Jessica Si Pemeran Figuran ?

Jessica Si Pemeran Figuran ?
#44.


__ADS_3

...Pukul 8 pagi hari......


...Ciittt... Citt..Cittt......


Kicauan burung di pagi hari melesat masuk begitu saja ke gendang telinga seorang gadis, yang saat ini belum juga menunjukkan tanda tanda akan bangun dari tempat tidur nya.


Seakan badan nya di baluri dengan Lem


Dinosaurus ( Lem kuat yang dapat membuat seekor Dinosaurus tak bisa bergerak sedikit pun, jika sudah mengenainya [Lem ciptaan Author ini] ).


“Umm....” Gumaman pun akhir nya terdengar dari mulut Jessica, kala kedua iris mata nya di sambar oleh cahaya mentari pagi.


Merasa risih, Jessica pun bangun dari bantal kepala nya, dan duduk memangku kepala dengan satu tangan.


“Di sini matahari pagi nya terang banget. Seterang masa depan Ku, jika tidak berhubungan dengan pemeran utama pria maupun wanita selama setahun penuh.”


Jessica pun bermonolog, guna menjadi pikiran awal agar otak nya yang baru bangun dapat bekerja sebagaimana mestinya . Jessica mulai mengerjapkan mata nya berkali kali, guna menerangkan indra penglihatan nya itu.


Secara tak sengaja, kedua iris mata Jessica melihat jam yang tergantung di dinding kamar nya. Jarum pendek yang menunjuk ke angka 8, dan jarum panjang yang menunjuk ke angka 5.


"Tunggu dulu... Tak ada yang bermasalah dengan kontras cahaya matahari di pagi ini. Yang jadi masalah nya adalah jam yang hampir mendekati siang hari... Dan masalah utama nya adalah, acara sambutan siswa baru yang akan di mulai pukul 9 pagi. Gila!!!! Aku Masih sempat mempercantik diri gak yaaa ? Sudahlah, yang paling utama saat ini adalah MANDI!”


Setelah berkata demikian, Jessica pun berlari ke dalam kamar mandi. Terdengar Bunyi botol sabun dan botol sampo yang berjatuhan, dan suara teriakan kesakitan saat Netra Jessica secara tak sengaja ,mengenai busa sabun.


Namun hal itu bukan lah masalah besar bagi Jessica, karena saat di zaman modern waktu itu, Jessica sudah sering bangun kesiangan, karena baru dapat tertidur di jam 5 pagi akibat lembur.


...***...


...10 kemudian menit......


“Ini adalah mandi tercepat yang pernah Aku lakukan, entah itu di zaman modern maupun saat ini. Karena saat di zaman modern, Walaupun Aku Terlambat, Akulah Bos nya. Jadi tak ada yang dapat mendikte. Sedangkan jika di kehidupan ini, Aku tak pernah terlambat sedikit pun. karena Mama selalu membangun kan Ku setelah selesai memasak sarapan..Haah, roda kehidupan benar-benar berputar untuk hal hal baru."


Jessica terus bermonolog sambil mengeringkan badan nya yang basah, untuk mengurangi rasa panik dan gugup yang semoga saja tidak terlambat.


Karena jika terlambat, bisa jadi Jessica malah menjadi tontonan dan lelucon bagi para siswa maupun Guru. Yang tertanam di benak Jessica saat ini adalah Kesan pertama sesempurna mungkin.


Sambil terus berkata dengan diri sendiri, tangan Jessica terus bergerak secepat mungkin, agar diri nya dapat keluar sekarang juga menuju aula, sesuai dengan dena yang sudah dijelaskan oleh kepala sekolah kemarin.


Ditambah dengan Kesatria yang sempat pingsan setelah bicara di pintu gerbang dengan Jessica, kemarin telah mengajak berkeliling agar Jessica dapat mengenali lingkungan sekolah yang akan digunakan nya untuk setahun ke depan.


...***...


...30 kemudian menit......


