Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Dilema Sebuah Perintah


__ADS_3

Ke empat Kandaga Lante sedang berkumpul di balirung Balai Prajurit, ke empatnya menghadapi Ki Indrayasa dan Citraloka yang duduk bersila.


"Indrayasa, apakah engkau tahu kenapa kalian aku panggil?" dengan suara yang pelan Ki Jaka Perkasa membuka pembicaraan mereka.


"Maaf Kakang, aku tidak mengetahuinya dan tidak berani menerka apa yang engkau pikirkan!"


"Kau dari dulu selalu patuh, jiwamu jiwa prajurit yang tidak mungkin bisa berubah Indrayasa! karena itulah aku berharap kau ikut bergabung untuk mendirikan kembali kejayaan Padjajaran!"


Indrayasa dan Citraloka muridnya hanya menunduk, tidak menyela ataupun memotong pembicaraan Ki Jaka Perkasa.


"Ki Jaka Perkasa melanjutkan pembicaraannya, "Seperti yang kita ketahui bersama kemarin, ada suatu peristiwa yang tidak kita inginkan, Cucu dari Adi Pancar Buana telah bentrok dengan Adi Kondang Hapa hanya karena kesalah pahaman."


"Aku ingin Wirayudha kembali ke Balai Prajurit secepatnya, dan memberikan tugas kepada muridmu Citraloka untuk melaksanakannya, apakah kau bersedia Citraloka?"


Indrayasa dan Citraloka saling menatap, dan mencoba berpikir serta memahami kenapa harus Citraloka yang melaksanakan tugas tersebut.


"Seperti biasa Indrayasa! tidak ada waktu dan kesempatan bagi kalian untuk menanyakan sebab, kenapa tugas ini aku serahkan kepada muridmu, sekarang silahkan kau meminta arahan kepada Adi Pancar Buana, Kondang Hapa ataupun Wiradijaya, kapan kau akan berangkat dan detail tugas yang harus Citraloka lakukan!'


"Baik Kakang, aku akan bermusyawarah terlebih dahulu kapan muridku harus berangkat!"


"Pergilah kalian semua! dan kau Kondang Hapa, tuntaskan tugasmu untuk melenyapkan wanita tua itu!"


Akhirnya semuanya keluar dari Balirung Balai Prajurit. Kondang Hapa, Ki Pancar Buana dan Wiradijaya saling berpandangan, mereka tidak mengira Ki Jaka Perkasa masih memerintahkan Kondang Hapa untuk membunuh Nini Sangga Geni, padahal sebelum mereka memanggil Indrayasa dan Citraloka, Ki Pancar Buana dan Wiradijaya sudah menceritakan tentang Nini Sangga Geni kepada Ki Jaka Perkasa.


"Indrayasa, untuk tugas muridmu segeralah laksanakan! mintalah keterangan kepada Genta Buana di mana kalian bisa menemukan Wirayudha.

__ADS_1


"Baik Kakang!" Indrayasa dan Citraloka kemudian kembali ke tempat di mana mereka sebelumnya menginap.


Kondang Hapa merasa kebingungan dengan tugas yang dia emban, "Apa yang harus aku lakukan Kakang? Kakang Jaka Perkasa menginginkan Wirayudha untuk bergabung dengan kita, sedangkan kita harus melenyapkan gurunya, bagaimana rencana ini akan berjalan sedangkan keduanya saling bertolak belakang?" pertanyaannya di tunjukan kepada Ki Pancar Buana.


Setelah mencoba berpikir dengan keras, Ki Pancar Buana kemudian bergumam, tetapi Kondang Hapa dan Wiradijaya mendengarnya dengan jelas, "kita harus menyusun rencana yang baik, karena aku sendiri tidak ingin kehilangan cucuku yang baru saja aku temukan!" kemudian ketiganya menyusun siasat di pendopo Ki Pancar Buana.


Sementara itu di kamarnya, Indrayasa sedang memberikan perunjuk kepada muridnya, "Citraloka, sebenarnya dengan mudah aku dapat menerka mengapa engkau yang di berikan tugas oleh Gusti Panglima, kemungkinan besar beliau tahu kedekatanmu dengan Wirayudha!"


"Guru, aku mempunyai firasat yang tidak baik, di balik ini semua pasti ada sesuatu yang akan Gusti Panglima lakukan terhadap Wirayudha!"


"Akupun merasa demikian Citra!"


"Guru, aku tidak rela jika Wirayudha mendapatkan celaka! apalagi aku harus ikut serta untuk mencelakakannya!" wajah Citraloka terlihat menahan ketegangan.


Pandangan mata Indrayasa terlihat kosong dan beralih menatap dinding kayu ruangan, "aku sangat hapal dengan sikap dan tabiat dari Kakang Jaka Perkasa, sekali perintahnya di langgar, nyawa akan melayang, aku tidak mau melihat kau celaka Citra!"


