Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Mulai Membaca Situasi


__ADS_3

Lestari hanya melihat dengan tatapan kecemasan, dia sadar orang-orang yang mengepungnya bukan dari kalangan pendekar biasa.


"Haikh...Desh...Desh!"..., Dengan cepat Nini Sangga Geni melontarkan serangan dengan menghantam punggung Lestari yang lengah karena terintimidasi orang-orang yang mengelilinginya.


"Aaaakh!"...tubuhnya melayang terjatuh ke bawah, "Haaaph...Slpph..Dengan cepat Wirayudha menyambar tubuh Lestari yang hampir saja membentur permukaan tanah.


"Desh..Desh!" dua totokan di leher membuat Lestari kaku terduduk, kemudian Wirayudha menempatkannya di kursi depan.


"Aku tidak mengenalmu! kenapa kau berniat membunuhku Nisanak?"


Sebelum Wirayudha melanjutkan interogasinya kepada Sri Lestari, dari arah depan melesat sebuah benda menuju Wirayudha, "Sraaath....Traang!", dengan sigap bambu kecil yang di pegangnya menyabit dan memotong gerakan benda tersebut.


"Boleh juga kau anak muda!" suara jarak jauh di sertai sambaran angin yang kuat menandai hadirnya seseorang yang kini berada tepat di depan Wirayudha.


Laki-laki separuh baya dengan tubuh yang terlihat berotot memandang Wirayudha dari atas kepala sampai bawah. "Siapa namamu anak muda? kau mirip sekali dengan Kakang Pancar Buana ketika muda dulu!"


"Sebutkan dulu namamu Kisanak! baru kau boleh menanyakan jati diriku!"


"Ha..Ha..Ha, kau sangat mirip sekali anak muda! aku Wiradijaya dari Pakuan!"


Nini Sangga Geni yang berada di belakang Wirayudha merasa terperanjat, nama itu sangat melegenda, karena salah satu Kandaga Lante yang terkenal dari Bumi Padjajaran. Seperti yang kita ketahui sebelumnya Nini Sangga Geni sebelum kembali ke Mataram, dia sempat melanglang buana di wilayah Tatar sunda, nama itu sangat di hindari oleh para pendekar, jangankan untuk berhadapan, di saat mereka mendengar namanya saja, semua akan berusaha tidak terlibat bentrokan dengannya.


"Tuan, dia adalah muridku.., maafkan karena dia adalah tunas yang baru tumbuh sehingga tidak mengetahui nama besarmu!"


"Siapa yang mengizinkanmu bicara!" Wiradijaya memandang Nini Sangga Geni dengan tatapan tajam, matanya berkilat seakan-akan ingin menembus rongga dada.


Wirayudha mulai memperlihatkan ketidak sukaannya, "Jaga mulutmu Kisanak, tidak layak kau mengatakan itu kepada guruku!"


"Hmm...Sraaakh! tiba-tiba dengan kecepatan yang tidak terlihat oleh mata siapapun, tubuh Wiradijaya telah berada begitu dekat dengan Wirayudha, tangannya sudah mencengkeram leher.


"Aku ingin tahu, apakah kemampuanmu sebanding dengan nyali yang kau punya anak muda!"


"Sraakh..." Wirayudha membalas bergerak bagai bayangan, selain dapat melepaskan cengkeraman Wiradijaya, tubuhnya telah berada di belakang dan balas mencengkeram tengkuknya.

__ADS_1


"Haikh...Siku tangan kanan Wiradijaya di lontarkan ke arah ulu hati Wirayudha, "Desh..!" terjadi benturan dengan telapak tangan Wirayudha yang menangkis sambil mudur dua tombak ke belakang.


"Bagusss!"...Terima ini! Lodaya mencabik mangsa!" Hiaaath...!"


Tangan kanan Wiradijaya menyambar dari samping, sedangkan tangan kirinya melakukan gerakan cengkeraman ke arah jantung. "Wuush!..Wussh!"


"Prraakh...Praakh..! tangkisan Wirayudha membentuk patukan ular cobra, ujung jari-jarinya menguncup melakukan gerakan patukan ke tengah-tengah telapak tangan Wiradijaya.


Gerakan Lodaya Mencabik Mangsa telah di ketahui oleh Wirayudha, karena jurus tersebut adalah jurus yang pernah di pergunakan oleh ayahnya.


Sedangkan Wiradijaya sendiri terkejut, serangan cengkeramannya dengan mudah di mentahkan oleh Wirayudha. Padahal jurus tersebut bukan jurus sembarangan.


Kini dia mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang mempergunakan separuh tenaga dalam, tetapi dalam bentuk pukulan, "Hiaaath...Wuuugh...Wuuugh!"


Wirayudha tidak mau memberi hati kepada orang yang menghina gurunya, tangannya ikut terkepal dan melontarkan pukulan dengan tenaga dalam, "Hiiaaath...Blllaaarh!..Bllaarh!"


