
Wirayudha terlihat sangat antusias untuk mempelajari semua gerakan Jurus Naga Langit yang berada di permukaan dinding Goa.
Waktu yang di pergunakan latihanpun tidak mengenal siang dan malam. setelah sepekan di dalam Goa, kemudian Wirayudha mulai melakukan gerakan-gerakan Jurus Naga Langit di bawah air terjun.
Ternyata ke tiga jurus yang semula di pelajari oleh Wirayudha, kini dapat di gabungkan cara penggunaannya, Tembus Bumi, Rogo Sukmo dan Halimunan adalah cabang dari Jurus Naga Langit, untuk dapat menggabungkan ke tiga unsur di atas Wiruyudha hanya tinggal memperdalam gerakan penggabungan yang tertera dalam dinding Goa.
Kekuatan tenaga dalam yang menjadi inti dan hal paling penting untuk penggabungan telah di peroleh Wirayudha dari mengkonsumsi Jamur Dewa yang hampir tiap hari dia makan.
Di kala malam hari tiba, para pendusuk yang berada di Kaki Gunung Ciremai akan merasa ketakutan. Cahaya biru dan gerungan dari Naga Langit di saat Wirayudha sedang berlatih akan terdengar dan terlihat percikan-percikan cahayanya, sehingga para penduduk enggan untuk mencari kayu bakar di puncak Gunung, karena mereka mengira bahwa Gunung Ciremai telah aktif kembali dan sewaktu-waktu akan meletus.
Seperti pagi ini, terlihat tubuh Wirayudha meloncat kian kemari dalam ketinggian, putaran tangan dan kakinya penuh tenaga dan setiap menginjak permukaan tanah terasa permukaan tanah tersebut bergetar. itulah Aji Selaksa Gunung yang di pelajari dari Nini Sangga Geni dan ayahnya.
"Hiaaath...Dengan tangkas tubuh Wirayudha memutari pohon beringin besar dan berdaun lebat, "Sraaath....Sraaath! putaran tubuhnya tidak hanya cukup.di bawah,.cahaya biru terlihat melingkari pohon Beringin itu dari bawah sampai puncak.
Ketika Wirayudha meloncat dan menapakan kakinya kembali untuk beristirahat, pohon Beringin tersebut masih tegak berdiri dengan gagah.
Ketika.ada angin kecil yang bergerak, terlihat oleh Nini Sangga Geni, daun-daun berguguran baik yang berwarna kuning pucat ataupun masih hijau, jatuh ke bawah tanpa menyisakan daun selembarpun,
"Kraakh...Kraakh! batang pohon berderak terbelah menjadi beberapa bagian dan tumbang berdebum ke tanah.
"Wira, hentikan latihanmu dulu! lihat siapa yang ku bawa!"..."Bruuukg!" Berkelebat bayangan Nini Sangga Geni mendekat dan melemparkan sesosok tubuh yang kemudian jatuh tertelungkup di depan Wirayudha.
Dengan tubuh bertelanjang dada dan berkeringat Wirayudha mendekati sosok yang jatuh di depannya. "Nisanak, ternyata kau lag?"
Nini Sangga Geni pun mendekat dan menarik rambutnya "berani sekali kau membuntuti kami! siapa kau be*tina hutan?"
"Uggkh..Maafkan aku raden! namaku Lestari, benar aku memang membuntututi kalian dengan maksud minta maaf dan pengampunan atas kejadian kemarin!"
__ADS_1
Nini Sangga Geni tidak dapat percaya begitu saja, ia pun bermaksud untuk mengujinya, "baiklah, untuk menguji keseriusanmu dalam minta pengampunan kepada kami, berikan aku sebelah tanganmu!"
Lestari mendongakan kepalanya, memperlihatkan wajah yang jeri dan ketakutan. begitupun Wirayudha..menaikan alisnya dan tidak memahami keinginan Nini Sangga Geni.
"Karena racun yang kau taruh, kemarin seharusnya muridku mati! hanya karena kemampuannya ia bisa lolos dari kematian! aku meminta sebelah tanganmu sebenarnya belum seimbang, harusnya aku meminta batang kepalamu!"
Wirayudha kemudian mendekati Nini Sangga Geni dan berbisik " apakah tidak terlalu kejam Nini?", "Aissh diamlah kau Wira! dalam dunia persilatan suatu kewajaran kita melakukan seperti ini!"
