Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Lodaya Dari Kawali


__ADS_3

Genta Buana terus saja mengikuti Ki Indrayasa, ternyata yang di sebutkan itu adalah Gunung Sawal, selanjutnya mereka berlari menuju puncak yang di kenal oleh penduduk dengan nama Puncak Karantenan.


Kediaman Ki Indrayasa hanya terlihat gubuk yang sederhana beratapkan daun rumbia dan pelepah pohon kelapa, dindingnya pun hanya terbuat dari batang-batang pohon yang terbelah.


Bukan gubuk sederhana yang menjadi pesona pertama terlihat oleh Genta Buana, tetapi sosok wanita yang sangat cantik yang sedang berlatih kanuragan di sekitar halaman, teriakan-teriakannya terdengar semangat, sosok wanita itu dengan lincah bergerak kian kemari, ada suatu keanehan yang menjadi perhatian Genta Buana, gerakan-gerakan olah tubuh wanita itu tidak biasa, dan tidak terlihat indah seperti gerakan silat pendekar wanita pada umumnya.


Gerakan jurusnya cenderung sangat kejam, cengkeraman, sambaran, dan tusukannya dari mulai awal cenderung kejam dan bukan hanya sekedar untuk melumpuhkan tetapi mematikan.


"Citraloka, hentikanlah latihanmu! sajikan jamuan untuk tamu kita!" terdengar teriakan dari Ki Indrayasa memanggil wanita tersebut.


"Hiaaath..Sraaph, dengan loncatan mirip Harimau, Citraloka berjumpalitan dan mendarat di permukaan tanah, "Baik guru!"..


Wajah cantik berambut panjang yang terjalin dengan serabutan menambah daya tarik Citraloka, tetapi saat berhadapan dengannya, ke kaguman bagi yang melihat akan sirna dengan sendirinya, bagian bola matanya yang hitam terlihat lebih kecil dari umumnya manusia, apalagi ketika terlihat menyahut perintah gurunya, gigi taring bagian kanan maupun kiri yang atas lebih panjang, ketika menyerigai terlihat menakutkan.


Citraloka kemudian berjalan ke belakang dan menyajikan jamuan sekedarnya kepada Genta Buana yang masih mengamati.


"Citraloka, duduklah di sini, kau dengarkan segala keterangan darinya!" Ki Indrayasa memerintahkan Citraloka duduk bergabung bersamanya.


"Aku ingin menyampaikan amanah dari Hyang Hawu "Ki! kemudian Genta Buana menyampaikan sama seperti kepada Kuwu Kusumadinata, hanya berbeda penyampaian yang memberikan amanah, ini adalah menandakan bahwa Ki Indrayasa mempunyai pamor yang lebih di bandingkan dengan Kuwu Kusumadinata.


"Aku memahami apa yang di harapkan Ki Jaka Perkasa, tetapi kaupun harus melihat secara keseluruhan Genta Buana! tidak hanya melihat dan merasa benar menurut pandanganmu saja! kalian pikir saat ini siapa yang akan kita hadapi?"


"Apakah kau tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak mengetahui? siapa yang akan kita hadapi? Panembahan Ratu dan Syeh Maulana Yusuf?"


Genta Buana tercengang dengan teguran Ki Indrayasa, karena ia tidak mengira seseorang yang berpenampilan seperti itu mempunyai pemahaman yang luas dan bisa menanyakan sesuatu yang menohok hatinya.


"Genta Buana! apakah menurutmu darah yang mengalir di tubuh Panembahan Ratu adalah darah orang lain? bukan darah Padajajaran?" Ki Indrayasa kembali menanyakan sesuatu yang membuat mulut Genta Buana terkunci rapat tidak bisa menjawab.


"Ha..Ha..Ha..Genta Buana! kau hanya diam membisu! aku adalah pejuang sejati yang tidak mengharapkan imbalan apapun di saat tanah air membutuhkanku, jika memang Wadyabala Cirebon akan menyerang Sumedang Larang, aku Lodaya dari Kawali akan berdiri di depan barisan yang terdepan, tetapi jika dengan sengaja Sumedang Larang akan menyerang Kerajaan Cirebon, hmm...Itu adalah suatu hal yang berbeda!", "itu lah jawabanku Genta Buana! sampaikan kepada Junjunganmu!"

__ADS_1


"Grrrrh...!" Mendengar gurunya berbicara dengan nada tinggi kepada tamu yang berada di depannya, Citraloka menggerung dengan pandangan tajam kepada Genta Buana.


Sebelum Genta Buana menjawab pernyataan dari Ki Indrayasa, pepohonan sekitar gubuk bergoyang dan bergetar sampai menimbulkan suara derak, "Rrrhhhh....Rhhhh!..


