
"Wirayudha, kemampuanmu melebihi perkiraanku! bisakah kau menceritakan tentang dirimu?" dengan nafas yang masih memburu Ki Pancar Buana mendekati dan mengajak Wirayudha duduk bersebelahan di bekas batang pohon yang tumbang.
"Tidak banyak yang dapat aku ceritakan kepadamu Ki, aku Wirayudha sebelumnya berasal dari Desa Jalaksana di kaki Gunung Ciremai, setelah itu aku berkelana dengan ayahku di kerajaan Mataram.
"Hmm...Sesederhana itu kah kisahmu? apakah tujuanmu berkelana di tatar sunda ini?"
Wirayudha menatap bukit kapur yang di depan, tidak mungkin ia menceritakan misi yang sesungguhnya, akhirnya Wirayudha mengalihkan dengan menceritakan kisah pribadinya.
"Seperti yang aku sampaikan tadi Ki, aku berasal dari Jalaksana, ayahku bernama Wiratama seorang Akuwu di sana, Ibuku bernama Saraswati, suatu musibah terjadi kepada kami sekeluarga, Pedukuhan Jalaksana di serang gerombolan perampok yang menewaskan Kakek dan Nenekku, sedangkan aku tersesat dalam pelarian bersama ibuku, sampai kami berkelana di Negeri Mataram.
Wirayudha menundukan kepalanya, sedangkan Ki Pancar Buana mendekatkan tubuhnya ke arah Wirayudha, "lanjutkan kisahmu Wira! aku mempunyai banyak waktu untuk mendengarkan!"
"Di Mataram kami menghadapi segala rintangan, dan.membawa ibuku menemui ajal."
"Ayahku seorang Ksatria yang hebat, dengan gagah perkasa ia menghadang semua rintangan yang membuat kami terpisah, akhirnya kami pun dapat berkumpul kembali."
"Aku mempunyai satu keinginan lagi Ki, aku ingin menjumpai keluarga Ibuku, aku ingin menyambung pertalian darah kami, dari Kuwu Brodin yang sekarang berada di Jalaksana, ada kabar bahwa salah satu keluarga ibuku mencari keberadaan kami ke sana!"
"Hentikan ceritamu Wira! sekarang giliranku untuk bercerita kepadamu!" Ki Pancar Buana kemudian berdiri, dia menatap Wirayudha dalam-dalam, "Wira, apakah kau sadari, beberapa orang mengatakan kita mempunyai kemiripin rupa, setelah mendengarkan kisahmu, ada benang yang tersambung di antara kita!"
"Apakah maksudmu Ki?"
"Keluarga kami sebenarnya adalah keluarga pejuang, kami mengabdi di Kerajaan Padjajaran, aku dan kakakku yang bernama Sangkan Urip."
"Setelah Padjajaran runtuh sesuai dengan titah Prabu Surya Kencana kami mengalihkan pengabdian kepada Kerajaan Sumedang Larang, karena menurut Gusti Prabu, Sumedang Laranglah sebagai Naledra atau penerus Padjajaran, tetapi Kakakku Kakang Sangkan Urip lebih memilih untuk mengabdikan dirinya di tengah masyarakat langsung sebagai ahli pengobatan."
"Kakang Sangkan Urip berkelana bersama istri dan putrinya, sedangkan putranya ikut bersamaku mengabdi di Sumedang Larang."
"Apakah ceritaku sampai di sini membuat mu tersentuh Wira?"
__ADS_1
"Lanjutkanlah kisahmu Ki! aku ingin memastikannya!"
"Jika Kakekmu bernama Sangkan Urip, dan Ibumu bernama Saraswati, Genta Buana adalah Uwa mu, aku adalah Eyangmu Wira!"
Ki Pancar Buana membangunkan Wirayudha yang masih duduk dengan ternganga, kemudian dengan erat memeluk Wirayudha, "karena peperangan kita terpisah Wira!"
"Akkh...Cucuku telah dewasa, dan telah menjadi Ksatria pilih tanding!" senyuman dan keharuan menjadi satu, terlihat di wajah Ki Pancar Buana yang biasanya terlihat bengis dan kejam, kemudian kedua tangannya memegang bahu Wirayudha dan mendekap kembali tubuhnya.
Wirayudhapun membalas pelukan Ki Pancar Buana dengan erat, "Eyang!..."
Betapa bahagianya Ki Pancar Buana setelah berjumpa dengan Wirayudha, dia sendiri sampai dengan detik ini belum pernah menikah, hidupnya penuh dengan pengabdian di Kerajaan Padjajaran, tanpa pernah memikirkan kepentingannya sendiri.
Lestari melihat dan mendengar percakapan mereka berdua, keringat dingin dan ke khawatiran terus menghantui pikirannya.
