Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Bajing Loncat


__ADS_3

Wirayudha dan Nini Sangga Geni melanjutkan perjalanannya, wajah Wirayudha masih tertekuk kusam, karena hatinya masih di liputi sakit hati atas kejadian di pendopo Kadipaten Pemalang.


"Wira, kau harus belajar melupakan sesuatu yang menyakitkan hati dengan cepat! tidak perlu harus terus terhanyut dengan kejadian-kejadian yang tidak mengenakan!"


"Hatimu sekarang terlalu peka Wira! lelaki tidak pantas seperti itu!"


Wirayudha hanya diam sambil tetap melangkahkan kakinya.


"Wiraa! kau dengarkah nasehatku?" Nini Sangga Geni sedikit kesal karena melihat Wirayudha hanya terdiam tidak memberikan tanggapan apapun terhadap nasehatnya.


Akhirnya Nini Sangga Geni mendahului langkah kaki Wirayudha dengan berlari, tubuhnya berkelebat dengan cepat karena menggunakan ilmu meringankan tubuh, terpaksa Wirayudha mengimbangi dengan Menjangan Kabutnya.


Setelah malam semakin larut dan keduanya lelah, akhirnya merekapun beristirahat di tepian Hutan Gunung Selamet, kali ini mereka tidur di atas pohon.


Setelah Wirayudha dan Nini Sangga Geni sudah mulai memasuki alam impiannya masing-masing, tiba-tiba terdengar suara sekumpulan orang-orang yang berjalan serombongan dengan berpakaian hitam dan penutup wajah, membuat keduanya tidak jadi terlelap dan menjadikan mereka waspada.


"Kakang, kita beristirahat saja dulu di sini, punggung kita lelah!"


"Baiklah Adi! kau perintahkan semuanya beristirahat dulu, tetapi jangan membuat api sedikitpun untuk menghindari para pengejar kita!"


Kemudian orang kedua yang mungkin lebih muda usianya, menghentikan rombongan dan memerintahkan untuk beristirahat sambil menurunkan beberapa buntalan-buntalan yang tadi menjadi beban punggung mereka.


"Ha..Ha..Ha, lihat Adi! malam ini hasil kita sangat banyak, kita bisa libur tidak melakukan perampokan selama satu purnama penuh!"


"Aiish..Kakang, aku sangat lelah sekali!" terdengar suara wanita di antara rombongan tersebut yang kemudian langsung saja duduk menyandar di bawah pohon tempat Wirayudha dan Nini Sangga Geni beristirahat.


Akhirnya orang pertama yang tertua dan orang kedua yang di panggil sebagai Adi duduk di samping orang ketiga yang mempunyai suara wanita.


Ketiganya menanggalkan penutup wajah di ikuti oleh anggota yang lainnya yang sedang sama-sama beristirahat menyandarkan tubuh di beberapa batang pohon.


"Hik..Hik..Hik aku tadi sangat suka sekali Kakang, saat melihat wajah Juragan renternir itu pucat pasi ketika kita rampok, beruntung juga para pengawalnya yang konon sangat sakti itu bisa kita kalahkan!"

__ADS_1


"Benar Nimas, selama ini korban-korban yang kita rampok juga orang-orang seperti Juragan Daryo yang banyak menyusahkan warga!"


Wirayudha dan Nini Sangga Geni memperhatikan setiap ucapan mereka. Dan merekapun dapat mengambil kesimpulan, orang-orang yang berada di bawah pohon yang di tempati mereka adalah para perampok.


Setelah memperhatikan pembicaraan mereka akhirnya Wirayudha mengetahui kelompok tersebut adalah kelompok rampok Bajing Loncat yang terkenal dengan di kepalai tiga bersaudara, yang salah satunya adalah wanita.


Wirayudha merasa heran dengan apa yang ia dengar, ternyata perampok itu hanya memilih target rampokannya adalah Juragan-juragan yang kaya karena usaha yang tidak benar, salah satunya sebagai Juragan Renternir.


Walaupun dalam kegelapan, sinar bulan yang sampai ke wajah mereka membuat Wirayudha dan Nini Sangga Geni dapat melihat wajah para perampok itu.


Hari mulai pagi, suasana di tepi Hutanpun terasa sejuk dengan udara yang sangat menyegarkan, salah satu pemimpin bajing loncat bangun sambil merentangkan kedua tangannya dan menggerakan pinggang ke kanan dan kiri.


"Maharani, mau apa kau sepagi ini sudah bangun?"


"Aash...Kakang Bayusuta, kau terlalu santai, kita masih belum sampai ke markas, kenapa juga kita bermalas-malasan di sini?"


