Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Keraton Pakungwati


__ADS_3

Kemegahan Keraton Pakungwati terlihat dari luar, gerbang yang berwarna putih dan di lingkari warna hijau menambahkan aura yang berisi kewibawaan segenap rakyatnya.


Salah satu tempat yang masuk dalam lingkungan Keraton adalah Keputren Utama.


Di dalam keputren utama, terlihat seorang wanita yang sangat cantik jelita sedang menatap taman seorang diri dari jendela kamar, indahnya taman keputren seharusnya akan membuat suasana hati semakin nyaman dan tentram bagi yang memandangnya.


Putri Harisbaya, wanita cantik jelita yang sedang menatap taman tersebut tidak merasakan keindahannya, hatinya gundah gulana, terlihat ada tetesan air mata di pipinya.


Telah satu purnama Putri Harisbaya menjadi permaisuri dari Panembahan Ratu, seorang penguasa wilayah Cirebon yang sekarang bertahta menjadi Raja yang adil dan bijaksana.


Mata yang berkaca-kaca mengalihkan pandangannya ke cahaya bulan yang terhalang oleh awan hitam, membuatnya mengenang peristiwa beberapa tahun yang silam ketika dirinya masih berada di Pajang.


Pangeran Angkawajiya, Putri Harisbaya dan Pangeran Mas Zainul Arifin, ketiganya menimba ilmu di tempat yang sama yaitu Kerajaan Pajang yang saat ini sedikit demi sedikit tergantikan oleh kekuasaan Mataram.


Ketiganya adalah golongan bangsawan yang pintar dan cerdas dan sama-sama memiliki paras rupawan, ilmu kenegaraan dan pemerintahan telah di kuasai oleh Pangeran Mas maupun Pangeran Angkawijaya. sehingga keduanyapun kembali ke asal masing-masing dan menjadi penguasa.


Pangeran Mas menjadi seorang Raja di wilayah kerajaan Cirebon dengan gelar Panembahan Ratu sedangkan Pangeran Angkawijaya menjadi seorang Raja di Sumedang Larang yang setelah di nobatkan bergelar Prabu Geusan Ulun.


Sedangkan Putri Harisbaya tetap tinggal di Keraton Pajang dengan Asa dan harapan suatu hari nanti Pangeran Angkawijaya akan menjemputnya untuk menjadikannya pendamping sampai mereka di jemput ajal, itulah Janji Pangeran Angkawijaya ketika pergi meninggalkannya.


Hidup bukanlah insan yang menentukan, takdir dari Sang Pencipta berkata lain, Pangeran Angkawijaya yang di harapkan ternyata tidak pernah kembali untuk menjemputnya.


Politik penyatuan kekuasaan berjalan, Pangeran Hadiwijaya sebagai penguasa Pajang ingin mempererat hubungan politik dengan Kerajaan Cirebon yang di pimpin Panembahan Ratu.


Akhirnya Putri Harisbaya sebagai putri Pajang berdarah bangsawan Madura pun menjadi tonggak sebagai bukti kerjasama kedua kerajaan tersebut, di tandai dengan perkawinan antara Panembahan Ratu dengan Putri Harisbaya, walaupun setelah itu ternyata Mataram lah yang kemudian lebih berkuasa daripada Pajang.

__ADS_1


Terlihat Kilat menyambar-nyambar di atas Keraton Pakungwati, suara Petir bersahut-sahutan, "Duaaarh...Dhuuarh!" membuat Putri Harisbaya tekejut dan tersadar dari lamunannya.


"Adinda apa yang sedang kau lakukan di sini?" terdengar suara yang sangat ia hapal dari belakang punggungnya.


Setelah membalikan tubuhnya, Putri Harisbaya kemudian bersimpuh sambil berkata "Mohon maaf Kanda Prabu, aku tidak menyambut kehadiranmu di Keputren ini!" ternyata Panembahan Ratu telah berada di Keputren untuk mengunjunginya.


"Tidak apa-apa Adinda! mungkin engkau terlalu menikmati pemandangan indah di luar, kembalilah ke kamarmu! hujan akan segera turun, angin dingin sangat tidak baik untuk kesehatanmu!"


"Baik Kanda Prabu, Putri Harisbaya kemudian berjalan pelan menuju ke kamarnya di dampingi oleh Panembahan Ratu.


Hujan deras telah turun, menimbulkan suara yang bergemeratak di atas atap, suara petir yang keras bergantian dengan Kilat yang terus menyambar di atas Keraton Pakungwati.


Dari kejauhan terlihat seseorang berdiri tegak, tubuhnya basah kuyup terguyur hujan yang begitu deras, air hujan tidak menghalangi tatapan tajamnya yang sedang mengawasi sekitar Keputren utama.


