
Ki Pancar Buana dan Ki Manggala Sakti adalah tokoh dari kedua Kerajaan yang berbeda, mereka pernah merasakan pertarungan di medan laga dalam rangka menjalankan tugas dari Kerajaan masing-masing, sehingga keduanya sama-sama tahu kemampuannya.
Tokoh sepuh itu sama-sama sakti dan sama-sama mempunyai Jiwa Ksatria, sehingga pertemuan di luar medan peperangan membuat mereka tetap saling menghormati satu sama lain.
"Manggala Sakti kau masih gagah perkasa! selamat bersua kembali!" Ki Pancar Buana menjura untuk membalas penghormatan Ki Manggala.
"Terimakasih atas sanjunganmu Ki Pancar Buana! tidak di sangka ternyata anak muda gagah ini adalah muridmu, jika saja aku bertemu denganmu beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin aku mengira kalian adalah Sepasang pendekar kembar!"
Ki Pancar Buana melirik ke arah Wirayudha, baru dia menyadari banyak kemiripan dirinya dengan Wirayudha, setelah memperhatikan Wirayudha, Ki Pancar Buana seperti melihat sosok dirinya ketika muda.
"Anak muda tunggulah kau di sana! biarlah masalahmu kedua orang tua ini yang menyelesaikan!" Ki Pancar Buana mengatakan itu kepada Wirayudha sambil memberikan tanda.
Wirayudha tidak mengerti apa yang sedang di katakan Ki Pancar Buana, tetapi dia menyadari apa yang di lakukan Ki Pancar Buana adalah guna menyelamatkan dirinya agar tidak terjadi bentrok dengan Ki Manggala Sakti.
"Baik guru, kami akan menunggumu!" akhirnya Wirayudha pun melanjutkan sandiwara yang di buat Ki Pancar Buana untuk dirinya.
"Ki Manggala, terimakasih telah memberi muka kepada guruku! aku pamit undur diri!" Wirayudha menjura kepada Ki Manggala Sakti, kemudian dia pergi meninggalkan Ki Pancar Buana dan Ki Manggala Sakti bersama Lestari.
"Ki Pancar Buana, mohon kau jangan ambil hati tentang kejadian tadi, aku berjanji akan menghukum Ki Gede Palimanan dan putranya, dan aku mohon kepadamu pula, jaga muridmu untuk tidak bertindak main hakim sendiri di wilayah kerajaan Cirebon!"
"He..He..He, terimakasih Manggala Sakti! telah memberi kelonggaran kepada muridku, aku juga mohon pamit undur diri!"
Ki Pancar Buana kemudian berbalik dan meloncat berlari meninggalkan semuanya guna mengejar ke arah di mana Wirayudha tadi pergi.
Setelah berlari dengan cepat, akhirnya Ki Pancar Buana dapat menyusul Wirayudha dan Lestari, yang memang dengan sengaja menunggu kehadirannya.
Di balik bukit kapur daerah Bongas wetan, Ki Pancar Buana mengajak berbincang Wirayudha tanpa memperdulikan Lestari, "anak muda, aku akui keberanianmu sangat besar, berani berbuat keonaran di daerah Cirebon, siapa namamu anak muda?"
__ADS_1
Sebelum menjawab pertanyaan Ki Pancar Buana, Wirayudha mengatupkan kedua tangan di depan dada, "terimakasih Ki, telah membantuku terlepas dari masalah tadi, namaku Wirayudha, jika tanpa bantuanmu, mungkin aku harus bentrok dengan Ki Manggala Sakti tokoh dari Pasukan Khusus Macan Ali!"
"Hei...Ternyata kau tahu juga siapa tadi yang kau hadapi Wira! apakah kaupun mempunyai nyali juga untuk menghadapinya?"
"Jika memang aku harus hadapi, kenapa tidak Ki? apalagi itu untuk membela kebenaran!"
"Ha...Ha...Ha, ternyata kau pria yang mempunyai prinsip yang teguh anak muda! tetapi di rimba persilatan tanah jawa ini, kita bukan hanya membutuhkan sekedar keberanian, tetapi harus di sesuaikan dengan kemampuan, apakah kau merasa sanggup untuk menghadapinya?" terdengar Ki Pancar Buana memuji sekaligus menguji sikap Wirayudha yang sengaja dia rendahkan secara halus.
Wirayudha tersenyum dengan sinis, "Jangan kau kira setelah membantuku, kau bisa melecehkanku Ki! kau boleh mencobanya!"
"Baiklah anak muda, aku mengikuti keinginanmu! lihat serangan!"...