Walaupun pergerakan Jessica sudah dipercepat sekilat mungkin, yang nama nya perempuan saat tengah bersiap untuk suatu acara penting, sudah pasti tak akan berjalan cepat. Karena ada banyak polesan yang seperti membutuhkan konsentrasi penuh, agar garis yang bagaikan di ukir di kelopak mata itu dapat sesuai dengan kemauan.

__ADS_1


“Beruntung nya Irene sudah menjahit banyak gaun yang Aku gambar sesuai dengan penggabungan model zaman modern dan saat ini. Apapun


itu, asalkan tidak memakai korset, maka semua nya akan berjalan lebih cepat.”


Ucap Jessica kala melihat melihat pantulan diri nya di depan cermin besar.


Setelah memastikan make up dan penampilan Jessica tidak tampak seperti jamet so cantik di zaman modern, Jessica pun langsung berlari ke arah Aula meskipun tengah memakai High Heels yang cukup tinggi agar seiras dengan gaun yang dia kenakan.


Gaun yang Jessica kenakan (Anggap saya ada syal berwarna unggu pucat yang akan menutupi pundak Jessica yang terdapat tanda lahir.)



Irena berhasil membuat gaun yang di kenal dengan model sabrina di zaman modern. Sebenarnya gaun yang Jessica pakai saat ini tidak sampai ke mata kaki, tetapi karena Jessica tidak boleh tapak terlalu fulgar dengan gaun di atas lutut, sehingga Irene pun menjahit seloyor tranparan yang bisa di lepas pasang di pinggang Jessica.


...***...


Beberapa saat kemudian, Jessica sudah sampai di lorong yang akan membawa nya ke aula.


Tinggal 100 meter ke depan lagi, lalu belok kanan, maka pintu Aula yang di lihat oleh Jessica kemarin akan menjadi hal pertama yang Dia lihat saat berhasil berbelok di ujung lorong.


"Bagus.. Sedikit lagi, maka Aku masih memiliki waktu untuk mengatur nafas selama 10 menit.” Batin Jessica bangga, saat ujung lorong sudah terlihat di pantulan netra nya.


“Bagus..Sekarang tinggal belok kanan, maka-“


“AAAHHHH!!!”


Belum sempat Jessica mengutarakan isi kepala nya, wajah nya sudah di pertemukan dengan sesuatu yang bidang dan amat datar, namun tergolong keras karena kening dan hidung Jessica terasa sangat sakit saat ini.


“Aku akan menyuruh Paman River untuk membunuh orang yang telah menabrak Ku. Sungguh merupakan hal yang gila, karena Aku harus mendapatkan kesialan seperti ini saat tengah berburu dengan waktu.” Batin Jesica tampak kesal dengan wajah yang sudah berkerut di mana-mana.


Meskipun Jessica berpikir untuk membunuh orang yang secara tak sengaja menabrak nya, sesungguh nya Jessica tidak bersungguh sungguh saat memikirkan nya.


Jika ada alasan yang lebih masuk akal, maka Jessica tak keberatan untuk meminta bantuan River, agar menyelesaikan masalah nya hingga ke akar terdalam. Tapi kali ini, benar benar


hanya umpatan saja.


“Maaf, tapi Apa Kamu baik baik saja?” Terdengar suara bariton yang bersifat lembut dan dapat masuk ke gendang telinga Jessica dengan sangat mulus.


Tapi hal itu tidak menjadi alasan agar Jessica tidak marah pada orang yang secara tak sengaja ini menabrakkan nya.


“Bisakah Kamu tidak menanyakan pertanyaan omong kosong seperti itu?”Jawab Jessica yang masih memejamkan mata nya, dan


menunggu rasa sakit di bokong dan tulang belakang berkurang.


“Maaf?!” Orang yang menabrak itu bertanya lagi, karena merasa kaget ada wanita bangsawan yang tidak menjaga etika bicara nya sama sekali, padahal sudah mendengar bahwa orang yang mengajak bicara adalah seorang Pria.

