Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Kutamaya Menebar Janji


__ADS_3

Wirayudha dan Lestari telah sampai di Kutamaya. Ibukota dari Kerajaan Sumedang Larang itu sangatlah indah, jalanan dan rumah-rumah penduduk telah tertata rapih, para pengunjung yang pertama kali sampai di Kutamaya akan menikmati suasana yang damai dan syahdu, karena saat baru saja memasuki Gerbang Kutamaya akan terdengar lamat-lamat suara seruling yang mengalun dengan nada ciri khas Priangan.


"Lestari, negrimu indah sekali, suara seruling membuatku merasa nyaman di sini!"


"Apakah kau berkeinginan menetap si sini Wira? kau bisa mewujudkannya Wira, apalagi Eyangmu termasuk orang yang kami hormati di Kutamaya."


"Entahlah Lestari, biarlah nanti takdir yang akan mengatakannya!"


"He...He...He, kau berbicara seperti orang yang sangat dewasa Wira, apakah kau tidak menyadari, usiaku lebih tua darimu dan lebih punya banyak pengalaman hidup!"


"Usia tidak bisa menjamin seseorang menjadi berpikir dewasa Lestari! cobalah kau pikir, seandainya kamu yang menjadi aku, apakah kau akan memaafkanku yang sudah berusaha membunuhmu?"


Lestari terhenyak dengan pertanyaan Wirayudha, seandainya ia yang berada di posisi Wirayudha, apakah ia bisa memaafkan?


"Maafkan aku Wira! aku sangat menyesal dengan kejadian itu," Lestari kemudian memegang lengan Wirayudha yang masih berjalan di sampingnya.


Wirayudha hanya tersenyum sambil tetap melangkahkan kakinya.


"Cuih...Orang tidak tahu malu! memperlihatkan kemesraan di depan orang banyak seperti dunia milik mereka saja!"


Sekonyong-konyong terdengar suara wanita yang jelas-jelas di tunjukan kepada mereka berdua, wanita muda itu berjalan mendahului Lestari dan Wirayudha bersama seorang laki-laki tua.


"Hei gadis gila! mulutmu tajam seperti pisau! lagipula apa perdulimu kepada kami!" Lestari dengan perasaan kesal pun melontarkan kata sindiran balasan.


"Hmm...ternyata kau mempunyai keberanian juga wanita lemah!" kini wanita muda itu menghentikan jalannya dan berbalik memandang Lestari dan Wirayudha dengan sengit.


"Maaf Nisanak, kami tidak mempunyai sengkata denganmu, kata-katamu kasar seakan-akan kau mempunyai dendam kesumat kepada kami, sudahlah silahkan lanjutkan perjalananmu!" Wirayudha berusaha menengahi.

__ADS_1


"Benar Citraloka, ayolah kita masih punya banyak kepentingan di sini!" ternyata gadis muda itu adalah Citraloka bersama gurunya Ki Indrayasa yang di kenal dengan Lodaya dari Kawali, mereka akan menyambangi Ki Jaka Perkasa atas undangan yang di berikan Kondang Hapa di kediamannya.


"Sebentar guru! aku ingin menjajal kemampuan orang kota yang katanya sangat angkuh tetapi kosong dengan kemampuan!"


Citraloka tidak menghiraukan kata-kata gurunya, malah dia mendekati Lestari dan Wirayudha.


Setelah mereka berhadapan, Wirayudha merasa kaget, karena yang tadi di lihatnya hanya sekedar gadis muda yang cantik, tetapi setelah dekat terlihat ada sesuatu yang berbeda dengan Citraloka.


Bola mata Citraloka berbeda dengan orang kebanyakan, bagian hitamnya lebih kecil,.Ketika Citraloka berbicara gigi taringnya terlihat walaupun masih terlihat samar.


Kaki Citraloka terlihat menolak permukaan tanah dengan keras, tubuhnya dengan cepat meluncur ke arah Lestari dengan maksud ingin mencengkeram leher, "Hiaaath...Sreeeth!"


"Haiiikh...Desh!" tetapi sebelum tangannya sampai, dari samping ada sebuah tangan dengan cepat dan tenaga yang besar menangkisnya.


Untuk mengurangi efek tenaga dorongan, Citraloka berjungkir balik mundur ke belakang menapakan kedua kakinya kembali.


Wirayudha menatap Ciraloka dengan waspada, ia tahu...tangkisannya pasti akan membuat kesal gadis yang tadi menyerang.


"Grrrrh...Terdengar suara geraman dari Citraloka, karena kesal kini jari-jari tangannya keluar kuku-kuku tajam yang mencuat.


