Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Prajurit Sumedang Larang


__ADS_3

"Tugas kalian sebagai prajurit, adalah sebagai garda terdepan menghadapi musuh-musuh Sumedang Larang, mengamankan agar warga kita bisa nyenyak tidur dan bisa melakukan aktifitas yang lain dengan tersenyum!" Ki Jaka Perkasa berteriak lantang di depan para prajurit yang berbaris rapih.


"Seluruh pasukan wajib menjalankan pelatihan untuk menjadi pasukan infanteri, kemudian setelah itu baru menjalankan pelatihan kecabangan sesuai spesifikasi masing-masing, yang terbaik di antara kalian saat pelatihan infanteri akan masuk dalam kategori pasukan khusus!"


"Hari ini kita jalankan pelatihan!...semangat!" Ki Jaka Perkasa menaikan kepalan tangannya ke atas kemudian di sambut dengan gemuruh teriakan prajurit yang bersemangat.


Pasukan infanteri kemudian menjalankan pelatihan fisik dengan melakukan latihan halang rintang setiap hari dan berlari naik turun bukit dan keluar masuk hutan.


Kita tinggalkan dahulu Ki Jaka Perkasa yang sedang menjalankan pelatihan dengan para prajuritnya, dan mengikuti perjalanan Ki Kondang Hapa yang mulai mencari Genta Buana untuk turut membantunya mengumpulkan para Ksatria Padjajaran yang tercerai berai.


Ki Kondang Hapa mulai melakukan perjalanan ke arah barat menuju daerah kawali yang sebelumnya juga masuk dalam kerajaan Galuh Pakuan Padjajaran.


Di daerah Kawali, tepatnya di pedukuhan Banjarwaru, Genta Buana sedang mencari seseorang yang bernama Kusumadinata, konon kabar yang di terimanya, Kusumadinata adalah seorang Akuwu di pedukuhan Banjarwaru, dia adalah salah satu orang yang di cari untuk di ajak bergabung.


Genta Buana berjalan menyusuri jalanan setapak yang menghubungjan antara sungai dan sawah milik para penduduk.


Di Kanan dan kiri jalan itu banyak tumbuh rerumputan hijau dan ilalang liar, Kambing dan Ayam banyak berkeliaran, menunjukan warganya dalam kehidupan yang makmur dan aman.


Genta Buana di terima dengan ramah oleh Kuwu Kusumadinata, hidangan-hidanganpun di sajikan, "Selamat datang Adi Genta Buana! kami sangat tersanjung mendapat kunjunganmu!"


Genta Buana tersenyum ramah dan menikmati semua sajian yang ada, walaupun dengan tanda tanya besar, dari mana Kuwu Kusumadinata mengenal dirinya."


Setelah semuanya selesai menikmati hidangan, barulah Genta Buana menyampaikan maksud kedatangannya, "sebelumnya aku memohon maaf Kakang, kedatanganku mengganggu waktumu, ada amanah yang aku emban untuk di sampaikan kepadamu Kakang!"


"Ahh...aku tahu Adi Genta Buana, pastinya kau mendapatkan tugas dari Ki Pancar Buana bukan?" Ki Kuwu Sumadinata menanggapi pembicaraan itu dengan wajah serius.

__ADS_1


"Benar Kakang!" Genta Buana kembali meng iya kan dengan wajah keheranan.


Seperti yang mengetahui jalan pikiran Genta Buana, Kuwu Kusumadinata kemudian menceritakan bahwa dirinya sempat bertemu Ki Pancar Buana dalam rangka pembicaraan misi perjuangan menghidupkan kembali kejayaan Padjajaran.


"Perlu kau ketahui Adi! aku akan ikut apa yang di perintahkan Ki Jaka Perkasa, selagi memang alasannya kuat untuk kejayaan Padjajaran, mohon di sampaikan kepada beliau, aku bersedia!"


"Terimakasih Kakang Kusumadinata, aku akan menyampaikan kepada Ki Jaka Perkasa atas kesediaan Kakang."


Setelah berpamitan, kemudian Genta Buana melanjutkan ke pedukuhan yang lainnya yaitu Pedukuhan Indrayasa.


Berbeda dengan situasi di Pedukuhan sebelumnya, Pedukuhan Indrayasa sangatlah sepi, karena rata-rata penduduknya bekerja di Huma, di atas pegunungan, jika hari menjelang sore, barulah suasana pedukuhan ramai kembali, Genta Buana memasuki pintu gerbang pedukuhan sambil melihat ke arah rumah penduduk.


