Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Bajing Loncat II


__ADS_3

Wirayudha terus mengawasi jalannya pertarungam mereka,


Dari teriakan-teriakan meraka saat bertarung, di ketahui empat pengawal dari Juragan renternir itu adalah empat serangkai Gunung Selamet, mereka pendekar menengah yang selalu membela siapapun yang sanggup membayar atau yang menyewa tanpa memperhatikan benar atau salahnya seseorang yang menyewa mereka.


Setelah merasakan tenaga serangan Maharani mulai menurun, Orang tua berambut gimbal itu mulai melakukan tekanan dan serangan-serangan, telapak tangannya beberapa kali mengenai tubuh Maharani.


Dengan sengaja, serangannya bukan untuk melumpuhkan, ia rubah pukulan-pukulannya menjadi remasan dan tepukan yang mengarah bagian-bagian tubuh Maharani dengan maksud melecehkan.


Sambil melanjutkan serangan, terdengar suara tawa yang membuat Maharani semakin terlihat emosi dan membuat pertahannya terbuka.


"Ha..Ha..Ha, dadamu masih sangat ranum! bokongmupun terasa empuk Nisanak!"


Situasi tersebut mempengaruhi Bayusuta dan Bayu Lelana karena tidak bisa terima adik mereka di lecehkan. Konsentrasi mereka terpecah tidak fokus terhadap pertempuran yang mereka jalani.


Pakaian Maharani mulai robek, karena di sengaja di tarik dan di renggut oleh lawannya, bagian-bagian tubuhnya mulai terlihat dan terbuka.


Pandangan Wirayudha menatap Nini Sangga Geni bermaksud untuk menanyakan tindakan yang harus dia lakukan, ketika melihat Nini Sangga Geni menganggukan kepala, Wirayudha langsung berkelebat turun ke bawah dan memapas tangan penyerang Maharani.


"Pintar sekali kau memilih lawan Wira! Hik...Hik..Hik," Nini Sangga Geni tersenyum melihat Wirayudha memilih mendahulukan membantu Maharani, kemudian tubuhnya ikut meloncat turun ke arah pertarungan Bayusuta dan Bayu Lelana.


Nini Sangga Geni langsung mengibaskan kain tanpa lengannya ke arah pertempuran mereka, "Wuuush...Wuuush...Desssh...!:


Pertarungan ke limanya terhenti, tubuh mereka mundur terjajar ke belakang, gelombang kibasan lengan Nini Sangga Geni membuat mereka terdorong dengan kencang.


Berbeda dengan Wirayudha, melihat orang tua tersebut melecehkan, langsung saja melayangkan pukulan yang keras ke arah dada, "Desh...Desh!"


"Aaarrkg!...Bruukh!" tubuhnya terjengkang dengan tangan yang memegangi dadanya yang sakit "Kurang ajarrr, siapa kau berani membongkongku?"


Wirayudha kemudian memberikan tanda kepada Maharani untuk mundur, "mundurlah Nisanak! biar aku yang menghadapinya!"


Tubuh tua itu langsung melenting dan memburu Wirayudha dengan penuh kemarahan, "Haaaikh...!"


Tangannya menyorong ke depan, asap hitam tebal menyapu ke arah Wirayudha, di saat kedua tangannya masuk dalam jangkauan, Wirayudha langsung menangkap pergelangannya dan menekuk ke arah bawah dengan keras.

__ADS_1


"Trakh!...Traakh!, terdengar bunyi sendi yang lepas dua kali, di susul jeritan yang keras, "Aaaaakh!...."


Dua lengan yang pergelangannya di patahkan itu tetap tidak di lepaskan oleh Wirayudha, kaki Wirayudha kembali melesat menendang dari bawah ke arah uluh hati, 'Wuuush....Heeekg..." membuat lawannya sesak bernafas menahan sakit.


Wirayudha melepaskan pegangan tangannya, kemudian langsung menampar wajah kakek tua itu berkali-kali, "ini agar otak kotormu bisa menjadi waras orang tua!" ..Plakh...Plakh..Plakh..."


'Arrkh....Aakh!"... Bruukh!"...Tubuh tuanya kemudian terguling di tanah, masih merasakan sesak nafas dan sakit di kulit wajahnya.


Lawan Nini Sangga Geni sudah terkapar di tanah dengan mulut berbusa dan wajah yang menghitam, di permukaan tubuh mereka banyak ular-ular yang sedang merayap dan mendesis.


"Hikh...Hikh..Hikh! Aku kira mereka kebal dengan bisa ular, ternyata mereka cuma bisa bermain dengan racun-racun mainan,"


Kedua Kakak Maharani mengerenyitkan kening mereka, dari dahinya terlihat keringat dingin yang mengucur, Bayusuta dan Bayu Lelana bergidik ngeri melihat ulah Nini Sangga Geni yang bisa memanggil ratusan Ular yang dapat dia perintahkan.


"Hei...Kalian berdua apakah hanya akan berdiam diri melihat anggotamu masih bergelut dengan racun?" kemudian Nini Sangga Geni melemparkan sebuah bungkusan, "campur dengan air, secepatnya minumkan kepada mereka! cepat lakukan!"


