Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Kenangan Bersama Prabu Suryakencana


__ADS_3

Ke empat Kandaga Lante semuanya masih duduk dengan tenang, tetapi ada rona kesedihan di wajah mereka masing-masing. Merekapun teringat dengan kenangan bersama Prabu Suryakencana.


Detik-detik terakhir perpisahan mereka dengan Sang Prabu Suryakencana tidak mudah mereka lupakan.


Ketika kerajaan Padjajaran akan berakhir, ke empatnya di panggil menghadap oleh Sang Prabu. "Hyang Hawu, aku tugaskan kepadamu untuk segera pergi menuju Sumedang Larang dengan membawa Mahkota Binokasih Sanghiyang Pake ini dan jadikan Angkawijaya sebagai Nalendra atau penerus Pakuan Padjajaran!"


Ki Jaka Perkasa atau yang lebih di kenal dengan Hyang Hawu, bersujud di depan Prabu Suryakencana, ia mendapatkan tanda, ini adalah waktu atau detik-detik terakhir dirinya bersama Sang Prabu, "Gusti Prabu, izinkan hamba untuk turun gunung menata Padjajaran dari awal kembali, hamba akan mempergunakan seluruh kesaktian hamba untuk melaksanakannya tanpa melihat siapapun yang akan hamba hadapi!"


"Aku tahu kau tidak mempergunakan seluruh kesaktianmu Hyang Hawu, karena kau masih menghargai darah Padjajaran yang masih terdapat di antara Pimpinan Kerajaan Cirebon dan Banten, tetapi aku tidak mengizinkan engkau melakukan tindakan tersebut!"


"Panggilah yang lain menghadapku sekarang juga Hyang Hawu!" Prabu Suryakencana memberikan perintah.


Hyang Hawu atau Ki Jaka Perkasa kemudian memanggil Pancar Buana, Wiradijaya dan Kondang Hapa untuk menghadap Sang Prabu Suryakencana.


Setelah ke empatnya duduk menghadap, Prabu Suryakencana memberikan titah kepada Kandaga Lante yang sangat di sayanginya, "Pancar Buana, Wiradijaya dan kau Kondang Hapa! aku menghaturkan terimakasih atas segala pengabdian dan pengorbanan kalian, telah tiba waktunya kita berpisah, aku akan kembali menuju Swargaloka!"


Ke empatnya langsung saja bersujud dengan tubuh bergetar menahan keharuan, karena mereka menyadari kata-kata dari Prabu Suryakencana mengartikan bahwa Sang Prabu akan Moksa dan meninggalkan dunia selama-lamanya.


Hyang Hawu meneteskan air mata kesedihan, "Gusti Prabu! jiwa dan raga, kami serahkan untuk Padjajaran, mohon Gusti titahkan kepada kami apapun yang dapat membuat Gusti Prabu kembali menjadi panutan kami! hamba akan bersedia meruntuhkan Bukit ataupun mengeringkan Samudera asalkan Gusti tetap bersama kami di sini!"


Prabu Suryakencana tersenyum mendengarkan kata-kata dari Hyang Hawu, "aku tidak meragukan kesetiaan kalian kepada Padjajaran, tetapi ini adalah suratan takdir yang tidak terbantahkan, setelah aku tiada, pergilah kalian seperti perintahku kepada Hyang Hawu untuk menuju Sumedang Larang melanjutkan pengabdian kalian di sana!"

__ADS_1


Ketika ke empatnya masih dalam posisi bersujud, seberkas cahaya terang menghampiri Prabu Suryakencana dan mengenai tubuhnya, Prabu Suryakencana di liputi oleh cahaya yang sangat terang "Ksatria kebanggaanku...aku akan pergi! ku tunggu kalian di Swargaloka!" perlahan-lahan wujud Prabu Suryakencana kemudian menghilang.


Itulah sepenggal kenangan mereka bersama junjungan yang sangat di hormatinya, yang membuat Ki Jaka Perkasa sampai dengan sekarang masih bercita-cita ingin mengembalikan Pamor Kerajaan Padjajaran kembali di tatar sunda.


Ki Jaka Perkasa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, setiap teringat perjumpaan terakhirnya dengan Prabu Suryakencana, selain rasa sedih, dadanya penuh gelora ingin secepatnya mengembalikan kejayaan Padjajaran lagi.


"Adi Pancar Buana, bantulah aku untuk memikirkan dan mencari celah bagaimana kita nanti bisa membawa Prabu Geusan Ulun untuk bersebrangan dengan Cirebon ataupun Banten."