Setelah beberapa saat dia berdiri sendiri, dari arah selatan nampak bayangan yang sangat cepat menerobos derasnya hujan mendekati sosok tersebut.


"Aku mempunyai firasat yang aneh, saat semalam aku bersemedi, terlihat banjir darah yang berasal dari Keputren Utama, apakah kau dapat menafsirkan firasat ku Kakang Bungko!"


Ki Geden Bungko, Panglima perang kerajaan Cirebon untuk wilayah laut hanya menepuk bahu Ki Manggala Sakti,."tenanglah Adi! kita nanti akan selidiki!"


Ke duanyapun berjalan menjauh, Ki Gede Bungko berjalan di depan dengan pakaian yang tetap kering karena derasnya air hujan ternyata tidak membuatnya basah seperti Ki Manggala Sakti.


Ki Manggala Sakti memperhatikan langkah kaki Ki Gede Bungko, telapak kakinya yang berjalan tidak membekas terhadap tanah lumpur yang di pijaknya.


Akhirnya mereka berduapun sampai di tempat kediaman Ki Manggala Sakti yang tidak jauh dari Keraton Pakungwati.

__ADS_1


Setelah Ki Manggala Sakti berganti pakaian, mereka berdua terlibat pembicaraan.


"Kakang, entah mengapa akhir-akhir ini kewaspadaanku meningkat tidak seperti biasanya, sebagai pimpinan pasukan khusus, aku telah berkeliling ke sekitar daerah perbatasan Cirebon, tetapi aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan atau sesuatu yang sangat membahayakan bagi rakyat Cirebon, aku mohon petunjukmu Kakang!"


"Nalurimu adalah naluri seorang prajurit Adi! mungkin dalam tidurmu pun hanya bermimpi tentang perang!...He..He..He!" Ki Gede Bungko berusaha mencairkan suasana, agar Ki Manggala Sakti tidak terlalu tegang.


Ki Gede Bungko kemudian menyalakan kretek daun Kawung dan menghisapnya, "Wussh...Asap yang berasal dari kretek tembakau daun kawung yang di hembuskan Ki Gede Bungko mengambang di udara.


"Adi, menurutku kewaspadaanmu tentang suatu hal yang belum terlihat secara kasyaf mata sangatlah penting, tetapi jika seseorang terlalu tegang dan fokus secara berlebihan, hanya akan mengakibatkan kelengahan terhadap sesuatu yang kecil dan tidak pernah terpikirkan, padahal bahaya yang besar biasanya terjadi dari sesuatu yang sebelumnya kita kesampingkan!"


"Kau harus paham Adi! sesorang terjatuh biasanya bukan karena menabrak dinding bukit, tetapi mereka banyak yang jatuh karena tergelincir akibat menginjak kerikil yang kecil!"


"Terimakasih atas wejanganmu Kakang Bungko!"


"Baiklah Adi Manggala, aku akan kembali! selamat beristirahat!" kemudian Ki Gede Bungko pergi meninggalkan Ki Manggala Sakti yang masih duduk di kursi tamu.


Setelah suasana menjadi hening, dan yang terdengar hanya tetesan air hujan, Ki Manggala Sakti menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan mata terpejam, tanpa terasa kemudian ia pun tertidur pulas.


Tiba-tiba dari arah depan sebuah Kudjang meluncur dengan deras, "Wuuush...bagian ujung tajam mengarah jantung Ki Manggala, "Sraaath...Beruntung dengan cepat kedua tangan Ki Manggala langsung menangkap dengan tepat, ujung Kudjang itu masih ada jarak serambut dengan kulit dadanya.


Ternyata daya luncur Kudjang setelah di apit kedua tangan Ki Manggala tidak berkurang, tenaga luncurannya masih besar dan terus berusaha mendorong, "Rrrggggh...Rrrgggh!" terjadi saling dorong antara tangan Ki Manggala Sakti dengan senjata Kudjang.


"Rrrgggh...Jleeebh!" ternyata daya dorong Kudjang lebih besar, sehingga ujungnya kemudian berhasil menancap di dada Ki Manggala Sakti sampai dalam "Aaaakh....!"


"Kakang, bangun Kakang!...Bangunlah!" seorang wanita sepuh membangunkan Ki Manggala yang sedang berteriak dalam tidurnya.

__ADS_1


"Setelah matanya terbuka, Ki Manggala Sakti langsung memegang lengan istrinya, "Aakh...Syukurlah, ternyata tadi aku bermimpi Nimas!"


"Sudah beberapa kali aku ingatkan kepadamu Kakang, jangan tidur di kursi! ayolah masuk ke kamar kita!" kemudian istri Ki Manggala Sakti menggandeng lengan suaminya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2