Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Rahasia Yang Tersamar


__ADS_3

Wirayudha berdiri mematung di depan pintu gerbang pedukuhan, terkenang di benaknya masa-masa penuh kenangan bersama ayah dan ibunya ketika dia kecil.


Kaki kecilnya melompati batu-batu saat menyebrangi sungai yang mengalirkan air yang jernih, karena tidak tahan dengan indahnya ikan yang sedang berenang, tanpa seizin ayahnya ia terjun ke dalam air dan berusaha menangkapnya. Ketika hari menjelang sore, Wirayudha tidak mengenal waktu tetap berada di sungai, tanpa ia sadari ayahnya sudah berdiri di tepian sungai dengan pandangan penuh khawatir.


"Iya romo...Maaf..Maaf! aku tidak akan mengulanginya lagi, telinga Wirayudha kecil di tarik oleh ayahnya hingga sampai rumah.


Sampai di depan rumah, terbalik kini ayahnya yang melihat dengan ketakutan, karena ibunya sudah melihat dengan wajah masam ketika terlihat ayahnya menarik telinga, "apa tidak ada cara yang lebih baik lagi Kangmas! anakmu masih belum mengerti apa yang dia perbuat!"


"Aish...Maaf Nimas, tarikan tanganku hanya sekedar pura-pura, tidak untuk menyakitinya!"


Wirayudha kecil tertawa melihat ayahnya mendapatkan teguran, dengan langkah terburu-buru secepatnya ia masuk ke dalam.


Wajah Wirayudha terlihat tersenyum saat mengingat masa-masa kecilnya di pedukuhan yang sekarang berada di depannya.


"Wira, kenapa kita tidak secepatnya masuk ke dalam pedukuhan? Nini Sangga Geni melihat wajah Wirayudha yang masih menerawang melihat ke depan.


"Sebentar Nini, aku sedang mengingat kembali masa-masa dulu, di mana saat itu aku di bawa berlari di bahu ayahku, melewati jalan-jalan ini!"


Terserah kau sajalah Wira! aku akan mencari Kuwu Brodin ke dalam Pedukuhan, cepatlah nanti menyusulku!" tanpa memperdulikan Wirayudha, Nini Sangga Geni kemudian mencari kediaman Kuwu Brodin, karena ia khawatir kediaman Kuwu Brodin telah berpindah tempat, tidak sama ketika dia bersama Saraswati dan Wirayudha mencari Wiratama.


Wirayudha kemudian memasuki pedukuhan Jalaksana dengan santai, pandangannya terus menyapu sekeliling, beberapa warga Jalaksana di sapanya dengan ramah, paras Wirayudha yang mempesona dan terlihat asing menjadi perhatian para warga.


Rambutnya yang panjang tmelambai terkena angin pesawahan yang semilir, tidak berapa lama kemudian Wirayudha di dekati oleh beberapa Jagabaya, penjaga wilayah.


"Anak muda, sepertinya kau bukan penduduk sini! ada keperluan apakah kau berada di Pedukuhan Jalaksana? apakah ada yang ingin kau temui?"


Wirayudha memberikan senyum ramahnya, "Aiish...Paman! aku penduduk asli pedukuhan ini, aku ingin menemui Paman Brodin, apakah beliau ada?"


"Apakah yang kau maksud Kuwu kami! Kuwu Brodin? siapa namamu anak muda

__ADS_1


"Benar paman, bisakah sekarang aku menemui beliaunya?, namaku Wirayudha putra Kuwu pertama pedukuhan Jalaksana, Kuwu Wiratama!"


Beberapa Jagabaya tercengang melihat anak muda yang gagah ini menyebutkan bahwa dia putra Kuwu Wiratama. "Aakh...Maafkan kami Raden! marilah kau ikut denganku menghadap Akuwu kami!"


Setelah itu mereka berjalan menuju tempat kediaman Kuwu Brodin. Sesampainya di sana ternyata Nini Sangga Geni sudah bersama Kuwu Brodin yang menceritakan tentang Raden Genta Buana yang sempat mencari keluarga dari Wiratama, dan mengaku kakak dari Nyi Kuwu Saraswati.


Kuwu Brodin langsung berdiri ketika melihat Wirayudha, setelah dia di yakinkan oleh Nini Sangga Geni tentang Wirayudha, dengan terharu Kuwu Brodinpun memeluknya.


"Aah..Raden, aku sangat bahagia dapat berjumpa kembali denganmu!"


"Terimakasih paman!"


Dari balik pintu rumah ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan Nini Sangga Geni dan Wirayudha, ada penilaian yang berbeda dari masing-masing mereka, Sulastri yang memandang dengan kekaguman, Sri Lestari yang memandang Wirayudha dengan perasaan khawatir.