Setelah mengatakan demikian Ki Pancar Buana memutar tangan kanannya, "Segara Agni!"... Dari tangannya keluar memancar jilatan api yang bergelombang saling berkejaran mengejar tubuh Wirayudha.
"Bhuussh....Bhuush!" jilatan api itu seperti lidah kemudian bergelung dan membungkus tubuh Wirayudha.
Beruntung Wirayudha telah siap dan waspada, walaupun serangan kali ini terasa baru dan aneh, Wirayudha tidak merasa takut, setelah dia mengumpulkan tenaga dalam dan mengeluarkan inti dari Naga Langit, tubuhnya terbungkus sinar biru yang melindungi dari serangan Segara Agni milik Ki Pancar Buana.
"Blaaarh!...Blaaarh!" Segara Agni pun buyar terpecah, memantul ke seluruh perbukitan bukit kapur, "Blaarh!..Blaaarh!"
Ki Pancar Buana kembali menyerang dengan jurus-jurus tingkat tinggi, "Paksiii Buaanaaa!"..Kraaaakh!" begulung Api dari atas tubuhnya yang membentuk seekor Naga yang langsung menerkam Wirayudha.
"Mahkota Naga Langit!" ...Kraaaakh!, dari atas tubuh Wirayudha pun muncul seekor Naga yang tidak kalah menyeramkan, menyongsong terkaman Paksi Buana.
"Kraaaakh!....Graaaakh!...Graaaumh!"
"Braaakh!....Dhuaaarh!"
__ADS_1
Terkaman dari kedua ekor Naga yang berselimut api berbeda warna membuat bukit kapur menjadi bergetar dan longsor, menimbun pohon-pohon yang tumbuh di bawah bukit.
Di saat kedua ekor Naga mereka sedang bertarung, Wirayudha mengeluarkan Aji Rogo Sukmo menyerang Ki Pancar Buana dengan Bayu Saketinya..."Hiiaaath....Bruussh!"
"Ha...Ha...Ha..Bagus anak muda, ternyata keberanianmu sesuai dengan kemampuanmu!..."Bayangah Dewa!" tubuh Ki Pancar Buana melesat menyongsong Rogo Sukmo milik Wirayudha, dan mengeluarkan pukulan yang tidak kalah hebat dengan Aji Bayu Saketi.
"Gelap Ngampar...!"
Cuaca yang sebelumnya terang menjadi gelap gulita, suara petirpun sahut menyahut ketika Aji Gelap Ngampar di keluarkan Ki Pancar Buana.
"Blaaamh!...Blaaamh!"
Suara aduan Ajian yang di keluarkan mereka mengeluarkan suara debum yang menggetarkan jiwa.
"Tembus Bumi..!"
Tubuh Wirayudha masuk ke dalan bumi dan bergerak dengan cepat dengan maksud menyambar kaki Ki Pancar Buana yang baru menginjak permukaan tanah, "Sraaath...Sraaath!" terlihat kedua tangan Wirayudha menyambar di permukaan tanah.
Ki Pancar Buana adalah salah satu Kandaga Lante yang sudah malang melintang di medan laga, pengalaman pertempurannya sudah puluhan atau mungkin ratusan kali, tidak ada gentar sedikitpun ketika mendapatkan serangan dari Wirayudha yang beruntun.
"Pasak Bumi...!" Dhuaarh!...Dhuaaarh!..Dhuaarh!"
Kaki kanannya di gedorkan ke permukaan tanah sebanyak tiga kali, yang membuat tubuh Wirayudha mau tidak mau akhirnya meloncat dan muncul ke permukaan tanah kembali, "Sraaph!"
"Pekikan Naga Langit!..Kraaaagghhk!"
Gelombang suara yang di teriakan Wirayudha menyerang Ki Pancar Buana, menyeretnya sampai lima tombak ke belakang, dengan kaki yang memakai kuda-kuda kokoh, kedua tangannyapun menyilang di depan dada, "Srekkkh..."Sreekh!" terdengar suara seretan kedua kaki Ki Pancar Buana yang sedang bertahan, beberapa sobekan dari bajunyapun terlihat, ikat rambutnya yang panjangpun terlepas membuat rambutnya berkibar terhempas gelombang suara Pekikan Naga Langit.
__ADS_1
"Cukup Wirayudha!" Ki Pancar Buana berteriak dengan suara yang menggema mencoba menghentikan pertarungan mereka.
Paksi Buana kemudian sirna ketika Ki Pancar Buana menghentikan pertarungan, begitupun Mahkota Naga Langit yang masih bersiap untuk bertarung, perlahan kemudian hilang seiring dengan Wirayudha yang menghentikan serangan.