
Wajah Maharani terlihat sangat sumringah setelah mendapatkan kesempatan berdekatan dengan Wirayudha, hatinya berbunga-bunga penuh keriangan, semua makanan dan minuman yang paling enak pun ia keluarkan dari dapur Padepokan, membuat kakak dan ayahnya keheranan dengan perubahan sikap Maharani.
Sebelumnya Maharani seorang wanita yang terkenal sangat galak di seputar padepokan, selalu memasang wajah yang judes kepada yang lain.
"Maharani!...Siapa yang bersamamu? ayo kenalkan kepada kakakmu ini! suruh naiklah dia ke panggung!" Bayu Komara berteriak dari atas panggung Pibu dengan senyuman.
"Kakang, apakah kau tidak keberatan di ajak berkenalan oleh kakak sulung kami?" Maharani memandang Wirayudha dengan penuh permohonan, karena di hatinya ingin memamerkan kemampuan Wirayudha kepada ayah dan saudara-saudaranya.
"Ayolah Wiraa! kenapa kau sekarang jadi pemalas?" Nini Sangga Geni yang duduk bersama Ki Pandusora pun ikut menyuruh Wirayudha, suaranya yang keras menarik perhatian yang lain untuk memandang Wirayudha.
Tidak ada pilihan lain bagi Wirayudha karena anggota Padepokan Bajing Loncat kini memandangnya dengan penuh harap keikut sertaannya dalam Pibu.
"Hupsss....loncatan Wirayudha ke tengah-tengah panggung mendapat tepukan tangan dari para penonton.
"Namaku Wirayudha Kakang! ku mohon kau jangan terlalu keras memberikan pelajaran untukku!"
"Kita mulai saja perkenalan kita Dimas!..Hiaaath!.." Bayu Komara langsung meluncurkan pukulan ke arah dada Wirayudha, pukulannya tidak mengandung tenaga yang kuat, "Plaash...Plaash!"...
Wirayudha dengan mudah menghindar dan bergerak dengan cepat ke belakang tubuh Bayu Komara,
"Upps...gerakanmu sangat cepat sekali Dimas!..Bayu Komara melanjutkan serangannya, tubuhnya berkelebat menambah kecepatan serangan dan menambah tenaga pukulan, "Huuufh...Wussh...Wussh!" pukulannya susul menyusul dan di kombinasikan dengan beberapa kali tendangan yang mengandung tenaga dalam.
Wirayudha tidak hanya mengelak atau menghindar, ia paham dengan arena Pibu, jika yang di lakukannya hanya sekedar menghindar akan di artikan oleh tuan rumah sebagai penghinaan.
Setelah tubuhnya berkelebat, Wirayudha melakukan jurus Sambaran Srigunting, tubuhnya meloncat ke atas kemudian berbalik menukik turun dengan kedua tangan yang menyambar dengan cepat, "Sraaath....Sraaath!"...
__ADS_1
"Uffh...Bayu Komara mengelak ke samping kiri, tendangannya mencuat dari bawah memapaki tangan Wirayudha yang bergerak menyambar, "Dheeesssh..!"
Terjadi benturan tangan dan kaki mereka, Bayu Komara terhenyak dengan tenaga sambaran lengan Wirayudha yang terasa sangat berbobot dan berat..., membuat dirinya hampir saja terpelanting tidak dapat menguasai kuda-kuda.
Bayu Komara merasa penasaran dengan tenaga dalam Wirayudha yang ia lihat usianya jauh darinya.
Maharani tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya, ia berdiri dan ikut berteriak, "Ayoo Kakang Wira! kalahkan Kakang Komara!"
Teriakan Maharani membuat heran seisi padepokan, bukannya memberikan semangat kepada kakaknya alih-alih malah memberikan tepuk tangan kepada Wirayudha, ketika tersadar melihat yang lain memperhatikan polahnya, Maharani merasa malu dan duduk kembali.
Bayu Komara memahami adiknya sedang jatuh hati kepada pemuda yang sedang menjadi teman Pibunya.
Karena itu iapun segera memberikan serangan-serangan yang lebih hebat untuk menguji ketangkasan pemuda yang dapat membuat adiknya jatuh hati.
"Ayo.. Dimas, kita lebih serius lagi!"..."Hiaaath!"... Kali ini pukulan yang di layangkan Bayu Komara mengandung tenaga dalam penuh, "Garuda Murkaaa!"...hawa panas mengiringi pukulan Bayu Komara, membuat para penonton yang tadi mengelilingi panggung bergerak mundur menjauh.
