Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Perkenalan


__ADS_3

"Bisakah kita duduk bersama anak muda? siapa namamu?" suara Wiradijaya terdengar melunak.


"Namaku Wirayudha, setelah duduk bersama apakah berharap aku melepaskan wanita ini dan melupakan perbuatannya yang berusaha membunuhku?" ucapan Wirayudha terdengar menusuk karena pertarungan mereka terjadipun berasal karena Wiradijaya berusaha melindungi Sri Lestari.


"Jika engkau menginginkan kematian wanita itu, akan aku lakukan!" tangan Wiradijaya bersiap akan memukul kepala Lestari.


"Tidak, aku hanya menginginkan keterangannya Kisanak, jangan jatuhkan tangan kejam kepadanya!"


"Ha..Ha..Ha! Wirayudha hatimu masih labil, kau membenci wanita ini karena telah berusaha membunuhmu, tetapi di lain pihak kau masih mempunyai rasa belas kasihan, suatu saat kegamanganmu akan kau sesali!"


Nini Sangga Geni memperhatikan percakapan mereka, Ia menyadari Wirayudha memang terkadang masih labil dalam bertindak, tidak mempunyai ketegasan, tetapi ia pun mengetahui alasan kenapa Wirayudha seperti itu. karena Wirayudha terlalu baik dan polos. Sangat berbeda ketika dalam pertarungan menghadapi musuh-musuhnya ia mudah terpancing emosi.


Hati Nini Sangga Geni merasa khawatir kepada Wiradijaya, selain karena melihat olah kanuragannya tinggi, wajah Wiradijaya memancarkan kemisteriusan. Di khawatirkan ia mempunyai tipu muslihat yang di tunjukan kepada Wirayudha.


"Katakan Wira! kau menginginkan wanita ini tewas atau aku lepaskan?" tidak ada pilihan yang lain!"


"Hmm...Kisanak, kau mengajakku duduk bersama, tapi perkataanmu penuh ancaman, seakan-akan aku orang yang sudah terkalahkan!" mata Wirayudha kembali memancarkan cahaya biru.


"He..He..He, sabarlah Wira! ternyata kau mempunyai hati sekeras batu! aku mulai menyukaimu!"


"Haiikh...Desh! Wiradijaya memberikan totokan dari jarak jauh kepada Lestari untuk menyadarkannya kembali, dengan cepat Lestari kemudian melompat dan berlari kabur.


Nini Sangga Geni dan Wirayudha tidak berusaha menghalangi Lestari, mereka berdua merasa penasaran dengan apa yang di inginkan Wiradijaya.


"Aakh...Kursi ini sangat nyaman, duduklah Wira! kita akan mencoba dan berusaha menjadi teman, Laki-laki paruh baya itu dengan santai duduk menyandar di kursi, seakan-akan ia yang menjadi tuan rumah.

__ADS_1


Dengan terpaksa akhirnya Wirayudha ikut duduk di depannya bersama Nini Sangga Geni, sedangkan Kuwu Brodin dan yang lain pergi ke ruang sebelah, mereka menghindar dan tidak berusaha ikut campur lagi.


"Wira, aku adalah salah satu Kandaga Lante di Kerajaan Sumedang Larang, walaupun kau terlihat sangat muda, aku sangat terkesan dengan Kanuraganmu! aku berniat mengajakmu bergabung bersama kami di Sumedang Larang, apakah kau berminat?"


"Tidak perlu khawatir Wira! kau akan mendapatkan tempat yang layak di samping kami sebagai Kandaga Lante!"


"Wirayudha mengalihkan pandangannya kepada Nini Sangga Geni untuk meminta pendapat dari gurunya.


"Tuan, tawaranmu sangat menyanjung kami, berikan kami waktu terlebih dahulu untuk berfikir, karena kami berdua juga mempunyai kepentingan yang mendesak, Wirayudha akan menyambangi pusara Eyang gurunya terlebih dahulu! Nini Sangga geni mewakili Wirayudha untuk menjawab.


"Siapa yang kau maksudkan sebagai Eyang Gurunya Nisanak?" Wiradijaya balik bertanya.


"Ki Balung Putih dari puncak Ciremai!" setelah dari sana, kami nanti akan coba mencari tuan kembali!"


"Pantas saja kau cucu dari Pendekar Naga Langit yang tersohor! kemampuanmu sangat tinggi Wira! pastinya kaupun mempunyai.guru yang lain sehingga kaupun menguasai Macan kembar?"


"Baiklah Wira! aku ada kepentingan yang lain, aku akan menunggumu di Kutamaya, ini adalah tanda pengenal untuk kalian agar bisa menemui kami, kau nanti bisa menemui empat di antara kami, aku sendiri, Kakang Pancar Buana, Kakang Kondang Hapa ataupun langsung Kakang Jaka Perkasa sebagai Panglima perang Sumedang Larang.


