Jessica Si Pemeran Figuran ?

Jessica Si Pemeran Figuran ?
#58


__ADS_3

Gery cukup merasa tertekan dengan tatapan Jessica, namun karena berpikir Jessica sudah menerima nya, maka Gery pun menganggap bahwa tekanan yang di berikan oleh Jessica adalah bawahan sejak lahir, sehingga Gery tak mempedulikan tekanan apapun itu.


...*...


...*...


...*...


...*...


...* ...


Singkat cerita, Gery dan Jessica pun sarapan bersama saat jarum jam pendek menunjuk angka lima, dan jarum jam panjang menunjuk angka enam. Ya, baru jam 05:30. Namun kedua anak ini sudah sarapan. Mereka adalah siswa pertama yang masuk dan keluar dari kantin.


Di saat yang lain tengah mempersiapkan diri, entah mempercantik diri, merapikan pakaian, berusaha membuang rasa malas yang masih ingin lanjut tidur, berbeda hal nya dengan Gery dan Jessica yang kembali ke kamar asrama mereka masing-masing.


Tujuan mereka adalah mengganti pakaian. Entah kenapa mereka merasa ingin memakai pakaian yang lebih nyaman, karena hari pertama pembelajaran adalah hari yang di jadwalkan untuk melakukan uji coba kemampuan.


...Uji coba kemampuan ? ...


.......


.......


.......


.... ...


Ya, di Sekolah Bangsasan Tingkat Akhir, tidak melakukan pembelajaran seperti yang Kita kenal di saat ini. Memang sistem nya masih di ajarkan oleh yang lebih ahli, tapi di Sekolah ini, masing-masing anak bebas memilih jurusan mereka.


Jika suka mendesain dan berhubungan dengan pakaian dan juga fasion, maka masuklah ke kelas disainer. Di sana akan di ajarkan oleh orang yang ahli di bidang ini, dan juga akan di tempa kemampuan masing-masing agar bisa mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan di kemudian hari.


Di sekolah ini juga tersedia berbagai jurusan. Di antara nya senjata. Jurusan ini hanya fokus menempa senjata. Namun sebelum masuk, tentunya orang itu harus paham betul tentang senjata.


Lalu yang berikut, ada jurusan Bela diri. Setelah lulus dari jurusan ini, dapat bekerja sebagai pengawal para bangsawan (Biasa di sebut penjaga bayangan), rombongan pedagang, dan masih banyak lagi.


Biasa nya jurusan ini akan berkecimpung di dunia bunuh dan membunuh. Namun tidak sedikit dari mereka memilih untuk menjadi prajurit, karena sekalipun rakyat biasa, jika memiliki ijazah Sekolah Bangsawan Tingkat Akhir, maka sudah pasti akan mendapatkan perlakuan yang layak dengan anak bangsawan lain nya.


Biasa nya banyak pria tertarik pada jurusan itu. Karena selama menimba ilmu satu tahun lama nya, jika di rasa sudah mampu, maka siswa-siswi akan melakukan praktek. Yang tak lain adalah turun ke lapangan secara langsung, dan menjadi pengawal. Siapapun yang menjadi tuan ataupun tanggung jawab untuk di kawal, akan di tentukan dari pihak akademi.


Untuk seterus nya, tersedia jurusan memasak, melukis, membuat buku ilmiah, kedokteran, dan masih banyak lagi. Bahkan satu jurusan dapat terbagi menjadi bercabang-cabang. Contoh nya kedokteran. Sudah pasti ada dokter untuk manusia dan juga hewan. Dan hal ini juga berlaku pada beberapa jurusan yang lain.


.......


.......


.... ...


...Pukul 08:00 pagi. ...




Jessica sudah memakai kemeja model bari dengan celana panjang. Celana itu memungkinkan diri nya untuk bergerak bebas. Sepatu ? Tak ada yang membuat betis Jessica sakit, karena sepatu yang Dia kenakan sangat nyaman dan benar-benar sesuai dengan pakaian nya hari ini.


Jessica pun berjalan dan masuk ke dalamΒ  koridor sekolah. Hanya berjalan beberapa langkah saja, Jessica sudah di perlihatkan masing masing jurusan yang bangunan nya saling berhadapan dan tersusun dengan rapi.


"Woww.. Jika tak salah, di sekolah ini ada lebih dari 20 jurusan kan ? Karena Aku sudah menjadi pemimpin Asosiasi, maka yang perlu Aku lakukan hanya menambah ilmu baru. Jika seperti itu, mari berkeliling dan melihat-lihat.. Siapa tau Aku menemukan jurusan yang sesuai dengan bakat Ku."


Batin Jessica yang mulai melangkahkan kaki nya.


