Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Kudjang Indrakila


__ADS_3

Perahu sampan yang membawa Bayusuta, Bayu Lelana dan Maharani terombang ambing oleh gelombang, hanya karena kepiawaian Bayusuta dan Bayu Lelana sajalah akhirnya Perahu itu bisa menepi di Pantai Kejawen.


Bayusuta menyeret perahu mereka menepi melalui pasir pantai, ketiganya belum ada yang berbicara karena masih tertekan dengan peristiwa yang terjadi kemarin.


Maharani duduk di pasir dengan pakaian yang basah, dia terduduk dengan menekuk kedua kakinya ke depan, dan menaruh dagunya di kedua lutut, matanya sembab, karena terlalu banyak menangis.


Bayu Lelana yang sedang merasakan kesedihan, mencoba menghibur adiknya, tangannya memeluk bahu Maharani dan kemudian mengusap rambutnya, "Nimas bersabarlah! berusahalah mengikhlaskan semua cobaan yang menimpa kita!"


"Hu..Uh.., Apa yang terjadi dengan Romo dan Kakang Komara?" Maharani menangis terguguk di bahu kakaknya.


'Semoga saja ada keajaiban untuk romo dan Kakang Komara, berdo'alah! semoga romo dan Kakang Komara di berikan keselamatan, Bayu Lelana mengusap tepi matanya sendiri, ia tidak mau Maharani melihatnya ikut menangis.


Untuk meredakan kesedihan, Bayu Lelana mengajak adiknya kemudian berjalan ke arah hutan Bakau, mereka mendirikan gubuk sederhana hanya sekedar untuk berteduh.


Tetapi semua aktifitas yang di lakukan mereka tidak membuat Maharani berubah, wajahnya masih menampakan kesedihan yang mendalam.


Tiga hari telah berlalu semenjak mereka terdampar di pantai Kejawen. Setiap hari Bayusuta dan Bayu Lelana mencari ikan di pesisir pantai untuk mengisi perut mereka, sementara itu Maharani masih mengurung diri di gubuk sederhana mereka.


"Nimas, besok kita akan berangkat ke Keraton Pakungwati untuk menyampaikan amanah ayah kita, setelah itu kita akan mencari kekasihmu! bagaimana?"


Maharani menatap Bayusuta, sedikit ada senyum di bibirnya, tetapi kemudian hilang kembali.


Kali ini Bayu Lelana yang kemudian mendekat, "kenapa Nimas? apakah kau tidak suka jika kita mencari Kangmasmu Wirayudha?"


"Kemana kita akan mencari Kakang Wirayudha?" ia hanya berjanji akan menemuiku kembali ketika persoalan yang di hadapinya selesai, sedangkan kita saat ini telah kehilangan tempat tinggal kita!"


"Nimas, kau kira kakakmu ini seorang yang bodoh, yang hanya ingin membuatmu sekedar tersenyum, aku tahu kemana harus mencari Wirayudha, karena sebelumnya ia pernah mengatakannya kepadaku!"


Maharani melonjak gembira, kali ini senyumnya benar-benar mengembang kembali, benarkah Kakang? kenapa kau tidak katakan dari tadi?" Maharanipun kemudian memeluk Bayu Lelana.


Bayusuta dan Bayu Lelana tersenyum, mereka sangat senang ketika melihat Maharani sumringah kembali.


"Setelah kita menghadap Ki Manggala Sakti, kita akan melanjutkan perjalanan ke pedukuhan Jalaksana yang berada di kaki Gunung Ciremai yang menuju arah Kuningan, di sanalah tujuan pertama Wirayudha, besok kita akan mulai melanjutkan perjalanan, segeralah kalian beristirahat!"

__ADS_1


"Baik Kakang, Maharani dengan wajah gembira kemudian menyiapkan perlengkapannya bersama Bayusuta.


Keesok harinya, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju Cirebon, melewati jalan darat, mereka tidak menyadari jalur perjalanan darat sangatlah rawan, karena di perbatasan wilayah, anggota-anggota dari Raden Genta Buana telah menempati posisinya kembali.


Matahari saja belum bergeser ke tengah, dan teriknyapun belum di rasakan, ketika mereka berjalan beriringan, beberapa anak panah telah menyerang mereka tanpa di awali dengan aba-aba serangan, "Sraaath....Sraaath...Craph...Craapph!"


Ke tiganya kemudian dengan gesit meloncat kesana kemari menghindari serangan anak panah, mereka seperti anak kelinci yang telah masuk perangkap, tidak ada jalan untuk meloloskan diri atau lari.


Pedang ketiganya kemudian berkekebat menangkis serangan anak panah yang semakin deras meluncur, "Traang...Traaang...Traaang!"


Beberapa anak panah dapat di tangkis, tetapi tak urung beberapa anak panahpun ada yang dapat menyerempet tubuh mereka, membuat ketiganya terluka.


