
Wirayudha yang tadi berlari dengan sebat, telah sampai di samping Nini Sangga Geni yang sedang terluka, peristiwa ini bukanlah peristiwa yang pertama terjadi melihat gurunya dalam keadaan terluka, tetapi hari ini bukan hanya kesedihan yang muncul di dalam dadanya, kemarahan yang meluap membuat Naga Langit muncul dengan seutuhnya.
"Kraaakh...!"
Tanpa berkata apapun, tubuhnya yang mengeluarkan cahaya biru langsung menerjang Kondang Hapa yang sedang berdiri.
Kondang Hapa tidak menghindari serangan Wirayudha, tangannya berkelebat dan menyerang balik.
"Kraaakh!..Graaaumh!"
"Braaakh...Braakh!"
Benturan tenaga dalam tingkat tinggi tidak terelakan, tubuh mereka berdua terlihat hanya bayangan hitam dan biru.
Saling menyerang, mencengkeram dan menebaskan tangan-tangan mereka.
Tensi pertarungan mereka semakin tinggi, sosok Lodaya di selimuti kobaran api melawan Naga Langit yang di selimuti cahaya biru.
Di antara setiap benturan terjadi, membuat tubuh Kondang Hapa terpental dan tergusur, semakin lama darah yang merembes lewat taring-taringnya semakin banyak.
Sementara itu Ki Pancar Buana dan Genta Buana tidak melakukan apapun, mereka menyadari kali ini pertarungan keduanya dalam tahap yang serius dan tidak mudah di pisahkan.
"Graaaumh!...Wira, kau sepertinya ingin membunuhku!" Kondang Hapa menggeram keras.
Dalam kemarahannya suara Wirayudha menggelagar, "dia adalah guruku! aku tidak perduli siapapun mereka yang mencoba melukainya, akan ku bunuh!"
"Kraaakh...mulut Wirayudha membuka, keluar kobaran api yang menyambar tubuh Kondang Hapa, "Bruuush!"
"Aaarkh....Aaarkh!"
Api itu membuyarkan kobaran api Lodaya, terdengar teriakan Kondang Hapa yang menjerit kesakitan.
Dalam detik-detik penentuan, Kondang Hapa teringat dengan Keris Naga Runting di balik bajunya, di loloskannya keris itu dan di acungkannya ke atas, "Sraaath....Blaaarh!...Blaaarh!"
Keadaan menjadi terbalik, setelah Keris Naga Runting keluar, tubuh Wirayudha terlempar, "Sraaathh....Braarkh!"
Dalam keadaan tertelungkup Wirayudha menggumamkan mantera pemanggil Macan kembar, "Graaaumh...Graaaumh!"
Dua ekor Lodaya putih muncul dan langsung menjilati tubuh Wirayudha yang bersimbah darah, tubuh Wirayudha mendekat ke arah Nini Sangga Geni yang sedang duduk dalan keadaan terluka.
__ADS_1
Masih dalam keadaan menahan sakit, Wirayudha memberikan perintah kepada Lodaya putih miliknya, "aku ingin kau cabik-cabik diaa Lodaya!"
"Graaaumh....Grrrrh!"
Dua ekor Lodaya melesat, mengurung Kondang Hapa, "Braaakh....Braaak!"
Kibasan dan Cengkeraman Lodaya putih membuat tubuh setengah Harimau Kondang Hapa terpental dan mengaum keras, "Graaaumh...Aaarkh!"
Langit menjadi hitam, suara petir terdengar saling bersahutan "Blaaarh!....Blaaarh!"
"Hentikan pertarungan kalian!" terdengar suara teriakan keras bersahut-sahutan, mulai di teriakan oleh Ki Pancar Buana, Genta Buana dan Wiradijaya yang terakhir datang.
Hujan deras turun dengan begitu lebatnya, sampai permukaan tanah sekitar mereka terendam dalam air.
"Blaaarh!...Blaaarh!..Blaaarh!"
Suara petir menyambar-nyambar tiada jeda.
Ki Pancar Buana dan Wiradijaya yang telah menyerupai manusia setengah Harimau mendekat ke arah tubuh Wirayudha, "Grrrh...!..Wiraaa tarik kembali jelmaan Mustika Macan kembarmu!"
"Tidak Eyang, sebelum tubuhnya tercabik-cabik aku tidak mau menghentikannya!" pancaran mata Wirayudha masih menyimpan kemarahan memandang tubuh Kondang Hapa yang sedang berlutut di tanah sambil memegang Keris Naga Runting.
"Kondang Hapa, sarungkan kembali Naga Runting!" Ki Pancar Buana berteriak kepada Kondang Hapa, "Jika kau tidak mau melakukannya, Kutuk dan amarah dari Karuhun akan menunggu kita Kondang Hapa!" Wiradijaya mencoba membantu menghentikan pertarungan.
Dengan terpaksa akhirnya Kondang Hapa menyarungkan kembali Keris Naga Runting, membuat tenaga Wirayudha berangsur-angsur pulih kembali.
Nini Sangga Geni berbisik kepada Wirayudha, "Wira, sebaiknya kita pergi secepatnya, bawa aku lari Wira!" Nini Sangga Geni memeluk tubuh Wirayudha dengan lemas.
