
"He..He..He, tidak perlu terburu-buru anak muda!" Pukh! satu tepukan pelan membuat Wirayudha dapat kembali bergerak.
"Ikuti aku anak muda!" Sosok sepuh itu kemudian berjalan di depan Wirayudha mengajaknya ke sebuah kedai samping jalan.
Setelah duduk berhadapan, senyum ramah mengembang di bibirnya dan berkata kepada Wirayudha kembali, "aku pesankan minuman untukmu anak muda, minuman ini sangat terkenal bernama Wedang Bajigur, dapat menghangatkan dan membuat tubuhmu segar!"
"Terimakasih Kek!" Wirayudha masih menatap penasaran kepada laki-laki tua di depannya.
"Kau boleh panggil aku Ki Manggala, ku lihat kau bukan penduduk Cirebon! apa yang sedang kau cari?"
"Namaku Wirayudha Ki, aku hanya sekedar berjalan-jalan melewati Kotaraja di sini!"
Situasi kedai tidaklah ramai, hanya terdapat sekitar lima orang pengunjung, ketika Wirayudha memperhatikan mereka sambil meminum Wedang Bajigur, mereka melemparkan senyum ramah dan menganggukan kepala tanda menyapa.
"Wira, aku telah membuka kembali kemampuan kanuraganmu! tetapi kau jangan sekali-sekali mempergunakannya di sini!"
"Di sini adalah tanah Para Wali, tidak di izinkan seorangpun untuk terbersit hatinya sifat adigang adigung dan membanggakan diri!"
"Baik Ki Manggala, terimakasih atas nasehatmu!" setelah berpikir keras dan mempelajari situasi, Wirayudha akhirnya mengerti, bahwa ia sedang menghadapi semacam Jagabaya di negerinya, yang bertugas untuk mengamankan wilayah.
Ia dapat mengambil kesimpulan demikian, karena melihat pakaian yang di kenakan oleh laki-laki pengunjung di kedai tersebut berseragam dan berwarna hitam, sama persis dengan yang di pakai oleh Ki Manggala, hanya sedikit perbedaan, di sebelah dada kanan Ki Manggala terdapat sebuah gambar Kaligrafi dengan sulaman benang emas, sedangkan di dada laki-laki yang sedang berkumpul, sulaman Kaligrafinya memakai benang biasa.
"Ini adalah lambang Kerajaan Cirebon, membentuk Lafadz "Laa illaha Illallah" yang mempunyai arti tiada Tuhan selain Allah!" Ki Manggala menjelaskan lambang yang di kenakan di bajunya, seakan-akan ia mengetahui keinginan Wirayudha untuk bertanya.
"Apakah ini yang di namakan Macan Ali 'Ki?" Wirayudha kemudian kembali bertanya dengan suara pelan.
"He..He..He, usiamu masih muda, tetapi ternyata pengetahuanmu lumayan Wira!"
"Aakh...Maafkan karena ketidak tahuanku Ki!" Wirayudha kemudian berdiri dan menjura kepada Ki Manggala.
__ADS_1
"Apa maksudmu Wira! kenapa kau merubah sikapmu kepadaku?"
"Ayahku pernah mengatakan kepadaku Ki, sekelompok pasukan khusus dari Keraton Cirebon yang bernama Pasukan Macan Ali yang berjumlah 12 orang, hanya akan muncul jika Cirebon sedang di landa kemelut! Sebuah kehormatan bagiku bisa berjumpa denganmu Ki!"
Wajah-wajah tegang terlihat dari lima orang yang mungkin mendengarkan perkataan Wirayudha di depan Ki Manggala.
"Duduklah kembali Wira! cukup hanya kau yang menyadari keberadaan kami, aku percaya kau tidak mempunyai maksud yang tidak baik di sini, lanjutkanlah perjalananmu kembali, kau boleh melihat-lihat Cirebon sepuasnya!"
"Tetapi ingat Wirayudha! jika suatu saat kau kembali ke Cirebon dengan niatan yang berbeda! kita akan berhadapan tidak dengan situasi seperti sekarang!"
Setelah mengatakan demikian, Ki Manggala dan ke lima rekannya kemudian pamit.
Wirayudha masih terduduk ketika melihat Ki Manggala keluar dari kedai, untuk menenangkan hatinya, Wirayudhapun meraih gelas yang terbuat dari tanah liat yang berisi Wedang Bajigur, berniat akan meminumnya.
