
Wirayudha dan Nini Sangga Geni telah tiba di pendopo Kadipaten, mereka di persilahkan istirahat terlebih dahulu untuk mengikuti perjamuan nanti malam.
Pendopo Kadipaten Pemalang sangatlah luas dan bagus, walaupun masih kalah dengan Kotaraja Mataram, tetapi tempat itu sangat asri dan nyaman.
"Wira, apakah kau pernah bermimpi bisa tinggal di rumah yang indah seperti ini?" Nini Sangga Geni memandang halaman sambil bertanya.
"Tidak Nini, rasanya aku tidak betah terlalu lama di tempat seperti ini! aku lebih nyaman di dalam hutan, dengan air sungai yang mengalir sambil menikmati kicauan burung!"
"Hik...Hik..Hik, Parasmu saja yang seperti bangsawan Wira! seleramu tidak jauh dengan orang-orang dukuh terpencil."
Setelah hari menjelang sore, Wirayudha membersihkan diri, sengaja Nini Sangga Geni memilihkan pakaian yang paling bagus untuknya, Nini Sangga Geni memperlakukan Wirayudha seperti anak kecil di saat dia berpetualang pertama kalinya dengan Wirayudha.
"Rambutmu harus di rapihkan!" Nini Sangga Geni menyisir rambut Wirayudha sehingga rapih, anak-anak rambutnya di biarkan tergerai di antara dahi dan pipi, setelah memandangi Wirayudha, Nini Sangga Geni duduk di kursi, "Aku ingin melihat, bagaimana saat Putri Hanjar memandangmu nanti!"
"Ada apa dengan Putri Hanjar Nini?"
"Aku tidak mau dia merendahkanmu Wira,.berikan penampilan yang terbaik!"
"Wirayudha memakai baju yang ringkas berwarna biru, baju itu sederhana tetapi membuat Wirayudha terlihat gagah dan tampan.
"Wira, aku nanti tidak ikut perjamuan makan malam, biarlah aku menunggumu di sini, jagalah sikapmu! tidak usah kau menanyakan alasannya, katakan saja kalau aku kelelahan!"
Nini Sangga Geni sangat tahu diri, dengan kehadiran dirinya akan membuat pesona Wirayudha akan berkurang, biarlah Wirayudha menikmati sanjungan tanpa kehadirannya, kebahagian Wirayudha dapat memberikan kebahagian tersendiri untuknya.
Saat Wirayudha masuk ke balirung pendopo, semua yang ada di sana terpana saat memandangnya, tidak terkecuali Putri Hanjar.
Ternyata acara tersebut bukan hanya untuk perjamuan Wirayudha seorang, perjamuan itu adalah pertemuan keluarga para bangsawan, hanya karena melihat kemampuan kanuragan Wirayudha, Adipati Suryonegoro turut serta mengundangnya.
Putri Hanjar tersenyum sangat senang melihat kehadiran Wirayudha, karena pesonanya membuat dirinya ikut bangga. Kehadiran Wirayudha tidak hanya membuat para gadis yang berada di situ terpesona, tetapi menimbulkan keirian dan kedengkian para laki-laki muda yang lain.
"Selamat datang Wira, ayolah jangan sungkan, duduklah di antara kami!" dengan gaya yang akrab Putri Hanjar menggandeng Wirayudha dan mengajaknya duduk.
Seorang anak muda yang terlihat paling sinis di antara mereka berdiri "Hei Nimas Hanjar, mintalah dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum duduk bersama kita! bangsawan dari Kadipaten manakah dia?"
Putri Hanjar hanya terdiam, wajahnya menatap Wirayudha, seperti menyetujui saran dari perkataan anak muda tadi.
Wirayudha kemudian menjura memberikan penghormatan kepada yang hadir, kemudian memperkenalkan diri, "Namaku Wirayudha, bukan berasal dari bangsawan Kadipaten manapun, aku hanya seorang pengembara yang mendapatkan undangan dari Adipati untuk hadir!"
__ADS_1
"Kalau kau bukan seorang bangsawan, apakah kau merasa pantas untuk duduk bersama kami?" seseorang yang lainpun menyahut dengan nada yang mengejek.
Hati Wirayudha merasa panas mendengarkan ejekan dari mereka, kemudian menatap dan berbicara sinis kepada Putri Hanjar, "Tuan Putri, apakah kau sengaja mengundangku untuk mempermalukan diriku?"
Putri Hanjar merasa jengah dengan perkataan Wirayudha, karena tidak ada niatan sedikitpun darinya untuk mempermalukan, "Tidak Wira! kau salah kira!"
"Ha..Ha..Ha, kalau memang Nimas Hanjar sengaja ingin mempermalukan dirimu, apa masalahmu Kisanak?" "Bruukh..!" setelah mengatakan demikian, anak muda yang pertama berbicara kepada Wirayudha tadi, melemparkan sebuah wadah di atas meja yang berada di depan Wirayudha berdiri.
"Kalau kau hanya memerlukan makanan! bungkuslah makanan secukupnya dan kau makanlah di luar!"
"Ha...Ha...Ha...!"
Terdengar gelak tawa di antara mereka sambil menatap Wirayudha.
