
Hyang Hawu memperhatikan Wirayudha, kemudian tatapan merekapun beradu, "Siapa kau Anak muda? sepertinya kau sangat memahami olah keprajuritan?"
"Aku Wirayudha, mohon maaf Kisanak, hanya itu yang dapat aku katakan kepadamu!"
Terlihat sedikit senyum menghiasi bibir Ki Jaka Perkasa, ketika sorot mata mereka beradu kembali, Ki Jaka Perkasa menyerang Wirayudha dengan Ajian "Pancaran Bara Api"
Tubuh Wirayudha merasa tertekan, tatapannya tidak dapat di lepaskan dari pandangan Ki Jaka Perkasa, terasa bahunya semakin berat, perlahan kakinya semakin melesak ke tanah.
Sambil menenangkan hatinya, Selaksa gunung di alirkan untuk memperkokoh kuda-kudanya, tetapi yang di lakukannya malah menambah cepat lesakan kakinya sampai mata kaki.
Beruntung Wirayudha mengingat salah satu ilmu yang berasal dari Ki Seno Keling sebagai guru olah kebatinannya, setelah menarik nafas Wirayudha pun mencoba mengalirkan Ajian tersebut lewat tatapan matanya, "Askara Netra!"
Semakin lama, Wirayudha semakin memperkuat Askara Netra nya, dampak dari perlawanan Wirayudha terasa oleh Ki Jaka Perkasa, "Pancaran Bara Api" yang di lepaskannya perlahan membalik dan menekan tubuhnya, kedua kakinya pun ikut melesak ke dalam.
Semakin lama tenaga dalam yang mereka pergunakan semakin meningkat, terlihat dari keduanya mengucurkan keringat lewat dahinya masing-masing.
Yang mengetahui keduanya sedang melakukan pertarungan batin hanya Ki Pancar Buana, Wiradijaya dan Kondang Hapa, ketiganya ikut merasa tegang, karena pertarungan mereka bukan pertarungan biasa, jika salah satu dari keduanya tidak dapat mengendalikan akan sangat berakibat fatal.
Ganda Permana tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, ketika melihat di depan para prajuritnya ada Ki Jaka Perkasa, ia berlari tergopoh-gopoh karena takut atas ketidak hadirannya di lapangan ketika para prajuritnya sedang berlatih. ia pun bermaksud mendekat dan akan mengemukakan alasan ketidak hadirannya.
"Selamat Datang Gusti Panglima, aku mohon ma....!" sebelum kata-katanya selesai, karena dia terlalu mendekat ke radius tiga tombak dari Ki Jaka Perkasa, maka terjadilah ledakan..."Blaaarh!...Blaaarh!...Aaaakh!"
Ganda Permana berteriak kesakitan, tubuhnya terlempar sampai berguling-guling, kemudian beberapa prajurit menolongnya.
Sedangkan Ki Jaka Perkasa dan Wirayudha terpental ke belakang, keduanyapun kemudian mengatur nafasnya dan menarik tenaga dalamnya secara bersamaan, "Huphhh...Hupph!"
"Kau lumayan hebat anak muda! bisa bertahan selama itu!"
Sebelum Wirayudha menjawab, Ki Pancar Buana dengan tergesa mendekat dan kemudian menjura ke arah Ki Jaka Perkasa, "Maafkan dia Kakang, dia adalah Wirayudha putra dari Saraswati dan Cucu dari Kakang Sangkan Urip!"
"Berarti dia adalah Cucumu juga Adi Pancar Buana?"
__ADS_1
"Benar Kakang, maafkan atas ketidak tahuannya!", "Wira, berikanlah penghormatanmu kepada Panglima Perang Sumedang Larang!"
Wirayudhapun kemudian menjura memberikan penghormatan, "Maafkan kecerobohan hamba Gusti Panglima!"
"He..He..He, jangan mendahului penilaianku anak muda! perilakumu sangat pantas jika berada di depan para prajurit kita!"
Ki Jaka Perkasa kemudian melirik ke arah Ki Pancar Buana, "Pancar Buana! paras dan perilakunya mirip benar denganmu! mudah-mudahan nasibnya terhadap wanita tidak sama denganmu yang lebih suka menyendiri!"
Ki Pancar Buana beserta Wiradijaya dan Kondang Hapa tersenyum senang, mereka melihat baru kali ini Ki Jaka Perkasa melempar ujaran yang membuat orang lain tersenyum.
"Baiklah Wira, kapan-kapan kau harus menghadapku, semoga kau kerasan di sini bersama para prajurit kami!" kemudian Ki Jaka Perkasa melangkah pergi ke kediamanya.
