
Wirayudha menurunkan golok yang di gunakan untuk mengancam para penyerangnya, dia menatap wanita yang baru saja menyapanya.
Senyum manis dan kata-kata lembut yang keluar dari mulutnya tidak membuat Wirayudha merasa tertarik, sorot mata dan senyum di bibir wanita itu memperlihatkan ke angkuhan.
"Baiklah Nisanak, hari ini aku maafkan mereka, tetapi tidak untuk hari-hari berikutnya!" Wirayudha kembali duduk dan melanjutkan menyantap hidangan yang masih tersedia di mejanya.
"Terimakasih Tuan pendekar, namaku 'Hanjar putri dari Adipati di Pemalang ini, untuk menebus kesalahan pengawalku bolehkah aku mengundangmu untuk menikmati perjamuan di tempat kami?"
Sebelumnya Wirayudha tidak akan menanggapi perkataan Putri Hanjar, tetapi melihat semua pengunjung dan para pengawalnya menaruh hormat kepada Putri Hanjar, akhirnya Wirayudha berdiri, "Maafkan aku Tuan Putri, aku tidak tahu jika berhadapan dengan seorang penguasa di sini," kemudian Wirayudha memberikan hormat dengan mesedekapkan kedua tangannya di depan dada.
Namaku Wirayudha, aku hanya seorang pengelana biasa, dan pengemis ini adalah Nenekku, makan di kedai ini saja kami hampir di usir oleh para pengawalmu, apalagi memenuhi undangan perjamuan di tempatmu, kami tidak pantas memenuhi undanganmu!"
Putri Hanjar terpana melihat paras Wirayudha, apalagi mendengar tutur bahasa yang keluar dari mulutnya, membuat mulutnya terkunci.
Salah satu pengawal yang bersamanya maju dan menegur Wirayudha, "Anak muda! tidak pantas kau menolak undangan Junjungan kami, kau pikir siapa dirimu?"
Nini Sangga Geni berdiri dengan memasang wajah masam, "Wira, cepatlah kau bayar makanan yang kita makan, setelah itu kita pergi dari sini! aku malas meladeni orang-orang yang pintar menggonggong!"
Wajah Putri Hanjar menjadi merah mendengar sindiran Nini Sangga Geni, apalagi setelah melihat Wirayudha dan Nini Sangga Geni pergi tanpa pamit. Kemudian Ia pun memberikan tanda kepada dua orang pengawalnya untuk mengejar.
Dua pengawal Putri Hanjar yang bertubuh kekar meloncat dan menghadang langkah Wirayudha dan Nini Sangga Geni yang sudah sampai di depan halaman kedai, "Hei...Manusia sombong berhenti kalian!"
Tanpa basa basi lagi kedua pengawal itu langsung memberikan serangan, melampiaskan kekesalan yang tertahan dari tadi karena melihat ke empat pengawal rekannya yang telah di permalukan oleh Wirayudha.
"Hiaaath...Wugh....Wuugh...keduanya melakukan serangan pukulan bertubi-tubi. Wirayudha meladeninya dengan malas, ia berkelit dan menghindar dengan sembarangan, tetapi membuat semua pukulan yang menuju kepadanya lolos.
__ADS_1
Putri Hanjar memperhatikan gerakan-gerakan Wirayudha, kedua pengawal yang mengeroyoknya adalah pengawal khusus yang mempunyai kanuragan lebih tinggi dari empat pengawal yang lainnya, tetapi Wirayudha bisa mengatasi semua serangan itu dengan sangat mudah.
"Wira! sampai kapan kau akan bermain terus dengan mereka?" terdengar teguran Nini Sangga Geni.
Kedua pengawal Putri Hanjar melompat ke belakang dengan nafas memburu, dan bersiap akan menyerang kembali.
Wirayudha yang mendapat teguran Nini Sangga Geni, berkelebat dengan cepat menggunakan Menjangan kabut, "Desh...Desh..!" dua jarinya menotok pangkal leher kedua pengawal, membuat tubuh mereka kaku tidak bisa di gerakan.
"Kalian yang tidak tahu diri, tikus-tikus hutan ingin mengalahkan seekor Harimau!" terdengar makian Nini Sangga Geni yang memaki mereka sambil berlalu pergi.
Wirayudha yang akan mengikuti Nini Sangga Geni, menahan langkahnya, ketika melihat kelebatan bayangan hitam menyerangnya dari samping, "Wuuush...Dheaarh!" serangan pukulan yang berhasil di elakan oleh Wirayudha mengenai pohon besar di seberang membuat pohon itu tumbang.
