
“Maksud Mu ? Apakah Kamu memiliki kenalan untuk mempercepat rencana Ku barusan ? Ayolah Jess... Jangan memberikan harapan pada Ku. Aku orang nya terlalu cepat berharap loh. Apa yang akan terjadi jika Aku menuntut Mu untuk memenuhi kemauan Ku ?”
Jessica hanya diam saat mendengarkan jawaban Fany yang terdengar mencegah Jessica untuk tidak memberikan harapan pada nya.
Karena jika di perhatikan, seperti nya Fany sudah banyak mendapatkan harapan yang ujung-ujung nya membawa kekecewaan bagi diri nya.
“Fany... Apakah diri Mu tidak mempercayai Aku ? Aku tidak peduli apa yang akan terjadi selanjut nya, yang Aku mau jawaban Mu. Apa yang akan Kamu lakukan jika rencana Mu dapat terealisasi kan kurang dalam kurun waktu satu atau dua tahun.”
Desak Jessica yang semakin tak sabaran untuk mendengarkan apa saja yang sudah terancang di otak Fany.
“Hei.. Jangan menatap Ku seperti itu. Aku kan jadi percaya pada Mu.” Ucap Fany sambil memalingkan wajah nya ke arah lain.
Jessica membuang tangkai buah anggur yang sudah tidak ada buah yang bisa di makan lagi. Tangkai itu langsung mendapat posisi di bawah pohon apel, dan jika di biarkan dalam kurun waktu lama kan bisa menjadi pupuk ? Walaupun sebenarnya pupuk tidak terlalu berguna, karena ada sihir di hutan ini.
“Aku ingin kembali ke asrama saat ini juga. Karena Aku punya banyak hal yang harus di lakukan. Dan jika saat ini jawaban Mu adalah yang sesuai dengan kemauan Ku, maka kamu akan masuk dalam beberapa hal yang harus Aku kerjakan saat ini...”
Jessica menggangtung perkataan nya, saat diri nya sudah berdiri di samping kuda yang tadi Dia tunggangi, dan kini wajah nya menatap netra Fany yang selalu mengarah ke arah Jessica.
“.... Sudah Aku katakan bukan ? Apa jawaban Mu ?” Kata Jessica menuntaskan perkataan nya sambil berdiri tegak setelah memakai sepatu tinggi nya.
“Apa jawaban Ku perlu di pertanyakan lagi ? Tentu saja Aku akan merasa senang, dan berusaha semaksimal mungkin agar kemampuan Ku yang masih belum terasah sepenuh nya ini dapat memuaskan orang yang akan Kamu kenalkan kepada Ku.”
Mendengar jawaban Fany, membuat Jessica reflek tersenyum bangga, karena setidak nya wajah nya ini masih dapat membuat diri nya mendapatkan kepecayaan.
“Jika jawaban Mu seperti itu, sekarang apa lagi yang Kamu tunggu ? Ayo naiki kuda Mu, dan kita kembali ke asrama. Aku ingin, sebelum besok urusan Ku dan diri Mu telah terselesaikan dengan baik.”
Perkataan Jessica membuat Fany sedikit merasa bingung. Bukan karena Fany merasa curiga atau tidak mempercayai Jessica sepenuh nya, tetapi lewat perkataan Jessica barusan, seakan mengatakan bahwa orang yang dapat membantu Fany dalam mewujud kan impian nya adalah Jessica sendiri.
“Aku tidak tau kepercayaan Diri dari mana, tapi Jessica punya sesuatu yang membuat Aku tak bisa berkata tidak pada Dirinya. Yaaa, sekalipun hasil nya akan mengecewakan diri Ku, tapi selagi orang itu adalah Kamu, Aku tak keberatan sama sekali.”
Batin Fany yang sekalipun merasa konyol, Dia tetap mengikuti perkataan Jessica dan menunggangi kudanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Jessica dan Fany sudah kembali berpacu dengan kecepatan di atas rata rata bersama kuda yang juga seperti nya merasa bersemangat.
Karena sudah lama mereka tidak menggunakan kaki mereka untuk lari dalam kecepatan tinggi seperti ini.
Entah suasana alam, kondisi tubuh Jessica dan Fany yang terlalu fit, atau kuda yang terlalu bersemangat, semua nya menjadi variabel yang melengkapi satu sama lain.
...***...
Kini, Jessica dan Fany kembali berjalan di koridor asrama. Untuk tiba di asrama yang di tempati Jessica seorang diri, mereka perlu berjalan sejauh 500 atau 600 meter ke depan.
“Jessica, jika Aku masuk ke dalam kamar Mu, apakah teman sekamar Mu tak masalah ? Karena seperti nya teman sekamar Mu adalah seorang bangsawan.” Kata Fany yang baru saja terpikirkan saat dia dan juga Jessica berjalan di koridor asrama.
