Jessica Si Pemeran Figuran ?

Jessica Si Pemeran Figuran ?
#50.


__ADS_3

Setelah merasa otak nya sudah di peras saat menata rencana dalam beberapa menit, perut Jessica pun melakukan peran nya saat merasa sudah lapar dan butuh makanan.


“Fany, apakah Kamu sudah makan siang ?” Tanya Jessica yang sudah sangat jelas sangat lapar saat ini.


“Belum. Saat Aku ingin makan, tak sengaja menjatuhkan makanan ke baju seragam Nona Aldara.” Jawab Fany yang merasa kasihan pada makanan yang terbuang sia sia.


“Bagaimana jika saat ini Kita pergi ke kantin ? Aku sudah sangat lapar.” Ucap Jessica sambil menarik tangan Fany ke arah pintu.


“Aku... Tak bisa... “ Jawab Fany dengan suara yang melemah.


“ Apakah Kamu takut jika bertemu Aldara dan antek antek nya ?” Tanya Jessica yang menduga duga.


Lagi, Fany hanya mengangguk saat Jessica bertanya yang tepat sasaran.


“Apakah tak masalah jika Aku mengajak nya ke dalam kamar Ku ? Tapi di sana pasti sudah ada banyak dokumen yang tak akan bisa Aku jelaskan dengan masuk akal pada Nya.” Batin Jessica.


Karena Jessica sedang memikirkan cara yang dapat membuat perut nya di isi, membuat wajah nya tampak sangat serius bahkan sampai memunculkan kerutan di beberapa bagian pada wajah nya.


“Aku sudah biasa menjalani hari hari seperti ini. Jadi jika lapar, pergilah ke kantin. Aku akan makan di tempat biasa.” Ucap Fany yang kini sudah berada di gagang daun pintu.


“Kamu ingin makan di mana ? Ajak Aku juga dong. Kita berteman bukan ? Kan udah kenalan tadi.” Ucap Jessica sambil menggandeng tangan Fany yang di gantung.


“Kamu tak masalah ? Jika seperti itu, ikutlah dengan Ku.”


Setelah berkata seperti itu, Fany menarik Jessica dan mereka pun berlari ke kandang kuda. Karen otot tubuh Jessica sudah terlatih, sehingga Dia dapat menyeimbangkan langkah kaki nya dengan Fany.


...***...


Setelah menunjukkan akses mereka pada penjaga kuda, Jessica dan Fany pun menunggangi kuda yang terlihat kuat dan sehat.


Fany yang sudah biasa berpacu pada adrenalin nya bersama kuda, membuat Jessica kesulitan dalam menyesuaikan kecepatan kuda.


Namun bukan Jessica nama nya jika cepat menyerah. Perlahan lahan, Jessica dapat menyesuaikan langkah kuda nya dengan kuda Fany, dan mereka berdua dapat menikmati angin nya hutan sekolah dengan kecepatan di atas rata rata.

__ADS_1


...***...


...Beberapa menit kemudian......


Fany sudah menghentikan kuda nya, dan hal yang sama juga di lakukan oleh Jessica.


“Apakah Kamu sudah sering ke sini ?” Tanya Jessica yang melihat Fany sudah berada di atas pohon apel.


“Ya. Di sini tak pernah di datangi oleh siapa pun. Namun karena Kepala sekolah tidak suka melihat lahan yang kosong, sehingga hutan ynag besar ini di peliharan dan di jaga dengan sihir.” Jelas Fany yang


sudah memakan buah nya.


“Lagi-lagi sihir...” Batin Jessica yang kini naik di pohon yang sama, namun pada dahan pohon yang berbeda. Tentu saja Jessica langsung memetik buah Apel yang bergangungan di ujung ranting pohon dan memakan nya.


Krausss. Bunyi gigitan apel Jessica.


“Em, enak.” Cetus Jessica saat merasakan manis nya buah yang Dia makan saat ini.


“Iya kan ? “ Jawab Fany yang ikut merasa senang mendapat kan teman seperti Jessica yang tidak masalah dengan berbagai situasi (Tidak banyak mau maksud nya).