Darah bercucuran dari tubuh Bayu Lelana, Bayusuta maupun Maharani.


Salah satu yang memimpin penyerangan adalah Sencaki yang kemarin terlibat dalam penyerangan di Padepokan Bajing Loncat, "Serang dengan formasi Teratai, terdengar teriakan dari Sencaki yang memberikan aba-aba kepada yang lain.


Posisi ke tiganya kemudian di kurung dengan bentuk lingkaran yang berlapis, lapisan lingkaran pertama menyerang, lapisan lingkaran kedua menangkis, membuat serangan itu tidak memberikan nafas sedikitpun kepada putra dan putri Ki Pandusora.


"Wuuush...Wussh!"


Kelebatan pedang saling menyusul di antara mereka, tangkisan dan tebasan silih berganti.


Tetapi tenaga ketiganya tidak dapat mengimbangi puluhan para pendekar dan prajurit anak buah dari Sencaki, hingga suatu ketika, "Sraaath...Craakh...Craaakh...Aaakh...Aaakh!"


Punggung Bayusuta terkena tebasan pedang, sedangkan Bayu Lelana sendiri terkena tebasan pedang sekitar perutnya sehingga membuat keduanya jatuh berlutut, "Kakang...Kakang!" terdengar teriakan Maharani yang meloncat dan menangkis serangan lanjutan yang menyerang Kakaknya.


"Nimas, kau harus berusaha menyelamatkan diri untuk membalas perlakuan mereka terhadap keluarga kita! kau harus tabah menghadapi semuanya Nimas!" dengan nafas tersengal Bayusuta melirik kepada Bayu Lelana yang masih berlutut menahan tubuhnya dengan pedang.


"Saat kami menerobos samping kanan, larilah secepatnya ke arah tenggara, jangan kau pernah menengok ke belakang, ingat jangan perdulikan teriakan kami Nimas!"


Dengan air mata yang berderai, Maharani menganggukkan kepalanya, "Aku menyayangimu Kakang!"


"Hiaaath....Hiaaath...Bayusuta dan Bayu Lelana melakukan serangan pamungkas, mereka tidak memperdulikan serangan dari arah lain, pedang-pedang mereka hanya fokus ke arah samping kanan untuk membuat lubang meloloskan diri bagi adiknya, "Hiiiaath..Craaash...Craash...!"

__ADS_1


"Lari Nimas!" Bayu Lelana kemudian melemparkan tubuh Maharani dengan kekuatan penuh melewati penyerangnya, setelah menjejakan permukaan tanah, Maharanipun berlari dengan sebat.


"Craaash...Craash...Aaaakh...Aaakh!"


Terdengar suara Bayusuta dan Bayu Lelana yang telah jatuh tertebas serangan-serangan lawan.


Maharani mendengar suara teriakan dari kedua kakaknya, ia berlari sambil menangis. ingin sekali dia mati bersama saudara-saudaranya, tetapi Maharani teringat pesan terakhir dari Bayu Lelana membuatnya melanjutkan pelarian.


Sencaki tidak serta merta berdiam diri melihat ada korbannya yang bisa meloloskan diri, kemudian ia pun berteriak memberikan.perintah, "Kejar wanita itu, jangan sampai meloloskan diri!"


Penyerang-penyerang itu pun kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Maharani, mereka berkelebat berusaha mengejar...


Pasukan pemanah yang bersiaga dari kejauhan melesatkan anak panah mereka ke arah Maharani yang semakin lama semakin jauh, "Sraaath....Sraaaath!"


Salah satu anak panah menembus betis kakinya, "Craaaph...Aaakh...Bruuukh! membuat tubuh Maharani jatuh dan terguling-guling.


Tubuh Maharani berhenti ketika menabrak batu yang menonjol di atas gundukan tanah.


Dengan tubuh yang bermandikan darah, Maharani berusaha bangkit dan berdiri, darah akibat luka yang di deritanya menetes mengenai batu yang sekarang dia pegang untuk menahan tubuhnya.


"Kalian biadab!"...terdengar suara teriakan lemah yang di milikinya.


Beberapa musuh mengelilinginya dengan wajah yang tidak memberikan ampunan, "Nisanak, giliranmu menyusul saudara dan orang tuamu!"


Dengan putus asa, tangan Maharani menyapu tanah, ia mendapatkan bilah besi berkarat lalu menggenggamnya, dengan suaranya yang lemah ia pun berteriak dan mencoba menyabitkan besi tersebut ke arah pengeroyoknya.


"Hiaaath....Sraaaath...!"


Tanpa di sadari oleh Maharani, dari bilah besi berkarat yang di sabitkannya meluncur tebasan sinar hitam yang lebar.


"Wusssh....! Sreeekh!"


"Aaarkkkh....Aaarkh....Bruuukh...Bruuukh!"

__ADS_1


__ADS_2