Mata Wirayudha kini fokus terhadap pukulan yang di lontarkan Bayu Komara, jika tebakannya tepat, pukulan Bayu Komara sekitar dua jengkal mengenai tubuhnya akan berubah menjadi cengkeraman burung garuda.
Semua orang menahan nafas menanti Serangan Garuda Murka mengenai tubuh Wirayudha, "Haaaaikh!"
Tepat ketika genggaman tangan Bayu Komara dua jengkal lagi akan menghunjam tubuh Wirayudha, genggaman itu membuka jari-jarinya, Wirayudha dengan cepat menusukan dua jarinya ke tengah-tengah telapak tangan Bayu Komara, "Deshhhh!"
Bayu Komara terdorong mundur hampir terjatuh di tepi panggung. "Heeeghh!"...telapak tangannya terasa bergetar terkena tusukan jari Wirayudha.
"Dimas, kemampuanmu sangat hebat, sekali waktu aku sepertinya harus belajar banyak kepadamu!" Bayu Komara mendekati Wirayudha dan memeluknya dengan hangat. "Kau terlalu merendah Kakang! aku tahu kau tadi tidak mau mengeluarkan Jurus-jurus yang membahayakan kepadaku!"
__ADS_1
Bayu Komara merasa suka kepada Wirayudha, selain kemampuan kanuragannya tinggi, Wirayudha sangat rendah hati. Ketika turun dari panggung dan dekat dengan Maharani, ia pun menggoda adiknya.
"Nimas! jangan kau lepaskan dia, Dimas Wirayudha sangatlah cocok menjadi pendampingmu!" senyuman menggoda dari Bayu Komara membuat Maharani tersipu malu.
Panggung Pibu menjadi kosong ketika Bayu Komara telah turun, dan yang lain sedang bersenda gurau sesama teman-temannya, tidak terkecuali Maharani yang semakin berusaha dekat dengan Wirayudha dengan tidak memperhatikan sekitarnya.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan di tengah-tengah panggung "Dhuuaaarh!!!... beberapa kayu papan pembuat panggung terpecah dan terlempar ke atas.
"Hiaaath..Blarh..Blaaarh! terdengar suara dua ledakan kembali meluluh lantakan panggung, membuat suasana menjadi ramai dengan teriakan anggota Bajing Loncat yang bersiaga dan menyiapkan senjata.
"Pandusora! serahkan orang-orangmu yang telah membuat murid-muridku mati!" di tengah-tengah mereka berdiri seorang tua yang kurus tinggal tulang, pakaiannya mirip seorang resi tetapi berwarna hitam gelap.
Ki Pandusora berdiri bersiaga, "Komara, perintahkan semuanya bersiaga, kenapa Jerangkong Hitam dari Alas Jati bisa sampai tersasar ke tempat kita?"
Kemudian Ki Pandusora melompat ke depan tamu yang tidak di undang itu, Ki Pandusora kemungkinan sangatlah hapal dengan orang tua tersebut, Jerangkong Hitam dari Alas Jati adalah tokoh jahat di dunia persilatan, walaupun pakaiannya seorang resi, tetapi sifatnya jauh dari kata bijak, ia sangat gila dengan pujian dan harta.
"Orang tua gagah! apa yang membuatmu berkenan datang ke rumah kami? kalau saja mengabarkan terlebih dahulu, aku pasti akan menyiapkan minuman Tuak Tuban kesukaanmu!"
"Ha..Ha..Ha, boleh saja Pandusora, aku akan meminum tuak suguhanmu, aku akan melupakan semua yang terjadi! asalkan putrimu kau serahkan kepadaku untuk menjadi teman tuak yang kau suguhkan, bagaimana Pandusora?"
"Resi suci dari Alas Jati apa yang telah kami perbuat? tidak mungkin kami punya keberanian membuat keonaran denganmu!"
"Tiga dari empat serangkai Gunung Selamet telah mati terkena bisa Ular, satu yang kalian tinggalkan dalam keadaan tertotok! beruntung aku menemukan mereka dan dapat menyusul jejak anggotamu yang pulang ke sini!"
"Bagaimana kau akan berkelit Pandusora?"
__ADS_1
Mata Jerangkong Hitam menatap tajam ke arah Nini Sangga Geni, Bayusuta dan Bayu Lelana.
"Aku akan melupakan kejadian ini, asalkan ia bisa ku bawa pergi!...kemudian tangan Jerangkong Hitam terulur bisa memanjang berusaha menangkap Maharani yang berdiri dekat Wirayudha.