Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Rencana Awal


__ADS_3

Ki Jaka Perkasa sedang duduk menunggu seseorang yang ia perkirakan akan datang hari ini, dalam penantiannya teringat laporan dari si Hitam, burung Gagak kesayangannya.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini? aku tidak yakin jika Pangeran Angkawijaya memenuhi permintaan dari Putri Harisbaya, beliau seorang yang jujur dan setia."


"Tapi walau bagaimanapun aku harus memanfaatkan kesempatan yang kecil ini menjadi peluang awal membuka konflik dengan Kerajaan Cirebon!'


Ki Jaka Perkasa tidak melanjutkan lamunannya ketika dua orang prajurit penjaga kediamannya mendekat dan terlihat akan melaporkan sesuatu, setelah menjura memberikan penghormatan merekapun memberikan laporan, "Mohon maaf Gusti Panglima, Raden Genta Buana meminta izin untuk menghadap!"


"Pergilah, izinkan dia untuk menghadapku!"


"Baik Gusti! kami akan membawanya kesini!"


Setelah di jemput oleh prajurit pengawal, terlihat Raden Genta Buana telah duduk di depan Ki Jaka Perkasa, "Selamat datang Genta Buana, sepertinya kau telah melakukan perjalanan jauh! apa yang akan kau laporkan?"


"Gusti Panglima, aku baru saja menyelesaikan ekspedisi untuk mencari sekutu pasukan kita, ada tiga belas padepokan yang sampai saat ini bersedia bergabung!"


"Tetapi sayang ada beberapa juga yang menolak, dengan terpaksa agar tidak menjadi duri di kemudian hari, kami melenyapkannya!"


"Tiga belas? sangat jauh dari rencana kita Genta! tetapi tidak masalah, kau sudah berusaha cukup baik, terimakasih Genta!"


"Gusti Panglima, kami menunggu perintahmu selanjutnya!"


"Beristirahatlah Genta! kau sepertinya cukup lelah, tunggulah perintahku selanjutnya! Oh..ya, ada kabar baik untukmu, keponakanmu telah bergabung bersama kita, saat ini ia berada di Balai Prajurit, segeralah kau temui!"


"Terimakasih Gusti, kami pamit undur diri!"


Setelah melakukan penghormatan, Genta Buana berjalan ke arah Balai Prajurit dengan hati penuh tanya, keponakan? keponakan yang mana? siapa yang di maksud Gusti Panglima?"


Genta Buana lebih menerima kecamuk pertanyaan di pikirannya, dari pada dia memilih bertanya kepada Ki Jaka Perkasa. Karena terlalu lama bersamanya, membuat peluang dirinya melakukan kesalahan akan lebih besar.


Setelah kepergian Genta Buana, Ki Jaka Perkasa pun kemudian pergi menuju ke Istana dengan maksud menghadap Prabu Geusan Ulun.

__ADS_1


Setelah melewati beberapa penjagaan, sampailah Ki Jaka Perkasa ke istana dan langsung menghadap Prabu Geusan Ulun di Balirung Keraton.


"Sembah sujud hamba Gusti Prabu, semoga kesehatan dan keselamatan selalu menaungi Gusti Prabu bersama keluarga!"


"Terimakasih...Aku terima penghormatanmu Paman, marilah duduk bersamaku...lama nian Paman tidak berkunjung ke istana, semoga pamanpun selalu di berikan kesehatan dan keberkahan oleh Yang Kuasa!"


"Terimakasih Gusti Prabu, atas segala perhatianmu!"


"Bagaimana paman, apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan mengenai keamanan Sumedang Larang, apakah selama ini ada kendala?"


"Keamanan Sumedang Larang sangat terjaga Gusti Prabu, warga kita merasa tentram dan raharja, tanpa kekurangan suatu apapun, dengan petunjuk Gusti Prabu, kami selalu menjaga keamanan Sumedang Larang dari segala bentuk ancaman."


"Sawah, ladang dan ternak meningkat dengan sangat cepat, membuat penduduk kita berlebih dalam pangan maupun sandang.


Prabu Geusan Ulun tersenyum senang mendengar laporan dari orang yang sangat di percayainya, "syukurlah paman, semoga warga kita akan selalu mendapatkan apa kebutuhan mereka dengan berlimpah!"


"Mohon izin Gusti Prabu, Kerajaan kita saat ini telah makmur, dan menjadi panutan dari kerajaan lain, jika hamba boleh menyarankan, agar keamanan kita selalu terjaga, bagaimana jika kita menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan tetangga?"


