Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Kemarahan Genta Buana


__ADS_3

Melihat seorang bocah yang berani menentang dan menganggap remeh dirinya, membuat emosi Genta Buana meluap-luap sampai ubun-ubun kepala.


Kepalan tangannya memerah saga dan mengepulkan asap panas, "Hiaaath...Blarh...Blaaarh!" dentuman keras terdengar sampai luar Balai Prajurit ketika pukulan tersebut mengenai tanah, tempat di mana tadi Wirayudha berdiri, Suara itu kemudian mengundang Ki Pancar Buana yang sudah berada di kediaman terpancing untuk kembali ke lapangan.


Wirayudha pun akhirnya tersulut emosinya, ia melompat ke atas dan menghantamkan tangan kanannya ke arah Genta Buana, "Kau pikir hanya kau seorang yang bisa memukul seperti itu, Bayu Saketiiii!....Blaaamh!....Blaaamh!"


Tempat pijakan kaki Genta Buana yang menghindar menjadi berlubang besar, terkena hantaman Bayu Saketi milik Wirayudha.


"Gilaaa...tenaga dalamnya tidak main-main!" Genta Buana bersiap sambil meruntuk dalam hati.


Sebelum Genta Buana menyerang, tubuh Wirayudha ternyata telah melesat mendekati Genta Buana dengan kedua tangan melakukan sergapan, "Hisapan Naga Langit!.....


"Kraaakh...tangan Wirayudha menangkap pergelangan


"Setan alas, nama jurusmu tidak membuatku gentar bocah, Hiaaath...!


Genta Buana mengangkat tangan yang lainnya seraya akan membalas dengan cengkeraman Lodaya, tetapi ketika mengenai tubuh Wirayudha, tangannya tidak dapat di lepaskan, seperti merekat ketat.


Yang membuatnya terkejut bukan hanya itu, tubuhnya serasa di paksa untuk mengeluarkan tenaga dalam yang berjumlah besar, dan mengalir deras terhisap melalui cengkeraman tangan Wirayudha dari tangannya yang menempel.


"Haaakh....ilmu siluman apa yang kau gunakan!"....


"Tidak perlu banyak bicara kisanak, kerahkan seluruh kemampuanmu!" tatapan Wirayudha terlihat semakin menyeramkan.


Ketika Genta Buana merasa lemas, kaki Wirayudha menyambar dan mengenai pinggangnya, "Hiaaath...Dessh!"


Tubuhnya terpelanting jatuh, "Bruuukh....Aakh!"


Dengan terburu Genta Buana bangkit kembali dengan mata yang mencorong berwarna merah darah.


Tubuhnya kemudian berubah menjadi manusia setengah Harimau, di sekelilingnya pun muncul api yang berkobar-kobar, "Graaaauumh!"....

__ADS_1


Citraloka dan gurunya yang diam-diam mendekat ketika awal pertarungan, melihat tubuh Genta Buana berubah menjadi Lodaya, membuat Citraloka memegang lengan gurunya, "Guru, hentikan pertarungannya! aku khawatir Wirayudha tidak sanggup membendung Ajian Amarah Lodaya!"


"Diamlah Citra! pertarungan ini belum seberapa, mereka bertarung belum sampai puncak kepandaian mereka masing-masing! tidak perlu kau khawatir dengan Wirayudha!"


Citraloka terdiam, dengan perasaan was-was ia kembali memperhatikan jalannya pertarungan.


"Kraaakh!..Mahkota Naga Langit!"


Wirayudha pun di selimuti api biru yang berkobar, rambutnya berkibar seperti gelombang api yang siap membakar.


"Hiaaath....Blarh...Blaaarh!" dentuman keras akibat benturan serangan-serangan mereka berdua semakin keras, membuat para prajurit yang agak dekat kemudian berusaha menjauh.


Berbeda dengan Ki Jaka Perkasa dan Kondang Hapa yang berdiri di puncak gerbang Balai Prajurit, senyum keduanya mengembang dengan lebar, "Kondang Hapa, Naga Runting telah menemukan tuannya, ternyata anak muda itu menguasai Aji Naga Langit dengan sempurna, mulai sekarang kau harus mencoba mengendalikannya Kondang Hapa!"


"Betul Kakang! tidak sia-sia Kakang Pancar Buana mengajak cucunya bergabung dengan kita, ia seseorang yang bisa menjadi ujung tombak ketika pertarungan yang sebenarnya telah tiba dan akan menjadi kunci kemenangan kita!"


"Huaa...Ha...Ha...Pandajajaran akan kembali jaya Kondang Hapa!" terdengar suara tawa bergelak dari Ki Jaka Perkasa terdengar.


"Apa yang membuat kalian ingin saling membunuh?" Ki Pancar Buana menatap tajam Genta Buana dan wirayudha silih berganti.