"Baik...Baik..Nyai!"


Maharani masih belum bisa bergeming dari tempatnya berdiri, ketika dia di perintahkan oleh Wirayudha untuk mundur, ia lakukan karena memang merasa putus asa saat menghadapi orang tua berambut gimbal itu.


Ketika situasi mereka terlihat sudah relatif aman, Maharani baru dapat memperhatikan semua yang di lakukan oleh Wirayudha.


Kondisi lawan Wirayudha sudah tidak mempunyai peluang, ia hanya terlentang di permukaan tanah dengan tubuh kaku, karena telah mendapatkan totokan di sekitar syaraf kesadarannya.


"Nisanak, ambilah pakaianmu dan cepat bergantilah!" Maharani sangat terkejut dan terpana ketika tiba-tiba Wirayudha sudah berada di depannya dan berbicara.


"Ah...Bbb..Baik Kakang!, tanpa sadar ia menutupi baju bagian dadanya yang telah sobek, tetapi ia semakin bingung dan merasa malu, ketika kedua tangannya menutup bagian atas, ternyata bagian perutnya terbuka, karena di sanapun terdapat robekan yang cukup besar memperlihatkan bagian perutnya yang putih mulus.


"Aaah...Maharani berteriak karena malu, kemudian melompat ke arah bungkusan yang berada dekat pohon ketika ia menyandar tadi, kemudian cepat-cepat beganti pakaian di balik pohon besar yang rimbun.


Wirayudha sendiripun memerah kulit wajahnya, karena sempat melihat bagian dada Maharani, membuat jantungnya dengan cepat berdebar, kemudian membalikan tubuhnya dan melihat hasil pertarungan Nini Sangga Geni.


Wirayudha mendekati Nini Sangga Geni yang masih memberikan bantuan kepada Bayusuta dan Bayu Lelana untuk membuat kesadaran para anggotanya kembali, yang tadi tidak sadar karena menghirup racun.

__ADS_1


Selang berapa lama kemudian, para anggota Bajing Loncat yang sebelumnya terlihat tewas oleh Bayusuta kini telah tersadar, mereka berkumpul di belakang Bayusuta dan Bayu Lelana.


Maharanipun kemudian bergabung bersama mereka dengan berpakaian rapih dan sudah berganti.


Bayusuta menghampiri Maharani yang sedang mencuri pandang Wirayudha, "Nimas, apa kau tidak terlalu berlebihan, aku baru melihat kau berpakaian begitu rapih?"


"Kakang...!" Maharani memegang lengan kakaknya dan tersipu malu.


"Tidak mengapa Nimas, kau sudah dewasa pasti bisa tertarik kepadanya, wajahnya sungguh menawan! dan kaupun sangat cantik Nimas!"


"Tapi ia tahu kalau kita perampok Kakang!" Maharani tertunduk sedih ketika menyadari status dirinya.


Bayu Lelana kemudian menghampiri Nini Sangga Geni dan Wirayudha, "Nisanak aku mewakili saudara-saudaraku mengucapkan terimakasih! apa yang harus kami lakukan untuk membalasnya?"


"Hikh...Hikh...Aku tidak meminta balasan apapun! lagi pula kalian bisa melakukan apa untuk kita? tanya pada muridku itu! mungkin saja muridku meminta adik perempuanmu menjadi kekasihnya!" Nini Sangga Geni kembali tertawa sampai terbahak-bahak.


Bayu Lelana dan Bayusuta yang telah dekat dengan mereka menanggapi dengan serius, "Maaf Nisanak, kami tidak bisa memutuskan, kami harus menanyakan kepada Maharani terlebih dahulu!"


"Akh...Kisanak, jangan kau anggap serius ucapan guruku, kami tidak meminta balasan apapun kepada kalian!" Wirayudha dengan cepat membantahnya.


Bayusuta dan Bayu Lelana kemudian saling memandang kebingungan.


Wirayudha menghampiri Maharani dan berkata kepadanya, "Nisanak maafkan guruku! ia hanya becanda, jangan kau anggap serius!"


Nini Sangga Geni tidak memperdulikan ucapan Wirayudha, kembali ia menggodanya, dengan maksud membalas kelakuan Wirayudha saat kemarin mengabaikannya, "Hei...Maharani! apakah muridku tidak terlalu pantas menjadi kekasihmu? apa kau mungkin telah mempunyai kekasih?"...


Wirayudha merasa salah tingkah, tidak tahu apa yang harus di katakannya.


"Maharani! kau tidak mau menjawab pertanyaanku? baiklah kalau begitu kita akan pergi saja! Wiraa...ayo kita melanjutkan perjalanan kembali!"


Maharani dengan cepat mencegah langkah Nini Sangga Geni yang berpura-pura akan pergi, "Tunggu Nisanak, bukan aku tidak mau, aku hanya ingin pertanyaan itu terucap dari murid Nisanak sendiri!"


"Wiraaa kau dengar!" aku tidak bisa mewakilimu bertanya kepadanya, urusan anak muda kau harus menanyakannya sendiri!"..."Hikh..Hikh..Hikh!"

__ADS_1


__ADS_2