"Lestari!" terdengar panggilan Ki Pancar Buana memanggil, suara panggilan Ki Pancar Buana sebenarnya tidak terlalu keras, tetapi terdengar oleh Lestari seperti suara geledek, sehingga membuatnya terperanjat, "Iy..iyyaa Ki!"..dengan penuh rasa khawatir Lestaripun mendekati mereka berdua.
Aah...Terasa beban berat yang menindihnya lepas, Lestaripun akhirnya bisa tersenyum lega.
Kembali Ki Pancar Buana menatap Wirayudha, "Wira, seandainya aku mengikuti kata hatiku, ingin rasanya lebih lama lagi bersamamu, tetapi kita adalah laki-laki yang harus mengesampingkan perasaan demi sebuah tugas, aku mohon datanglah ke Kutamaya agar kita bisa bersua lebih lama lagi!"
"Baiklah Eyang, aku akan ke Kutamaya! jika engkau mempunyai kepentingan yang lain, silahkan Eyang mendahului saja, aku akan menuju Kutamaya bersama Lestari!"
"Benar Ki, tujuan kami.memang ke Kutamaya, karena sebelumnya kamipun mendapatkan undangan untuk datang oleh Ki Wiradijaya!" Lestaripun akhirnya berterus terang kepada Ki Pancar Buana mengenai pertemuannya dengan Wiradijaya.
"Wira, apakah kau sempat berkenalan dengan Adi Wiradijaya?" Ki Pancar Buana melontarkan pertanyaan kepada Wirayudha.
"Benar Eyang! aku sempat berjumpa dan berkenalan dengan Ki Wiradijaya!"
"Ha..Ha..Ha, aku ingin melihat betapa nanti dia akan terkejut saat mengetahui kau adalah cucuku Wira!"
__ADS_1
Ki Pancar Buana seperti memdapatkan sebongkah bukit emas saat mengetahui Wirayudha adalah cucunya, wajahnya terlihat lebih bersemangat apalagi mengetahui Wirayudha telah menjadi seorang pendekar pilih tanding, ia pun kemudian berpamitan menjalankan tugas dan berjanji untuk menemui Wirayudha di Kutamaya setelah menyelesaikan tugas-tugasnya.
Wirayudhapun melanjutkan perjalanan bersama Lestari menuju Kutamaya.
Saat mereka berjalan bersama, Lestari melirik Wirayudha sambil berkata, "Wira, eyangmu adalah salah satu Senopati di Kerajaan Sumedang Larang, dengan kemampuanmu seperti saat ini pasti kau akan mendapat kedudukan yang tinggi di sana!"
"Aku tidak menginginkan kedudukan, aku bergembira karena berjumpa dengan saudara ibuku yang sebelumnya aku tidak tahu!"
"Hik..Hik..Hikh, kau terlalu naif Wira, jabatan dan pangkat yang terhormat telah menunggumu di Sumedang Larang!"
"Diamlah Lestari! kau tidak perlu mengatakan itu! apakah setelah kau menjelaskan semuanya tentang kedudukan, berharap aku akan berkhayal dengan semua keindahan itu?" dengan suara agak keras Wirayudha menegur Lestari.
"Jika bukan karena keinginan berjumpa dengan keluarga mendiang ibuku, aku lebih baik berkelana, tidur beratapkan langit, dan beralaskan rerumputan sambil mendengarkan indahnya suara gemericik air sungai."
"Suara serangga hutan dan teduhnya pepohonan lebih aku inginkan daripada kedudukan yang mungkin nanti bisa membinasakan kita Lestari!"
Lestari memandang Wirayudha tanpa berkedip, dari semua yang di katakan Wirayudha semuanya sangat menyentuh, menandakan Wirayudha bukan seorang laki-laki ambisius yang mengejar dunia.
Membuat Lestari semakin kagum dan simpati, "benar apa kata hatiku, semakin lama bersamanya aku akan semakin jatuh hati..."
Bukit Kapur Bongas wetan mulai di tinggalkan, mereka menelusuri tepian Hutan Jati serta melewati Sungai Ciputri yang melintang, Wirayudha memandangi panorama pedukuhan yang di lewatinya, terselip perasaan rindu kepada Alas Roban yang di tinggalkan.
Gerimis mulai turun, menandai musim penghujan telah tiba, Lestari berlari mencari tempat berteduh, tetapi tidak bagi Wirayudha, ia dengan sengaja menadahkan wajah menatap langit, sehingga tetesan air hujan mengenai wajahnya, "Aissh...Lestari, inilah yang aku inginkan, air hujan membuatku damai dan merasakan ketenangan!"
Lestari hanya memandangi Wirayudha dengan tersenyum.
****.....********
Terimakasih Reader yang yang tetap setia mengikuti kisah ini,...Mohon jangan asal lewat, berikan dukungan buat kami Author yang kadang sesekali waktu mengalami kejenuhan dalam menulis...
__ADS_1