“Bukankah sudah Aku katakan ? Kepala Sekolah tidak suka melihat lahan yang kosong, sehingga lahan yang sebesar ini hanya di tumbuhi oleh pohon pohon besar yang menghasilkan buah dengan sihir. Tak akan ada yang tumbang, yang gugur, dan juga busuk. Dipetik satu malah di tumbuhi


sepuluh. Begitulah yang terjadi di hutan ini, sehingga ini menjadi tempat yang


sangat aman bagi Ku.” Jelas Fany lagi.


“Kamu sudah tau banyak yaa. Padahal baru seminggu di sini.” Ucap Jessica ynag sudah memetik buah ke dua.


“Tentu saja Aku tau. Karena Aku memiliki jiwa kepo, sehingga informasih seperti ini terasa sudah lumrah.”


“Aku rasa tidak lumrah. Karena jika hutan ini di ketahui oleh siswa siswi yang lain, maka tempat ini akan menjadi tempat mereka juga. Kamu pasti mengetahui tempat ini dari buku denah sekolah kan ? Buku yang menjelaskan secara terperinci tentang apapun yang menjadi bagian dari


sekolah ini.”

__ADS_1


“Wow. Kamu juga membaca buku setebal itu ?”


“Tentu. Karena Mama adalah orang yang sangat tegas. Dia menyuruh Ku untuk  membaca buku setebal dosa Ku,dan menyuruh Ku memahami dena sekolah. Mama tak mau Aku tersesat di lingkungan yang asing ini.” Jawab Jessica yang saat ini bersandar di pohon Apel.


“Pasti Mama Mu adalah orang yang sangat berkharisma. Sehingga dapat menghasilkan anak seperti Mu, dan juga memberikan edukasi yang membuat Mu melakukan hal yang di perintahkan dengan sangat  patuh.” Puji Fany dengan tulus.


“Tentu. Dia adalah wanita yang mengajarkan Ku banyak hal baru. Dan membuat Diri Ku dapat berkomunikasi dengan orang baru seperti Mu Fany.”


“Bicara Mu sudah seperti orang yang hidup dua kali.” Jawab Fany yang merasa ganjil dengan perkataan Jessica, tanpa mengetahui seberapa benar perkataan Nya.


“Tapi, Ku rasa hanya kita berdua yang membaca buku itu.” Ucap Fany lagi yang sudah menghabisi 4 buah apel.


“Kamu benar. Karena yang mengetahui hal ini hanya kita berdua.” Jawab Jessica yang merasa ingin mencoba buah anggur yang ada di seberang jalan setapak.


“Lalu, apa tujuan Mu bersekolah di sini ? Maksud Ku, tempat kerja mana yang Kamu incar ?” Tanya Fany yang mempehatikan Jessica yang kini sudah turun dari pohon.


“Akan ku jawab pertanyaan Mu setelah memetik buah anggur di sana.” Kata Jessica sambil menunjuk buah Anggur yang ada di hadapan nya.


Beberapa saat kemudian, Jessica sudah kembali dan melempar satu tangkai anggur pada Fany.


“Untuk Ku ?” Tanya Fany yang berhasil menangkap buah itu dengan timing yang pas.


“Bukan. Berikan saja pada Kuda yang Kamu tunggangi.” Jawab Jessica bercanda, dan kesulitan dalam menaiki pohon apel, karena satu tangan nya sedang memegang satu tangkai anggur milik nya.


“Berikan Anggur Mu pada kuda yang kamu tunggangi. Maka setelah itu Kamu dapat menaiki pohon ini.” Ejek Fany yang tak ada niatan untuk membantu Jessica dengan memegang buah anggur nya.


“Jika Aku tak bisa naik, Aku tinggal makan di sini kan ? Lagian rumput nya sangat bagus dan juga berwarna hijau terang. Ku rasa tak masalah juga kok.”


“Tch. Apa salah nya jika Kamu melempar anggur pada Ku, dan menaiki pohon apel Jess ?” Kata Fany yang sudah ikutan turun dan duduk berhadapan dengan Jessica.


“Kenapa Kamu ikutan turun ? Bukan kah Kamu tak suka jika Aku duduk dan makan di sini ?”


“Cerewet. Aku Cuma penasaran pada jawaban Mu sehingga ikutan turun. Maka dari itu, jawab pertanyaan Ku tadi. Apa tujuan Mu bersekolah di sini ? Tujuan tempat kerja Mu itu di mana ?” Kata Fany

__ADS_1


yang saat ini benar benar menantikan jawaban dari Jessica.


__ADS_2