Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Kericuhan Di Palimanan


__ADS_3

Hari menjelang siang ketika Wirayudha dan Lestari tiba di Pedukuhan Palimanan, untuk menghilangkan penat, keduanya duduk di bawah pohon yang rindang.


Tidak jauh dari tempat mereka beristirahat, ada keramaian dan terdengar tepuk tangan dari kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan sesuatu.


Karena rasa penasaran, Wirayudha dan Lestari bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri kerumunan.


Terdengar musik mengalun, ada suara kendang yang di tabuh dan di iringi suara seruling, di tengah-tengan penonton terlihat seorang gadis yang sedang di ikat seluruh tubuhnya, mulai dari kaki, tangan dan tubuhnya pun di lilit oleh tali yang kuat.


"Apa yang sedang mereka pertunjukan Lestari?"


"Kau lihat sajalah dulu Wira!"


Kemudian musik mulai di tabuh dengan agak keras, Sang gadis yang sudah terikat kemudian di tutup dengan kain panjang yang menutupi dari kepala sampai ujung kaki.


Tubuh gadis itu di tutup dengan sebuah keramba yang berbahan bambu, dan di tutup kembali dengan kain yang berwarna hitam.


Terdengar sebuah tembang yang lembut yang di iringi musik yang mengalun.


Tidak lama kemudian, seorang laki-laki yang berikat kain hitam, mengelilingi Keramba bambu, sebanyak tujuh kali...


"Plash...Tiba-tiba kain hitam di lepaskannya, Keramba bambu pun di angkat, kemudian munculah gadis yang tadi di tutup kain dalam kondisi telah terlepas seluruh ikatanya, muncul dengan gaun seorang putri, ikatan yang melilit tubuhnya telah hilang tiada tersisa.


🎶Turun sintren sintrene widadari


Nemu kembang yun ayunan kembange putri Mahenra


Lamun dadi temuruna manjing karo sing dadi🎶!"


sebuah tembang mengiringi tarian yang di lakukan gadis tersebut, yang kini dengan lincah melakukan gerakan tarian dengan tersenyum.


"Plok..Plok..Plok!" terdengar tepukan tangan dari penonton, kemudian beberapa penonton maju menaruh kepengan uang logam di sebuah wadah kecil yang berada dekat gadis penari.


"Itu adalah seni budaya Sintren 'Wira! seni khas masyarakat Cirebon, terdengar suara bisikan Lestari menjelaskan kepada Wirayudha.


"Saudara-saudaraku, matur suwun kalian telah menyisihkan rejeki untuk pertunjukan kami!" terlihat laki-laki yang tadi mengelilingi keramba bambu menjura di hadapan para penonton.

__ADS_1


"Saudaraku, tiba saatnya kita menyaksikan seni Debus dari tatar Banten, yang akan di peragakan oleh putra kami sebentar lagi! kami mohon kerelaan..Untuk yang satu guru dan satu ilmu mohon jangan mengganggu pertunjukan kami!"


Setelah mengumumkan beberapa hal kepada penonton, laki-laki tersebut kemudian mengundurkan diri, di gantikan tiga pemuda yang bertelanjang dada maju ke tengah.


Kali ini pertunjukan yang mereka peragakan sangatlah mengerikan dan berbahaya.


Pertama, ke tiga laki-laki tersebut memperagakan memasak telur di atas kepala, bara api menyala di atas kepala salah satu pemuda, kemudian wajan mereka letakan di atas bara, di lanjutkan dengan memasak telur, tidak ada ekspresi kesakitan dari pemuda yang di kepalanya di letakan bara api.


Pertunjukan berlanjut, salah satu pemuda kemudian duduk berjongkok sambil menjulurkan lidah, oleh rekannya lidah tersebut berusaha di iris oleh golok yang tajam mengkilat.


Golok itu kemudian di gesek berulang kali di lidah, beberapa penonton terpaksa menutup matanya karena ngeri.


Terdengar tepuk tangan beberapa kali oleh penonton ketika lidah pemuda yang berusaha di potong itu tidak mendapatkan luka ataupun cidera, ya lidah mereka kebal tidak tembus oleh golok yang tajam.


"Ha..Ha..Ha, ilmu picisan! jangan kau peragakan untuk mencari makan di sini Kisanak!" terdengar suara dari salah satu orang yang berada di kerumunan penonton.


"Hiaaath...Sraaath...Crassh!"...Aaaakh!"


Tanpa di sadari oleh yang lainnya, orang tersebut melompat dan menghunus pedang, kemudian di tebaskan kepada pemuda yang tadi memperagakan kekebalan lidahnya, setelah punggung nya tertebas pedang, darah menyembur dan mengalir di iringi teriakan kesakitan.


