Jessica Si Pemeran Figuran ?

Jessica Si Pemeran Figuran ?
#57


__ADS_3

Jessica pun berjalan meninggalkan kantin dengan smirk yang masih melekat di wajah nya, sambil berkata...


"Rencana ini akan sukses."


Lalu membiarkan waktu yang bekerja saat ini, hingga pukul lima pagi di esok hari.


...*...


...*...


...*...


...*...


...* ...


...Keesokan hari nya. ...


...Jam 05:00 pagi. ...


...Triiinnnnggggg ~ Triiiiiiinnnnnggggg ~ ...


Bel sekolah berbunyi sebanyak dua kali. Memang bunyi nya hanya dua kali, tapi setiap bunyi nya memiliki dengungan yang panjang, sehingga dapat membangunkan siswa-siswi yang sedang tidur.


Bagi yang sudah tau bahwa berbunyi nya bel sekolah di jam yang tidak biasa pasti ada sesuatu, membuat laki-laki maupun perempuan langsung bangun, memakai seragam sekolah atau baju yang layak dan langsung menuju ke aula sekolah.


Saat banyak nya orang-orang yang memasuki aula dengan suara bising dan penuh akan di tanda tanya, di sudut ruangan, Jessica sudah duduk dengan santai nya sambil menongkat dagu dan menatap ke depan.


"Tidak sia-sia Aku bersiap-siap sejak pukul empat pagi. Ternyata feeling Ku benar, bahwa Kepala Sekolah akan membunyikan bel untuk mengumpulkan semua siswa-siswi di jam lima pagi." Batin Jessica dengan smirk puas, karena diri nya tidak harus datang ke aula dengan penampilan baru bangun tidur yang sama seperti yang lain nya.


"Apakah kau sudah datang dari tadi ?" Tanya seseorang yang baru datang dan sudah duduk si sisi kiri Jessica.


"Tidak. Lima menit sebelum bel berbunyi Aku sudah duduk di sini." Jawab Jessica dan menatap lamat-lamat pria yang sedang mengajak nya bicara itu.


Karena di tatap oleh Jessica, membuat pria itu merasa tak nyaman dan bertanya lagi...


"Apa ada sesuatu di wajah Ku ?"


"Ah... Tidak.. Hanya saja, wajah Mu terlihat sangat segar. Apa kau sudah mandi Gery ? Penampilan Mu sama seperti Ku yang benar-benar rapi." Jawab Jessica seadanya.


"Oh, jadi itu.. Aku sudah mandi sejak saat jarum jam masih menunjuk ke angka tiga."


"Benarkah ? Apakah anak-anak bangsawan memiliki hobi aneh seperti ini ?"


"Tentu saja tidak. Karena jika iya, maka wajah mereka semua akan tampak amat segar dan cerah. Tapi lihatlah mereka semua. Sangat kebalikan dari kita berdua." Sambil melihat sekitar, Gery mengutarakan pendapatnya.


"Perkataan Mu ada benar nya juga."


"Tapi, Aku mandi di jam tiga pagi karena raga Ku terkaget pada pukul itu. Sepertinya pikiran Ku penuh akan kegelisahan."


"Kau takut rencana Ku akan gagal ?" Tebak Jessica.


"Tidak.. Tentu saja tidak. Tapi Aku juga tak tau apa yang membuat Ku gelisah sepanjang malam."


"Apa ini ada hubungan nya dengan Fany ?"


"......" Gery terdiam. Dia tak tau ingin menyanggah seperti apa, karena nama Fany entah kenapa berhasil menimbulkan sesuatu yang Dia rasakan semalam.


"Ah ~ Rupa nya ada Dan versi ke dua di sini.." Batin Jessica sedikit menggelengkan kepala nya, dan mulai fokus ke depan.


Karena di atas panggung, Pak Easton sudah berdiri dengan pembesar suara yang di pasangkan di atas saku kemeja nya.


