Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Pantai Randusanga


__ADS_3

Ki Pandusora tidak tinggal diam, Keris berluk tujuh yang berada di pinggangnya langsung di cabut, di gunakan untuk menebas tangan Jerangkong Hitam, "Hiiaaath...Crassh!" Tangan yang berusaha menangkap Maharani itu terputus sampai pangkal siku, menyemburkan darah yang berwarna hitam.


"Ha..Ha...Ha, Pandusora, apakah selama ini kau mempunyai ilmu simpanan, sehingga berani melawanku?" Jerangkong Hitam tertawa terbahak-bahak, tidak ada penampakan rasa sakit sedikitpun ketika lengannya putus.


Dalam waktu sekejap, lengan yang putus itu melayang, kemudian bersatu lagi "Slaaph..." semua anggota Bajing Loncat mundur dan memandang ngeri kepada Jerangkong Hitam.


Ki Pandusora tidak menggubris ucapan yang melecehkannya, ia melanjutkan serangan dengan keris yang sudah tergenggam kuat di tangannya, keris yang semula berwarna hitam kini memancarkan cahaya biru yang memedar dengan kuat


Nini Sangga Geni berkata kepada Wirayudha, "ilmu itu hanya mirip Rawa rontek, tetapi sangat berbeda Wira!"


"Wirayudha ambil alih pertarungan itu! usahakan tubuhnya menyentuh air laut saat terluka!"


Tetapi Wirayudha tidak langsung mengambil alih pertarungan tersebut, khawatir menyinggung harga diri Ki Pandusora.


Cahaya biru dari Keris Ki Pandusora melesat menggempur tubuh Jerangkong Hitam yang masih berdiri, tubuhnya kemudian berkelebat kesana kemari menghidari tusukan-tusukan Keris.


"Nini, kenapa dia menghidari tebasan-tebasan Keris Ki Pandusora kalau memang tubuhnya bisa menyatu lagi?", "Tidak Wira, dia hanya memancing agar tenaga dalam Ki Pandusora habis saat mengalirkan ke senjatanya."


Benar saja apa yang di katakan Nini Sangga Geni, ketika serangan-serangan Keris cahayanya tidak lagi terang, Jerangkong Hitam hanya berdiri tegak menunggu keris menghunjam dadanya, "Sraaath...Traaakh!"..Keris berluk tujuh milik Ki Pandusora dengan tepat mengenai dada, tetapi ujung keris menjadi bengkok dan terlihat tumpul.


"Pilih bagian mana yang kau anggap lunak Pandusora!..."


"Ilmu Karang Hawu milikmu memang hebat Jerangkong Hitam, tetapi aku tidak mau menyerah begitu saja! Hiaaath!...Dhuaarh...Dhuuarh!" pukulan beruntun yang mengenai kepala Jerangkong Hidup tidak berarti sedikitpun.


Ketika Ki Pandusora terlihat putus asa dan tidak dalam posisi menyerang, Wirayudha melesat dan langsung memberikan tendangan Selaksa Gunung, "Dhhuaaarh...!"


Tubuh Jerangkong Hitam terjajar ke belakang sampai sepuluh tombak ketika tendangan Wirayudha menghantamnya, tetapi tidak membuat tubuhnya terluka.


"Siapa kau anak muda? kau hanya mencari mati dengan cepat!", "Hiaaath...Wugh...Wugh..! Dhak..Dhakh..terjangan pukulan Jerangkong Hitam memgenai tubuh Wirayudha.

__ADS_1


"Kakek tua, kau kira hanya tubuhmu yang kebal, keluarkan semua kesaktianmu!"..


"Hraaah...Dengan sengit tubuh Jerangkong Hitam berkelebat mulai menyerang dari jarak dekat, pukulan dan tendangannya memburu Wirayudha.


Wirayudha tidak memasang badan seperti tadi, tubuhnya mengelak dan menghidar, memecah menjadi beberapa bayangan, dan memancing pertarungan mereka mendekati tepian pantai.


Semua orang yang menyaksikan pertarungan Wirayudha dengan Jerangkong Hitam ikut bergeser mengikuti perpindahan pertarungan mereka.


Ki Pandusora yang kini dekat dengan Nini Sangga Geni bertanya dengan nada kecemasan, "Nini Sangga, terlalu berbahaya Wirayudha menyerang seorang diri, aku akan membantunya!", "Tidak Ki Pandusora, biarkan Wirayudha menghadapinya!"


Maharani menyaksikan pertarungan itu tanpa berkedip, hatinya merasa was-was dan khawatir, begitu juga dengan Bayu Komara yang bersiap jika sewaktu-waktu Wirayudha membutuhkan bantuannya.


Semakin lama pertarungan mereka semakin dekat dengan air pantai, ketika itulah, Wirayudha semakin cepat melancarkan serangan.


Jerangkong Hitam yang sebelumnya terlihat merendahkan Wirayudha, wajahnya terlihat mulai merasa was-was dan khawatir.


