
Kepala sekolah yang sudah selesai menyeka keringat di wajah nya pun kini dapat melihat Jessica dengan ekspresi yang lebih baik, dan dengan nafas yang lebih teratur tentu nya.
"Apakah Kita harus berbicara di dalam kamar yang akan Saya tempati Kepala Sekolah ? Walaupun Saya belum melihat isi di dalam nya, tapi Saya yakin bahwa dua hari yang lalu Viona sudah membersihkan dan melengkapi semua yang Saya perlukan. Bahkan Saya yakin, semua dokumen yang harus Saya kerjakan hari ini juga sudah tersusun rapi di dalam sana. Lebih tepat nya di atas meja."
Sambil membuka pintu, Jessica mempersilahkan Kepala Sekolah untuk masuk.
Dan tentu saja benar, bahwa ruangan yang akan ditempati oleh Jessica terlihat sangat luas, dan di dekor sesuai dengan yang Jessica mau.
Jessica dan Kepala Sekolah menuju ke sebuah meja yang terdapat dua kursi yang saling berhadapan, dengan satu meja bundar di tengah nya. Mereka berdua langsung duduk dan Jessica pun menyajikan air putih di atas meja, karena jika menyiapkan teh akan panjang proses pembuatan nya.
Saat Kepala Sekolah sedang memberitahukan kegiatan yang akan dilakukan Jessica hari ini, tentang acara penyambutan di Aula, Jessica yang akan memberikan beberapa kata sambutan sebagai Siswa baru yang meraih nilai tertinggi (Nilai tertinggi di jumlah dari nilai ijasah sejak sekolah dasar dan jenjang terakhir Jessica, bukan di hitung dari ujian masuk awal. Karena Jessica tidak masuk kesekolah ini lewat jalur itu.)
Alasannya sudah jelas, karena jangankan masuk ke dalam sekolah itu, menyusun rencana saja sekolah itu tidak masuk sama sekali dalam plan yang Jessica buat.
...***...
Lalu saat Kepala Sekolah dan Jessica tengah sama sama saling fokus dalam pembicaraan, di sisi lain terdapat satu keluarga yang sedang bertengkar.
"Ayolah Xavi. Hanya sekali saja, turuti apa yang Ibu katakan." Pinta sang Ibu yang merasa sudah letih dalam hal membujuk putra nya yang keras kepala ini.
Sedang kan Putra nya yang di ceramahi sedari tadi hanya bisa menyapu muka menggunakan dua tangan dengan kasar, karena Dia juga merasa cukup frustasi dengan paksaan yang diberikan oleh sang Ibu pada diri nya.
__ADS_1
Bagaimana tidak ? Ini bukan kali pertama sang Ibu memberikan ceramahan yang panjang lebar, dan jika sang ibu sudah tahu bahwa Dia akan kalah berdebat dengan Anak nya, maka kata kata yang sudah di paparkan inilah yang akan sang Ibu lontar kan.
"Ibu.. Xavi mau tanya deh sama Ibu. Anak kandung Ibu itu Xavier atau Aldara sih ? Kenapa Ibu selalu memihak pada nya, ketimbang berpihak pada Xavi ?"
Sang anak yang sejak tadi tidak menunjukkan tanda tanda akan bersuara, akhir nya mengeluarkan isi di dalam otak nya yang sudah tak bisa di bendung lagi.
"Ya jelas Kamu anak Ibu lah. Kalau bukan anak Ibu, memang anak siapa ? Anak pungut ?" Sahut sang Ibu yang sudah lelah untuk mencari bahan obrolan lain, agar suasana antara kedua nya kembali adem.
"Terus kenapa Ibu selalu mendahulukan kemauan Aldara ? Kenapa Ibu tak pernah sekalipun mendahulukan kemauan Xavier Bu ? Kenapa ?"
Kini, Xavier yang tengah memakai pakaian lengkap dengan jas berwarna putih dengan beberapa corak biru, sudah berdiri di hadapan Ibu nya dengan tatapan sedikit emosi, namun tetap dapat mengontrol mulut nya agar tidak berkata kasar.
"Karena Kamu akan menikah dengan Aldara, Xavi. Apakah Kamu lupa akan hal itu ? Sekalipun Kamu tak cinta pada nya, setidak nya masuklah ke Sekolah Bangsawan Tingkat akhir di kerajaan Kita ini, lalu habiskanlah waktu selama setahun penuh dengan nya. Karena Ibu yakin, rasa asmara akan tumbuh pada kalian berdua jika terus bersama sama."
"Uggh.. Membayangkan bahwa Xavi akan jatuh cinta pada Aldara seakan tak mungkin Bu. Karena sudah ada yang menjadi pemilik Hati Xavi. Memang ini terdengar tak dapat di percaya, tapi Xavi yakin kalau Ibu akan percaya pada Xavi kali ini." Jawab Xavi dengan sungguh sungguh.
