
Di saat Wirayudha sedang duduk memandang perbukitan yang terpampang di bawah, Lestari menghampiri dan duduk di dekatnya sambil menyandar di sebatang tonggak pohon.
"Wira, apakah kau tidak merasa terganggu dengan kebiasaan gurumu bergelut dengan ular-ular berbisa itu?"
"Aku tidak merasa terganggu, apakah kaupun ingin melihat sesuatu?" Wirayudha menjawab pertanyaan Lestari sambil matanya mengamati Nini Sangga Geni dari kejauhan.
"Apa yang kau ingin tunjukan Wira?" Lestari memandang Wirayudha. "Perhatikan Lestari!" kemudian Wirayudha berpindah tempat mendekat ke arah Lestari.
"Zzzh...Zzzh...Zzzh!"
Dari mulut Wirayudha keluar desisan dengan agak keras.
"Rrrh...Rrrhh...Sssrk!"
Terdengar suara merayap yang bersahut-sahutan, dan gemerisik suara gesekan rumput dari kejauhan.
"Zzzh....Zzzh...Zzzh...
Tiba-tiba di sekeliling mereka muncul ratusan ular yang mendekat, mereka berkelompok sesuai jenisnya masing-masing, Ular-ular jenis Cobra kemudian berdiri menampakan kepalanya yang mengembang dan terus mendesis, sedangkan ular-ular jenis Sanca dengan ukuran besar, berguling-guling kian kemari.
Lestari merasa ngeri dan langsung memegang bahu Wirayudha, walaupun dirinya di bekali Kanuragan, sifat kewanitaannya yang tidak terbiasa dengan ular-ular membuatnya merasa takut dan jijik.
"Hih...Ternyata kaupun sama dengan gurumu Wira! sama-sama sebagai pawang ular.
"Ha..Ha..Ha, aku bukan pawang ular, mereka adalah saudara-saudaraku 'Lestari!" Wirayudha tersenyum geli melihat respon Lestari terhadap ular.
Tanpa sepengetahuan Lestari, Wirayudha masuk ke dalam tanah, dan memunculkan kepalanya yang berbentuk Ular Naga..."Kraaaakh!"
"Aaaakh...!" Lestari merasa terkejut dan jatuh terlentang, ketika melihat kepala Ular Naga yang menyeringgai di dekatnya, tidak lama kemudian iapun berteriak ketakutan dan lari tunggang langgang menjauh.
"Ha...Ha..Ha!" Wirayudha cepat mengubah dirinya kembali dan berdiri dengan tertawa tiada henti.
__ADS_1
Sudah tiga purnama, ke tiganya berada di Grojokan Sewu, tetapi tidak ada sedikitpun kesempatan untuk Lestari yang membuat dirinya tahu ada apa di balik air terjun yang bisa membuat Wirayudha dan Nini Sangga Geni berlama-lama di sana.
"Saat ini aku belum memperoleh kesempatan untuk melihat ada apa di balik air terjun itu, suatu saat aku harus menyelidikinya!" terbersit dalan pikiran Lestari untuk terus menyelidiki.
Jurus-jurus Naga Langit telah di kuasai sempurna oleh Wirayudha, tidak membutuhkan lama baginya untuk membuatnya paham, karena sebelumnya Wirayudha telah menguasai dasar-dasar dari Jurus Naga Langit, dan semua persyaratanpun sebelumnya telah di penuhi oleh Wirayudha.
Sebelumnya Wirayudha akan terus memperdalam kanuragannya, ia berniat akan mempelajari lukisan-lukisan di bagian dinding lainnya yang banyak melukis gambar-gambar Macan Lodaya.
Tetapi Nini Sangga Geni tidak menyetujui cara pembelajaran demikian, ia berharap sebelum Wirayudha mempelajari bagian lain, Wirayudha harus mempunyai pengalaman dan pengamalan jurus Naga Langit terlebih dahulu.
Akhirnya di sepakatilah Wirayudha akan berangkat ke Kutamaya di temani oleh Lestari, sedangkan Nini Sangga Geni tetap tinggal di Grojokan Sewu.
"Berangkatlah Wira, jika urusanmu selesai kembalilah kau kesini terlebih dahulu!" Nini Sangga Geni melepaskan Wirayudha yang telah siap untuk berangkat.
"Nini, baik-baiklah di sini, aku secepatnya akan kembali!"
Wirayudha pun berangkat bersama Lestari menuju Kutamaya.
Panembahan Ratu sebagai sultan atau raja, sangatlah bijaksana, sehingga penduduk Cirebon sangat menghormati dan mengagungkannya.
