Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Pemahaman Yang Keliru


__ADS_3

Wirayudha benar-benar tidak berkutik, apalagi setelah kedua Kakak dari Maharani ikut memandangnya, seolah-olah menunggu pernyataan dari Wirayudha.


"Kisanak dan Nisanak, mohon maaf aku tidak bermaksud merendahkan kalian, niatku hanya menolong tanpa mengharapkan imbalan apapun! guruku hanya sekedar menggoda kalian, mohon maaf jika tidak berkenan dengan ucapannya!" kemudian Wirayudha menjura dalam-dalam ke arah Bayusuta dan saudaranya yang lain, terutama ke arah Maharani.


Bayusuta, Bayu Lelana dan Maharani terperangah dan tidak percaya, ucapan Wirayudha sangat formal dan membuat mereka merasa menghadapi seorang bangsawan dari sebuah kerajaan.


"Wira, sudahlah! tidak tepat kau mengatakan seperti itu di tepi hutan ini, lihatlah! sekarang mereka melihatmu seperti melihat seorang Pangeran sebuah kerajaan, hentikan ucapanmu seperti tadi!" Nini Sangga Geni Akhirnya menghentikan godaannya kepada Wirayudha.


"Hmm...Pendekar, kalau boleh kami tahu, kemanakah tujuan kalian pergi? bagaimana jika kita jalan bersama dan kita singgah ke Padepokan kami di wilayah Brebes?"


Tanpa meminta persetujuan Wirayudha, Nini Sangga Geni memutuskan ikut bersama rombongan mereka ke arah Brebes, ia pun menyetujui tawaran Bayusuta.


"Cepatlah kalian berkemas, kami akan ikut!" Nini Sangga Geni kemudian memberikan perintah kepada kelompok Bajing Loncat.


Bayusuta, Bayu Lelana merasa senang, apalagi Maharani, akhirnya merekapun segera berkemas dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.


Di sepanjang jalan menuju Brebes, Bayusuta dan Bayu Lelana mendampingi Wirayudha, mereka berjalan beriringan sambil bercerita berbagai kisah, sedangkan Nini Sangga Geni di temani oleh Maharani.


Kelompok Bajing Loncat mempunyai kesan sendiri terhadap Nini Sangga Geni dan Wirayudha, mereka menganggap keduanya bukan hanya dari kalangan persilatan, selain karena penampilan Wirayudha yang menawan, pengetahuan dan wawasan Nini Sangga Geni sangatlah luas dan tidak pelit dalam berbagi cerita dengan mereka.


Perjalanan mereka menuju Brebes melewati perkebunan bawang merah yang sangat luas, menjelang sore hari, tibalah di sekitar Pantai Randusanga yang di sana banyak terdapat tambak-tambak ikan yang di kelola oleh warga pedukuhan.

__ADS_1


Nini Sangga Geni dan Wirayudha merasa heran, melihat setiap warga yang menjumpai mereka menyapa dengan senyum yang ramah, karena keduanya menganggap kelompok Bajing Loncat hanya sekedar kawanan perampok.


Maharani kemudian mendekati Wirayudha, "Kakang, itu adalah Padepokan kami!" sambil tangannya menunjuk sebuah kediaman yang tidak bisa di sebut rumah, karena terlalu luas dan di bentengi oleh tiang-tiang bambu yang berjajar rapih dengan ketinggian yang sama.


Ketiga pemimpin Bajing Loncat kemudian berjalan mendahului yang lain dan langsung masuk ke pekarangan, sedangkan Nini Sangga Geni dan Wirayudha di persilahkan menunggu di sebuah rumah joglo yang kecil di depan dan langsung mendapatkan pelayanan para anggota Bajing Loncat yang tadi ikut serta dalam perjalanan bersama.


Kediaman mereka memang lebih tepat di sebut sebuah Padepokan, karena lebih banyak kaum laki-laki yang di temui daripada kaum wanitanya.


Terlihat ada sebuah keramaian tidak jauh dari tempat Nini Sangga Geni dan Wirayudha beristirahat, hiruk pikuk terdengar sangat ramai, di iringi suara gelak tawa dan tepuk tangan.


"Sepertinya di sana ada sebuah pertunjukan Wira! apa kita perlu menengok kesana untuk melihat?"


"Kita tunggu saja kedatangan Bayusuta atau Bayu Lelana 'Nini! tidak elok rasanya kita berjalan-jalan di rumah orang lain tanpa izin!"