"Kau selalu memberi kami kejutan Wira! pemahamanmu tentang olah yudha dan kanuraganmu membuat kami bangga, Wiradijaya memdekati Wirayudha dan mengacak-acak rambutnya.
"Terimakasih Ki, Wirayudha kemudian tersenyum kepada Wiradijaya, "Sudah ku katakan, kaupun harus memanggil kami dengan panggilan Eyang juga!" Wiradijaya berpura-pura marah sambil memelototkan matanya. "He...He..He baiklah Eyang!" Wirayudha menjawab sambil dirinya mendekati para prajurit yang sedang berusaha menolong Ganda Permana.
"Jika aku tidak salah, bukannya dia Raden Ganda Permana, Senopati utama pasukan berkuda?" Wirayudha berjongkok dan mengalirkan tenaga dalamnya ke Ganda Permana, yang berangsur-angsur siuman kembali.
"Ah..Aku tidak perlu bantuannya, aku bisa melakukannya sendiri!" Ganda Permana kemudian berdiri terhuyung-huyung dan segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal dan marah.
Ingin rasanya Ganda Permana ******* Wirayudha yang membuat dirinya kalah bersaing, tetapi untuk berhadapan langsung, Ganda Permana tidak mempunyai keberanian. Pertarungan Wirayudha dengan Kondang Hapa pernah di saksikannya, dan ia tahu diri kemampuan Wirayudha jauh di atas dirinya.
Wirayudha memandangi kepergian Ganda Permana, di hatinya muncul kewaspadaan, ini adalah pengalaman pertama bagi Wirayudha menghadapi seseorang yang berada dalam satu kubu dengannya tetapi bersebrangan dalam sikap dan perilaku.
Ketika melihat Ganda Permana duduk di sudut lapangan, Wirayudha sengaja ingin menunjukan sesuatu kepadanya.
"Hayoo Prajurit! kita lanjutkan latihan lagi! aku ingin menunjukan bagaimana menghadapi jebakan pasukan pemanah ketika dalam keadaan terdesak!"
"Apa yang harus kami lakukan raden?" pimpinan-pimpinan kelompok kecil dari pasukan pemanah mendekat dan bertanya.
"Bagilah pasukan kalian menjadi empat bersyap, dua syap di kananku dan dua syap di kiri! siapkan anak-anak panah kalian yang paling tajam!"
__ADS_1
Walaupun hatinya di liputi kekesalan, Ganda Permana merasa penasaran dengan apa yang akan di lakukan Wirayudha, akhirnya ia pun ikut mengamati.
"Raden, apakah ini salah satu taktik pertempuran menghadapi pasukan panah?",
"Tidak! aku ingin menunjukan kepada kalian keterampilan seorang musuh! karena sekali waktu kalianpun nanti akan menemukan dan menghadapi seseorang yang mempunyai kemampuan seperti yang aku tunjukan!"
Pasukan pada syap depan kemudian berjongkok, posisi yang berada di syap belakang berdiri, masing-masing dari mereka bersiap dengan membentangkan busurnya.
Wirayudha kemudian berdiri di tengah-tengah, ia pun membuat lingkaran kecil di sekitar tubuhnya.
"Prajurit! bersiaplah! bentangkan busur kalian sekencang-kencangnya, arahkan anak panah kalian ke bagian mana dari tubuhku yang di anggap paling mematikan! aku tidak akan bergeser sedikitpun dari lingkaran ini!"
"Bersiaplah! mulai!"....
"Sraaaath!....Sraaaarth!.....Sraaaath!"
Ratusan anak panah kemudia melesat dengan cepat.
"Traaakh...Traaakh....Trakkkh!"
Ganda Permana sampai berdiri ketika melihat anak-anak.panah tersebut dengan tepat mengenai tubuh Wirayudha, bukannya menancap, anak panah itu rontok laksana membentur besi.
"Lanjutkan serangan kalian!" dalam derasnya hujan anak panah teriakan Wirayudha terdengar dengan keras memberikan perintah.
Tubuh Wirayudha kemudian berputar seperti gangsing, "Whusssh!"
Ratusan anak panah yang akan mengenai tubuhnya ikut berputar mengelilingi tubuh Wirayudha dengan cepat, kemudian meluncur ke atas.
Ketika ratusan anak panah mengarah ke angkasa, Wirayudha berteriak, "Badai Gunung Ciremai!!!!"...Blaaarh!"
Satu pukulan menderu menghancurkan ratusan anak panah tersebut, dan jatuh ke tanah menjadi abu mengenai tubuh Wirayudha yang masih berdiri dengan gagah.
__ADS_1
Ganda Permana yang kembali melihat kemampuan Wirayudha, muncul rasa ke khawatiran dan ketakutannya dengan teramat sangat.