Dengan menahan kemarahan Wirayudha akhirnya membalikan badan sambil berkata kepada Putri Hanjar, "Tuan Putri, terimakasih telah mengundangku! aku tidak terbiasa makan dengan sekumpulan kucing yang hanya bisa mengeong ketika lapar!"
Putri Hanjar hanya mematung diam, yang terjadi saat itu sangat di luar perkiraannya, wajahnya memerah karena marah melihat perlakuan para bangsawan laki-laki yang berada di sana.
Tetapi kejadian di depannya terus berlangsung tanpa dapat ia cegah.
"Hiaaat...Wuush...Wusssh...: beberapa pukulan dan tendangan mengarah ke tubuh Wirayudha yang membelakangi mereka.
Wirayudha yang tadi menahan amarah, melihat ada yang menyerang dirinya, segera berbalik dan mengeluarkan "Pekikan Naga Langit"..
"Kraaaakggggh!!!....Braaakh...Braaakh!"
"Aaarkh....Aakkkh!" Semua penyerangnya terlempar ke belakang menggusur kursi dan meja tempat hidangan sampai membentur tembok balirung pendopo.
Suasana perjamuan seperti terkena lindu yang getarannya keras, mengalami kerusakan yang teramat sangat.
Wirayudha masih bersiap berdiri berniat akan melanjutkan serangan, kedua matanya muncul cahaya biru yang memancar, karena Naga Langit akan muncul di saat dia di kuasai kemarahan.
"Grrraaaahhh!!!...
Kembali Wirayudha memekik dengan seluruh tenaga dalamnya, "Blaaaarh!...Blaaarh!" seluruh atap balirung pendopo terlempar ke atas dan hancur berkeping-keping terkena getaran suara Pekikan Naga Langit.
Semua penghuni Balirung terlempar keluar, tidak terkecuali Putri Hanjar yang jatuh berguling ketika akan meloncat mencoba menghindar.
__ADS_1
Adipati Suryonegoro yang melihat keadaan itu mencoba menghentikan Wirayudha, "Hiiaaaath...Wuuush!... kedua tangannya di dorong mengarah Wirayudha, meluncur gelombang cahaya putih melabrak..."Dheaaaerh....!..
Tubuh Wirayudha yang terkena gelombang cahaya tidak bergeser sedikitpun, matanya yang menyorong ganas kini menatap Adipati Suryonegoro dengan mengerikan membuat Sang Adipati mundur tersentak.
"Hrrrrkh....Sraaarth....Wirayudha mendengus sambil mengibaskan tangan kanannya, seleret deru angin menyabar tubuh Adipati Suryonegoro membuat tubuhnya terpental...Desssh!"
Wirayudha berjalan menghampiri para bangsawan yang tadi mengejeknya, mereka masih dalam keadaan berlutut, mereka baru saja berusaha bangun saat tadi terseret gelombang suara Pekikan Naga Langit.
Wajah-wajah kesakitan dan ketakutan bercampur menjadi satu menatap Wirayudha.
Adipati Suryonegoro dan Putri Hanjar masih terperangah, mereka tidak mengira bahwa kesaktian Wirayudha begitu sangat tinggi.
Putri Hanjar berlari menghampiri ayahnya, "Anakku, apa yang telah terjadi sebelumnya?" Adipati Suryonegoro menatap Putrinya dengan cemas, dengan singkat putri Hanjarpun menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Siapa yang kalian andalkan saat ini?" terdengar suara Wirayudha menghardik.
Tidak ada yang berani menjawab hardikan Wirayudha, mereka masih berlutut ketakutan.
"Wiraaa...Hentikan semuanya!" Nini Sangga Geni berteriak menghampiri Wirayudha, yang kemudian perlahan menjadi normal kembali.
Wirayudha dan Nini Sangga Geni duduk di reruntuhan atap yang hancur, kemudian Adipati Suryonegoro dan putrinya pun bergabung., "Wira, aku mohon maaf atas kesalah pahaman ini!" Adipati Suryonegoro mendekati Wirayudha yang masih duduk terdiam.
Putri Hanjar sendiri tidak dapat mengucapkan apapun, hatinya sungguh sangat kecewa dengan kejadian yang telah berlangsung, hatinya telah terpaut kepada Wirayudha, sedangkan kejadian itu pasti telah membuat harapannya yang ingin dekat dengan Wirayudha menjadi sirna.
Wirayudha dan Nini Sangga Geni tidak menanggapi apa yang di ucapkan Adipati Suryonegoro, mereka kemudian berdiri dan berjalan menuju keluar.
"Wiraa!.. apakah engkau akan pergi begitu saja?" Putri Hanjar tanpa sadar berteriak memanggil.
Wirayudha membalikan tubuhnya dan memandang Putri Hanjar, "apa lagi yang kau inginkan tuan putri yang terhormat?"
"Aakh...Wiraa!
Kesal, merasa bersalah, tetapi tidak rela di tinggalkan, membuat Putri Hanjar menangis.
Tetapi Wirayudha tidak menghiraukan apa yang terjadi pada putri Hanjar, berdua dengan Nini Sangga Geni, melanjutkan langkahnya kembali.
Adipati Suryonegoro melampiaskan kemarahannya kepada para bangsawan yang masih berlutut dan cidera, tendangan dan pukulannya silih berganti menghantam mereka.
__ADS_1