
"Nisanak, aku percaya ini adalah tanda resmi dari Kerajaan Cirebon, tetapi tanda ini tidak mengisyaratkan kalian sebagai duta kerajaan, apakah ada tanda lain yang kalian miliki?"
Suciwati melirik ke arah pengawalnya, tetapi kedua pengawalnya hampir bersamaan menggelengkan kepala, "Kepala penjaga, kami tidak memiliki tanda lain, tetapi sesuatu yang akan kami sampaikan sangat penting untuk Gusti Prabu Geusan Ulun!"
"Nisanak, melihat kesungguhanmu sebenarnya aku juga percaya, tetapi aturan tetaplah aturan!"
"Begini saja, bagaimana jika kalian aku hadapkan kepada Senopati Utama atau Panglima saja, karena merekalah pimpinan kami yang bertanggung jawab masalah keamanan di negeri Sumedang Larang ini, biarlah nanti beliau saja yang memutuskan, apakah kalian di izinkan atau tidak untuk menghadap Gusti Prabu!"
"Baiklah Kepala penjaga! kami akan mengikuti peraturan di sini, yang penting nanti kami akan di izinkan menghadap Gusti Prabu!"
Setelah mereka sepakat, kemudian Suciwati dan pengawalnya di bawa ke Balai Prajurit untuk menghadap salah satu dari Kandaga Lante sebagai pucuk pimpinan dan penanggung jawab yang menyangkut seluruh keamanan Sumedang Larang.
Belum juga sepertiga perjalanan yang di tempuh, mereka bertemu dengan Ki Jaka Perkasa dan Kondang Hapa yang memang sedang mengawasi pos-pos penjagaan.
Kepala prajurit tersebut kemudian langsung menemui mereka dan menghaturkan penghormatan, "mohon maaf Gusti Panglima, kami membawa utusan dari kerajaan Cirebon yang ingin menghadap Gusti Prabu, mohon petunjuk Gusti Panglima!"
Ki Jaka Perkasa memperhatikan tiga orang yang berada di depannya, kemudian mengatakan sesuatu, "Siapakah kalian, dan apa kepentingan kalian sehingga ingin menghadap Gusti Prabu?"
"Salam hormat Gusti Panglima, aku Suciwati dan ini adalah kedua pengawalku, ada sesuatu hal yang penting yang ingin kami utarakan kepada Gusti Prabu Geusan Ulun secara langsung, mohon kami di berikan waktu untuk menghadap beliau!"
Setelah mendengar nama Suciwati, Ki Jaka Perkasa tersenyum dan langsung mengingat laporan si Hitam kepadanya, "tidak salah lagi, ini adalah dayang kepercayaan dari Putri Harisbaya."
"Prajurit, kembalilah kau ke posisi penjagaan, biarkan tamu kita bersama kami!" Ki Jaka Perkasa memberikan perintah kepada prajurit yang mengawal Suciwati dan pengawal-pengawalnya, setelah itu Ki Jaka Perkasa pun membawa tamunya ke sebuah tempat di gudang persenjataan.
Kondang Hapa mengikuti mereka dengan sebuah pertanyaan di dalam pikirannya, "mereka utusan dari Cirebon, kenapa harus di bawa kesini?", tetapi Kondang Hapa tidak berani untuk bertanya.
__ADS_1
Setelah mereka duduk di ruang bawah tanah, "Nisanak, ceritakanlah apa maksudmu menghadap Gusti Prabu?"
"Maaf Gusti Panglima, amanah ini tidak bisa kami sampaikan kepadamu, harus kami sampaikan langsung kepada Gusti Prabu!"
"Hmm...Jika kau tidak bisa mengatakannya kepadaku, bagaimana aku bisa menilai kalian layak atau tidak untuk di hadapkan kepada junjungan kami!" suara Ki Jaka Perkasa mulai terdengar menekan.
Suciwati dan para pengawalnya mulai kebingungan, mereka terdiam tidak bisa mengatakan apapun.
Setelah sekian lama hening, akhirnya Suciwati membuka suara, "kalau kami tidak di izinkan, kami akan pamit undur diri saja Gusti Panglima!"
"Ha..Ha..Ha, Nisanak, kau kira datang ke sebuah kedai! bisa seenaknya datang dan pergi, aku tidak mengizinkan kalian keluar walaupun hanya sejengkal!"