"Lihat, mereka bukan lain hanya penipu! jika memang mereka kebal, seharusnya senjataku tidak dapat melukai mereka!"


Para pemain debus yang lain terlihat tergopoh-gopoh menolong rekannya, laki-laki yang tadi memimpin pertunjukan segera melompat ke depan.


"Haiikh...Jlegg!", "Anak muda, tega sekali kau melukai saudara kami! aku tadi izin terlebih dahulu kepada kalian, pertunjukan kami bukan untuk pamer Kanuragan, hanya sekedar mencari rejeki untuk membeli makanan!"


"Aaash...Tua bangka! jika kau tidak terima, cobalah hadapi aku!"


Terdengar suara kasak kusuk dari sekitar penonton, ternyata pemuda yang melukai pemain debus tersebut adalah putra Kuwu pedukuhan Palimanan yang terkenal sangat congkak dan sombong.


"Wirayudha tidak dapat menahan kemarahannya, ia pun langsung melompat di antara kedua laki-laki yang terlihat sedang adu mulut.


"Akh...Wira! mengapa dia ikut campur dengan urusan orang lain!" Lestari menghentakan kaki kanannya di tanah, pertanda dia menyesalkan tindakan Wirayudha yang di nilainya ceroboh.


"Kisanak, kau sangat angkuh sekali! kau sepertinya menganggap kemampuanmu paling tinggi di kolong langit!" terdengar Wirayudha membentak.

__ADS_1


Para penontonpun kemudian mundur tanpa di perintah, mereka masih tetap berkeliling dengan jarak yang menjauh, dan ingin melihat apa yang akan terjadi.


"Bocah ingusan! kau ingin menjadi pahlawan rupanya!"


"Sraaaath...terlihat sambaran pedang mengarah leher Wirayudha, "Slapph...!


Kepala Wirayudha berkelit ke samping, membuat pedang tersebut lewat di depan mukanya, punggung pedang di jentiknya dengan jari, "Traakh...!


Pemuda yang membawa pedang, merasa terkejut, karena tangannya merasa bergetar hanya karena jentikan jari Wirayudha.


Kembali dia membalikkan tubuhnya, dan berusaha menyerang Wirayudha dengan tebasan-tebasan pedang yang mengarah ke tubuh Wirayudha.


Wirayudha hanya berkelit dengan langkah-langkah bayangan, membuat serangan pemuda itu hanya mengenai udara kosong.


"Hayoo...keluarkan seluruh kemampuanmu! apakah memang sesuai dengan mulut besarmu Kisanak!"


Beberapa penonton tanpa sadar memberikan tepukan tangan untuk Wirayudha, karena mereka melihat Wirayudha seperti bermain-main saat menghadapi putra dari Kuwu pedukuhan Palimanan tersebut.


Bukannya sadar dengan kemampuan yang di milikinya, pemuda tersebut malah melanjutkan serangan, tebasan-tebasan pedang terlihat semakin membabi buta dan kacau, "Kurang ajar! rasakan ini!"


"Wussh...Wuuush!"


"Cukup sudah Kisanak! seranganmu seperti bocah yang baru memegang pedang!"


Tangan kanan Wirayudha menyambar dan mengenai pangkal lengan penyerangnya, "Deshh!... Membuat pedangnya terpental dan langsung di sambar oleh Wirayudha "Slaph..!"


Batang pedang kemudian di jepitnya dengan jari telunjuk dan tengah, hanya dengan mengerahkan tenaga dalam yang tidak berarti "Haaaikh...Traakh...Traakh!" Wirayudha mematahkan pedang menjadi beberapa bagian.


Kemudian dengan cepat Wirayudha melompat ke depan laki-laki tersebut dan langsung mendaratkan beberapa tamparan yang keras di wajahnya "Plakh..Plakh..Plakh!"


"Ini hukuman bagi orang yang ingin mempermalukan orang lain!"


Tubuh laki-laki muda itu kemudian sempoyongan dengan wajah yang bengkak dan memerah, "Tunggu pembalasan para pengawalku baj*ingan!"


"Kurang ajar! kau sudah tidak berdaya masih mengancam dengan mengandalkan orang lain! Hiaaath...Desh!" Kaki kanan Wirayudha menendang perut yang membuat lawannya jatuh terduduk.

__ADS_1


Ketika Wirayudha akan melanjutkan tendangannya, terdengar suara dari samping kanan, "hentikan seranganmu anak muda!"


Para penonton yang tadi mengelilingi arena pertarungan, kemudian pergi dan menjauh, karena mereka melihat Ki Gede Palimanan sebagai Akuwu di situ telah datang, mereka tidak mau terkena imbas atas perlakuan Wirayudha kepada putra Kuwu tersebut.


__ADS_2