"Wusssh!"...Sabetan kuku dari Citraloka mengarah wajah Wirayudha, "Haitth..Wirayudha mengelak hanya dengan memalingkan wajahnya dan mundur satu langkah ke arah.yang berlawanan dengan serangan, "Aiish...Seranganmu sangat serius Nisanak!"


Indrayasa melihat gerakan-gerakan yang di lakukan Wirayudha, pandangannya fokus kepada gerakan kaki-kaki yang bergeser, langkah itu adalah langkah 8 bayangan Dewa yang dulu sempat ingin di milikinya, karena keterbatasan dan kelemahan dengan kondisi kaki, Indrayasa hanya mampu mempelajari secara teori saja.


"Citraloka, serang dari samping kiri, langkahkan kaki kananmu dua langkah ke depan, tendang memakai kaki kanan ke arah pinggang!"


Citraloka yang mendapat petunjuk dari gurunya, semula sangat ragu dengan petunjuk itu, karena gerakan yang akan di lakukan adalah gerakan bukan untuk mendekat dan menyerang, tetapi gerakan untuk membuka peluang lawan mudah untuk menyerangnya.

__ADS_1


Tetapi karena sangat mempercayai gurunya, Citraloka tidak berani membantah, ia pun melanjutkan serangan sesuai petunjuk, "Sraaath...Desh!" pinggang Wirayudha terkena tendangan tetapi tidak sampai membuatnya terjatuh, hanya dapat menggeser posisi tubuhnya ke samping tiga langkah.


"He..He..He orang tua, ternyata kau mengenali gerakan yang ku lakukan, perintahkanlah muridmu mundur! karena dia bukan lawanku!"


"Puiih...baru saja kau terkena seranganku, kau malah yang menyombongkan diri!" Citraloka bersungut dan bersiap kembali melakukan serangan.


"Citraloka mundurlah!" Ki Indrayasa kini mendekati Wirayudha dengan langkah gontainya dengan di tompang tongkat.


"Wusssh!" lemparan tongkatnya kemudian menderu menimbulkan angin yang panas, tongkatnya berputar dengan membentuk kumparan menyerang Wirayudha, "Sraaath...Sraaath!"


Kerika tongkatnya masih melakukan gerakan putaran, Indrayasa melejit melakukan tendangan geledek, "Hiiiaaath,...Wuuush, Wirayudha tidak lengah, tubuhnya berkelebat dengan cepat untuk menghindari pukulan tongkat, saat pandangan matanya melihat serangan tendangan yang di lakukan guru dari Citraloka itu, tubuhnya tidak berusaha menghindar, ia mengambil ancang-ancang dengan menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanannya, dan menyongsong tendangan Ki Indrayasa dengan pukulan, "Hiiiatth....Selaksa Gunung!..Dhuaaarh!"


Ki Indrayasa terpental mundur, tubuhnya akan menghantam gerobak kayu, beruntung Citraloka menahan lontaran tubuhnya, "Guruuu!"...


Sedangkan Wirayudha hanya terdorong tiga tombak ke belakang dengan wajah masih tersenyum.


Kini di atas Wirayudha terlihat tombak hitam bermata dua sedang berputar, "Cidro! hantam tongkat itu!"..Tombaknya seperti makhluk hidup yang mengerti akan perintah, tombak Cidro mulai meluncur membentuk kumparan dengan tenaga yang besar dan menghantam tongkat Ki Indrayasa.


"Draang...Draang!, ketika terjadi benturan, tongkat Ki Indrayasa seperti menahan beban yang berat, terpental dan kemudian meluncur kembali ke pemiliknya.


"Pemuda ini, bukan orang sembarangan Citraloka, kau salah sasaran dengan mengejeknya! tenaga dalamnya jauh di atasku Citraloka, apalagi denganmu!"


"Bagaimana jika ku serang dengan Macan Lodaya guru?"


"Jangan Citraloka, Ajian Macan Lodaya berasal dari negeri ini, pastinya nanti akan membuat kegegeran bagi yang melihat kita!"


Wirayudha tidak melakukan serangan ketika melihat Citraloka dan gurunya sedang berbicara.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian rundingkan Kisanak? bagaimana dengan pertarungan kita, apakah akan kita lanjutkan?"


Indrayasa mendekati Wirayudha, "Maafkan muridku yang telah mengganggu perjalananmu anak muda, mohon kau maklumi karena ini adalah pengalaman pertama dia berkelana!"


__ADS_2