
Jessica adalah pembisnis yang benci jika di halangi dalam perjalanan dalam melakukan bisnis nya. Bisnis nya di sini tak lain dan tak bukan adalah bisnis bersama Fany.
Lelaki yang di tendang oleh Jessica tadi sudah bangun dari Posisi tersungkur nya. Ujung bibir nya sedikit mengeluarkan darah segar, dan tangan kanan nya memegang bagian yang di tendang Jessica tadi.
“Tendangan Mu.. Lumayan juga.. Untuk seorang wanita yang menggunakan gaun.” Kata nya, yang entah bermaksud memuji atau sedang menyinggung Jessica yang tidak menjaga etika nya.
“Ku tanya sekali lagi. Apakah Kamu yang menyuruh orang untuk menembakkan anak panah itu ?” Tanya Jessica sambil menunjuk anak panah yang masih tertancap di pintu kayu.
“Apakah Kamu harus mempertanyakan hal yang sudah jelas ? Kamu sudah tau jawaban nya, lalu untuk apa di tanyakan lagi ?” Kata nya yang semakin mendekat ke arah Jessica.
“Aku sudah tau jawaban nya. Tetapi Aku memerlukan pengakuan Mu.”
“Pengakuan Ku ? Jika seperti itu, Iya. Akulah yang menyuruh orang untuk menembakkan anak panah itu. Apakah sekarang sudah puas ?” Tanya nya lagi yang saat ini berdiri berhadapan dengan Jessica.
Jessica tersenyum dan menghembuskan nafas panjang. Lalu, saat Jessica melakukan kontak mata dengan lelaki itu, Jessica pun angkat suara.
“Jika jawaban Mu sudah terverifikasi, maka tak akan ada masalah jika Aku memukul Mu hingga babak belur kan ?”
Mendengar perkataan Jessica, membuat lelaki itu memiringkan kepala nya dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Sedetik kemudian, ujung kaki Jessica hampir mengenai rahang kanan nya. Beruntung reflek lelaki itu cukup cepat, sehingga kemungkinan rahang nya berpindah tempat tidak terjadi.
Lelaki itu terus menghindar. Bukan nya Dia tak membalas karena Jessica adalah wanita, tetapi karena Jessica tidak memberikan kesempatan kepada nya.
“Apakah wanita ini lahir besar di medan perang ? Gerakan nya terlalu cepat.. Aku bahkan tak berani menangkis satu pukulan wanita ini, Aku takut langsung bengkak dan berubah warna...” Batin pria itu sambil terus menghindari Jessica.
Dia cukup di buat kewalahan oleh Jessica, karena gerakan Jessica yang tak seperti wanita lain nya. Dia tak tau saja, River adalah seorang mantan prajurit di medan perang, sehingga membuat Jessica jadi tak terkalahkan dengan siapapun.
River bahkan mengajarkan Jessica tanpa meringankan sedikit pun porsi latihan nya, karena jika di bedakan, akan ada kesenjangan dan perbedaan kekuatan Jessica dan laki laki. Dan River tak mau hal itu terjadi, apalagi Jessica yang memiliki wajah yang amat cantik, sudah pasti akan mendatangkan banyak masalah.
“Aku.. Membutuhkan celah. Yang membuat Ku dapat menghentikan pergerakan nya...”
Usai berbatin, Lelaki itu melihat Syal Jessica yang ikut beterbangan di setiap pergerakan Jessica.
“Ini dia.”
Batin nya dan langsung menangkap ujung syal Jessica. Karena pergerakan lelaki itu di lakukan dengan cepat, sehingga pergerakan Jessica langsung terkunci kala syal yang Dia pakai untuk menutupi punggung nya di lilitkan di bahu.
__ADS_1
“Licik.” Kata Jessica yang menatap Lelaki itu dengan tatapan kemarahan.
Tampak jelas bahwa Jessica akan memberikan perlawanan yang setimpal pada Nya.
“Jangan marah dulu. Aku memang terpaksa melakukan nya. Akan Aku lepaskan, tetapi berjanjilah bahwa Kamu tak akan memukul Ku lagi..” Bujuk lelaki itu, yang tau betul bahwa Dia akan kalah telak jika Jessica melawan nya menggunakan emosi.
“Tak usah Kamu bujuk seperti itu. Karena ada Aku yang akan membantu Jessica.” Ucap Fany yang merasa Jessica memerlukan bantuan nya.
Dan benar saja, Fany langsung membantu Jessica untuk lepas dari syal nya. Saat Jessica sudah berdiri kembali, Dia langsung melepaskan Seloyor transparan yang bisa di lepas pasang pada pinggang nya.
Hal ini membuat paha mulus Jessica terekspos, dan membuat Fany maupun lelaki itu merona sambil meneguk saliva masing-masing.