"Betul juga Nimas, segeralah kau bangunkan Kakakmu Bayu Lelana!, kita bersiap untuk melanjutkan perjalanan!"


Tiba-tiba suasana pagi terganggu oleh sebuah teriakan yang menggema dan terdengar sepanjang tepian hutan.


"Ha...Ha..Ha..,Tiga Bajing Loncat ternyata biang keladi perampokan! jangan harap kalian bisa kabur setelah berhasil menjarah harta Juragan kami!"


Setelah suara gema berakhir, terlihat empat bayangan tubuh mengitari kelompok Bajing Loncat yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Tinggalkan barang-barang itu! dan segera berlutut untuk menjalankan hukuman!" wajah kakek tua berambut gimbal bertolak pinggang menghardik ke arah tiga pimpinan Bajing Loncat yang berdiri berdampingan.


"Tua bangka bau tanah, enak saja kalian berikan perintah! lagakmu seperti Panglima kerajaan saja!"


"Hmm...ternyata salah satu pimpinan Bajing loncat adalah wanita ****** yang pandai bermain kata! parasmu lumayan cantik, sangat cocok untuk menjadi teman tidurku semalam di hutan ini!"


"Dasar tua bangka cabul! Hiaaat....Sreeeth..." Maharani lansung meloloskan pedang meloncat dan langsung menyerang, pedangnya menyambar dari samping bermaksud ingin menebas leher orang tua yang tadi melecehkannya.

__ADS_1


"Haiish....leher yang di buru Maharani mengelak ke belakang, kaki kirinya melesat ke atas mengarah tubuh Maharani yang masih melayang, membuat Maharani terpaksa mengelak dan tidak melanjutkan serangan.


"Ha..Ha..Ha, aku suka wanita yang sangat bersemangat, pastinya juga akan bersemangat saat di pelukanku!"


"Serang tua bangka bermulut busuk ini!" terdengar teriakan perintah Bayusuta memerintahkan anggotanya.


Serentak sepuluh anggota Bajing Loncat mengelilingi dan langsung melakukan serangan yang mematikan, "Hiaaath...Hiaaath, Wussh...Wuuusgh!"


"Kalian pendekar-pendekar bau kencur yang hanya bermulut besar!" Hiaaath....Orang tua berambut gimbal itu melentingkan tubuhnya ke belakang menghindari para pengeroyoknya.


Tangan kanannya kemudian melakukan gerakan berputar, kemudian telapak tangan yang menghadap ke depan terpentang, dari balik celah-celah jarinya keluar asap hitam.


"Hiiiaaat..Wuuush...Wussh!" keluar serangkum asap hitam menderu ke depan dan melingkupi tubuh-tubuh anggota Bajing Loncat.


Bau amis menyebar dan terhirup masuk ke dalam paru-paru, "Aaaarkh...Aaarkhh!" .. "


"Prang..Prang!" pedang-pedang mereka terjatuh ke tanah, tangan mereka memegang leher yang terasa mencekik, semua anggota Bajing Loncat jatuh terduduk dengan mulut berbusa, dalam waktu singkat mereka jatuh terlentang dengan kondisi yang mengenaskan.


Bayusuta dan Bayu Lelana, terhenyak melihat anggotanya tidak sadar dalam waktu singkat, dengan penuh kemarahan mereka pun menyerang dengan ganas.


Tetapi tiga orang yang datang bersama orang tua yang sedang menghadapi Maharani, tidak tinggal diam begitu saja, merekapun turun tangan mengejar dan memapas serangan Bayusuta dan Bayu Lelana.


"Hiaath...Hiaaath!... Traaang!..Traang!"


Terdengar suara benturan senjata dan lengan yang beradu dari serangan-serangan kedua belah pihak.


Wirayudha melihat Nini Sangga Geni memberikan tanda dengan lambaian tangan dan gelengan kepala, memberikan tanda kepada Wirayudha untuk menunggu dan tidak ikut campur dengan pertempuran mereka.


Wirayudha terfokus kepada pertempuran Maharani dengan lawannya, ia memperhatikan gerakan-gerakan Maharani yang lincah dan cepat dalam menyerang. "Hmm...Serangannya lumayan sangat kuat, tetapi aku bertaruh, dalam waktu singkat ke depan Maharani akan dapat di kalahkan!"


Serangan Maharani yang sangat cepat, terlihat sangat mudah di hindari oleh lawannya, karena semua gerakan yang di lakukannya terbaca oleh oran tua yang kini mulai memghindari serangan Maharani sambil tertawa-tawa merendahkan.

__ADS_1


__ADS_2