Berdiri seorang laki-laki gagah yang berpakaian bangsawan di depannya sambil menatap Wirayudha, "Hei...Pengembara! aku ingin mendapat pelajaran olehmu yang mengaku Harimau!"
Nini Sangga Geni melompat beberapa tombak menjauh, karena kali ini lawan dari Wirayudha bukan orang sembarangan.
Putri Hanjar menatap ke pertarungan itu dengan heran sambil berkata dalam hati, " Apa maksudnya romo ikut serta dengan keributan ini!"
"Anak muda, seranglah aku! jangan hanya pandai menghindar!"
"Kau yang memaksaku Tuan! baiklah, tahan seranganku!" Wirayudha menyorongkan tangan kanannya ke depan, tangan kiri di tarik ke belakang, jari-jarinya di pentang membentuk cakar Naga, di dahului dengan teriakan yang di isi tenaga dalam, Wirayudha menolakan ke dua kakinya ke bawah, "Kraaakhh...Naga merobek Langit!!", kedua tangannya berkelebat menyambar dan mencabik dengan cepat..ke arah lawan, "Wuuush...Wuuush!"
Laki-laki berpakaian bangsawan itu mengelak dengan cepat, kedua tangannya melakukan tebasan ke arah pergelangan tangan Wirayudha, untuk mengukur ketinggian tenaga dalam lawan, "Hiiaath...Dheaar..Dheearh!" terdengar suara ledakan ketika kedua lengan mereka beradu.
Tubuhnya terjajar ke belakang dengan jarak lima tombak, sedangkan Wirayudha tidak terpengaruh, kemudian Wirayudha dengan cepat melanjutkan serangan yang lebih ganas, "Naga langit membelah bumi!" "Sraaath...tangan kanannya melakukan tebasan ke tanah, membuat permukaan tanah menjadi rengkah dan pecah hampir mengenai tubuh lawannya, membuat yang menyaksikan pertarungan itu meleletkan lidah karena kagum.
__ADS_1
"Hentikan serangan!" sambil berteriak laki-laki itu berjumpalitan ke atas menghindari serangan Wirayudha, kemudian menjejakan kedua kakinya kembali ke tanah.
"Aku Adipati Suryonegoro, hanya ingin menguji ketangkasanmu anak muda!"
Wirayudha kemudian berdiri tegak dan menjura, "Maafkan atas ketidak tahuanku Gusti Adipati!"
"Ha..Ha..Ha..Anak muda! ternyata kemampuanmu melebihi Seekor Harimau, suatu kehormatan bagiku jika engkau mau singgah di pendopo kediamanku!"
"Tetapi jika menolak, suatu penghinaan bagiku, bukan begitu putriku?" Adipati Suryonegoro tersenyum sambil melirik putri semata wayangnya.
Sambil menatap Wirayudha, Putri Hanjar menjawab, "betul kanjeng romo!"
Adipati Suryonegoro tidak menunggu jawaban dari Wirayudha dan Nini Sangga Geni, ia berteriak kepada penduduk sekitar yang menyaksikan pertarungan tadi, "Kalian kembalilah dengan pekerjaan kalian masing-masing! aku akan menjamu para tamuku ini!"
Akhirnya dengan terpaksa Wirayudha dan Nini Sangga Geni mengikuti mereka ke pendopo milik Adipati Suryonegoro, mereka berjalan di belakang di iringi oleh para pengawal yang memasang wajah segan kepada Wirayudha.
Sedangkan Putri Hanjar berjalan di samping Wirayudha yang sesekali mencuri pandang melihat wajahnya, Wirayudha merasa jengah dengan tatapan dari Putri Hanjar, karena selama ini dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali dengan wanita, berbeda dengan Nini Sangga Geni yang melihat pandangan Putri Hanjar, ia dapat menilai tatapan Putri Hanjar kepada Wirayudha.
Nini Sangga Geni kemudian berbisik kepada Wirayudha, "Wira, sepertinya kau akan mendapatkan kesulitan, kali ini aku jamin kau tidak mempunyai penangkalnya!"
"Apakah kita akan menghadapi ujian lagi Nini?" dengan polos Wirayudha berbalik bertanya kembali kepada Nini Sangga Geni.
"Kau memang bodoh Wira!" terlihat mulut Nini Sangga Geni bersungut-sungut merasakan kejengkelan dengan keluguan Wirayudha.
Wirayudha hanya melirik Nini Sangga Geni dengan wajah kebingungan.
__ADS_1