Betapa kagetnya Wirayudha, saat tangannya menggenggam gelas tersebut, rasa dingin menjalar di tangannya, merambat sampai siku, ternyata Wedang Bajigur yang berada di gelas tersebut telah membeku. sampai gelas tersebut di balik, cairan dari gelas tidak tertumpah setetespun, padahal sedari tadi dia tidak melihat sedetikpun Ki Manggala menyentuh gelasnya.
"Aissh...Ternyata di atas langit ada langit, ini baru permulaan, aku berharap dapat berkelana di Bumi Priangan ini dengan selamat.
"Wiraaa...Menyebalkan sekali! ternyata kau enak-enakan duduk di sini!" tiba-tiba muncul Lestari dari depan pintu Kedai.
"Salah sendiri, kau kan tadi meninggalkanku Lestari!" Wirayudha tersenyum kepada Lestari.
Kemudian terlihat Lestari menghempaskan tubuhnya di kursi dekat Wirayudha.
Saat mereka berdua bercakap, terdengar suara wanita pemilik kedai berteriak kepada suaminya, "Kakang, bara api di tungku kita sudah habis, tolonglah kau tambah dulu! aku nanti tidak bisa memasak!"
Tidak lama setelah teriakan istrinya sudah tidak terdengar, terlihat seorang laki-laki yang membawa bara api dengan tangan-tangan telanjangnya melewati di mana Wirayudha dan Lestari yang sedang duduk.
"Akhh...Ini negeri apa Lestari? sampai-sampai penjual kedaipun mempunyai Kanuragan tinggi!"
__ADS_1
"Wira, di Cirebon ini tidaklah aneh melihat penduduk biasa pun mempunyai Kanuragan tinggi! apakah kau baru melihatnya?"
"Iya Lestari, dengan kemampuan seperti ini, di tempatku sudah termasuk dalam golongan pendekar kelas tinggi!"
"Dulu, saat aku pertama kali singgah, akupun sepertimu selalu terkejut saat melihat orang-orang di sini mempunyai kemampuan yang aneh-aneh."
"Maka dari itu Wira, negeri ini aman sentausa, apalagi Sultannya seorang yang sakti dan bijaksana, baru saja purnama yang lalu, Sultan Cirebon yang bernama Panembahan Ratu itu menikah dengan seeorang putri dari Pajang yang bernama Putri Harisbaya, konon sang Putri sangat cantik sekali, Putri Harisbaya masih keturunan bangsawan dari Negeri Madura.
Wirayudha hanya manggut-manggut saja ketika mendengarkan keterangan Lestari.
"Adduh...Kenapa aku malah memuji-muji Cirebon, bukannya aku mempunyai tugas membuat Wirayudha tertarik dan mau mengabdi di Sumedang Larang, bodoh kau Lestari!" Lestari meruntuki dirinya sendiri.
"Ayo Wira...Kita harus melanjutkan perjalanan!" Lestari akhirnya mengajak Wirayudha pergi dari kedai itu untuk melanjutkan perjalanan ke arah Kutamaya.
Keduanya berjalan kembali ke arah barat, melewati Pedukuhan Kedawung, setelah itu tibalah mereka di daerah Plered yang banyak terdapat pengrajin-pengrajin kain batik, "Wirayudha pun sempat membeli jarit yang mempunyai corak batik Mega Mendung, persis mirip yang di miliki ayahnya dulu untuk pengikat rambut panjangnya.
Lestari hanya memandangi Wirayudha ketika sedang mengikat rambutnya, "Hmm...aku khawatir semakin lama bersamanya, aku malah jatuh hati kepadanya!"
"Kenapa kau memandangiku terus Lestari? apakah kain batik ini tidak cocok untukku?"
"Sangat cocok Wira, kau sudah terlihat seperti pendekar dari Padjajaran!"
"Lestari, aku ingin minta pertolonganmu! setelah sampai di Kutamaya, orang pertama yang ingin aku temui adalah Raden Genta Buana, apakah kau mengenalnya?"
"Karena menurut keterangan dari Kuwu Brodin, Raden Genta Buana pernah mencariku dan Ibuku di Jalaksana, ia adalah Kakak dari ibuku!"
"Apakah kau serius Wira? Raden Genta Buana? beliau masih kerabat salah satu Kandaga Lante, yaitu Ki Pancar Buana."
"Aku belum mengetahui secara pasti Lestari, mudah-mudahan saja aku dapat menjumpai para kerabat dari Ibuku!"
__ADS_1
"Glekh...Lestari menelan ludahnya sendiri, seandainya benar Wirayudha adalah keponakan dari Genta Buana, tidak terbayangkan jika kemarin ia berhasil meracuni dan membunuh Wirayudha ketika di kediaman Kuwu Brodin, keringat dingin keluar dari dahi Lestari karena takutnya.