Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Rembulan Yang Redup


__ADS_3

Di suatu malam ketika semua sudah terlelap, Putri Harisbaya berada di kamarnya yang terlihat mewah, tetapi kali ini ia tidak sendirian, di bawah peranduannya duduk seorang wanita yang seusia dengannya.


Wajah gundah gulana yang menghiasinya, tidak dia sembunyikan di hadapan wanita ini, menandakan ada hubungan yang sangat dekat di antara keduanya.


"Ndoro Putri, aku tahu alasan apa yang selalu membuatmu merasakan kesedihan, tetapi apakah semuanya akan kau pertahankan setelah sekian lama menjadi seorang permaisuri!"


"Suci, engkau hapal tentang diriku, semenjak masih kanak-kanak, engkau selalu bersamaku, baik dan burukku engkau mengetahuinya!" Putri Harisbaya mengatakan itu sambil bercucuran air mata.


"Hmm...Entah apa lagi yang bisa aku katakan kepadamu Ndoro Putri, semua saran dan nasehat telah aku berikan kepadamu! aku tidak tahan melihatmu selalu bersedih!"


Suciwati adalah seorang dayang, tetapi ia telah ikut mendampingi Putri Harisbaya semenjak mereka berpindah ke Pajang, mereka sama-sama berasal dari Madura, ia telah ikut bersama keluarga Putri Harisbaya yang berasal dari bangsawan Madura, karena orang tuanya sendiri telah meninggal dunia di saat ia masih kecil. Karena itulah Suciwati menganggap kepada Putri Harisbaya bukan hanya sekedar majikan.


"Apakah yang dapat aku lakukan untukmu Ndoro Putri! melewati lautan apipun aku sanggup jika itu bisa merubah keadaanmu!"


"Akhh...Terimakasih Suci, hanya kau yang dapat ku percaya dan mengerti keadaanku!" Putri Harisbaya turun dari peranduan kemudian memeluknya sambil tetap menangis.


Setelah tangisnya reda, Putri Harisbaya kemudian berbisik kepadanya, "Suci, aku tidak memintamu melewati lautan api, ataupun menyelam sampai dasar samudera, apakah kau mau membantuku?"


"Katakanlah Ndoro Putri, aku akan melaksanakannya walaupun dengan taruhan nyawa sekalipun!"


Dengan suara perlahan, kemudian Putri Harisbaya mengutarakan maksudnya, "pergilah kau ke Sumedang Larang, temuilah Kanda Angkawijaya yang katanya telah menjadi seorang raja di sana! katakanlah! cintaku kepadanya tidak pernah luntur dan masih berharap menantikan janjinya!"


Dayang Suciwati benar-benar terperanjat mendengar tugas yang di berikan kepadanya, "Ndoro Putri, apakah kau sadar apa yang kau katakan?"


Setelah keduanya lama terdiam, Suciwati kemudian berkata lagi, "Ndoro Putri, saat ini kau adalah seorang permaisuri dari Kerajaan Cirebon, apakah hanya demi cintamu, kau akan tega menimbulkan konflik dua kerajaan yang besar?"


"Aku mohon pikirkanlah baik-baik! mohon perdulilah dengan sekitarmu! andaikanpun Pangeran Angkawijaya memenuhi permintaanmu, akan timbul peperangan yang besar!"

__ADS_1


Setelah mengatakan demikian, kemudian Suciwati pun pamit undur diri, untuk kembali ke kamarnya, memberikan waktu kepada Putri Harisbaya untuk berpikir dalam renungannya.


Di atas wuwungan Keputren dan tepat di atas kamar Putri Haribaya, seekor burung gagak dengan sabar telah mencuri dengar percakapan mereka.


Setelah tidak ada lagi percakapan dan Suciwati telah meninggalkan peranduan Putri Haribaya, burung Gagak tersebut terbang menuju kegelapan.


Setelah jauh dari Keputren, Burung Gagak tersebut merubah kecepatan terbangnya, kedua sayapnya di kepakan dengan keras untuk menambah laju kecepatan terbang, tubuhnya melewati celah-celah pepohonan dan rimbunnya daun-daun.