"Mohon maaf Gusti Prabu, hamba tidak menyatakan demikian, hanya saja hamba mempunyai saran, alangkah lebih baiknya jika kita lebih mempererat hubungan baik ini dengan saling mungunjungi kepada kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Kerajaan Cirebon, Banten atau Mataram yang sekarang sedang berkembang pesat!"


"Aah...Saranmu sangat baik sekali paman! lagipula aku pun sangat rindu sekali dengan Kanda Pangeran Mas yang berada di Cirebon, alangkah lebih baiknya kalau aku yang lebih muda mengunjunginya! terimakasih paman, kau mengingatkanku!"


"Terimakasih Gusti Prabu berkenan dengan saran hamba!"


"Baiklah paman, nanti aku mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi Cirebon, Banten ataupun Mataram!"


Kemudian Ki Jaka Perkasa dengan lega dan puas, pamit kembali ke kediamannya setelah beramah tamah dengan Prabu Geusan Ulun.


Dalam perjalanan Ki Jaka Perkasa kembali memikirkan rencananya, "Sekarang aku tinggal berusaha agar dayang dari Putri Harisbaya tidak pernah sampai ke Sumedang Larang, dan Gusti Prabu tidak merasa terjebak dengan rencanaku!"


Sementara itu Genta Buana telah sampai di lapangan tempat latihan para prajurit. Ia merasa heran, karena para prajuritnya sedang mengeliling seorang pemuda yang sedang bercerita.

__ADS_1


"Hei..Apa yang kalian lakukan? ini masih waktu berlatih, kenapa kalian ongkang-ongkang kaki merasa santai dan beristirahat?"


Para prajurit yang sedang mengelilingi Wirayudha hanya terdiam, berharap Wirayudha lah yang akan menjawabnya, karena mereka sangat tahu, Raden Genta Buana sangat lah keras dalam peragainya.


Ketika melihat dan mendengar Genta Buana menegur para prajurit, Ganda Permana berani mendekati dan langsung memberikan penghormatan seraya berkata kepadanya, "Benar sekali Raden Genta, setelah kehadiran anak muda ini, prajurit-prajurit kita sekarang malas untuk berlatih! entah apa maksudnya mereka!"


Dengan memasang wajah mengelam, Genta Buana menegur Wirayudha yang tidak berdiri dan menghormatinya, "Hei kau prajurit muda! jangan kau tularkan jiwa malasmu kepada yang lain! jika kau tidak berniat menjadi prajurit di sini, pergilah! pintu gerbang itu terbuka lebar untukmu!"


Sambil berdiri, Wirayudha pun balas menentang pandangan Genta Buana, "Kisanak aku bukan prajurit, dan aku bukan bawahanmu yang bisa kau perintah sesuai kemauanmu!"


Genta Buana terkejut, karena tidak mengira di kalangan prajuritnya ada yang berani menentang kepadanya.


"Kurang ajarrrr!...Slaaaph!"..Tubuh Genta Buana melesat dan bermaksud akan menerjang Wirayudha yang sedang menatap tajam kepadanya.


Sedangkan Ganda Permana sendiri tersenyum sambil menghindar, ia merasa puas dapat membuat Genta Buana dan Wirayudha bertarung.


Lestari yang berada di belakangnya kemudian menegur, "tidak seharusnya mereka bentrok! apakah Senopati Ganda Permana nanti akan tahu akibatnya jika Raden Genta Buana merasa kau provokasi!"


"Diamlah kau Lestari, kau hanya seorang prajurit telik sandi, tidak tahu bagaimana prajurit seperti kami menyelesaikan masalah!"


Dengan terpaksa Lestaripun diam dan hanya bisa menonton.


Tubuh Genta Buana mendapatkan tempat kosong, terjangannya hanya menembus udara hampa, karena Wirayudha telah melompat menjauhi ke tempat yang tidak di kerumuni para prajurit.


"Hiaaath....Tendangan Raden Genta Buana meluncur dengan cepat, ia melakukan tendangan-tendangan susulan yang kali ini tidak di hindari oleh Wirayudha.


"Draakh!...Draaakh!"


Dengan kedua tangannya Wirayudha menepis dan mematahkan serangan tendangan yang beruntun meluncur ke arah tubuhnya.


"Lumayan juga tendanganmu Kisanak!" saat menangkis serangan, Wirayudha masih sempat mengejek tendangan Genta Buana, membuatnya semakin emosi.

__ADS_1


__ADS_2