“Teman sekamar ? Aku tidak memiliki teman sekamar Fan.” Jawab Jessica yang engan jika membayangkan diri nya jika harus sekamar dengan orang lain.
Entah itu adalah Rakyat biasa maupun seorang Bangsawan, siapapun itu pasti akan menyusah kan Jessica dalam menjalankan peran nya sebagai seorang pemimpin dari sebuah Asosiasi.
“Apakah ada yang tidak ingin sekamar dengan Mu ?” Tanya Fany yang berharap jawaban nya tidak sememprihatinkan itu.
“Tentu saja tidak Fan. Aku sendiri karena Aku menginginkan hal itu. “ Jawab Jessica tersenyum lucu, karena selalu saja memiliki orang-orang yang mengkhawatirkan hal hal kecil seperti ini.
“Tentu saja boleh. Karena Aku sebagai Siswa yang memiliki nilai paling bagus dari semua nya, sehingga mendapatkan perlakuan khusus seperti ini.” Jelas Jessica yang mata nya mulai memperhatikan sekitar.
Fany yang sudah mengerti penjelasan Jessica kini merasa puas dan memilih diam sampai tiba di kamar Jessica. Sayang nya, Dia tidak menyadari apa yang disadari oleh Jessica.
“Terlalu sepi...” Batin Jessica yang merasa heran.
Ini sudah jam lima sore, namun tidak terlihat satu siswi di sekitar nya. Padahal jam jam seperti ini harus nya di gunakan untuk membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk makan malam.
“Fany... Apakah Kamu tidak merasakan sesuatu yang janggal ?” Bisik Jessica yang membuat Fany langsung konek dan berjalan berdekatan dengan Jessica. Sedekat mungkin, agar sesuatu yang di bisikan dapat terdengar.
“Jangan bilang ada hubungan nya dengan yang tadi Jess ?” Tanya Fany yang ikutan takut. Karena Fany tak mau membawa Jessica ke dalam masalah karena ulah nya.
__ADS_1
“Aku tak tau.” Jawab Jessica dengan bola mata yang semakin di pertajam ke segala sisi, dan membuat tubuh nya merespon dengan cepat ke seluruh bunyi dan tekanan udara.
.......
.......
.......
...WUUUSSS......
“FANY!” Panggil Jessica dan memasukkan Fany ke dalam pelukan nya. Kurang nya keseimbangan tubuh, membuat Jessica dan Fany terjatuh di lantai dengan Jessica sebagai tumpuan nya.
...BRUK...
Fany dan Jessica terjatuh di lantai, karena sesuatu hampir saja mengenai Fany yang posisi nya ada di sebelah Jessica.
“Kamu tak-“
Belum selesai Fany bertanya keadaan Jessica yang terjatuh sebagai tumpuan, Jessica sudah berdiri di hadapan Fany dengan badan yang tidak gentar sedikit pun.
Mata ekor Jessica melihat dengan jelas bahwa terdapat anak panah yang sudah tertancap di pintu kamar yang ada di sebelah nya. Jarak nya sekitar 20 meter dari Jessica.
“Kamu yang menyuruh orang menembakkan anak panah itu ?” Tanya Jessica pada anak laki laki yang penampilannya sangat berantakan, namun terlihat merupakan salah satu dari siswa yang akan bersekolah di sini.
“Apa Kamu bertanya pada Ku ? Asal tau saja yaa, sekalipun Kamu adalah anak yang memiliki IQ yang paling bagus, namun jika Kamu bukan Bangsawan, maka Kamu tidak memiliki hak untuk berbicara dengan Ku. Jadi- UHUK.”
Belum selesai lelaki itu ber berbicara, Jessica sudah menendang nya dengan kaki yang tengah memakai sepatu dengan ujung tajam dan mengenai ulu hati nya. Sebagai tambahan, raga lelaki itu terhempas sekitar 5 sampai 10 meter di hadapan Jessica.
“Apakah Kamu bodoh ? Aku bertanya, apakah Kamu yang memerintahkan seseorang memanah ke arah Fany ? Bukan nya menjawab, Kamu malah memberithukan tentang identitas Mu yang seorang Bangsawan. Pahami lah
pertanyaan, barulah bersuara. Kamu berbicara yang tidak sesuai dengan konteks, dan hal itu malah terkesan sedang berbicara dengan orang gila.”
__ADS_1
Jessica pun memberikan perkataan yang terbilang lumayan menyakitkan untuk mental seorang anak bangsawan.
Namun kali ini, Jessica seperti nya sudah berada di ujung batas kesabaran nya. Jessica adalah pembisnis yang benci jika di halangi dalam perjalanan melakukan bisnis nya. Bisnis nya di sini tak lain dan tak buka adalah bisnis bersama Fany.