
Kondang Hapa menyeringai sebelum membuat gerakan, tubuhnya kemudian melesat turun ke bawah.
Provokasi dari Wiradijaya berhasil membuatnya mengeluarkan segenap kemampuan yang jarang di lakukan kecuali dalam peperangan.
Tatapan Wirayudha yang sebelumnya ke arah para prajurit, kini beralih ke atas, perasaannya berkata bahwa ada bahaya yang lebih signifikan mengarah ke dirinya.
Lesatan bayangan yang meluncur cepat dari atas membuat Wirayudha mempersiapkan diri dengan sangat serius.
Karena melihat lesatan bayangan itu di lapisi sinar perak dan terlihat menyerang, Wirayudha berteriak sambil melapisinya dengan tenaga dalam penuh untuk membendung, "Kraaaakh....Pekikan Naga Langit!"
Gelombang suara yang berasal dari Wirayudha membuat lesatan tubuh Kondang Hapa tertahan dengan waktu beberapa kali helaan nafas, tetapi setelah tertahan, tubuh Kondang Hapa kembali meluncur dengan deras, "Rajawali Menebas Karang!"...Blaaarh!..Blaaarh!"
Permukaan tanah tempat Wirayudha berdiri hancur berlubang dan berdebu sangat pekat.
Para prajurit yang tadi menonton aksi Wirayudha menaklukan Halang Rintang, terlempar dan jatuh bergulingan terkena dampak pukulan Rajawali Menebas Karang... "Sraaakh...Sraaakh...Aaaakh!"
Kondang Hapa merasa yakin, minimal Wirayudha akan ikut terpelanting dan tergusur, ia pun kemudian mendarat dengan sempurna di permukaan tanah sambil pandangannya mengawasi debu yang masih beterbangan.
Kondang Hapa tidak melihat Wirayudha yang kini berada di belakang tubuhnya, karena dengan ilmu Tembus Bumi, tubuhnya bisa lenyap dan beralih dengan cepat melewati bawah permukaan tanah.
Naluri tempur Kondang Hapa sangatlah tinggi, sesaat walaupun tidak melihat, perasaannya mengatakan di balik punggungnya ada sesuatu yang membahayakan, membuat dia segera berbalik.
Merasa lawannya mempunyai keinginan membunuh yang tinggi, Wirayudha tidak mau berlaku ayal, tubuhnya kini di selimuti cahaya biru, tenaga inti Naga Langit mulai mengalir dengan deras keseluruh pori-porinya.
Wajah tampannya kini di lapisi sisik ular, kedua matanya pun mulai bersinar cahaya kebiruan, kedua tangan Wirayudha terangkat ke atas melewati kepala, jari-jari tangannya membentuk Cakar Naga dengan jari yang runcing mengkilat, "Kraaaaakh!"...Teriakan kemarahan Wirayudha terdengar keras menembus dinding-dinding kokoh, Rrrraaaah....Rrrrhhhh...permukaan tempat berpijaknya sampai radius lima puluh tombak terasa bergetar.
"Dhuaaarh...Dhuaaarh!"...Blaaamh!...Blammh!"
Seiring ketika Wirayudha menarik kedua tangannya ke bawah, dari tubuhnya melesat api yang berwarna biru ke segala arah..."Graaakh!...Dhummh!"
Tubuh Wirayudha kini bertelanjang dada, terlihat tubuhnya di lapisi sisik-sisik ular.
"Sraaaath...lesatan Cakarnya kini mulai menghujani Kondang Hapa, beberapa kali sambaran Cakar Naganya berubah menjadi kepalan tangan, mencecar tubuh Kondang Hapa yang bergerak dengan cepat untuk menghindar.
"Graaaumh!" perlahan Kondang Hapa berubah menjadi manusia setengah Harimau, dan mulai berani menangkis tangan Wirayudha yang sedang melancarkan pukulan, "Draakh..Draaakh..!" terjadi benturan lengan mereka beberapa kali.
__ADS_1
Setiap benturan lengan, tubuh Kondang Hapa tertolak ke belakang, menandakan tingkat tenaga dalamnya berada di bawah Wirayudha.
"Graaaumh...Sebenarnya siapa yang ku hadapi saat ini?" Mata Lodaya milik Kondang Hapa mengkilat pertanda dia sedang gusar.
Wiradijaya yang sedang menyaksikan pertarungan di bawah, menoleh ke sampingnya ketika ada suara angin yang berdesir, "Aku kira siapa! ada pertunjukan yang jarang terjadi Kakang! mari kita saksikan!"
Ternyata yang hadir di samping Wiradijaya adalah Ki Pancar Buana, ia dari luar dengan cepat menerobos masuk ketika mendengar suara detuman-detuman keras.
Melihat Wiradijaya yang sedang asik menyaksikan pertarungan yang berada di bawahnya, Ki Pancar Buana memutuskan melesat ke atas ketinggian dan berdiri bersama Wiradijaya.
Ki Pancar Buana kemudian ikut menyaksikan pertarungan Wirayudha dan Kondang Hapa yang berada di bawah.
"Hiaaath...Hiaaath...Blarh...Blarrrh!"
Terlihat kedua jago yang berbeda usia sangat jauh itu mengadu ilmu pukulan jarak jauh, selain menimbulkan suara yang keras, tanah dan batuan kecil beterbangan mengelilingi arena pertempuran.