"Sabarlah Citra, kita juga harus mempunyai rencana yang matang dalam melaksanakan tugasmu, mudah-mudahan kita mendapatkan jalan terbaik."


Di jalanan Kutamaya, Lestari sedang melangkah dengan cepat, baru setelah berada di tapal batas Kutamaya, Lestari mempergunakan ilmu meringankan tubuh, ia berlari dengan kecepatan yang tidak biasa, tujuannya satu yaitu ke Grojokan Sewu untuk menyusul Wirayudha dan Nini Sangga Geni.


Walaupun ia melihat Wirayudha masih dalam keadaan baik, tetapi Lestari menaruh khawatir yang teramat sangat, teringat di matanya ketika Wirayudha terpental dan terluka akibat tuah dari Keris Naga Runting milik Kondang Hapa.


"Wira, apa yang terjadi padamu?...Aakh aku tidak ingin sesuatu terjadi yang bisa membuatmu celaka!" pikiran itu terus mengganggunya, ke khawatiran itu membuat pelarian Lestari bertambah cepat.


Dalam kekalutannya Lestari tidak menyadari, Ganda Permana yang selalu memata-matainya terus bergerak membayangi kemana Lestari berlari.

__ADS_1


"Aku yakin, kepergiannya bukan dalam menjalankan tugas, pasti ini ada kaitannya dengan anak muda bedebah itu!" Ganda Permana terus membayangi kecepatan lari Lestari.


Kita ikuti kembali perjalanan dari Wirayudha yang sedang membawa Nini Sangga Geni, mereka telah sampai di daerah Sindang Kasih, "Wira, apakah kemampuanmu bercakap dengan Alap-alap masih kau kuasai? aku pernah menjumpai seseorang yang bercakap dengan seekor burung Gagak! aku merasakan kesaktiannya sangat luar biasa, sehingga aku sendiri memutuskan untuk menghindar darinya!"


"Siapakah yang kau maksud Nini?"


"Aku bertemu kembali dengan sosok itu di Balai Prajurit, dan yang menjadi lawanku kemarin sepertinya sangat menghormati dia!"


"Aku tahu siapa yang kau maksudkan Nini, ia adalah Ki Jaka Perkasa memangku jabatan Panglima Perang di Kerajaan Sumedang Larang!" Wirayudha menatap Nini Sangga Geni yang sedang duduk di depannya.


"Jaka perkasa?" Nini Sangga Geni sampai terperanjat mendengar keterangan dari Wirayudha.


"Benar Nini, apakah kau mengetahui sesuatu tentangnya?"


"Sebentar Wira, kau kemarin pernah menyebutkan seseorang yang bernama Ki Pancar Buana, kalau tidak salah kaupun menyebutkan dia yang mempunyai Ajian Paksi Buana?"


Wirayudha menganggukan kepalanya untuk mengiyakan pertanyaan dari Nini Sangga Geni. Sebelum Wirayudha menceritakan hubungannya dengan Ki Pancar Buana, Nini Sangga Geni mengatakan sesuatu kembali, "Wira, sepertinya kita akan berhadapan dengan orang-orang yang Mumphuni, ketahuilah Ki Jaka perkasa atau Hyang Hawu adalah adik seperguruan dengan Eyang Gurumu Ki Balung Putih, Ia seorang yang patriotik yang sangat cinta tanah air, dan berani berkorban untuk Kerajaan Padjajaran, tetapi kenapa dia sekarang mengabdi di Kerajaan Sumedang Larang?"


Wirayudha terdiam dan lebih memilih untuk melanjutkan mendengarkan keterangan dari Nini Sangga Geni.


"Jaka Perkasa, Pancar Buana, Kondang Hapa dan Wiradijaya adalah Senopati-senopati ulung dalam pertempuran, aku baru menyadarinya Wira, mereka telah bersatu kembali dalam sebuah naungan di Kerajaan Sumedang Larang, dulu mereka tercerai berai karena serangan dari gabungan para Wadyabala Cirebon dan Banten."


"Aku tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab peperangan dari ketiga kerajaan besar tersebut, yang aku tahu mereka adalah satu keturunan dari Gusti Prabu Siliwangi, baik dari Kerajaan Cirebon maupun Banten, dan Prabu Geusan Ulun pun putra dari Pangeran Santri, dan mempunyai ikatan darah dengan Panembahan Ratu yang kini menjadi Raja di Kerajaan Cirebon."


"Aku tidak berharap Ke tiga Kerajaan tersebut berperang kembali "Wira! Jika terjadi, mau tidak mau peperangan itu nanti akan menyeret Kerajaan Mataram ikut serta di kancah pertempuran!"

__ADS_1


"Nini, aku sangat kagum sekali kepadamu, ternyata pengetahuanmu tentang tatar sunda sangatlah luas!"


"Pengetahuanku hanya terbatas Wira! bisa saja penjelasanku tentang peristiwa itu keliru!"


__ADS_2