langsung di kosong kan, karena Dia akan bertemu dengan kepala Sekolah Bangsawan Tingkat Akhir.
Penanggung jawab yang terus menjadikan sekolah bangsawan tingkat akhir ini memiliki akreditas terbaik, dan memiliki kekuatan yang tak boleh di sentuh sembarangan oleh para Faksi Bangsawan jika berhubungan dengan lingkungan sekolah.
Bahkan Ayah nya Xavier saja menyuruh Xavier agar sebisa mungkin tidak membuat masalah, dan akan menjadi lebih baik jika Xavier bisa mendapatkan dukungan nya. Agar Xavier yang seorang Putra Mahkota ini memiliki kuasa di area sekolah yang seperti ini.
Apalagi beberapa minggu lalu, pemimpin Asosiasi Dagang Bright secara terang terang mengatakan bahwa Asosiasi mereka akan melindungi Sekolah ini.
Sehingga dapat di simpulkan, kepala sekolah bangsawan tingkat akhir ini tak akan pernah dibuli oleh para bangsawan jika berada di luar lingkungan sekolah lagi (Biasa nya para Bangsawan menunjukkan taring mereka saat Pesta,pertemuan, dan sejenis nya).
...***...
...Tok.... Tok.... Tok.......
Setelah mengetuk pintu dan mendapat jawaban untuk masuk, Kesatria itu mempersilahkan Xavier untuk masuk ke dalam ruang kerja Kepala sekolah.
Xavier pun membicarakan beberapa hal bersama dengan Kepala Sekolah selama 10 menit penuh. Tampak pembicaraan mereka sangat ringan dan tak ada unsur politik sedikit pun. Karena dari ke dua pihak, tau cara menempatkan diri di situasi apapun.
...***...
Saat ini, Xavier tengah berjalan bersama dengan kepala sekolah menuju Aula untuk acara penyambutan.
Mereka berdua tampak bergurau pada lelucon ringan, karena tak mau menyinggung satu sama lain. Karena jika hal itu dilakukan, entah permasalahan apa yang akan timbul.
“Maaf karena memberikan Mu tugas yang mendadak seperti ini. Kamu pasti terkejut karena di suruh menyampaikan beberapa kata untuk siswa-siswi baru kan?”
“Terkejut sudah pasti. Tapi syukurlah hal seperti ini dapat terjadi, sehingga Aku dapat terhindar dari permasalahan yang ribet.” Dengan nada santai Xavier menjawab perkataan Kepala Sekolah, dan di sambut oleh gelak tawa dari Beliau yang sudah tampak tua itu.
__ADS_1
“Dasar Anak muda, semua hal di bilang merepot kan. Hhahaha, jika tak mau merepot kan, maka tuntaskan masalah yang ada sebisa mungkin. Dan jika masih tergolong merepot kan, maka biarkan saja, karena hal yang merepotkan itu akan menemui ujung nya juga.”
Xavier tampak terdiam dan menyadari bahwa perkataan orang tua di samping nya ini ada benar nya juga, setidak nya 50% persentase kebenaran nya. Namun, Xavier tidak menyadari sedikit pun bahwa permasalah nya akan semakin merepot kan jika tidak di tuntaskan hingga ke akar akar nya sejak dini.