Tiba-tiba dari arah depan meluncur sebuah tongkat pendek berputar sampai mengeluarkan suara desingan mengarah ke kepala Genta Buana, beruntung ia selalu dalam keadaan siaga dan bisa menghindar sehingga tongkat itu hanya menebas angin dan berputar kembali ke arah pemiliknya.


Seorang kakek tua berkaki satu terlihat menghadang Genta Buana, kemudian berjalan menghampiri dengan langkahnya yang tertatih di sanggah oleh tongkat kayu yang tadi di pergunakan untuk menyerang.


"Aku ingin menemui seseorang yang mempunyai nama yang sama dengan nama pedukuhan ini Ki! berjuluk Lodaya dari Kawali!"


"Hmm...Indrayasa? nama itu lama telah hilang, apa kepentinganmu Kisanak?"


"Aku membawa pesan dari Hyang Hawu Panglima perang Padjajaran yang sekarang bergabung dengan Sumedang Larang Ki!"


"Dengan kata lain kau seorang duta darinya?" Kakek tua itu kian mendekat dengan tatapan tajam. "Benar Ki, namaku Genta Buana utusan dari Sumedang Larang!"


Tanpa di duga oleh Genta Buana, kakek tua itu meloncat dan menyerang dengan satu tangan kanan yang membentuk cakar, "Sraaaath....Wussh..Wussh!", membentuk cengkeraman ke arah wajah, "Spalssh...Genta Buana menghindar dengan bergerak ke kiri, tetapi ternyata Kakek tua berkaki satu melanjutkan serangan dengan sebuah tendangan yang menyambar dari samping "Swwwutth...!"

__ADS_1


Walaupun Genta Buana tidak kesulitan untuk menghindari tendangan itu, tidak urung ia merasa kaget, karena kakek tua itu bisa menendang dengan bertumpu kepada tongkat untuk menggantikan kaki satunya yang tidak ada.


"Graaaummmh!"...terdengar suara auman Harimau yang kencang, membuat detak jantung Genta Buana merasakan tekanan dan kemudian berpacu cepat. Manusia setengah Harimau yang berkaki satu kini semakin sengit menyerang.


Tebasan-tebasan dari Kuku jari-jarinya terus mencoba mencakar dan menebas sampai mengeluarkan suara tekanan angin yang berdesing, "Sraaath....brekkh...!"


Terdengar suara robekan kain baju dari Genta Buana yang terkena cakaran kuku Lodaya.


"Hiaaath...Huph...Hupph!"..Genta Buana meloncat agak menjauh, kemudian ia pun menaikan kedua tangannya ke atas dan mengaum..."Graaaaumm!".


Genta Buana merubah dirinya menjadi Lodaya, dan bersiap untuk menyerang Kakek tua yang sedang bersiap menyerangnya kembali.


Kemudian dari keduanya teriakan suara auman Harimau secara bersamaan.."Graaaumh...Graaaumh!"...


Keduanya menolakan kaki ke tanah dan sama-sama meloncat menerjang dengan sambaran-sambaran cakar Lodaya.


"Hiaaath...Wuuush!"... Draaakh...Draaakh!... benturan-benturan dari tangan-tangan yang mencoba menebas masing-masing lawan terdengar dengan keras.


Setelah keduanya mendarat kembali ke tanah, kembali dengan cepat menerjang, kali ini tidak dengan cengkeraman, pukulan tenaga dalam tinggi masing-masing terlihat di pergunakan oleh keduanya. "Hiiaaath...Blaaarh...Blaaarh..!"


Dua dentuman dari adu pukulan yang berisi tenaga dalam tinggi terdengar memekakan telinga. "Heeegh...!"


Ketika keduanya mendarat kembali ke permukaan tanah, terlihat Genta Buana berdiri dengan limbung dan terdengar erangan dari mulutnya.


"Hmm...sebagai duta untuk menemuiku kau cukup lumayan berisi juga Kisanak! aku Indrayasa... marilah kita ke gubukku di atas perbukitan, Kakek tua itu langsung menghentikan serangan ketika melihat Genta Buana sedikit terluka akibat bentrokan tenaga dalam.

__ADS_1


Ternyata kakek itu lah yang ingin di temui oleh Genta Buana, yang bernama Ki Indrayasa yang berjuluk Lodaya dari Kawali.


Ki Indrayasa kemudian berjalan dengan di iringi oleh Genta Buana yang berada di belakangnya.


__ADS_2