Perlahan, Jessica membaca papan nama Jurusan dan juga melihat banyak pria maupun wanita yang sibuk masuk ke dalam bangunan sesuai dengan kemauan mereka.


Ada yang masuk lalu keluar lagi. Mondar-mandir dan memutuskan pilihan, lalu masuk lagi ke dalam bangunan jurusan sebelum nya. Jessica menyaksikan banyak hal aneh, namun tak membuat nya terganggu


Bahkan, Jessica menampakkan senyum sumringah di wajah nya, karena merasa bahwa ini bukan ajang Dia harus mengkhawatirkan tentang apapun. Melainkan untuk menikmati waktu dengan santai. Yaaaa, itulah pemikiran Jessica pada awal nya.


...*...


...*...


...*...


...* ...


...Beberapa jam kemudian....


"Haaahhhh...."

__ADS_1


Nafas panjang pun terdengar dari Jessica. Di wajah nya sudah terpampang jelas rasa bosan yang amat pekat.


"Gilaa... Ada berapa bangunan sih ?? Jika Aku tak berbalik arah, mungkin Aku akan menjadi siswa yang tidak memilih jurusan di hari pertama. Ughh.... Jurusan apa yang harus ku pilih ?" Rintih Jessica yang sudah kehilangan semangat hidup.


Lalu, saat Jessica sedang mencoba untuk berpikir ingin masuk ke jurusan yang mana, pendengaran Jessica pun menangkap sebuah suara.


"Hahaha.. Lihatlah tatapan mata nya. Walaupun tinggi badan nya hampir menyamai kita, tetapi tatapan mata nya juga tak kalah dalam hal memberikan atensi yang mengintimidasi.." Ujar seorang Pria, yang jika di lihat pada name tag nya bernama Jhos Shan Daiko.


"Uuhhh.. Aku sangat takut Jhos..." Sambung Vendra Tom Kandra, yang mengatakan nya dengan nada bercanda.


"Hei... Jangan menperlakukan wanita seperti itu." Ujar salah seorang lagi bernama Anton King Ansani, yang menjadi bagian dari 3 orang yang tengah berbicara saat ini.


"Memang nya kenapa ?" Tanya Jhos dan juga Vendra.


"Tak tau juga sih. Aku hanya ingin mengatakan nya agar terlihat seperti aktor atau pahlawan di novel-novel yang pernah di gosipkan adik perempuan Ku." Jawab nya enteng.


"Pffttt.. Aku pikir Kau ingin membelanya Anton...."


"Benar juga.. Sejak kapan Dia memiliki otak untuk merangkai kata-kata itu.?"


Jessica tertarik dengan tiga orang pria yang sedang menghadang pintu masuk jurusan bela diri.


Bukan nya langsung menghampiri keributan itu, Jessica pun mendekat ke mading dan membaca ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam jurusan bela diri.


"Kumohon menyingkirlah... Jam sudah hampir berpindah ke angka sepuluh.. Aku tak ingin terlambat..." Pinta wanita dengan name tag Elina Sadie, yang jika di lihat-lihat memiliki tinggi 165 cm.


"Apa yang kau bicarakan ? Bukan kah masih ada 20 menit lagi ? Berusaha lah lebih keras lagi." Tantang Vendra dengan wajah tanpa rasa belas kasih.


Ketiga pria itu semakin membuli dan mengatakan penolakan mereka. Padahal bukan mereka guru atau pun prajurit yang menjadi pengawas di hari pertama, tapi mereka merasa sangat terganggu dengan kehadiran seorang wanita yang berkata tertarik di jurusan ini.


Jessica terus mendengarkan perdebatan mulut dua kubu yang berlawanan itu, namun sambil terus membaca satu paragraf yang amat panjang hingga sampai ke kata terakhir.


"Hemm ~ Seperti nya di sini lebih baik." Gumam Jessica pelan.


"Kenapa jika Aku perempuan ? Apa ada larangan nya ?" Cetus Elina lagi, yang kini benar-benar sudah masuk ke pendengaran Jessica yang sudah selesai membaca mading.


"Hei.. Apa Kau bodoh ? Sudah Aku katakan sebelum nya, jika Kamu-"


"Siapa orang bodoh yang Kau maksud kan ? Apakah itu diri Mu sendiri ?" Sela Jessica pada perkataan Anton dan berniat bergabung. Karena jika Jessica tidak melakukan sesuatu, maka diri nya juga tak akan bisa masuk.


"Apa ? Dari mana lagi datangnya wanita ini ? Apakah Dia juga tertarik pada jurusan bela diri ?" Kata Vendra dengan kening yang semakin mengerut.