"Indrayasa!...Aku hadir untuk menemuimu! apakah kau tidak merindukan di saat-saat kita bersama memporak porandakan pasukan musuh!" terdengar suara jarak jauh yang mengetarkan, karena di kerahkan dengan tenaga dalam yang tinggi!"


Citraloka yang sedari tadi duduk, kemudian meloncat dan berdiri di depan gubuk dengan sikap siaga, tiba-tiba datang hembusan angin yang kuat dan kencang menerpanya, "Werrrrrh...!"


Rambut Citraloka berkibar-kibar terkena kekuatan angin,...Tubuhnya dengan gagah masih berdiri tanpa terpengaruh kekuatan angin.


Di saat angin kencang kembali datang, Citraloka berteriaka dan memutar kedua tangannya ke arah depan, "Hraaaah!...."


"Wuuush!"...Teriakan dan deru angin yang keluar dari tangannya, membuyarkan angin serangan lawan.


""Hua..Ha...Ha,.terdengar suara tertawa yang menggema, sebelum suara tawa itu hilang, terlihat bayangan berkelebat dengan cepat dan berdiri di depan Citraloka.


"Indrayasa! siapa pendekar wanita gagah yang berada di sampingmu?"


"Dia muridku Kondang Hapa!"


"Aissh...sebuah tambahan pendekar yang akan berdiri bersama barisan kita! boleh aku mengenalnya Indrayasa?" Kondang Hapa memandang Citraloka yang sedang tersenyum kepadanya sambil memperlihatkan deretan gigi putih beserta gigi taringnya.


"Citraloka! berikan sambutan yang terbaik untuk saudaraku Kondang Hapa!"


"Baik Guru!"


"Graaaah....Citraloka menarik tangan kirinya ke belakang, sedangkan tangan kananny ke depan dengan menekuk jari-jari membentuk cengkeraman.


"Wuuuth!.. Sambaran tangan kiri Citraloka dari atas ke bawah menimbulkan suara angin, Kondang Hapa berkelit sambil memperhatikan gerakan serangan kelanjutan.

__ADS_1


Cengkeraman tangan kanan Citraloka menerobos mengarah dada, tetapi dengan penuh perhitungan Kondang Hapa mundur dan menepis pergelangan tangan Citraloka, "Dessh...!"


Terjadi benturan kecil di antara tangan mereka, ternyata serangan Citraloka di kombinasikan dengan tendangan dari bawah yang mengarah dagu, "Wuuuth!...


"Uups...Hebat!, seruan kaget dari Kondang Hapa terdengar di saat dia mengelak dengan berjungkit balik ke belakang.


"Hraaakh!"...Tubuh Citraloka melenting mengejar dengan cepat, dengan sambaran-sambaran yang membahayakan ke arah vital tubuh lawannya.


Kondang Hapa menjatuhkan diri dengan cara terlentang, dan mengarahkan tendangan ke arah atas. "Wuuush!"...Draakh!" ternyata kaki yang menendang itu di sambar oleh cakaran tangan kiri Citraloka.


Kuku tajam Citaloka seperti membentur logam yang kuat tatkala berusaha menancapkan kukunya ke permukaan daging Kondang Hapa.


"Graaaumh!"....


Teriakan auman terdengar memekakan telinga, wajah Citraloka tertutup bulu-bulu belang putih, dan gigi taringnyapun bertambah mencuat melewati bibirnya.


"Breth...Brethhh!" terdengar suara robekan kain yang di kenakan Kondang Hapa yang terkena cakaran.


Kondang Hapa mulai mencoba menyerang untuk mengetahui kemampuan pertahanan dari Citraloka, tubuhnya bergerak cepat berputar dan berusaha menotok jalan darah Citraloka dari arah depan dan belakang.


"Hiaaath!"...Sraaath...Sraaath!"...Tusukan jari-jarinya bergerak sangat cepat, "Traakh...Trakh..Traakh, tusukan itu tepat mendarat di tubuh Citraloka, tetapi jari-jarinya seakan menusuk karang yang keras dan tidak mempengaruhi Citraloka.


Dengan senyum seringai lodayanya Citraloka hanya menatap dengan buas kepada Kondang Hapa, dan bersiap untuk menyerang kembali.


Kemudian keduanya kembali melakukan serangan dan bertahan secara bergantian. sampai dengan berpuluh jurus.


"Cukup Citraloka!...Hiiaath...Desh!, Kondang Hapa menekuk tangannya kemudian melepas serangkum angin panas yang menderu, kali ini Citraloka terdorong hingga 10 langkah ke belakang menandakan tenaga dalamnya masih kalah jauh dengan Kondang Hapa.


"Hmm...Muridmu tangguh juga Indrayasa!"

__ADS_1


__ADS_2