
"Anak muda, aku lihat kaupun sepertinya bukan warga Sumedang Larang seperti kami!" Ki Indrayasa melihat Wirayudha dari atas sampai bawah.
"Hati-hati kau berbicara orang tua! dia adalah cucu dari Ki Pancar Buana, salah satu Senopati di kerajaan Sumedang Larang!" Lestari menegur Ki Indrayasa
"Ha..Ha..Ha, jangan kau membual gadis cantik! aku Indrayasa, Lodaya dari Kawali adalah salah satu prajurit andalan yang di pimpin oleh Kandaga Lante, apakah kau pernah mendengar namaku?"
Paras Lestari langsung berubah pucat saat mendengar keterangan Ki Indrayasa, nama itu sangat akrab di telinganya karena sering di ceritakan, baik oleh Ki Pancar Buana maupun Kondang Hapa ketika mereka melakukan pertemuan-pertemuan untuk rencana pencarian ksatria-ksatria Padjajaran yang di harapkan bergabung bersama mereka.
"Aih...Lodaya Dari Kawali, aku mohon maaf karena kebodohanku! selamat datang di Kutamaya!" Lestari menjura sambil meminta permohonan maaf.
"Namaku Sri Lestari dan ini adalah Wirayudha, aku tidak berkata bohong Ki, dia adalah cucu dari Ki Pancar Buana salah seorang Kandaga Lante!"
"Hmm...Baiklah Lestari, siapapun Wirayudha aku akui ia mempunyai kemampuan yang tinggi dalam hal olah kanuragan, kalau boleh aku tahu kemanakah tujuanmu Wira?"
Citraloka memandangi Wirayudha, ada perasaan yang berbeda ketika melihat Wirayudha tersenyum, selama ini Citraloka belum pernah mengelana dan mengenal dunia luas, karena itu dia tidak memahami perasaan yang di milikinya,.terbalik ketika Citraloka memandangi Lestari, ada perasaan tidak suka ketika ia melihat Lestari berdekatan dengan Wirayudha.
"Kami akan mencari Ki Wiradijaya atau Eyang Pancar buana di markas para prajurit Sumedang Larang Ki!"
"Kebetulan kamipun akan kesana Wira! bagaimana kalau kita bergabung untuk menuju kesana?" Ki Indrayasa melontarkan ajakan.
Sebelum Lestari berbicara ternyata Wirayudha menimpali ajakan dari Ki Indrayasa, "Baiklah Ki, tidak ada salahnya kita berjalan bersama!" sesaat Wirayudha melihat wajah Citraloka yang sedang memandangnya, ada senyuman yang membuat hati Wirayudha berdesir walaupun di bibir itu memperlihatkan ada taring kecil yang terlihat samar.
Sepintas Lestari melihat mereka berdua ada ketertarikan satu sama lain, membuat kecemburuannya muncul, "ternyata aku sudah menyimpan perasaan cinta kepadanya," tanpa berkata apapun akhirnya Lestari mengikuti perjalanan bersama mereka.
Tidak lama kemudian merekapun sampai di gerbang Balai Prajurit Kerajaan Sumedang Larang.
"Siapakah kalian berempat? ada keperluan apakah menemui pimpinan kami?" dua prajurit yang sedang berjaga memeriksa mereka.
"Aku Indrayasa, Lodaya Dari Kawali bersama muridku izin menghadap Gusti Panglima Jaka Perkasa!"
__ADS_1
Setelah menunjukan tanda gulungan lontar dari Kondang Hapa, Indrayasa bersama Citraloka di izinkan masuk melalui pintu sebelah kanan.
"Dan kau anak muda, ada keperluan apakah kau kesini?"
Ketika Wirayudha sedang memandangi bagian atas benteng, Lestari memperlihatkan sebuah tanda keprajuritan kepada prajurit yang memeriksanya, akhirnya merekapun kemudian di izinkan masuk ke Balai Prajurit melewati pintu sebelah kiri.
Setelah berada di dalam Balai Prajurit, Wirayudha selain melihat bangunan-bangunan kokoh, nampak sebuah lapangan yang luas, terlihat para prajurit sedang melakukan latihan berbagai macam pelatihan, ada yang berlatih senjata, tangan kosong maupun bentuk barisan-barisan formasi pertempuran.
Lestari bermaksud membawa Wirayudha untuk menuju bangunan tempat di mana para perwira berada, langkah mereka melewati tempat di mana ada beberapa divisi yang sedang melaksanakan latihan halang rintang.
Kerika mereka berjalan melintas terdengar suara dari seseorang yang berdiri di antara kerumunan prajurit, "Hei..Kau! apakah kau calon prajurit yang ingin bergabung?"
Wirayudha hanya memalingkan wajahnya untuk melihat sekilas dan melanjutkan langkahnya, tetapi seseorang itu melanjutkan dengan ejekan, "Ha...Ha..Ha! aku kira dia ingin bergabung bersama kita sebagai prajurit, ternyata hanya seorang keledai yang lewat!"