Ketika beliau muda sempat mengenyam pengetahuan tentang pemerintahan dan kenegaraan di Pajang dan Demak bersama Pangeran Angkawijaya yang sekarang menjadi Raja di wilayah Sumedang Larang, sebenarnya antara keduanya masih terjalin ikatan keluarga yang sangat dekat, karena ayah dari Pangeran Angkawijaya yaitu Pangeran Santri adalah salah satu keturunan dari Syech Syarif Hidayatullah, sedangkan Panembahan Ratu termasuk Cicit dari Syech Syarif Hidayatullah yang terkenal dengan panggilan Sunan Gunung Jati.
Sehingga Kerajaan Cirebon dan Sumedang Larang terjalin hubungan yang sangat erat, baik dari segi ekonomi maupun budaya. Sedangkan dalam bidang agama, Cirebon lebih kental dengan ke Islamannya, sedangkan Sumedang Larang walaupun sudah banyak yang memeluk Islam, tetapi masih banyak yang menganut Sunda Karuhun, tetapi perbedaan itu tidaklah menjadi masalah untuk para penduduk, mereka tetap dapat bekerjasama dengan baik.
Wirayudha dan Lestari berjalan sambil melihat pemandangan, warga Cirebon sangatlah ramah dan murah senyum.
Tibalah mereka di pedukuhan Karang getas, Wirayudha dan Lestari berjalan beriringan, Wirayudha merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya, tetapi ia tidak mengetahui apa penyebabnya, langkah Wirayudha biasanya terasa ringan, dan di dalam tubuhpun aliran tenaga dalamnya biasanya meluap-luap.
Tetapi kali ini, langkahnya agak berat, tenaganya pun seperti biasa, tidak ada tanda-tanda bahwa dia telah memiliki Kanuragan yang tinggi.
Karena rasa penasaran, Wirayudha mendekati sebatang pohon yang lumayan besar, ketika suasana sepi, Wirayudha mencoba memukulnya dengan agak kencang, "Haiikh...Dugh...Aaakh!"
__ADS_1
"Hei..Apa yang kau lakukan Wira?" Lestari menghampiri Wirayudha yang sedang memegang kepalan tangan kanannya yang sedikit berdarah.
"Aiish...aku mengalami ke anehan Lestari tenagaku hilang begitu saja tanpa ku ketahui penyebabnya!"
"Hik..Hikh..Hikh, aku lupa mengatakan kepadamu Wira! tempat ini bernama Karang Getas, siapapun yang berada di sini, semua ilmu Kanuragannya akan hilang sementara!"
"Apalagi jika kau berniat tidak baik, seluruh kesaktian yang kau miliki akan hilang tanpa kita tahu penyebabnya!"
"Benarkah itu Lestari?" Wirayudha masih merasa penasaran dan tidak percaya.
"Hmm..Jika kau masih penasaran, cobalah kau pergunakan ilmu meringankan tubuhmu! pergunakan untuk berlari atau meloncat!"
Wirayudha kemudian mencoba mengalirkan tenagan dalamnya ke arah kedua kaki, "Hiaaath...Sraaakh..Sraakh...!"
Terlihat Wirayudha berlari kian kemari, tetapi larinya seperti lari seseorang pada umumnya, "Hiaaath...Slaapph...Wirayudha melompat, lompatannya bukannya tinggi seperti biasa, tetapi hanya lompatan setinggi satu tombak ke atas dan berjarak dekat.
"Bagaimana Wira? apakah kau percaya perkataanku?"
"Aku masih penasaran Lestari!"
"Sudahlah Wira! hentikan perbuatanmu! lihat banyak orang yang sekarang melihat tingkahmu!"
"Lebih baik kita berjalan-jalan saja, siapa tahu kita mendapatkan pengalaman baru dan pengetahuan baru!" Lestari melangkahkan kakinya ke depan meninggalkan wirayudha yang masih berdiri terpaku.
"Tunggu aku Lestari! Wirayudha cepat-cepat menyusul Lestari yang sudah agak menjauh.
"Hik..Hik..Hik, bukannya melambatkan langkah, Lestari semakin mempercepat langkahnya, ia merasa senang dapat mengerjai Wirayudha.
Sebelum Wirayudha mengejar Lestari, ada sebuah tepukan yang mengenai punggungnya, "kenapa terburu-buru anak muda!"
Tepukan itu sangatlah pelan, tetapi membuat tubuh Wirayudha tidak dapat melangkahkan kakinya, "Apa yang kau lakukan Kek?" Wirayudha merasa terperanjat dengan sosok sepuh yang kini berada di sampingnya.
__ADS_1