"Pagi ini, Kalian semua di kumpulkan karena ada sesuatu yang ingin di sampaikan. Kalian juga pasti sudah memiliki dugaan tentang hal ini bukan ?"


Pak Easton langsung masuk pada inti pembicaraan. Lagian, semua siswa-siswi sudah mengenal nya, jadi tak dibutuhkan lagi pengenalan dan kalimat tidak enakkan karena membangunkan mereka di jam yang tidak seharus nya.


"Atas keputusan Kepala sekolah yang telah mempertimbangkan hal ini bersama saya dan rekan yang lain, maka Kami pun akan menyampaikan bahwa Siswa bernama Desi Saldy Krain, Ave Ray Rivom dan Casey Cho Driw akan di keluarkan dari Sekolah Bangsawan Tingkat Akhir, karena telah melakukan aksi buli yang sudah masuk ke tahap tidak bisa di toleransi dan tidak bisa di maafkan. Ketiga siswa ini akan di kenakan denda sesuai ketetapan sekolah, dan keputusan ini bersifat permanen."


"Waaahhhhhh...."


"Benar-benar di keluarkan ?!"


"Bukankah pembelajaran sesuai keahlian masing-masing belum juga di mulai ? Tapi mereka sudah di keluarkan ? Bukan mengundurkan diri.. Tapi di keluarkan ?"

__ADS_1


"Apalagi dengan denda sekolah. Sekalipun bangsawan, mereka benar-benar langsung menjabat menjadi rakyat biasa."


Suara bising pun menggema di dalam aula yang tadi nya masih hening. Keadaan ribut nya benar-benar seperti tawon yang di ganggu sarang nya. Gosip antara bangsawan, rakyat biasa, maupun campuran pun tak bisa di tiadakan detik itu juga.


Dan merasa suasana harus segera di kendalikan, membuat Pak Easton angkat suara...


"Mohon menjaga ketertiban di dalam aula. Masih ada beberapa hal yang akan Ku sampaikan. "


..."........." ...


Seketika suasana pun langsung hening dan terkendali. Mereka semua diam bukan karena benar-benar penurut, tetapi karena masih penasaran apa yang akan di sampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah.


"Terimakasih karena langsung merespon perkataan Ku. Yang ingin Ku sampaikan adalah Siswa bernama Fany Daisy juga akan di keluarkan dari sekolah karena mengalami luka memar, patah tulang, dan yang lebih parah nya lagi, Dia mengalami luka mental yang benar-benar membutuhkan waktu yang lama untuk dapat di sembuhkan. Sekian penyampaian di pagi ini, Kalian semua dapat kembali ke asrama masing-masing dan bersiaplah. Karena jam 08:00 pagi, Kalian sudah harus melakukan aktifitas sebagaimana telah di tentukan."


Setelah mengatakan hal itu, Pak Easton pun meninggalkan panggung yang dia pakai tadi. Benar-benar pria yang mengatakan apa saja tanpa harus berputar-putar.


Dan di saat suasana aula kembali dipenuhi oleh gosip-gosip dan pembicaraan dari berbagai orang, terdapat tiga siswi yang masih terpaku di tempat duduk mereka. Ya, mereka adalah Desi, Ave, dan juga Casey.


".. Tadi.. Nama Kita kan ? Iya kan ?" Tanya Desi yang sudah sadar betul bahwa diri nya sudah masuk ke akhir kejayaan dari gelar bangsawan.


"Hikss.. Kita akan dikeluarkan.. Sudah begitu, Kita juga mendapatkan denda yang sudah ada di peraturan sekolah semenjak sekolah ini di bangun. Matilah.. Ayah Ku benar-benar akan membunuh Ku..." Ave sudah menangis histeris sambil mengacak-acakkan rambut nya. Penampilan nya benar-benar terlihat sangat berantakan.