"Nisanak, jelaskan alasanmu teelebih dahulu, kenapa kau mengikuti kami! sangat tidak masuk akal jika kau tidak punya tujuan yang lain! kau seharusnya sudah selamat dari kami dan sudah bisa melarikan diri!"
"Raden, sebenarnya aku tidak melarikan diri langsung, aku menyaksikan pertarunganmu dengan Ki Wiradijaya, dan melihat dirimu mempunyai Aji Macan Kembar sama seperti yang di miliki oleh ayahku!"
"Siapa nama orang tuamu Nisanak?"
"Ayahku bernama Tubagus Sabdo dari tanah Banten, apakah kau mengenalnya raden?"
"Akh...Dia adalah kakek guruku raden! ayahku salah satu murid dari beliau!"
'Kakek guru telah lama pergi, mencari kekasihnya putri bangsawan Majapahit!"
Nini Sangga Geni kemudian menyahut, "berarti kau bukan orang lain bagi kami! ku lihat kaupun orang rimba persilatan dan tahu aturannya kan? persyararan permintaan maafmu masih berlaku Lestari!"
"Nini!" Wirayudha menatap Nini Sangga Geni dengan wajah berharap.
"Tidak Wira! aku menginginkan sebelah tangannya!"
"Baiklah Nini, aku menerima persyaratanmu! tetapi setelah itu, izinkan aku ikut dalam perjalanan kalian, apakah kau setuju Nini?"
__ADS_1
Lestari tidak menunggu jawaban Nini Sangga Geni, kemudian dia berdiri dan menotok otot-otot sekitar pangkal lengan kirinya, setelah lengan kirinya mati rasa, tangan kanannya meloloskan pedang yang berada di punggungnya dan bersiap menebas lengannya sendiri.
Pedang itu di angkatnya ke atas, setelah memantapkan hatinya, "Hiaaaath....Sraaath!"
"Traaankk...Sesat sebelum mata pedang Lestari mengenai pangkal lengan kirinya, pedang itu terpental oleh pukulan Nini Sangga Geni yang mengenai badan pedang.
"Hikh...Hikkh...Kau lulus ujianku Lestari! permintaan maafmu aku terima!" Nini Sangga Geni tertawa dan berbalik meninggalkan Lestari dan Wirayudha yang masih terpana dengan ulah Nini Sangga Geni.
"Zzzzh....Zzzzh! terdengar suara desisan dari mulut Nini Sangga Geni yang sedang berlalu, kemudian terlihat, berpuluh-puluh Ular bebagai jenis merayap mengikutinya dari belakang.
Lestari menatap punggung Nini Sangga Geni dengan perasaan takut dan mengeluarkan keringat dingin dari dahinya. "Aissh...tugas ini terlalu berat!"
"Kau tidak perlu takut Nisanak, guruku sangatlah baik, beliau kejam hanya kepada para pengkhianat dan penjahat.
"Terimakasih Raden!" Lestari kemudian tersenyum kepada Wirayudha.
"Panggil aku dengan namaku saja Nisanak, panggilan raden tidak membuatku merasa terhormat!"
"Kalau begitu, panggillah aku juga dengan namaku, tokh usiaku hanya lebih darimu tidak terlalu jauh!"
"Baiklah Lestari, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti malam, aku akan melanjutkan latihanku kembali!"
Lestari menganggukan kepalanya dan tersenyum merasa puas karena berhasil mendekat kepada mereka berdua.
Kemudian Lestari mulai membersihkan rumput dan ilalang liar di sekitar Air terjun, mencari batang-batang kayu dari pohon-pohon yang tumbang, menyusunnya menjadi sebuah balai yang mempunyai atap dedaunan.
Wirayudha kembali berlatih, kali ini tubuhnya terlihat masuk ke dalam bumi, dan sesekali muncul di permukaan tanah, terkadang ia pun muncul di permukaan air sungai yang berada di sisi-sisi tempat mengalirnya air yang berasal dari air terjun, kali ini perpindahannya semakin cepat, dan pergerakan di bawah permukaan tanahnyapun tidak menimbulkan getaran dan suara.
__ADS_1
Berbeda dengan Nini Sangga Geni, dia terlihat asik bermain dengan ular-ular yang mengelilinginya, mulutnya mengunyah buah-buahan sambil sesekali melemparkan sesuatu yang menjadi rebutan ular-ular di sekitar tubuhnya.