"Hiaaath....Desh...Desh..Byurrh!" suatu ketika tendangan Wirayudha bersarang di dadanya sampai kemudian tubuhnya tercebur ke dalam air laut.


Jerangkong Hitam melompat ke tepian, berusaha akan menghindari air laut, dengan cepat Wirayudha menyambar tubuhnya dan melemparkannya kembali "Byurrrh!"


"Kau ternyata tidak semenakutkan namamu Kisanak, mana keangkuhanmu yang tadi kau tunjukan?"...


Ternyata kemampuan Jerangkong Hidup semakin lama semakin lemah ketika terkena air laut.


"Kau..Kau!" mulut Jerangkong Hitam tersedak karena menahan amarah, ia sebenarnya ingin mengetahui identitas pemuda yang mengetahui kelemahannya.


Nini Sangga Geni mendekati tubuh Jerangkong Hidup, sebentar kemudian dia menyentakan lengan tunggalnya, "Hiaaath...Praaakh!"...Kepala Jerangkong Hitam pecah terkena pukulan Tapak Geni, "Wira, kau harus banyak belajar menghadapi seseorang dan bagaimana harus memilah mana yang bisa kau maafkan mana yang tidak!",


Berakhirlah nasib Jerangkong Hitam di tangan Nini Sangga Geni, tubuhnya terapung dengan kepala yang pecah.

__ADS_1


Setelah Wirayudha kembali ke daratan, tanpa malu-malu Maharani memeluk Wirayudha, "Aiish..Kakang Wira, aku bersyukur kau baik-baik saja!"


Wirayudha yang baru pertama kali di peluk oleh seorang wanita, wajahnya memerah menahan malu, karena mereka mendapat tatapan anggota-anggota Bajing Loncat yang masih mengelilingi mereka.


"Kakang, jangan panggil aku dengan panggilan Nisanak, panggilah aku dengan panggilan Nimas" dengan senyum yang paling manis yang pertama kali di perlihatkannya, Maharani memandang mesra Wirayudha.


"Nimas, kita di lihat orang banyak, apakah kau tidak merasa malu?" Wirayudha berusaha melepaskan pelukan Maharani di lengannya.


"Akhh..Kakang, kenapa harus malu? mereka adalah keluargaku sendiri, lagi pula kau telah menyelamatkan kami, siapa yang akan berani kepadamu?"


"Ehmm...Terdengar suara dari Ki Pandusora yang berdehem, membuat Wirayudha tidak menanggapi perkataan Maharani.


"Maharani, suruhlah Kakangmu beristirahat dahulu, kasihan mungkin dia lelah!"


Akhirnya Bayu Komara yang menggandeng Wirayudha untuk kembali ke Padepokan, mengajaknya untuk beristirahat, "He..He..He..Kau memang pantas menjadi Adikku Wira, selain rupamu menawan, kau seorang laki-laki yang digjaya!"


Wirayudha mengikuti ajakan Bayu Komara dengan hati gelisah, dan berpikir untuk menghindari kesalah pahaman ini, matanya melirik ke arah Nini Sangga Geni, tetapi Nini Sangga Geni sendiri berpura-pura tidak tahu apa yang di pikirkan oleh Wirayudha.


Malam itu di Padepokan Bajing Loncat di gelar pesta, persediaan makanan semua di sajikan, membuat suasana menjadi bertambah hangat, Senyum Maharani selalu menghiasi bibirnya yang manis.


Ki Pandusora kemudian berdiri di tengah-tengah anggota padepokan, dan memberikan tanda kepada yang lain agar dia di berikan kesempatan untuk berbicara.


"Saudara-saudaraku, kita sama-sama mengetahui, Padepokan ini telah mendapatkan anggota baru, kita tidak mengira kehadirannya telah menyelamatkan kita dari suatu bahaya besar, aku ingin, di hadapan kalian, aku akan menanyakan kesediaannya untuk tinggal di sini bersama kita!" Wira apakah kau bersedia?"


Semua mata saat ini memandang Wirayudha yang masih duduk bersama Maharani.


Wirayudha kemudian terpaksa berdiri dan bersiap menjawab, karena harapannya kepada Nini Sangga Geni untuk membantu rasanya sangat mustahil.


"Ki Pandusora dan saudara-saudara sekalian, aku sangat terharu dengan keramahan seisi padepokan ini yang begitu menghormatiku, tetapi tugas besar yang di amanahkan kepadaku belum selesai aku laksanakan. Terpaksa aku harus meninggalkan kalian untuk menjalankan tugas.

__ADS_1


"Benar Ki Pandusora, kami masih harus menjalankan tugas yang belum terlaksana, Wirayudha masih akan menjalani perjalanan yang panjang!" Nini Sangga Geni mencoba manambahkan, agar seisi Padepokan Bajing Loncat tidak terlalu kecewa kepadannya.


__ADS_2