__ADS_1


“Cih, Mana ada orang yang seperti baru tertabrak tembok, jatuh dengan kecepatan penuh, apalagi bokong Ku yang menyentuh lantai terlebih dahulu.Sudah pasti Aku tidak baik baik saja.” Ucap Jessica memperjelas, dan perlahan lahan membuka Netra nya, karena rasa nyeri sudah agak berkurang.


“Pufft...” Sang Pria yang menabrak Jessica berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa di hadapan Jessica. Lantaran perkataan Jessica terlalu masuk akal, dan jarang disampaikan orang secara gamblang selama ini pada nya, sehingga Pria yang menabrak itu merasa seperti ada yang menggelitik di dalam perut nya.


"Tunggu... Kenapa ini terasa seperti sebuah De javu ?" Batin pria itu sambil mengangkat satu alis mata nya.


“Dia menertawai perkataan Ku?Dasar Pria bangsawan yang tak tau sopan-“


Batin Jessica tak bisa Ia lanjutkan hingga tuntas. Karena Netra nya sudah melihat dengan jelas, siapa Pria Bangsawan yang di cap tidak tau sopan santun oleh Jessica.


“Maaf saya terdengar tidak sopan karena menertawakan perkataan Mu barusan. Biar ku bantu Kamu untuk berdiri, ” Pria berambut putih silver itu mengulurkan tangan nya untuk Jessica, dan tersenyum ramah sehingga dapat membuat siapa saja luluh.


...[Anggap saja sedang tersenyum]...



Yah, dapat membuat siapa saja luluh kecuali Jesica saat ini.


Rambut Silver yang tidak terlalu terang, karena tak ada cahaya yang mengenai nya saat ini. Sepasang netra yang berwarna hitam bercampur dengan beberapa garis biru, wajah yang bagaikan manekin dengan pahatan sempurna, saat ini tengah berdiri di hadapan Jessica, dan tengah mengulurkan tangan nya untuk membantu Jessica berdiri.


“Sungguh, tanpa menggali ingatan Ku tentang penampilan dari tokoh utama Pria, Aku sudah dapat merasakan bahwa Pria yang saat ini tengah mengulurkan tangan nya adalah Pemeran Utama Pria . Aku sangat yakin akan hal itu, karena karisma yang di pancar nya tidak main main. Ah, apakah hari ini adalah hari sial sedunia ?”


Batin Jessica yang seolah tak terima, karena dari banyak nya siswa di sekolah ini, mengapa harus Pemeran Utama Pria yang bertabrakan dengan nya.


“Tangan ku sudah menjadi kaku di udara, apakah Kamu tak ada niatan untuk meraih uluran tangan Ku ?”


Perkatan Pria berambut silver yang bernama Xavier Januartha


Smith itu, berhasil membangunkan Jessica dari banyak nya keluhan dan pertanyaan di benak nya.


“Sekalipun mati, Aku tak akan meraih uluran tangan dari siapapun, terlebih khusus nya dari Mu.”


Membangun kesan pertama yang baik saat bertemu ? Memang hal itu yang ditanam kan oleh Jessica sejak bersiap siap karena kesiangan tadi. Tapi untuk yang satu ini adalah pengecualian nya.


Padahal sudah berniat untuk tidak berhubungan dengan para pemeran utama di dunia novel ini, tapi kenapa hari pertama sudah di suguhkan dengan pertemuan tak terduga seperti ini ?


“Hem ? Apakah Kamu terlalu tak terima jika di tabrak oleh Ku ? Atau, Kamu sedang datang bulan ?”


Merasa bingung, Xavier pun mengeluarkan


pendapat nya yang bisa saja terjadi. Berhubung selama ini Xavier telah mengamati sifat perempuan dari Ibu nya sendiri.


“Apapun penyebab dan jawaban nya, tak penting untuk di jawab kan ? Karena dari semua orang yang Aku benci, Kamu adalah orang yang sama sekali tidak ingin aku temui dan kenal selama sisa hidup Ku.”


Setelah mengatakan hal yang dapat menghancurkan perasaan siapa saja di pertemuan pertama, Jessica berdiri dan meninggalkan Xavier yang langsung tenggelam dalam lautan pikiran nya.

__ADS_1


__ADS_2