"Oh.. Lalu siapakah sang pemilik hati Mu itu ? Apakah Dia sesempurna itu, sampai sampai Aldara yang sudah menjadi bunga pergaulan kelas atas saja tak bisa menggeser tempat nya ?" Tanya sang Ibu penuh selidik.
"Dia.. Dia empat tahun lebih tua dari Xavi. Dia memiliki pemikiran yang sangat dewasa, dan selalu menangani masalah apapun dengan kepala dingin. Lalu, Dia juga sangat menyukai uang, namun lebih suka dengan uang yang di dapat dengan hasil kerja keras nya. Dia bukan tipe wanita penjilat ataupun penggoda, bahkan saat berbicara dengan Ku saja Dia berbicara biasa biasa saja. Tak ada panggilan PUTRA MAHKOTA atau HORMAT KEPADA MATAHARI KEKAISARAN. Lalu, dia tak suka jika ada yang menyela perkataan nya. Lalu, Dia juga nampak cukup polos di beberapa bidang. Lalu...(Bla Bla Bla) "
Xavier, yang merupakan satu satu nya putra Mahkota di kerajaan Andora ini terus menceritakan semua hal yang Dia lihat saat bertemua dengan Jessica bertahun tahun yang lalu.
__ADS_1
Suasana yang sedari tadi panas, menjadi adem seketika saat Xavi terus bercerita dengan senyum tulus, membuat sang Ibu yang mengamati dan menyadari bahwa saat ini Putra nya tidak sedang membohongi nya.
Xavi masih terus bercerita. Walaupun kejadian nya sudah terjadi bertahun tahun silam, setiap adengan saat Dia membuka mata dan di sambut dengan perkelahian River dan Jessica.
Dan juga hingga saat dia pergi meninggalkan kedai itu dengan wajah yang memanas, lantaran Jessica yang melontarkan pertanyaan yang tidak seharusnya di ucapkan oleh gadis dengan wajah 100% polos itu, masih di ingat dengan baik oleh Xavi.
"Jadi, dapat di artikan bahwa Kamu sama sekali tidak tertarik dengan Aldara, karena Kamu suka dengan wanita dewasa ? Wanita yang empat tahun lebih tua dari Mu ? Dan, jika Ibu amati, seperti nya dia hanya rakyat biasa. Karena Dia tidak mengetahui wajah dan nama dari Putra Mahkota, sehingga dapat berbicara secara santai dengan Mu. Apakah benar ?"
"... " Xavier tak menjawab dan hanya mengangguk.
Setelah itu Ibu nya mendengus panjang, lalu menatap Xavi dalam dalam, sambil memegang ke dua pundak nya.
"Ibu tak masalah dengan siapa Kamu memberikan hati Mu, dan menjadikan Wanita itu sebagai pemilik nya. Tapi Xavi, jika Kamu tidak menikahi Aldara yang merupakan keluarga jauh dari Raja kekaisaran Trandere, kejadian 20 tahun yang lalu akan terulang lagi. Kedua kerajaan akan saling menyerang, dan rakyat tak bersalah akan menjadi korban."
Pandangan mata Xavi yang awal nya seakan penuh akan gerlap bintang saat membahas tentang Jessica, seketika langsung redup saat mendengar perkataan Ibu nya, yang tak bisa di ganggu gugat.
Xavi terdiam dan menunduk. Setelah itu Sang Ibu berjalan meninggal kan Xavi, dan berhenti saat telah berjalan 5 langkah.
"Kamu adalah Putra Mahkota Xavier. Dan Kamu akan menjadi seorang Raja dari kerajaan baru saat sudah resmi menikah dengan Aldara, jadi Ibu mohon, lakukan tugas Mu. Jika Kamu sudah menikah dengan Aldara, dan memiliki kekuatan yang tak bisa di sentuh oleh Aldara, barulah Kamu menikahi wanita yang Kamu ceritakan pada Ibu tadi. Jika seperti itu, maka Ibu akan menjadi pendukung pertama dan terkuat yang akan Kamu miliki di masa mendatang."
Setelah itu Sang Ibu pun meninggalkan Xavier seorang diri di dalam ruangan yang di penuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran.
__ADS_1
"Aku juga tau akan hal itu Bu. Tapi, jangan kan menikahinya setelah menikah dengan Aldara, untuk saat ini saja Aku tak tau apakah informasih bahwa Jessica sudah mati memang benar atau hanya di buat buat. Aku.. Harus bagaimana Bu ?" Monolog Xavier menatap nanar pundak belakang Ibu nya yang tampak sudah jauh, dan terhalang dengan kaca.
Xavier juga sengaja berkata dengan suara yang amat kecil, dan terdengar hampir berbisik malah, karena tak mau di pandang lemah dan putus asa di hadapan siapa saja.