Terdengar bunyi suara ledakan yang besar ketika pukulan keduannya beradu di tengah-tengah.


Tubuh Wirayudha terseret hingga lima depa ke belakang, begitu juga Wiradijaya tesentak hingga satu tombak ke belakang.


Dengan menghempos nafasnya dengan pernapasan perut, kini Wiradijaya tidak merasa segan mengeluarkan tenaga dalamnya dengan penuh.


Hraaaooh!...Tubunya melesat dan mulai melakukan serangan-serangan beruntun, cakaran jari-jarinya mulai mencakar dan menebas dengan kuku tajamnya.


"Graaaakh! Pekikan Naga Langit!" cahaya biru mulai meliputi tubuh Wirayudha, membentengi tubuhnya dari cengkeraman, cakaran, maupun tebasan jari kuku Wiradijaya.


"Draakh!...Draakah..Dessh...Dhuuarh...!"


Terdengar bunyi seperti suara logam beradu dengan keras tatkala kedua tangan mereka beradu dengan berbagai macam serangan.


"Grroaakh!"...Bayangan tubuh Wirayudha yang muncul di belakang tubuh Wiradijaya, ikut menyerang punggung lawannya, terdengar pukulan yang dengan tepat mengenai punggung Wiradijaya, "Desssh!...


"Hraaakh...Wiradijaya terdorong ke depan dan di sambut pukulan kembali ke arah dada oleh tubuh Wirayudha yang asli "Dessh...Desh!"

__ADS_1


"Huggh!"


Di saat tubuhnya akan tersungkur, Wiradijaya melenting dan melakukan tendangan putar mengarah ke kepala Wirayudha yang berada di depan dan bagian belakang, "Hiiiaath...!"


Tetapi tanpa di sangka kedua tubuh Wirayudha menggunakan Ilmu tembus bumi, "Bruuush!..Bruush!.., sehingga tubuhnya masuk ke permukaan tanah dan muncul kembali sekitar dua tombak menjauhi Wiradijaya yang sudah menapak di atas permukaan tanah.


"Bayangan Lodaya...Graaaumh!"...


"Mahkota Naga Langit...Kraaaakh!"


Di belakang wiradijaya muncul bayangan kepala Harimau yang sedang mengaum bersiap menerkam korbannya.


Tetapi di belakang Wirayudhapun muncul bayangan kepala Naga Langit yang menyeringai bersiap untuk bertarung.


Ketika Wiradijaya akan melepaskan Ajian Bayangan Lodaya, dia terperanjat kembali dengan pemandangan di depannya. Selain sosok bayangan Naga Langit, di kanan dan kiri Wirayudha tiba-tiba muncul Harimau putih kembar, "Graaaaumh!...Graaaumh!" kedua ekor Hariamu putih tersebut mengaum dengan keras.


Perlahan-lahan bayangan wajah Lodaya yang berada di belakang Wiradijaya berubah, wajah yang terlihat bengis seakan mau menerkam kini terdiam dan mengatupkan mulut dan menyembunyikan taring-taringnya.


"Grrrrh...Jlegh! bayangan Harimau itu melompat ke depan menampakan wujudnya secara utuh kemudian duduk sambil melihat Harimau Kembar yang berada di samping Wirayudha.


"Grrrrh...Jlegh...Jleegh!, kedua Harimau yang mendampingi Wirayudhapun melompat dan memposisikan duduk di antara Harimau milik Wiradijaya.


Ketiga ekor Harimau yang berlainan warna belang itu kemudian bergantian melihat Wiradijaya dan Wirayudha, seakan mereka melarang keduanya bertarung kembali. "Grrrh...Grrrh!"


Hanya bayangan kepala Naga Langit saja yang masih bersiaga dan memposisikan diri siap bertarung.


"Hentikan seranganmu anak muda! siapa kau sebenarnya?"


"Aku bukan siapa-siapa Kisanak! kita lanjutkan pertarungan ini!"


"Tidak anak muda! jika kita melanjutkan pertarungan ini! kutuk akan menimpa kita sampai tujuh turunan!"


"Wira, tahan seranganmu! Nini Sangga Geni mencoba mencegah Wirayudha untuk tidak melanjutkan serangan, ia merasa khawatir dengan ucapan Wiradijaya yang terlihat sangat serius.

__ADS_1


"Krrraaakh...!" terdengar suara teriakan Wirayudha, kemudian Kepala Naga Langitpun perlahan mulai menghilang.


Ketika keduanya menghentikan pertarungan, suasana menjadi sepi dan mencengkam, terlihat Kuwu Brodin dan yang lainnya masih menggigil ketakutan melihat pertarungan yang belum pernah mereka saksikan sekalipun.


__ADS_2