"Permanen ? Ini adalah keputusan permanen yang sudah tak bisa di ubah, sekalipun mengadakan rapat dengan para bangsawan ? Tapi, Sekalipun di adakan rapat, saat ini sekolah sudah mendapatkan dukungan dari Asosiasi Dagang Brigth.. Jadi.. Jadi... Hiksss.. Aku benar-benar akan menjadi rakyat biasa ?? Menjadi sama seperti orang-orang yang Aku buli selama ini ??? Yang benar saja ??!"


Casey pun hanya bisa mendecakkan lidah nya, dan keluar dari dalam aula dengan perasaan emosi di kepala nya. Berada di dalam aula juga sama saja menjadi bahan lelucon bagi anak-anak lain, dan juga menjadi pusat perhatian.


Tak mau menjadi manusia yang terpuruk karena sudah menyombongkan kemampuan nya di keluarga besar, membuat Desi pun mendapatkan ide gila di otak nya yang entah benar-benar ada atau tidak.


Secera tergesa-gesa, Desi pun mengedarkan pandangan mata nya pada seisi aula yang masih ramai dan tak ada tanda-tanda bahwa ada seseorang yang ingin meninggalkan aula itu. Seperti nya mereka menantikan tontonan lain.


Lalu, di antara banyak nya anak-anak, Desi pun berhasil melihat seseorang. Orang yang menurut nya dapat membantu.


"Nona Aldara!" Teriak Desi dan membuat seisi aula terdiam. Padahal bukan nama mereka yang di panggil, tapi dengungan suara yang menggema langsung tersingkirkan.


"Kau ingin meminta bantuan pada Aldara ? Hehehe..  Kau meminta bantuan pada orang yang salah. Dari 500 siswa-siswi yang ada di sini, Kau meminta tolong pada Nya ? Sekalipun hanya bercanda, tapi Dia adalah orang yang sangat tak mungkin untuk menolong atau bahkan menenangkan Mu." Batin Jessica sambil mengingat mimpi saat diri nya menyaksikan Jessica di dalam novel yang mati karena ulah Aldara.


Semua perhatian teralihkan pada Aldara dan juga Desi yang berlari dan langsung berlutut di lantai. Tepat di depan kursi yang di gunakan oleh Aldara.


"No..Nona Aldara... Hiksss... Saya sungguh tidak bersalah. Saya hanya memberi pelajaran pada gadis bernama Fany itu, karena Dia berani mengotori seragam yang anda gunakan kemarin. Hiksss... Anda pasti akan membela Saya kan ? Iyakan ?? Hikssa.. Nona Aldara.. saya mohon-"


"Dugaan Ku benar bukan ? Aldara bukan lah orang yang bisa memberikan pertolongan pada seseorang seperti Mu. Apalagi bagi orang yang sudah tak berguna lagi." Batin Jessica yang kini masih ingin melihat apa yang akan terjadi.


"Ya ?! Hiksss. Tak mungkin.. Anda ingin membuang Saya setelah Saya melakukan apapun yang Anda inginkan ?" Tanya Desi tak percaya.


"......" Merasa kesal, Aldara pun langsung berdiri dan berniat untuk kembali ke kamar nya.


Siapa yang dapat menyangka, bahwa Desi memeluk kaki Aldara dan membiarkan diri nya tampak sangat menyedihkan. Dia seakan pantang menyerah untuk mendapatkan belas kasih dari seorang Aldara.


"Kauuuu!!!!" Geram Aldara yang merasa kesal karena penampilan wajah nya yang belum di rias, menjadi pusat perhatian karena Desi saat ini.


"Hikssss... Nona... Nona Aldara.. Saya-"


"Sudah kubilang menyingkir.!"


BRAAKK.


Usai mengatakan isi kepala nya, Aldara pun menendang Desi dan membuat punggung nya mengenai kursi dan menciptakan bunyi tadi.


Semua orang yang ada di sana pun langsung bisik membisik, dan membuat Aldara semakin geram dengan keadaan saat ini.


Saat Aldara memindahkan atensi mata nya ke sekitar, pandangan mata nya terhenti pada satu titik.