Ketika Genta Buana melihat Ki Pancar Buana dengan pandangan marah, ia pun dengan cepat menarik kembali serangan-serangannya walaupun dengan rasa penasaran yang sangat.


Genta Buana yang menganggap selama ini Ki Pancar Buana sebagai pengganti ayahnya, sangat menaruh hormat, tetapi tidak serta merta dapat menghilangkan kemarahan di dadanya, "Anak muda ini terlalu sombong romo! aku akan memberi pelajaran yang pantas buatnya!"


"Tidak Eyang! dia yang menegurku dengan tidak patut dan merendahkan harga diriku di depan para prajurit!"


"Diam kalian!" kalian tidak bisa menekan emosi, seperi para gerombolan di hutan saja!"


Setelah keduanya meredakan emosi, Wirayudha dan Genta Buana pun mulai berpikir dan bertanya dalam hati.


"Genta, apakah harus seperti itu kepada keponakanmu sendiri?"

__ADS_1


"Dan kau Wira!, kenapa tidak ada rasa hormatmu sama sekali kepada Uwa mu hah?"


Ki Jaka Perkasa dan Kondang Hapa, turun mendekati mereka, "Tidak perlu kau memarahi mereka seperti anak kecil Adi Pancar Buana! seperti itulah memang perkenalan sesama kaum pendekar walaupun mereka keponakan dan Uwanya, he...he...he!" Ki Jaka Perkasa merangkul bahu Wirayudha dan mengajaknya mendekati Genta Buana, "Genta, inilah keponakanmu yang aku katakan!"


Genta Buana dengan rasa terkejutnya kemudian dengan cepat dan sadar diri mengakui kekeliruannya, "Aakh..Maafkan aku orang tua yang tidak tahu diri Wira! kemarilah!" akhirnya mereka berpelukan dengan erat.


Betapa senangnya Genta Buana yang mengetahui Wirayudha sebagai putra dari Saraswati adiknya, "Kau sangat tampan sekali, wajahmu sangat mirip dengan Romo!"


Akhirnya pertarungan itu berhenti dan di lanjutkan dengan berbagi cerita dan kisah mereka selama mereka terpisah.


Ganda Permana yang sejak tadi melihat pertarungan antara Wirayudha dan Genta Buana, merasa jengkel karena akhir dari pertarungan itu tidak sesuai yang dia harapkan.


"Senopati Ganda Permana! apa kau tidak takut mendapatkan teguran dari Senopati Utama Genta Buana?" Lestari mengajukan pertanyaannya kepada Ganda Permana yang berdiri tidak jauh darinya.


"Diamlah Lestari! apakah kau juga tidak iri dengan wanita Harimau yang sekarang dekat dengan pemuda yang menyebalkan itu?" Ganda Permana balik membuat Lestari yang kemudian muncul rasa kemarahannya ketika melihat Citraloka dan gurunya ikut bergabung bersama petinggi-petinggi pasukan Sumedang Larang.


Ki Jaka Perkasa dan Kondang Hapa kemudian memisahkan diri mereka dari pertemuan keluarga antara Ki Pancar Buana, Genta Buana dan Wirayudha, mereka berjalan melakukan pengawasan ke sekitar penjagaan Keraton.


Di salah satu penjagaan bagian barat, ada seorang wanita dengan pakaian ringkas di temani oleh dua orang pengawal laki-laki yang gagah, mereka sedang meminta izin untuk di hadapkan kepada Prabu Geusan Ulun.


Salah satu yang tertua dari penjaga kemudian menemui mereka "Nisanak, sebutkanlah dahulu siapa kalian dan berasal dari mana, setelah itu utarakan kepentingan apa yang kalian bawa sehingga ingin menghadap langsung Raja kami?"


"Kami utusan dari Cirebon, namaku Suciwati dan ini adalah pengawal-pengawal yang kami bawa!"


"Hmm..lalu apakah kepentinganmu Nisanak?"


"Mohon maaf kepala penjaga! aku hanya akan mengutarakan kepentinganku kepada Gusti Prabu Geusan Ulun, tidak kepada siapapun selain beliau!"


"Tidak bisa Nisanak, kau harus melalui beberapa tahapan dan melalui beberapa proses jika akan menghadap Gusti Prabu, itupun dengan syarat kau harus memperlihatkan tanda pengenal sebagi utusan dari Kerajaan Cirebon, mohon maaf ini adalah peraturan yang kami sendiri tidak berani melanggarnya!"


"Tanda sebagai utusan Kerajaan Cirebon kami bawa!" kemudian dua laki-laki pengawal itu menyerahkan sebuah tanda kain kecil yang bergambar Macan Ali sebagai Syimbol Kerajaan Cirebon

__ADS_1


__ADS_2