Wirayudha memeluk tubuh Nini Sangga Geni, kemudian meniup wajah gurunya agar bisa di bawanya melewati bawah tanah.
Dengan di lanjutkan menggunakan ilmu tembus bumi, Wirayudha membawa lari tubuh gurunya.
Dengan kepergian Wirayudha, dua ekor Lodaya putih miliknyapun kemudian menghilang, dan cuaca sekitar Balai Prajuritpun kembali tenang, hanya rintik hujan kecil yang masih menghiasinya.
Semua yang berada di situ menarik nafas lega, apalagi Ki Pancar Buana dan Wiradijaya. "Apa yang harus kita lakukan Kakang?" Wiradijaya menghampiri Ki Pancar Buana. Kondang Hapa pun kemudian mendekati mereka.
"Kondang Hapa, apa yang telah terjadi?"
Kondang Hapa menarik nafas dalam-dalam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ki Pancar Buana.
__ADS_1
Setelah lama jeda, "Sebelumnya aku mendapatkan perintah menangkap hidup atau mati seorang penyusup yang berada di atas pohon Hanjuang yang tumbuh di jalan dekat gudang senjata Kakang!"
"Sebagai prajurit aku mendapatkan malu, karena tidak bisa mendeteksi keberadaan penyusup di markas prajurit kita dan aku langsung menyerangnya, aku tidak mengetahui kalau penyusup itu guru dari Wirayudha!"
"Aku mengerti dan memahami apa yang terjadi, peristiwa ini sebenarnya hanya kesalah pahaman saja, mungkin saja nenek tua itu sedang mencari keberadaan Wirayudha, bukan sebagai penyusup yang memata-matai markas kita Kondang Hapa!"
"Benar Kakang, lau bagaimana aku harus menjelaskan peristiwa ini kepada Kakang Jaka Perkasa?"
"Kau tidak perlu risau Kondang Hapa, aku nanti yang akan menjelaskan kepada Kakang Jaka Perkasa, Wiradijayapun kemudian ikut berbicara, "Iya Kakang, aku nanti yang akan menjadi saksi, bahwa nenek tua itu memanglah benar guru dari Wirayudha!"
Sementara itu dalam pelariannya, Wirayudha telah berlari di atas permukaan tanah kembali, ia berlari sambil memanggul Nini Sangga Geni di bahunya, "Nini...Nini..Nini, apakah kau masih hidup?"
"Hik..Hik..apa maksudmu Wira? aku masih hidup dan tidak akan mati sebelum kau kawin...He...He...He!"
"Aissh...Syukurlah Nini, aku dari tadi mengkhawatirkanmu! kemana tujuan kita Nini?"
"Kita harus secepatnya ke Grojokan Sewu, kau harus berlatih kembali untuk meningkatkan kemampuanmu Wira!"
Setelah lama berlari Wirayudha dan Nini Sangga Geni telah sampai di pedukuhan Tanjung Sari, suatu daerah yang masih kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang, keduanya kemudian beristirahat di lereng Gunung Geulis.
Wirayudha mengobati gurunya dengan telaten, selain menyalurkan tenaga dalam, dengan petunjuk Nini Sangga Geni, Wirayudha dapat membuat ramuan obat untuk memercepat kepulihan luka-luka yang di alami mereka.
"Nini ceritakanlah kepadaku tentang senjata yang di bawa Kondang Hapa kemarin, karena saat itu tubuhku serasa tidak bertenaga dan semua jurus-jurus Naga Langit hilang seluruhnya!"
"Wira, Keris itu bernama Keris Naga Runting, salah satu pusaka milik Gusti Prabu Siliwangi, yang kemudian di pinjamkan kepada salah satu senopatinya yaitu guruku yang bernama Ki Balung Putih! Keris Naga Runting seharusnya di miliki oleh seseorang yang mempunyai jurus Naga Langit, paduan dari keduanya merupakan kekuatan yang sangat dahsyat, apalagi di miliki oleh seseorang yang mempunyai Ajian liman atau Gajah, ataupun Lodaya tahap puncak, tetapi jika di gunakan saling berlawanan dan terpisah, Keris Naga Runting akan menghisap seluruh kekuatan Naga Langit!"
"Dulu aku pernah mendengar seseorang yang mempunyai kekuatan gabungan tetapi tergabung bukan dengan Lodaya."
"Apakah itu Nini?"
"Seseorang Ksatria yang menggabungkan kekuatan Paksi (Garuda), Naga (Ular Naga), dan Liman (Gajah). "Tetapi Ksatria itu telah lama meninggal di Keraton Pakungwati Cirebon.
Wirayudha sangat antusias sekali ketika mendengar cerita dari Nini Sangga Geni.
"Tetapi kenapa saat aku menghadapi Ki Pancar Buana yang menggunakan Ajian Paksi Buana yang muncul seekor Naga?"
"Tentang itu aku tidak mengetahuinya Wira! karena di Tatar Sunda ini banyak ilmu yang aneh dan terkadang tidak sesuai dengan namanya!"
"Kau nanti harus menceritakan kepadaku apa yang telah kau alami selama pengembaraanmu Wira!" Kemudian keduanya beristirahat dengan berbaring di rerumputan.
__ADS_1