Titik itu adalah titik di mana Jessica sedang duduk dan memangku kaki, dan dengan tatapan angguh dan tangan yang masih menopang dagu nya, membuat Aldara mempertanyakan...


Apakah Jessica adalah keturunan terhormat ? Sehingga menciptakan aura dan kharisma yang berbeda dari yang lain?


Bahkan saat Jessica tidak melakukan apapun, Aldara seakan merasa naik pitam, karena saat ini Jessica yang lebih terlihat sebagai bangsawan dan bunga pergaulan kelas atas, dan bukan diri nya.


Beberapa detik kemudian, Aldara pun meninggalkan aula setelah mendalatkan tatapan yang lebih angkuh dan dingin dari Pangeran Xavier, dan membiarkan Desi yang sedang mencoba untuk bangun dari posisi menyedihkan nya.


...**...


"Kira-kira kapan Fany akan di jemput ?" Tanya Gery di saat Aldara sudah meninggalkan Aula.

__ADS_1


"Hem ?! Jika dugaan Ku tidak salah, maka saat ini Diri nya sudah si bantu para prajurit sekolah untuk keluar dari dalam kamar. Aku menyuruh nya untuk berpura-pura lemah dan sebagainya. Lagian para prajurit itu tak akan bersuara jika ada yang janggal, karena mereka adalah orang yang dapat di percaya. Jadi, Fany bertindak seperti itu untuk memperjelas penglihatan anak-anak yang-"


Jessica sudah berhenti berkata. Bukan karena Gery menyela perkataan nya, tetapi karena Gery sudah berlari ke luar.


"Aku tau Kau adalah Dan versi ke dua, tetapi Kau pergi saat Aku belum selesai berbicara ? Berani sekali..." Monolog Jessica dan bangun dari kursi.


Jessica pun berjalan ke arah kintal depan sekolah, karena disanalah Fany akan di antarkan. Dan bersama Viona juga akan menunggu disana, sehingga Jessica tak perlu mengejar Gery. Toh nanti Dia dan Gery akan bertemu di tempat yang sama.


...*** ...


Banyak anak yang menyaksikan Fany di gendong ala Bridal style oleh satu prajurit sekolah. Fany langsung di masukkan ke dalam kereta kuda sederhana menurut penglihatan Jessica, bukan penglihatan siswa-siswi lain.


Siswa-siswi yang menyaksikan kepergian Fany pun berpikir bahwa kereta kuda itu adalah kereta kuda milik sekolah, karena sangat bagus dan juga elegan. Tak ada satupun dari mereka yang sadar bahwa di kereta kuda itu tak ada lambang sekolah sama sekali. Memang jam lima pagi adalah waktu yang tepat untuk mengelabui semua orang, karena sang mentari belum juga menampakkan diri nya barang sedikit pun.


Sebelum kereta kuda di jalankan, Viona bersama Dan menunduk hormat saat melihat Jessica. Jessica hanya mengangguk pelan, dan tak menciptakan rasa curiga, karena mereka berpikir bahwa Vioda dan juga Dan sedang memberi hormat pada Pihak sekolah dan semua nya.


Kereta kuda pun di jalankan, dan membuat atensi seluruh penghuni sekolah berpindah ke kegiatan mereka. Ada yang langsung berolahragga, mandi dan juga mempersiapkan diri sebelum kegiatan sekolah di mulai.


Sedangkan di sisi yang lain, ada seseorang yang menatap kepergian kereta kuda itu dengan tatapan sendu dan juga wajah yang tak rela. Orang itu adalah Gery.


Jessica yang sejak tadi berdiri di atas tangga pun, hanya melihat Gery yang belum sadar bahwa ada Jessica di belakang nya.


"Jika Dan menyukai Viona, itu hal yang wajar. Karena sejak kecil mereka tumbuh bersama, padahal tidak ada hubungan darah. Sedangkan diri Mu Gery ? Kau baru berbicara dengan Fany tadi malam. Entah perkataan Fany di bagian mana yang membuat Mu jatuh cinta tanpa sadar, tapi seperti nya Kau adalah anak muda yang jatuh cinta tanpa sebab yang rumit."