"Kau bertanya pada Ku ? Apakah Kau tidak mengerti bahasa yang Aku utarakan tadi ?" Dengan kedua tangan yang sudah tertaut di belakang badan nya, membuat Jessica terlihat lebih santai.


"Maksud Ku, kenapa Kau mengatakan Ku bodoh ?" Geram Anton yang kini sudah menggenggam ke dua tangan nya.


"Bukan kah jawaban nya sudah jelas ? Kau berdiri di pintu masuk bodoh. Lalu dengan percaya diri nya kau memgatakan bahwa gadis ini yang bodoh ?? Hei ~ Apa ada sesuatu yang bermasalah dengan bagian ini ?" Kata Jessica sambil menunjuk ke samping kening nya, yang membuat Anton, Jhos dan juga Vendra tebakar emosi.


"Kau mengajak berkelahi ?!" Kata Anton sambil menarik pedang nya. Di antara mereka bertiga, cuma Anton yang membawa pedang. Sedangkan di sisi Jessica, hanya Elina yang membawa nya.


"Jika ingin berkelahi, maka lakukan dengan adil. Kalian berdua tak akan menyerang di waktu yang sama kan ?" Sambung Elina yang kini sudah berdiri di depan Jessica, dan memegang pedang nya dengan sangat profesional.


"....." Jhos dan juga Vendra mundur dua langkah ke belakang hingga mengenai pintu. Sedangkan Jessica masih berdiri di belakang Elina.


"Apa yang kau tunggu ? Mundur lah kebelakang. Apakah Kamu ingin menjadi beban ?" Kata Elina yang tidak melakukan kontak mata sedikit pun dengan Jessica, karena berjaga-jaga. Takut nya saat berpaling, Anton sudah melayangkan satu tebasan ke arah mereka.


"Ah... Maaf.. Aku hanya tercengang dengan tahi lalat yang ada di belakang telinga kanan Mu." Kata Jessica jujur.


"HaH ??? Di saat seperti ini kau membahas hal konyol ?" Seru Elina dengan tatapan ekor nya.


Jessica pun reflek mundur dan memantau saja. Karena jika satu di antara dua kawan Anton membantu, Jessica sudah siap menyerang. Lagian, ada belati di saku belakang celana nya. Sehingga Jessica memiliki senjata untuk menyerang.


...*** ...


TANG.. TANGG.. TANGGG.. TAANGG...


Anton dan juga Elina terus beradu pedang. Sungguh, Jessica mengakui bahwa kedua nya memiliki bakat yang sama. Namun terlihat Elina lebih berenergi dari pada Anton, karena Elina belum menunjukkan tanda-tanda lelah.


"Ohoo ~ Seperti nya Elina yang akan menang. Aku terlalu khawatir dan malah ingin membantu. Di dunia ini kan masih ada wanita kuat selain Aku." Batin Jessica tersenyum bangga.


Sedetik kemudian, senyum Jessica semakin mengembang saat pedang Anton sudah terpental ke arah lain, dan membuat Elina menodongkan pedang nya ke arah leher Anton yang sedang terbaring di lantai.


Posisi Elina kini sudah membelakangi Jhos dan juga Vendra, karena Anton di sudut kan di sudut ruangan. Elina benar-benar lengah dengan belakang nya.


"Tch." Decak Jessica yang kini sudah luntur senyum nya, dan berlari ke belakang Elina.


TANGGG...


Kini, belati Jessica beradu dengan belati milik Vendra.

__ADS_1


"Kau curang !" Cetus Vendra dengan tangan yang gemetar, karena Jessica membuat arah tusuk belati Vendra terhenti dan membawa dampak bagi tangan nya.


"Kau bukan orang yang pantas mengatakan hal itu." Sambung Jessica dengan tatapan muak nya.


"Eh ? Dia menyerang dari belakang " Tanya Elina tak percaya.


"Begitulah." Jawab Jessica yang kini sudah berdiri tegak, karena Vendra sudah mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kalian.. Kalian berdua membuli kami. Mentang-mentang tenaga kalian lebih banyak, kalian ingin mempermainkan kami ? Apakah-"


"Ohhh~ Jadi Kau sedang berakting menjadi korban ? Kalau begitu, sekalian saja kau benar-benar menjadi korban."


Usai mengatakan hal itu, Jessica menyerang Vendra dengan sangat agresif. Vendra hanya bisa menghindar, karena senjata Jessica adalah belati dan bukan nya pedang.


Jika pedang, maka tangan masih aman karena respon dan keuntungan dari panjang senjata. Tetapi belati, dengan pergerakan secepat Jessica, membuat Vendra bergidik ngeri dan menghindar dengan debaran jantung yang tak terkendali.