Tidak jauh dari panggung terlihat Bayusuta dan Bayu Lelana sedang menghadap seseorang yang mungkin di anggap sebagai ketua atau pemimpin, "Romo, izinkan kami berbicara kepadamu!", "Ada apa Suta? apa kau tidak melihat romomu sedang menikmati pertunjukan ini?"


Seseorang yang di panggil romo oleh Bayusuta adalah seorang sepuh yang sepertinya sangat di segani di situ, rambutnya memutih dan terikat kain lorek hitam dengan paras yang berwibawa.


"Romo, mohon luangkan waktumu untuk menemui tamu yang kami undang! mereka telah menyelamatkan nyawa kami saat berada di tepi hutan Gunung Selamet kemarin saat menghadapi musuh!"


"Betul Ki Pandusora! jika tanpa pertolongan mereka, mungkin kami telah mati di racuni oleh Empat serangkai dari Gunung Selamet!" beberapa orang yang berada di belakang Bayusuta dan Bayu Lelana menimpali untuk meyakinkan Ketua mereka sekaligus ayah dari Bayusuta, Bayu Lelana dan Maharani.

__ADS_1


"Hei..Betulkah itu Maharani?" Ki Pandusora melirik ke arah putrinya. "Benar romo! tanpa pertolongan mereka mungkin nasib tragis akan kami alami!"...


"Hmm...Kalau begitu ajaklah mereka kesini sambil menikmati suguhan Pibu di Pedepokan kita!"


"Baik romo!" Bayusuta kemudian menjemput Nini Sangga Geni dan Wirayudha, sementara itu Bayu Lelana dan Maharani menceritakan apa yang telah terjadi kepada mereka sampai kemudian di tolong oleh Nini Sangga Geni dan Wirayudha.


Setelah Nini Sangga Geni dan Wirayudha sampai, Ki Pandusora berdiri dan menghampiri mereka, "Aash..Nisanak, terimakasih atas pertolongan kalian kepada putra dan putriku, mereka memang tidak bisa di andalkan dalam olah kanuragan! duduklah bersama kami!"


"Aku Ki Pandusora kebetulan di berikan kepercayaan memimpin Padepokan ini oleh anak-anakku, siapakah Nisanak dan kau pemuda gagah?"


Kemudian Nini Sangga Geni dan Wirayudha memperkenalkan diri.


Keramahan Ki Pandusora dan anggota Bajing Loncat yang lainnya menepiskan semua anggapan jelek mengenai mereka di pandangan Wirayudha dan Nini Sangga Geni, karena melihat suasana di markas atau Padepokan Bajing Loncat sangat penuh Kekeluargaan.


"Nini Sangga, kita sambil melihat Pibu yang di lakukan anggota kami, apakah kalian tidak keberatan?", "Tidak Ki Pandusora, malah aku senang melihat olah gerak mereka!" Nini Sangga dan Ki Pandusora kemudian duduk di depan panggung tempat di laksanakannya Pibu, sedangkan Wirayudha bersama yang lain duduk di belakang mereka.


Terdengar sorak sorai para penonton memberikan semangat kepada yang sedang melakukan Pibu, mereka masing-masing memberikan teriakan kepada Jago yang di andalkannya.


Maharani yang duduk di samping Wirayudha kemudian mencoba mengajak berbincang, karena selama perjalanan hanya sedikit sekali mereka berbicara, "Kakang, yang berada di atas panggung itu adalah Kakakku yang pertama, bernama Bayu Komara, jika ada tugas-tugas yang sangat sulit, Kakang Bayu Komaralah yang selalu turun tangan menggantikan romo."


Terlihat oleh Wirayudha seorang laki-laki gagah bertelanjang dada sedang memberikan petunjuk-petunjuk para pengeroyoknya yang baru saja dia jatuhkan.

__ADS_1


"Serangan-serangan kalian hari ini lebih bagus dari kemarin, sayang kuda-kuda pertahanan kalian saat ini menjadi lemah, karena terlalu fokus kepada serangan, sehingga hanya dengan guntingan kaki yang lemah, kalian mudah di jatuhkan!" Kata-kata yang meluncur dari Bayu Komara sangat di perhatikan oleh anggota yang lain, karena dia adalah orang kedua di padepokan tersebut di bawah ayahnya Ki Pandusora.


__ADS_2