Sambil menatap heran dengan kepala yang di geleng-gelengkan, Jessica pun berbatin dengan postur tubuh yang berdiri sambil melipat kedua tangan di dada nya.


"Haaahhhh...."


Gery pun menghembuskan nafas panjang dan tertunduk lemah. Seperti nya Dia kehilangan motifasi untuk kehidupan sekolah setahun ke depan.


"Jika Kau ingin mengikuti Fany, Aku bisa membantu Mu ~ Jadi, apakah Kau ingin ?" Tanya Jessica yang membuat Gery langsung menoleh kaget dan menatap dirinya yang berada di anak tangga ke enam, dari tanah yang di pijak Gery.


Perlahan raut kaget nya pun menghilang, dan di gantikan dengan raut wajah sedih.


"Sekarang apa lagi ?" Batin Jessica sambil mengerutkan kening nya.


"Sekalipun Aku ingin, tetap tak bisa. Karena orang tua Ku menginginkan Aku lulus dengan nilai yang bagus." Ucap Gery dengan suara lemas nya.


"Apakah mereka tergila-gila dan memaksa Mu untuk sukses ?"


"Tidak.."


"Lalu ? Apa yang membuat Mu bertahan ?"


"Mereka adalah orang tua yang tak pernah kasar pada Ku. Saat Aku masuk Sekolah ini saja, mereka sudah menatap bangga dan merasa bahwa mereka sudah berhasil mendidik anak mereka. Aku tak bisa menghancurkan senyum dan juga keceriaan dari wajah mereka yang mulai mengeriput." Jelas Gery dengan sangat tulus.


"Masuk akal. Maka Kau harus lebih banyak bersyukur karena memiliki orang tua seperti itu di kehidupan kali ini." Kata Jessica tulus memberi saran, yang sudah pasti membuat Gery tak paham.


"Maksud Mu ?" Tanya Gery yang nampak jelas merasa bingung dengan pernyataan Jessica barusan.


Merasa sudah salah dalam pemilihan kata, membuat Jessica pun membalikkan badan dan memasukkan ke dua tangan nya di saku rok.


"Ayo sarapan." Ajak Jessica yang lompat ke pembicaraan lain.


"Hahh ???!" Gery pun merasa heran dan menatap Jessica dengan kening yang semakin berkerut.


"Aku sangat lapar. Jika Kau ingin sarapan dengan keadaan kantin yang penuh, maka silahkan. Tapi yang Jelas, Aku tak ingin. Karena akan merusak mood Ku jika terjadi sesuatu yang tidak di harapkan." Kata Jessica yang tidak menghentikan langkah kaki nya sedikit pun.


"Tunggu dulu.. Jadi Kau tak masalah jika berteman dengan Ku ?" Tanya Gery yang baru konek pada perkataan Jessica.


"Emm." Jawab Jessica yang hanya berdehem saja.


"Kalau seperti itu, dengan apa Aku harus memanggil Mu ?" Tanya Gery antusias.


"Panggil Jessica saja."


"Apakah bisa ? Aku tidak enakkan ini ~"


"Jika Kau keberatan, maka panggil saja Jessica Lathasia Mauren."


"Eheeiii~ itu terlalu panjang."


"Jika kau tak suka dengan nama Ku, maka panggil saja manusia. Padahal laki-laki, kok ribet sih ?!" Cetus Jessica di sertai dengan lirikan mata ekor nya.

__ADS_1


Gery cukup merasa tertekan dengan tatapan Jessica, namun karena berpikir Jessica sudah menerima nya, maka Gery pun menganggap bahwa tekanan yang di berikan oleh Jessica adalah bawahan sejak lahir, sehingga Gery tak mempedulikan tekanan apapun itu.


__ADS_2