Sri Lestari merasa was-was, karena sebelum Wirayudha memasuki Jalaksana, ia sempat berpapasan dengannya saat Sri Lestari berjumpa dengan Sencaki untuk melaporkan hasil penggalangannya di pedukuhan Jalaksana.


Tanpa di ketahui oleh siapapun, minuman yang di suguhkan kepada Wirayudha di berikan racun ular yang ganas. Maka dari itu saat melihat Wirayudha dari celah pintu, Sri Lestari harap-harap cemas.


"Raden, Nini ..Silahkan cicipi makanan dan minuman buatan putriku Sulastri, apalagi wedang jahe sereh itu pasti di buatkan khusus untukmu!"


Kemudian Kuwu Brodin memanggil Sulastri dan di perkenalkan dengan Wirayudha, wajah Lastri bersemu merah, ketika mendengar ayahnya menyebutkan bahwa dirinya yang membuat makanan dan minuman.


"Terimakasih Nimas, makanan buatanmu enak sekali!" Wirayudha memakan sajian kueh yang berada di wadah, kemudian Wirayudhapun meminum wedang jahe.


Setelah meminum satu tegukan, Wirayudha menatap Kuwu Brodin dan Sulastri, karena pengaruh darah Naga Langit, racun yang masuk ke dalam lambung Wirayudha menjadi netral. tetapi sisa racun yang berada di gelas masih tersisa.


Pancaran mata Wirayudha berubah ketika menatap Kuwu Brodin dan Sulastri, ada kilaran cahaya biru saat Wirayudha bertanya kembali, "Paman Brodin apakah benar minuman itu putrimu yang membuatkan khusus untukku?"


Kuwu Brodin balik menatap dengan penuh tanda tanya, "Benar raden! apakah ada yang salah?"

__ADS_1


Wirayudha kemudian menuangkan cairan sisa minuman ke atas makanan yang tadi dia makan, kemudian melemparkan ke erah ayam-ayam yang sedang berkelompok di teras yang sedang mencari makanan.


Ketika di lemparkan makanan oleh Wirayudha, ayam-ayam tersebut berebut memakannya. tanpa menunggu waktu yang lama ayam-ayam tersebut terjungkal dan tewas tanpa sempat mengeluarkan suara apapun, "racun yang sangat ganas!" Nini Sangga Geni berkata pendek saat melihatnya.


Kuwu Brodin dan Lastri menatap tidak percaya melihat pemandangan yang berada di depannya, wajah mereka berdua terlihat pucat pasi.


"Apa pembelaanmu Nimas?"


"Akh..Kami benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi Raden!"


"Srekh...terdengar suara halus dari balik pintu belakang, tetapi suara pelan itu cukup untuk membuat Nini Sangga Geni melompat dan mendobraknya "Hiaaath...Braaakh!...Aaakh!"


Terdengar suara jeritan kecil, ketika pintu kayu itu pecah dan mendorong sosok yang berdiri di belakangnya.


"Tangan Nini Sangga Geni melabrak sosok tubuh yang terdesak ke dinding ruangan, "Hiaaath...Brakh! pukulannya meleset mengenai dinding kayu tebal.


Tendangan Nini Sangga Geni melanjutkan serangan, "Wuuush...Wuuush!" berusaha menendang tubuh yang dengan gesit mengelak menghindari tendangan.


Tanpa di duga oleh yang lain, tubuh ramping yang di serang Nini Sangga Geni, melompat ke atas menerobos atap rumah Kuwu Brodin, "Hiaaath...Braakh!"...


Atap rumah menjadi jebol, sosok tubuh itu bersiap untuk lari meloloskan diri, tetapi Wirayudha tidak memberikan ruang, tubuhnya sudah melompat dan menghadang di depannya, "Hmm...Nisanak siapa kau? aku tidak mempunyai permusuhan denganmu, kenapa kau dengan kejam menaruh racun ganas ke dalam minumanku?"


"Kau jangan mengada ada anak muda! apa buktimu kalau aku yang menaruh racun?"


"Swuuth...tanpa terlihat oleh sosok wanita itu, Nini Sangga Geni yang sudah berada di belakangnya, menyambar sebuah bungkusan yang berada di saku belakangnya.


"Hik...Hikh..kemampuanmu belum seberapa di bandingkan dengan muridku! Wiraa, berikan wanita ini pelajaran yang berharga!"


"Hiiaath...Sraphh...Kuwu Brodin sudah menyusul meloncat ke atas, "Tunggu Nini Sangga, berikan kesempatan kepadaku untuk bertanya kepadanya!"

__ADS_1


"Lestari, kenapa kau ingin mencelakai tamuku?"


__ADS_2