Ketika mereka sama-sama tertolak mundur, tiba-tiba bayangan tubuh Wirayudha yang memakai ilmu Rogo Sukmo melesat dan akan menghantam tubuh Kondang Hapa yang belum menyadari serangan lanjutan.
Ki Pancar Buana dan Wiradijaya melesat turun ke bawah mencoba menghalangi dengan aliran tenaga dalam penuh, sambil menguji ketinggian tenaga dalam Wirayudha.
"Graaaakh!....Wirayudha menolakan kedua tangannya dari tanah dan kemudian tegak kembali akan membangun serangan.
"Geloo....Manusia apa Siluman anak ini!" Kondang Hapa yang melihat efek benturan tenaga dalam mereka hanya dapat membuat Wirayudha jatuh berlutut berteriak dengan keras.
Wirayudha yang melihat Ki Pancar Buana dan Wiradijaya berada di samping Kondang Hapa, kemudian menurunkan kedua Cakar Naganya, berangsur-angsur tubuhnya kemudian pulih walaupun dengan bertelanjang dada.
Dengan mata yang mencorong tajam dan rambut yang berkibar ke belakang Wirayudha melangkah mendekati Ki Pancar Buana.
Melihat Wirayudha mendekat, Kondang Hapa bersiap untuk menyerang kembali, tetapi kemudian ia menatap heran melihat Wirayudha di peluk oleh Ki Pancar Buana dengan mesra yang kemudian mengelus rambut Wirayudha.
"Ternyata kemarin kau belum menunjukan keseluruhan kanuraganmu kepadaku Wira!"
"Aissh Eyang, aku kira mereka musuh!..maaf aku terlalu lancang mengumbar kemarahan di sini!"
"Ha...Ha...Ha..Tidak mengapa Wira, biar mereka tahu, seberapa hebat cucu eyangmu ini!" tangan Ki Pancar Buana menggandeng bahu Wirayudha untuk mendekat ke arah Kondang Hapa dan Wiradijaya.
__ADS_1
"Hei...Wiradijaya..Kondang Hapa! Wirayudha ini adalah Cucu Kakang Sangkan Urip, berarti dia adalah Cucuku juga, He...He..He, dengan senyum penuh kebanggaan Ki Pancar Buana menikmati pandangan kekaguman dari rekan-rekannya.
"Pantas saja rupa dan sifatnya mirip denganmu Kakang! Hei..Wira..kaupun harus memanggil kami dengan sebutan Eyang...he..he..he!" Kondang Hapa kemudian ikut tersenyum kepada Wirayudha.
Bergantian mereka berduapun memeluk Wirayudha dengan perasaan senang.
"Ketua!.. apa yang harus kita lakukan?" belasan prajurit yang tadi berjaga dan mencoba mendekati arena pertempuran, kini serentak menjauh dengan perasaan was-was dan takut, apalagi Ketua Divisi 2 Infanteri tadi yang pertama kali memulai mengejek Wirayudha.
"Akkh...bakalan bonyok kita Ketua!" seorang prajurit menimpali dari belakang! tolonglah nanti jangan bawa-bawa kami Ketua!"
"Kampret kau! pletakh!...pletakh!...Kalian kira aku sedang tidak berpikir!" terdengar dua kali suara kayu yang memukul kepala prajurit tadi.
"Assh!...sambil memegang kepalanya yang sakit, prajurit tadi pergi sambil mulutnya bersungut, "ah nasib jadi bawahan, selalu terkena sasaran!"
Di bawah pohon Tembesi yang berada di pojok lapangan, ternyata Indrayasa dan Citraloka pun menyaksikan pertarungan Wirayudha dan Kondang Hapa, "Citraloka apakah kau tahu apa yang sedang gurumu bayangkan sekarang?"
"Aku tidak mengetahuinya guru!"
"Anak muda itu selain tampan, ia beruntung mempunyai bakat alam yang tinggi, karena menurutku...kalau hanya sekedar rajin berlatih, dalam usia semuda itu tidak mungkin seseorang mampu mencapai tingkatan sepertinya!"
"Lalu apa hubungannya dengan kita guru?" Citraloka tidak memahami arah yang sedang mereka bicarakan.
"Apakah kau tidak berharap menjadi pendampingnya Citra? kalau iya..aku akan ikut mendukung dan membantu supaya kau dekat dengannya!"
"Aku belum memikirkannya guru!" wajah Citraloka semburat merah.
"Aakh...Sayang sekali, kalau begitu kau nanti harus rela melihatnya di miliki orang lain Citra!" Indrayasa menggoda Citraloka, ia ingin melihat reaksi Citraloka seperti apa.
Dheggh...entah kenapa, hati Citraloka seperti terbentur, mendengar kata-kata terakhir gurunya. "Memang ada yang menyukainya guru?"
"Ha..Ha..Ha, dasar wanita, sangat sulit untuk jujur mengenai hati, selalu berharap pria yang lebih dahulu mengatakannya! tetapi ketika jauh dan pria itu memilih yang lain...Hmm...mereka hanya bisa menyesal!"
"Kau tahu Citraloka! seberapapun kuat dan berkuasanya wanita, dia akan menangis ketika yang di sayanginya akan jauh dan pergi!"
Indrayasa kemudian berjalan ke arah di mana tadi terjadi pertarungan.
__ADS_1