"Siap Kakang, tetapi aku mohon petunjuk dan bimbinganmu!", Kita bertiga akan selalu mendukungmu Kakang!"


"Baiklah Adi, pertemuan hari ini aku rasa cukup sampai di sini dahulu, bergeraklah kalian sesuai perintahku!"


Ki Pancar Buana, Kondang Hapa, dan Wiradijaya kemudian keluar, mereka berpisah untuk melaksanakan tugasnya masing-masing, sedangkan Ki Jaka Perkasa menuju markas pasukan Sumedang Larang.


Tatapan Ki Jaka Perkasa kemudian fokus terhadap para prajurit yang sedang melakukan pelatihan tanpa senjata, mereka berpasangan saling menyerang.


Keningnya berkerut ketika melihat cara pelatihan, wajah-wajah landai dan tersenyum menghiasi wajah mereka, pukulan dan tendangan tidak di lakukan dengan tenaga yang sungguh-sungguh, karena mungkin di khawatirkan melukai teman sendiri.


"Shhuuuuiittth!"


Ki Jaka Perkasa memberikan tanda kepada seluruh prajurit yang sedang berlatih untuk berkumpul, kemudian memerintahkan para ketua kelompok-kelompok kecil untuk maju ke depan berjejer bersyaf.

__ADS_1


Setelah semuanya berdiri di depan "Plakh...Plakh..Plakh!" suara tamparan keras mengenai wajah terdengar, membuat seluruh prajurit yang berada di barisan belakang kini menatap serius ke depan.


"Kalian adalah prajurit tempur! apa yang sedang kalian lakukan? bermain-main?"


"Sekarang adalah saatnya berlatih, selalu ku ingatkan kepada kalian, hei..para prajurit! lebih baik kalian mandi keringat di saat berlatih, dari pada kalian mandi darah dalam pertempuran!"


"Bugh...Bugh..Bugg!" kepalan tangan Ki Jaka Perkasa melayang menghantam ulu hati mereka yang berada di depan, membuat mereka jatuh berlutut menahan sakit.


"Hmm...mulai besok, pelatihan aku ambil alih! besok pagi-pagi di saat fajar mulai muncul, seluruh prajurit tanpa terkecuali sudah berkumpul di lapangan! kalian mengerti?"


Dengan penuh ketakutan, seluruh prajurit pun menjawab "Siaap kami mengerti!"


Ki Jaka Perkasa kemudian pergi dari tempat latihan dengan wajah yang masam, "Mulai besok akan aku ciptakan prajurit-prajurit Sumedang Larang yang tangguh!"


Ke esok paginya, di arena tempat latihan ada pemandangan baru yang terpampang, entah bagaimana Ki Jaka Perkasa cara membuatnya, di tengah-tengah lapangan terdapat bebagai macam halang rintang yang berdiri kokoh, mulai panjat kayu tiang, Kayu ayun melintang, tiang kayu besar yang selalu bergerak kencang ke sisi kiri dan kanan, panjat tali, dan masih banyak problem lainnya yang semakin ke tepi terlihat semakin membahayakan.


Para prajurit yang berdiri di lapangan merasa terperanjat dengan pemandangan itu.


Ki Jaka Perkasa berdiri di Bambu Hitam yang menjulang agak tinggi di tepi lapangan, suaranya kemudian menggelegar. "Aku berikan waktu kalian mempelajari rintangan-rintangan yang berada di depan! ingat...kalian hanya ku beri waktu sampai air yang di wadah besar itu sampai di tetesan terakhir, jika terlambat melewati rintangan-rintangan itu bersiaplah! kalian akan bernasib seperti ini!" Ki Jaka Perkasa mengambil busur dan memasang anak panah, kebetulan di atas mereka ada sekelompok burung-burung pemakan padi di sawah terbang bergerombol, "Hiaaath...Sraaath..., Anak panah meluncur dengan cepat, "Crash..Craash..Craash!" puluhan ekor burung itu terkena anak panah yang melintasi mereka..."pllkh...plkhh...! terjatuh dan tewas di depan para prajurit itu.


Wajah-wajah para prajurit kini tampak pucat pasi, tidak ada senyum yang mengembang kembali, jatung mereka berdegub dengan kencang.

__ADS_1


Ki Jaka Perkasa telah bertekad, walaupun dia sekarang menduduki posisi yang tinggi sebagai Panglima perang di Sumedang Larang, dia akan terjun langsung untuk mengubah pola pelatihan para prajuritnya.


__ADS_2