Ketika melewati perbukitan, tiba-tiba dari arah belakang burung Gagak itu terbang, berkelebat bayangan yang karena cepatnya dapat mengalahkan kecepatannya, "Sraaath...Kraakh, seketika burung Gagak itu tersambar oleh bayangan tersebut, dan langsung berlari menuju perbukitan.


"Hitam, aku tidak sabar mendengarkan laporanmu!" sosok bayangan hitam tersebut ternyata adalah Hyang Hawu atau Ki Jaka Perkasa.


Burung Gagak itu kemudian di letakan di telapak tangannya, dengan jinak si Hitam menekuk kepalanya ketika memandang wajah Hyang Hawu, "Kreaakh...Kraakh!"


Terjadi percakapan di antara keduanya dengan bahasa yang sulit di terjemahkan oleh manusia lainnya.


"Informasi yang kau berikan sangatlah penting Hitam, terimakasih!"


"Kraakh...Kraaakh!"


Setelah berteriak kegirangan, si Hitampun memakan pemberian tuannya...


"Pergilah Hitam! lanjutkan tugas-tugasmu!", "Kraaakh...Si Hitam kemudian melesat terbang kembali ke arah kawasan Cirebon.


Setelah kepergian peliharaannya, Hyang Hawu masih berdiri di atas batu besar dan melihat sekeliling, kemudian ia pun seperti berbicara sendiri.


"Dari desir angin dan nafas yang kau keluarkan, aku merasa kau adalah seorang wanita, berat badanmu terasa ringan di permukaan tanah, menandakan kau pun mempunyai ilmu meringankan tubuh yang cukup lumayan! keluarlah aku menunggumu!"

__ADS_1


Selang beberapa saat, sebuah bayangan muncul dari balik pohon besar, "maaf aku tidak berniat mengupingmu! aku tadi hanya sekedar lewat!"


"Hmm...tidak mengapa, tokh kaupun tidak mempunyai kemampuan untuk mendengarkan penjelasan Si Hitam!"


"Benar Kisanak! aku Sangga Geni, tidak sengaja melewati perbukitan di sini!"


"Ha..Ha..Ha, Nisanak aku tidak memintamu mengenalkan diri, apalagi hanya seorang wanita yang mempunyai sebelah tangan dan memakai kulit wajah palsu!"


Nini Sangga Geni menahan amarahnya, ia bisa menilai sosok yang berada di depannya mempunyai kanuragan yang sangat tinggi.


"Maafkan aku Kisanak, izinkan aku pergi!"


Hyang Hawu kemudian tersenyum yang mungkin tidak dapat terlihat oleh Nini Sangga Geni karena gelapnya malam, jentikan jarinya kemudian melesat ke arah pohon besar yang berada di belakang Nini Sangga Geni.


"Sraaath....Dhuaaarh!" seleret cahaya terang melesat dari jentikan jarinya, mengenai batang pohon, membuat pohon itu meledak dan terbakar.


Shaaat...Nini Sangga Geni meloncat menjauh, kali ini ia melihat sosok Hyang Hawu yang sedang berdiri gagah dari kejauhan, karena api yang membakar batang pohon merubah suasana menjadi terang benderang.


"Nisanak, cepatlah kau pergi sebelum aku berubah pikiran!"


"Terimakasih! Wussh...Menjangan Kabut yang di pergunakan Nini Sangga Geni membuat tubuhnya melesat dan hilang dalam kegelapan.


"Hmm...Aroma tubuhnya seperti aroma Ular, tapi aku merasa, suatu saat sepertinya dia akan menjadi pengikutku!" Hyang Hawu menatap kepergian Nini Sangga Geni dengan tatapan tenang.


Hyang Hawu kemudian meloncat ke atas, dan berdiri di pucuk pepohonan, pandangannya mengarah ke kawasan Cirebon, kemudian ia pun berkata dalam hati, "aku tidak menginginkan pertumpahan darah, tetapi kenapa setiap perjuangan harus ada darah yang mengalir?" kedua tangannya kemudian mengembang merasakan angin malam yang menerpa tubuhnya.


 

__ADS_1


Terimakasih kami ucapkan kepada "Bang Gede Sudiarta, Bang Igus Putra" yang sudah memberikan Koinnya,


dan kami ucapkan juga kepada reader yang tidak kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan Like, Vote, Poin dan selalu setia menunggu...Matur Suwun yang tidak terhingga.....


__ADS_2