"Apa maksudmu Gusti Panglima?" Suciwati mulai merasakan kecurigaan kepada Ki Jaka Perkasa, sementara itu pengawal-pengawalnya mulai bersiaga, tangan mereka sudah mulai memegang hulu pedangnya masing-masing.
Tatapan mata Ki Jaka Perkasa melihat gerakan pengawal Suciwati, "He..He..He, apakah kalian yakin pedang itu bisa di pergunakan?"
"Dasar kau wanita yang pandai bersilat lidah, kalian datang bukan sebagai utusan kerajaan, kalian mempunyai kepentingan pribadi! jangan kalian kira aku tidak tahu akal bulusmu!"
"Hei pengawal, jauh-jauh kau datang dari Cirebon, kenapa membawa ular dalam warangka pedangmu?"
Pengawal Suciwati merasa penasaran dengan apa yang di katakan oleh Ki Jaka Perkasa, selain itu mereka pun sepertinya harus segera meloloskan pedang untuk bersiap menghadapi segala ancaman.
"Sraaath....Aaaah...!"
Kedua pengawal tersebut tercekat kaget ketika mereka meloloskan pedang, ternyata apa yang di katakan oleh Ki Jaka Perkasa benar adanya, bukan pedang yang berada dalam warangka, tetapi seekor Ular yang melata dan siap mematuk, dengan gerakan spontan, keduanya melempar ular-ular tersebut.
__ADS_1
"Klontang...Prang!" keterkejutan mereka berlanjut, ular-ular yang mereka lempar ternyata setelah menyentuh lantai kembali berbentuk bilah pedang.
Ki Jaka Perkasa mengibaskan tangan kanannya, serangkum angin melewati atas kepala Suciwati, "Wusssh...Braakh!..Praaakh!"..
"Brukh!...Bruukh!...
Kedua tubuh pengawal Suciwati terlempar dan membentur dinding kayu, kepala mereka pecah dan tubuhnya pun bersimbah darah, keduanya tewas tanpa sempat berteriak.
Suciwati tercekat, tubuhnya mundur ke belakang dan menempel dinding, keringat dingin di wajahnya mengalir dengan deras bersamaan dengan datangnya rasa ketakutan yang teramat sangat.
"Aa..pa yang akan kau lakukan kepadaku?" dengan menggigil Suciwati menatap Ki Jaka Perkasa.
Suciwati sebenarnya tidak terlalu buta terhadap ilmu Kanuragan, tetapi melihat gerakan yang di lakukan oleh Ki Jaka Perkasa, ia sadar...kemampuannya teramat jauh.
"Nisanak, aku tahu kau seorang dayang pilihan, kesetiaanmu kepada junjungan sangatlah teguh, aku berjanji kau tidak akan merasakan sakit sedikitpun!"
"Sebuah kehormatan untukmu, mati di ujung Kudjang ini!, sebuah Kudjang yang berwarna hitam gelap kemudian berkiblat menebas leher Suciwati, "Craaash!"...
Tubuh Suciwati jatuh dengan kepala menggelinding, ambruk ke lantai yang masih penuh darah pengawal-pengawalnya.
"Kondang Hapa! lenyapkan mereka tanpa sisa sedikitpun!" kemudian Ki Jaka Perkasa berlalu dari ruangan bawah tanah itu.
Kondang Hapa memperhatikan mayat-mayat yang bergelimpang di depannya, ada sesuatu yang kemudian menarik perhatiannya, sebuah benda penghias di rambut Suciwati.
Kedua tangan Kondang Hapa melakukan gerakan berputar, dari tangannya keluar hawa panas, dan menyelimuti ruangan, tangannya di tempelkan ke tubuh-tubuh mayat tersebut, yang kemudian terbakar hangus menjadi abu, sedangkan darah yang berceceranpun kemudian menguap seketika.
__ADS_1
Kondang Hapa belum memahami benar apa yang telah terjadi di depannya, tetapi apapun yang di lakukan Ki Jaka Perkasa ia tidak berniat menanyakan apapun,
Nasib Malang menimpa Suciwati yang mengemban tugas dari Junjungannya, iya menjadi tumbal sebuah rencana besar yang akan menimbulkan kobaran api peperangan dan menimbulkan pertarungan-pertarungan para pejuang dari Kerajaan yang berbeda.