“Jangan memukul nya lagi Jessica. Seperti nya dari dirinya kita akan mendapatkan banyak informasi.” Kata Fany yang juga merasa prihatin dengan lelaki yang jika saja kalah reflek, maka sudah pasti saat ini Diri nya babak belur, dengan wajah yang masih terlihat memerah.
“Minta maaf.” Perintah Jessica yang saat ini sudah membuang syal nya ke lantai.
“A.. Aku ?! Minta maaf pada Nya ?” Tanya lelaki itu yang merasa syok, karena yang akan Dia mintai maaf adalah seorang rakyat biasa.
“Memang kenapa ? Lebih baik Kamu singkirkan pemikiran yang berlandaskan adanya perbedaan antara bangsawan dan rakyat biasa. Karena jika tidak, Aku yang akan membantu Mu untuk menyingkirkan pikiran bodoh itu.”
“Tapi.. Tapi.. Aku...” Dia pun bigung mau menjelaskan dari mana. Karena diri nya merasa bahwa memang harus ada perbedaan antara rakyat biasa dan bangsawan.
masalah sih, karena Kamu yang harus bersiap menerima bogem mentah dari Ku.”
“Ma… Maaf kan Aku.”
Akhir nya, kata yang di tunggu tunggu sejak tadi keluar juga dari mulut Lelaki yang memiliki gengsi setinggi langit.
“Dia seperti anak kecil di jaman modern. Yang ingin meminta maaf karena salah saja susah sekali.” Batin Jessica yang merasa seperti sebuah Deja vu.
“Bagus.” Puji Jessica dan mengambil kembali syal yang Dia buang ke lantai, dan menutupi punggung nya.
Sempat Jessica berusaha melirik punggung nya. Dan bagus nya, tanda lahir nya tidak kelihatan, karena Jessica memakai sesuatu seperti foundation untuk menutup nya.
“Ayo.” Ajak Jessica pada Fany sambil menaruh seloyor bening di lengan kanan nya.
“EH ?!” Si pemuda yang menjadi incaran Jessica sejak tadi langsung membeku di tempat nya. Karena bukan nya memuji diri nya yang sudah berusaha meminta maaf, Jessica malah melewati nya seperti tidak ada sesuatu yang spesial.
__ADS_1
Saat melihat punggung Jessica yang semakin menjauh, membuat pemuda itu merasa tak mau di tinggal kan. Mungkin ada sesuatu yang bermasalah dengan otak nya, sehingga tak mau di tinggalkan oleh orang yang ingin memukul nya hingga babak belur.
“TUNGGU!”
Teriakan pria itu berhasil menghentikan langkah kaki Jessica dan Fany yang mengarah ke pintu, yang tertancap anak panah yang di tembakkan tadi.
“Apa ?” Dengan satu alis yang di naikan, Jessica menanyakan alasan pria itu berteriak seperti orang gila.
“Apakah tak ada sesuatu selain kata * Bagus* yang Kamu katakan pada Ku ?” Tanya pria itu.
“Kamu menginginkan pujian ?” Tanya Jessica dengan wajah yang kembali datar.
Wajah pria itu langsung tampak merona, karena perkataan Jessica terlalu sesuai kenyataan, sehingga membuat diri nya merasa malu-malu kucing.
“Lain kali, jangan lakukan hal yang sama.” Ucap Jessica dengan suara yang tidak berubah sedikit pun intonasi nya.
“Em... Ba-“
SYUUUUT... SREEEK..
Perkataan pemuda itu tidak dapat terselesaikan, karena sesuatu hampir mengenai wajah nya.
“Hei... Kenapa Kamu melemparkan anak panah itu ke arah Ku ?” Tanya pria itu dengan wajah yang masih sangat syok, dan tidak terdapat lagi rona merah di pipi nya.
“Mata di ganti mata. Gigi di ganti gigi... Apakah Kamu tidak tau pepatah itu ?” Jawab Jessica dan berjalan menuju ke arah tempat yang di jadikan nya sebagai tempat istirahat.
“Tapi, anak panah itu tidak mengenai Ku. Jadi, lain kali itu pastikan Kamu mengenai mangsa Mu.” Ucap Pria itu yang wajah nya tampak sangat serius, sedang menasehati Jessica.
Langkah kaki Jessica terhenti, Dia membalikkan badan nya, dan menatap pemuda itu dengan smirk yang menghiasi wajah cantik nya itu.
“Lain kali ? Aku tak membutuhkan lain kali saat sudah berhasil mengenai target Ku.”
Selang satu detik setelah perkataan Jessica, pipi pria itu meneteskan darah segar.
“EH ?! Sejak kapan?!” Kata nya dengan raut wajah yang kembali merasa heran.
“Tentu saja sejak tadi. Lain kali, pastikan Kamu itu sudah benar benar menang, barulah menasehati musuh Mu. Karena hasil akhir tak pernah sesuai dengan ekspektasi Kita.”
__ADS_1
Usai mengatakan hal itu, Jessica dan Fany benar benar meninggalkan Pria itu yang merasa kan pedih di pipi nya.