Terdengar suara tawa yang ramai dari kerumunan prajurit ketika mendengar lelucon dari orang yang berbicara itu.
Wajah Wirayudha seperti biasa terlihat emosi jika ada yang melecehkannya, "apa yang kau ingin aku lakukan? dan apa yang akan kau pertaruhkan jika aku mampu melakukannya?"
"Ha..Ha..Ha ternyata kau mempunyai keberanian juga anak muda! aku suka melihat anak muda yang penuh semangat sepertimu! Hiaaath...Taph...taph!" terlihat dengan gesit seseorang itu meloncat dan mendaratkan tubuhnya di depan Wirayudha.
"Aku Ketua Divisi 2 di pasukan infanteri, jika kau bisa meloloskan diri dari medan halang rintang yang berada di depan sana dalam waktu setengah dari pasir yang jatuh dari wadah itu, aku akan merangkak di bawah kakimu anak muda!"
Wirayudha memandang lima rintangan yang berada di tengah lapangan, setelah memperhatikan seorang prajurit yang sedang berlatih untuk melewatinya, ia pun dengan percaya diri menyanggupinya, "baik, akan aku lakukan! jika aku tidak mampu melewatinya, akupun akan merangkak di bawah kakimu sambil menggonggong!"...
Tanpa berkata lagi, kemudian Wirayudha berjalan menuju garis batas awal untuk memulai mencoba menaklukan Halang Rintang itu.
"Prajurit! letakan pasir di wadah itu, kita lihat apakah dia mampu melakukannya!"
"Persiapan, mulai!"
__ADS_1
"Cthaarrrh!" suara pecut yang di sabitkan oleh ketua divisi itu menandakan untuk Wirayudha memulai gerakannya.
Bersamaan dengan tubuh Wirayudha yang meloncati titian kayu bergoyang, wadah yang berada di atas di balik, dan butiran pasirpun mulai mengalir ke bawah.
"Hiaaath...Sraaath...tubuh Wirayudha berkelebat langsung melewati Kayu yang bergoyang tanpa menapakinya.
Semua prajurit merasa kaget ketika melihat tubuh Wirayudha berkelebat tanpa dapat mereka lihat.
Pada rintangan yang kedua pun yaitu kayu palang yang berdiri, dengan sekali loncat Wirayudha dapat melewatinya dengan sangat mudah, loncatannya ke atas melebihi jauh dari ketinggian kayu-kayu yang berdiri berjajar.
Rintangan yang ke tiga, berlari melewati tiang-tiang kayu gantung dengan jumlah sepuluh, yang terus bergoyang berlawanan arah satu sama lainnya, ini pun dengan mudah di lewati Wirayudha.
Tiba pada rintangan yang yang mulai membahayakan, kali ini Wirayudha harus melewati celah di antara tombak yang melesat dari kanan dan kirinya, "Traakh...Traaakh!" tanpa kesulitan tombak-tombak itu di tangkisnya dengan hanya mengibaskan lengan satu, tombak-tombak tersebut patah dan terpental ke segala arah.
Rintangan yang terakhir, berlari di antara lorong yang atasnya telah bersiap para prajurit yang membidikan anak panah.
Ketika memandang pasir yang masih belum separuhnya meluncur ke wadah yang di bawah, Wirayudha melewati lorong itu tanpa dengan berlari, anak-anak panah yang meluncur ke tubuhnya tidak dia tangkis, karena sebelum mendekat saja, anak panah tersebut telah rontok seperti menabrak dinding baja, "Sraaath...Sraaath...Prakh...Praakh!"...
"Rintangan ini hanya cocok untuk anak-anak yang baru belajar berjalan! apakah ada rintangan yang lebih menyulitkan dari pada ini?" terdengar suara Wirayudha yang keras di tunjukan kepada seluruh prajurit yang sedang menontonnya dengan terperangah.
"Hiaaath...Praaakh...melesat selarik sinar putih dari telapak tangannya yang meluncur menghancurkan wadah yang berisi pasir di dekat pembatas yang menandai rintangan itu berakhir.
"Hei kau! kemari! laksanakan janjimu yang kau katakan tadi!" telunjuk Wirayudha mengarah kepada Ketua Divisi Infanteri 2 yang tadi bertaruh dengannya.
Aksi Wirayudha di saksikan dua orang tua yang gagah, yang sedang berdiri di atas ketinggian, "Ha..Ha..Ha, lihat Kondang Hapa! rintangan yang kesulitannya lebih seratus kali lipat dari itu saja, mungkin masih sangat mudah untuknya!"
"Hmm...Kau terlalu memujinya setinggi langit Wiradijaya!"
"Jika kau tidak percaya! kau boleh mencobanya Kondang Hapa!" terdengar Wiradijaya sedikit memprovokasi.
__ADS_1