Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Harapan Nini Sangga Geni


__ADS_3

Tubuh kurus Nini Sangga Geni tidak membuat kekuatan kakinya lemah, Ajian Menjangan Kabut miliknya membawa Nini Sangga Geni dapat dengan cepat mencapai Sungai Ciputri daerah Cipinang. sebuah pedukuhan yang masih berada di kawasan Kaki Gunung Ciremai dan masuk dalam wilayah Sindang Kasih.


Tubuhnya terasa lelah dan penat karena memaksakan diri menggunakan Menjangan Kabut dengan waktu yang sangat lama. selain karena berlari pikiran Nini Sangga Geni terbebani dengan segala macam pertanyaan yang menyangkut seseorang yang hampir saja mungkin bisa menewaskannya.


"Siapakah sosok pendekar malam itu? kekuatannya sangat hebat dan tindak tanduknya mencurigakan, semoga saja ia bukan dari golongan hitam yang biasa membuat keonaran!" pertanyaan itu terus berkecamuk dalam kepalanya.


Sindang Kasih adalah sebuah wilayah yang sudah masuk dalam kerajaan Sumedang Larang, dan berbatasan langsung dengan wilayah Kerajaan Cirebon. Karenanya di daerah itu terdapat beberapa prajurit Sumedang Larang dan Prajurit Cirebon yang menjaga daerah perbatasannya masing-masing.


Kebetulan sebelah barat sungai Ciputri sudah termasuk wilayah Sumedang Larang, membuat semua gerak gerik Nini Sangga Geni terus di awasi oleh beberapa prajuritnya.


Ketika melihat Nini Sangga Geni mondar mandir di sekitar bebatuan sungai, muncul rasa curiga di kalangan prajurit, hanya saja kecurigaan mereka hilang ketika melihat tubuh renta Nini Sangga Geni.


Nini Sangga Geni bukan tidak tahu gerak geriknya di perhatikan, hanya ia berpura-pura tidak mengetahui.


Sambil duduk menjeplok di bebatuan, mulut Nini Sangga Geni mendesis, keusilannya muncul tatkala melihat semua prajurit yang sedang mengawasinya, baik dari arah barat maupun arah timur sungai yang di jaga oleh prajurit Cirebon.


"Zzzzh...Zzzh..Zzzzh!"....


Ratusan Ular kemudian muncul di permukaan air sungai, merayap dan mendesis dengan ramai sepanjang aliran air.


Semua prajurit kini melihat ular-ular yang berada di permukaan air, terlihat mereka seperti sedang bercanda, saling bergelut dan melingkari sesamanya.


Nini Sangga Geni kemudian turun ke dalam sungai, mula-mula sebatas pinggangnya, ular-ular kemudian mendekat dan bergelung di sekitar tubuhnya.

__ADS_1


Tidak lama akhirnya tubuh Nini Sangga Geni masuk sampai tenggelam ke dalam air sungai bersama ular-ularnya dan tidak nampak lagi, membuat semua prajurit yang sedang mengawasinya penasaran dan turun dari tempat persembunyian, mereka mendekat karena sosok Nini Sangga Geni seperti menghilang masuk ke dalam air sungai Ciputri.


Ketika mereka sedang kebingungan, terdengar ringkikan suara tawa Nini Sangga Geni yang telah jauh terbawa aliran sungai menuju ke arus yang lebih deras dan turun ke bawah.


"Hik..Hik..Hik!"...suara tawa Nini Sangga Geni yang di lapisi tenaga dalam, terdengar memenuhi daerah tepi sungai, membuat suasana menjadi seram dan menakutkan karena cuacanya sudah mulai temaram.


"Hiiih...Hiiih!" beberapa prajurit begidik, dan karena takut, merekapun akhirnya naik ke permukaan tanah yang lebih tinggi menjauhi sungai Ciputri yang seharusnya mereka jaga.


Para Prajurit perbatasan kelompok dari prajurit Sumedang Larang bertambah ketakutannya, karena saat mereka naik ke dataran yang lebih tinggi, terlihat di atas batu yang besar sosok pria yang berambut perak sedang duduk bersila, menggenggam sebatang tongkat bambu dengan wajah setengah Harimaunya menyeringgai tersenyum kepada mereka.


