Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Kudjang Indrakila II


__ADS_3

Sinar hitam tersebut melewati tubuh-tubuh penyerangnya. Maharani kemudian diam masih dalam posisi berdiri, karena ia merasakan keanehan, lawan yang berada di depannya tidak bergerak setelah berteriak merasakan kesakitan.


Tubuh mereka kemudian terjatuh ke tanah dengan terbelah, dan tercium bau seperti daging yang terbakar.


Darah Maharani yang menetes lewat jari-jarinya serasa ada yang menghisap dan menjadi kering, besi berkarat yang di genggamnya terasa mengalirkan hawa hangat, yang selanjutnya menjalar ke seluruh tubuh.


Pandangan mata Maharani kemudian beralih kepada benda yang tidak sengaja dia ambil tadi, benda tersebut memancarkan cahaya merah dan mengeluarkan asap hitam.


Beberapa penyerangnya berdiri tertegun melihat rekan-rekannya yang menyerang Maharani tewas mengenaskan dengan tubuh menghitam.


"Hei..Apa yang terjadi?" Sencaki yang baru tiba kemudian melihat ke sekeliling, ia melihat Maharani dengan rambut yang riap-riapan penuh darah memandangnya dengan wajah yang menyeramkan.


"Apa yang kau lakukan? kurang ajar! Hiaaaath...!"


"Desh!...Desh!"


Tubuh Sencaki yang meloncat dan menendang Maharani terpental kemudian terjatuh di tanah, kemudian terlihat keningnya naik dan merintih merasakan sakit, "Aaakh..!"


Sencaki merasa heran, Maharani yang tadi di serangnya tidak melakukan apapun, tetapi membuat tendangannya seperti menendang sebuah kayu yang sangat keras sehingga membuatnya terpental.


Apa yang kemudian di pikirkan Sencaki dan anak buahnya, tidak jauh berbeda dengan yang di pikirkan Maharani yang merasa keheranan dengan apa yang terjadi kepadanya.


Tubuhnya kini serasa ringan, luka-lukanya pun mendadak kering.


Beruntung sebelum lawannya sadar apa yang telah terjadi, Maharani merasa bahwa perubahan yang terjadi pada tubuhnya adalah pengaruh dari besi berkarat yang saat ini di genggamnya.


Untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berputar di pikirannya, Maharani mencoba kembali dengan cara menebaskan besi itu, "Hiaaath...Sreeet!"


"Aaarkhhh....Aaakh!"


Beberapa penyerang yang masih berada tiga tombak di depan, jatuh tergeletak dengan tubuh hangus terbakar oleh tebasan yang di lakukan Maharani.


"Hua...Ha...Ha, terdengar tawa mengerikan dari Maharani, sekarang suaranya bergema seperti di lapisi oleh tenaga dalam yang tinggi, "Tiba saatnya kalian juga mati di tanganku!"

__ADS_1


"Hiaaat....Wusssh....Desh...Desh!"


Sambil menggenggam erat besi tersebut, Maharani mengirimkan tendangan beruntun, yang kemudian dengan telak mendarat di tubuh para pendekar yang mengeroyoknya, "Brukh...Brukhh...Aaakh!"


Setelah menyadari tubuhnya penuh dengan kekuatan, dengan cepat Maharani menyerang lawan-lawannya dengan gesit, tubuhnya berkelebat kesana kemari mengirimkan tebasan dan tendangan, "Hiaaath...Sraaath!..Sraaath!


"Bruukh!...Bruukh!...Bruukh!"


Tubuh mereka terjatuh dengan luka tebasan dan sebagian yang lain dengan tulang-tulang yang melesak akibat dari tendangan.


Setelah para pengeroyoknya tewas tak tersisa, kemudian Maharani kembali untuk mengambil jenazah kedua kakaknya.


Ada perubahan yang terjadi pada wajahnya, tatapan kesedihannya hilang tergantikan dengan wajah yang mengelam membesi seperti menahan kemarahan, tidak ada lagi tetesan air mata di pipinya.


Ketika menggali tanah untuk pusara kedua Kakaknya, Maharani menggali di dekat gundukan tanah yang meninggi, tempat di mana dia menemukan senjata yang di pergunakannya.


Ternyata tanah tersebutpun adalah sebuah pusara dengan batu yang menonjol ke atas itu sebagai nisannya.


Setelah batu nisan itu di bersihkan, terpampang dengan samar sebuah tulisan dengan aksara kuno, beruntung Ki Pandusora adalah seorang yang mengerti sastra dan sempat mengajarkan kepada putra dan putrinya, sehingga Maharani tidak mendapatkan kesulitan untuk mengartikannya.


...Maha Guru Indrakila...


...Agnia Dahayu...