BRAAKK....


Dan pada akhir nya, satu tendangan terakhir dari Jessica membuat Vendra terlempar ke arah Jhon kawan nya.


"Wowww.. Kau sangat ahli dengan belati Mu. Apakah Kau Prajurit bayaran ?" Tanya Elina yang kini sudah mendekat.


"Ah.. Tidak.. Aku hanya di latih oleh seseorang yang amat ganas jika berhubungan dengan perlindungan diri. Dan lagi, keahlian berpedang Mu juga sangat memukau. Kau tampak keren dengan ayunan dan gerakan dengan pedang itu." Jelas Jessica sambil memberikan pujian yang tidak ada maksud menyinggung atau apapun itu.


"Woww... Keluarga Mu pasti orang-orang yang penuh dengan berbagai keahlian."


"Tentu..." Jawab Jessica tersenyum.


Lalu tatapan nya beradu dengan Elina. Tatapan mata mereka langsung canggung. Seperti nya ada satu hal yang baru terpikirkan oleh mereka berdua di saat yang sama.


"Maaf sebelum nya.. tapi nama Ku Elina Sadie." Ucap Elina sambil mengulurkan tangan nya.


"Aku juga minta maaf. Nama Ku Jessica Latashia Mauren." Jawab Jessica yang balas menjabat tangan Elina.


Senyuman mereka berdua menandakan bahwa mereka akan menjadi sahabat di jurusan bela diri ini.


Saat mereka ingin berjalan masuk ke dalam, pergerakan mereka kembali terhenti.


Senyum yang tadi sudah terukir, kini langsung hilang saat melihat Anton, Jhos, dan Vendra kembali berdiri di depan pintu.


"Mau mereka apa sih ?" Cetus Elina sambil menggosok punggung leher nya perlahan. Terlalu berlebihan juga telah berhasil membuat Elina darah tinggi.


"Apakah mereka di suruh pihak sekolah untuk menguji ? Tapi tidak mungkin. Karena umur mereka terlihat sama dengan Ku. Lalu, apa yang membuat mereka seperti ini ?" Tanya Jessica dengan tatapan yang sudah kehilangan kesabaran nya.


"Kali ini apa lagi ?" Tanya Jessica terakhir kali nya.


"Kalian berdua tak boleh masuk. Hanya.. Uhuk.. Hanya pria yang boleh mengambil jurusan ini!" Jawab Anton kekeh.


"Kau mengatakan hal itu setelah babak belur ?" Sanggah Elina yang terlihat ingin menarik pedang yang sudah di masukkan ke sarung nya.


"Sebentar Elina.." Tahan Jessica karena berpikir mungkin saja ke tiga orang ini adalah orang dari pihak akademi.


"Kau ingin bicara damai ?" Tanya Elina yang terlihat sudah terbakar emosi.


"Tidak. Aku hanya ingin bertanya." Jawab Jessica.


"Yaaaaaa... Silahkan." Kata Elina sambil menggerlingan bola mata nya. Nampak jelas Elina tak suka dengan tiga pria yang ada di hadapan nya ini.


"Untuk kalian bertiga.. Apakah ada alasan Khusus sehingga Kami tak boleh masuk ke dalam ?" Tanya Jessica secara baik-baik.


"Tentu saja ada." Jawab mereka bertiga kompak.


"Apakah Kami bisa mengetahui alasan itu ?" Tanya Jessica dan Elina yang juga ikutan kompak.


"Alasan nya ? Bukan kah sudah jelas..??" Jawab Anton.


"Kalian benar-benar tak tau ..?" Sambung Jhon.


"Tentu saja karena kalian berdua adalah perempuan. Mau di taruh di mana harga diri Kami jika ada perempuan yang lebih kuat ?" Sambung Vendra dengan sangat jujur dan mengikuti kata hati nya.


"πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’" Elina...


"πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’" Jessica...


Elina dan Jessica pun merasa amat geram akan jawaban yang di berikan oleh Vendra dan dua teman nya.


"Cih ! Omong kosong apa yang kalian katakan ?πŸ’’" Kata Elina sambil menggertakkan gigi nya.


"Apakah Aku bunuh saja kalian bertiga πŸ’’? Bisa-bisa nya Aku berpikir bahwa Kalian adalah orang-orang yang di tugaskan dari pihak Akademi." Ucap Jessica dengan aura menakutkan nya yang menghasilkan tekanan yang luar biasa.

__ADS_1


Kemarahan kedua wanita ini berhasil membuat Anton, Jhon, dan juga Vendra bergidik ngeri. Entah kenapa, bulu kuduk mereka berdiri secara bersamaan.


__ADS_2