"Serentak kemudian merekapun berlari lintang pukang sambil berteriak, "Silumaaaan!"....


Karena teriakan keras mereka, Nini Sangga Geni yang tadi telah terbawa arus sungai, meloncat dan berkelebat menghampiri ke atas.


"Hei..Wiratama! apa yang kau lakukan di sini?"


"Apa kabarmu Nini Sangga? kenapa kau terkejut dengan kehadiranku?"


"Hikh...Hikh..Hikh, kau sepertinya tidak sabar menanti kepulangan putramu! atau kau memang sedang di landa rindu dengan Wirayudha?"


"Semua yang kau katakan benar adanya Nini! aku merindukan putraku, marilah kita duduk bersama, aku ingin mengetahui keadaan Wirayudha!"


Tubuh Wiratama kemudian melayang, dan duduk di batu besar lainnya dengan tetap berada di permukaan udara.

__ADS_1


Nini Sangga Geni merasa keheranan dengan pemandangan di depannya, ia merasakan kedatangan Wiratama tidak seperti biasa.


"Tidak usah merasa cemas Wira!, putramu sekarang berada di Kutamaya untuk menemui saudara-saudaranya, kemudian Nini Sangga Geni menceritakan dengan singkat tentang Genta Buana yang merupakan kakak laki-laki dari Saraswati yang selama ini belum di ketahui oleh Wiratama.


"Kalau begitu,..Syukurlah Nini! biarlah pengalaman dan waktu akan menjadikan Wirayudha menjadi dewasa dan menjadi laki-laki sejati!"


"Waktuku tidak lama Nini, Ajian Roh Lodaya yang telah mengantarku kesini, tetapi dalam waktu yang sangat terbatas! aku hanya menitipkan pesan dari Eyang Balung putih yang telah datang dalam semediku, jemputlah Wirayudha! dan latihlah kembali dia di Goa Grojokan Sewu untuk menguasai Ajian Roh Lodaya yang berada di dinding Goa!"


"Akh...Kenapa Kyai Balung Putih tidak langsung menitipkan pesan kepadaku Wira? kenapa harus kepadamu?"


Wiratama kemudian tersenyum, kemudian bertanya, apakah kau memiliki Ajian Roh Lodaya Nini?"


Nini Sangga Geni kemudian tertunduk malu, "Maaf atas kebodohanku Wira, aku tidak menyadari kekuranganku! dan satu lagi kebodohanku pula, akulah yang kemarin melarang Wirayudha mempelajari Ajian Roh Lodaya yang berada di dinding Goa Grojokan Sewu!"


"Tidak mengapa Nini, semuanya belum terlambat, lebih baik kau jemputlah dahulu Wirayudha, agar ia secepatnya menguasai Ajian itu!"


"Agar semuanya cepat terlaksana, kenapa bukan kau saja yang menjemput Wirayudha ke Kutamaya?" Sesaat kemudian Nini Sangga Geni melontarkan pertanyaan.


"Aku tidak bisa mendekati Kutamaya, karena ada seseorang yang mempunyai Ajian Roh Lodaya secara sempurna di sana, dan satu lagi permohonanku, jauhkan Wirayudha dari Keris Naga Runting yang menjadi kelemahan Ajian Naga Langit miliknya, karena siapapun pemilik Keris Naga Runting akan dapat mengendalikan seseorang yang mempunyai Ajian Naga Langit!"


Sebelum Nini Sangga Geni bertanya kembali, sosok Wiratama terlihat makin samar, kemudian hilang tanpa jejak.


Wiratama mempergunakan Ajian Roh Lodaya yang bisa menembus ruang dan waktu untuk menemui Nini Sangga Geni, tetapi kemampuan itu terbatas tidak dapat di pergunakan dalam jangka waktu yang lama, kini ia telah kembali lagi ke Alas Roban kediamannya.

__ADS_1


Karena memikirkan keselamatan Wirayudha, Nini Sangga Geni tidak menunggu waktu lama lagi, ia pun dengan cepat berkelebat menuju Kutamaya untuk segera menemui Wirayudha.


__ADS_2