Maharani masih merasa tidak puas, hatinya meyakini, masih ada rahasia yang terpendam di dalam pusara tersebut, dengan nekad dan menekan rasa takut, di galinya pusara tersebut dengan kedua tangannya yang memakai batang kayu kering.


Keringat bercampur tanah telah mengotori sebagian tubuh Maharani, amisnya bau darahpun tidak di rasakan, Maharani terus menggali hingga suatu ketika, batang kayu yang di pergunakannya membentur benda keras.


"Trokh...Trookh!"


Kedalaman galian lebih dari tiga tombak, yang akhirnya membuat Maharani menemukan sebuah peti batu yang besar.


Setelah beristirahat karena kelelahan, Maharani melanjutkan penyelidikannya, dengan usahanya yang keras dan tidak mengenal menyerah terbukalah peti batu tersebut.

__ADS_1


Di dalamnya terdapat kerangka tubuh manusia dan beberapa batu yang membentuk sebuah peti batu kecil, dan yang paling mengesankan adalah beberapa gulungan lontar yang masih utuh serta pakaian wanita yang mirip dengan pakaian bangsawan zaman dahulu kala.


Setelah semuanya di ambil dan di sembunyikan di balik bajunya, Maharani kemudian menutup kembali peti batu tersebut dengan rapih, dan meloncat keluar dari lubang yang di galinya. Pusara tersebut di timbun kembali dengan tanah bekas galian tadi.


Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Maharani memandang pusara kedua kakaknya, terbayanglah saat-saat kebersamaan mereka sejak sedari kecil.


Maharani kecil sangat di manjakan oleh ketiga kakak lelakinya, karena saat melahirkan Maharani, Nyai Pandusora meninggal karena pendarahan.


Tidak ada permintaannya yang pernah di tolak oleh saudara laki-lakinya, mereka menyayangi Maharani dengan segenap hati. Bayu Komara yang sering menggendongnya, Bayusuta yang suka menyuapinya ketika dia malas makan, dan Bayu Lelana yang selalu memeluknya tatkala dia sedih.


Kembali wajah mengerikan Maharani pun hilang, kesedihan tampak kembali menghiasi, tetesan air matanya pun semakin deras, "Hu..Hu..Hu..tangisan nya terdengar pilu, bahunya ikut terguncang.


"Kakang beristirahatlah kalian dengan tenang, aku akan memburu semua yang telah membinasakan keluarga kita!" tubuhnya kemudian berbalik menuju Pantai Kejawen, kembali ke gubuk sederhana yang menjadi kenangan bersama saudara-saudaranya.


Matahari telah timbul dan tenggelam di permukaan air laut sebanyak dua kali, menemani Maharani yang duduk termenung menatap pantai. Ini adalah hari yang ke tiga ia duduk termanggu di pasir pantai dekat dengan gubuk sederhananya.


Selembar daun lontar yang di temukannya kemudian di baca untuk menghilangkan kejenuhan.


...Aku Agnia Dahayu, pemilik kebangsawanan, kecantikan dan kesaktian, kesirnaan adalah keahlianku, panas api membara adalah sahabatku....


...Rimba persilatan telah bertekuk lutut kepadaku...aku telah menjadi Ratu, Ratu Kecantikan dan Ratu Kesaktian....


...Tetapi mengapa, Indrakila tidak pernah bisa menerimaku sebagai pujaan hatinya?...


...Dengan air mata darah, Kudjang miliknya ku tikamkan ke jantungnya, agar aku bisa bersamanya ke tempat ke abadian....


Maharani melanjutkan memeriksa lembar lontar selanjutnya, di sana terdapat catatan-catatan yang di buat oleh Agnia Dahayu, berisi Ajian kanuragan-kanuragan tinggi.


Salah satu Ajian milik Agnia Dahayu adalah dapat menyerap tenaga api dari inti bumi, tubuh dan rambutnya bisa berkobar mengeluarkan api, setiap lawan yang di sentuh maupun menyentuhnya akan terbakar menjadi debu.


Ternyata baju yang di temukannya pun mempunyai fungsi membuat pemakainya laksana raib, tidak terlihat oleh kasat mata. Selain itu Agnia Dahayupun menjelaskan tentang Kudjang milik kekasihnya, Kudjang yang dapat membuat pemakainya menjadi seorang yang Sakti Mandraguna.


Maharani kemudian merenung, kanuragan tersebut tercipta beratus tahun yang lalu, apakah dapat membantunya menghadapi musuh-musuhnya yang hidup pada zaman sekarang.

__ADS_1


Maharani kemudian melanjutkan membaca lembaran lontar yang lainnya, yang berisi kisah-kisah kehidupan Agnia Dahayu bersama Maha Guru Indrakila.


__ADS_2