Kemudian Wiradijaya memberikan sebuah logam bulat berwarna perak kepada Wirayudha dan berdiri untuk pamit pergi melanjutkan perjalanan.


"Kemampuan orang itu sangat hebat Wira! dia belum menunjukan kemampuan terbaiknya, kau harus berhati-hati!" Nini Sangga Geni masih memandangi bayangan Wiradijaya yang kemudian menghilang.


"Nini, benarkah kita akan menyambangi pusara Eyang Guru Balung Putih?"


"Benar Wira, siapa tahu kau akan mendapat petunjuk untuk menyempurnakan kemampuan Kanuragan yang telah kau miliki sekarang!" Nini Sangga Geni memberikan tekanan suara saat berkata demikian. sedangkan Wirayudha mendengarkan arahan Nini Sangga Geni dengan penuh perhatian.

__ADS_1


Setelah melihat Wiradijaya tidak bersama Nini Sangga Geni dan Wirayudha, Kuwu Brodin dan yang lainnya pun ikut bergabung kembali dan terlibat pembicaraan.


"Paman, apa yang sedang terjadi di pedukuhan Jalaksana?" Wirayudha bertanya kepada Kuwu Brodin, kemudian Kuwu Brodin dan Sulastri menceritakan dari awal pertemuan mereka dengan Sri Lestari sampai dengan sekarang.


"Itulah Raden, kami belum mengetahui maksud dan tujuan Sri Lestari berada di sini, dan menurut penilaianku, pedukuhan Jalaksana relatif sangat aman, setelah peristiwa perampokan dulu, sampai dengan sekarang tidak pernah ada lagi kekacauan!"


Wirayudha merasa kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang di inginkan, seandainya saja tadi dapat mengorek keterangan dari Lestari, mungkin Wirayudha dan Nini Sangga Geni dapat menentukan langkah selanjutnya.


Sementara itu Wiradijaya melanjutkan perjalanan ke arah Bukit Gronggong, dalam pikirannya masih mengingat Wirayudha. "Hmm..Anak muda itu bisa aku manfaatkan, walaupun kemampuannya tinggi dia sepertinya masih sangat hijau untuk menghadapi dunia persilatan, tetapi sepertinya aku harus menyingkirkan terlebih dahulu gurunya."


Setelah sampai di Bukit Gronggong ternyata Lestari telah menunggunya di sana, dan langsung menghadap Wiradijaya.


Badannya di bungkukkan dalam-dalam, "Maafkan aku Ki Wiradijaya, karena keteledorannku hampir saja penyamaranku dapat di ketahui oleh orang-orang Jalaksana!"


"Bukan hampir!, penyamaranmu telah terbongkar, seandainya yang mengetahui ini Ki Pancar Buana, apa yang akan kau dapat Lestari?"


"Akh..Aa..aku tidak tahu Ki! Lestari diam dengan wajah yang ketakutan, andai saja penyamarannya yang terbongkar itu di ketahui Ki Pancar Buana, mungkin saat ini kepalanya sudah terpisah dari badan.


"Lestari! untuk menebus kesalahanmu, aku mempunyai tugas yang lain, mulai sekarang buntutilah pemuda itu, kau akan melaksanakan rencanaku agar bisa mendekat kepadanya, kemudian Wiradijaya menjelaskan rencananya kepada Lestari.


Ke esok paginya Nini Sangga Geni dan Wirayudha sudah melanjutkan perjalanan ke arah Grojokan Sewu, tempat di mana waktu dulu Nini Sangga Geni, Wirayudha dan Saraswati pernah tinggal.


Puncak Ciremai terlihat masih di tutupi kabut, keduanya berjalan tidak dengan buru-buru, mereka menikmati pemandangan tanah hijau yang terhampar sepanjang jalan, mereka menikmati harumnya aroma tanah khas pegunungan sambil melihat pohon-pohon pinus yang tumbuh di sekitar jalan setapak.


"Nini, aku sebenarnya tidak suka keramaian, suasana seperti inilah yang ingin aku nikmati!", "Kenapa Wira? seharusnya sebagai anak muda kau harus penuh semangat dan suka menghadapi tantangan, apakah kau tidak menginginkan kedudukan atau jabatan di sebuah kerajaan? kedudukan dan jabatan akan membuatmu di hormati oleh orang-orang sekitarmu!" Nini Sangga Geni melontarkan pertanyaan untuk menguji sejauh mana ambisi Wirayudha.

__ADS_1


"Tidak Nini, aku menginginkan sebuah ketenangan dan kedamaian, tidak mau terlibat dalam konflik apapun yang mungkin nanti malah akan mencelakai orang-orang sekitarku."


"Hmm..Wira, kau nanti akan paham, untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman terkadang kita harus bertindak di luar keinginanmu, mungkin saja kedamaian itu tercipta dari peperangan yang berlangsung, karena tidak semua manusia sepemikiran sederhana sepertimu.


__ADS_2