
Kondang Hapa telah menyusul langkah Ki Jaka Perkasa yang sedang berjalan menuju Pendopo kediamannya, "aku telah melaksanakan perintahmu Kakang! semuanya sudah tidak ada yang meninggalkan bekas!"
"Bagus Kondang Hapa, kita tetap harus berhati-hati terhadap para penyusup! mereka akan melakukan segala cara yang bisa membahayakan Gusti Prabu, tingkatkan seluruh penjagaan di wilayah keraton!"
"Siap Kakang!"
Perjalanan mereka berdua kemudian melewati beberapa pohon yang berjajar di sepanjang jalan yang mengarah kediaman Ki Jaka Perkasa.
Sementara itu di atas salah satu pohon yang mereka lewati...
Nini Sangga Geni menahan nafas ketika melihat Ki Jaka Perkasa dan Kondang Hapa melintas di bawahnya, tapi ia tidak merasa yakin jika Ki Jaka Perkasa tidak mengetahui kehadirannya.
Semalam Nini Sangga Geni memutuskan masuk ke dalam Balai Prajurit dengan cara menerobos, telah dua hari Nini Sangga Geni berada di Kutamaya, ia kemudian mendapatkan keterangan bahwasannya Wirayudha berada di dalam Balai Prajurit dan di kenal oleh kalangan prajurit Sumedang Larang sebagai Pendekar muda yang sakti.
Nini Sangga Geni tidak dapar bergerak untuk mencari keberadaan Wirayudha, Balai Prajurit tempat yang sangat ketat dan terbatas, akhirnya ia memutuskan menunggu waktu hingga malam kembali, persembunyiannya di atas pohon Hanjuang yang besar dan tinggi di sebelah selatan pos penjagaan dekat gudang senjata.
Sementara itu, Wirayudha, Genta Buana dan Ki Pancar Buana masih larut dalam kebahagiaan pertemuan mereka di pendopo Genta Buana yang berada di luar Balai Prajurit.
Setelah Ki Jaka Perkasa telah sampai di pintu gerbang kediaman Panglima, Kondang Hapa pamit kembali meninggalkan Ki jaka Perkasa.
"Kondang Hapa!"...
Mendengar suara panggilan, tubuh Kondang Hapa berbalik dan menghadap Ki Jaka Perkasa, "apakah ada perintah kembali untukku kakang!"
"Hmm...bawalah beberapa prajurit untuk mendampingimu! tangkap hidup atau mati seseorang yang berada di atas pohon Hanjuang yang tadi kita lewati!"
Kondang Hapa merasa kaget, mukanya seperti menerima tamparan, ia merasa malu kepada Ki Jaka Perkasa karena tidak menyadari ada penyusup yang tidak di ketahui, padahal tadi dirinya ikut melintasi pohon tersebut, "Maafkan atas kelalaianku Kakang, aku berjanji akan terus meningkatkan kemampuanku kembali!" kemudian Kondang Hapa langsung melesat untuk kembali ke pohon Hanjuang yang tadi di lewatinya.
Karena kemarahan yang tertahan, belum juga mendekat dengan pohon tersebut, Kondang Hapa mengirimkan serangan jarak jauh berupa gumpalan angin puyuh yang kencang, "Hiaaath...Blaamh!....Blaaamh!"
__ADS_1
Sebuah bayangan melesat ke atas, menghindar dari serangannya yang merontokan seluruh daun-daun pohon Hanjuang yang di serangnya.
Terlihat dua bayangan saling berkejaran melintasi beberapa atap pendopo yang berada di sisi-sisi lapangan sekitar Balai Prajurit. "Sraaat....Sraaath...Taph...Taph!"
Kemarahan yang telah menjadi, membuat Kondang Hapa mengeluarkan Ajian Prahara Bayu yang jarang di keluarkannya, di kedua samping kanan dan kirinya muncul putaran angin puyuh yang terus berputar mendampingi tubuhya yang masih mengejar, "Werrrh....Weerrrrh!"...Sraakh...Sraaakh!"
Sambil berlari kedua tangan Kondang Hapa berputar kemudian mengibas ke arah tubuh Nini Sangga Geni yang masih berlari.
Kedua angin puyuhpun meluncur menerabas semua yang di lewatinya,.."Brassh...Brasssh!"
"Tapak Geniiiii!"
Terdengar teriakan Nini Sangga Geni yang berjumpalitan, kakinya kini menyentuh tanah dan tangan tunggalnya melancarkan serangan ke arah angin puyuh yang sedang berputar menuju ke arahnya.
"Dhuaaarh...Dhuaaarh!"
Terdengar suara ledakan yang mengguncang sekitar Balai Prajurit, membuat seluruh prajurit yang sedang berlatih menghentikan seluruh kegiatannya.
Entah darimana datangnya, kini di sekitar tubuh Nini Sangga Geni banyak ular-ular yang terlihat bersiap melindunginya, "Zzzh...Zzzh....!"
"Berani sekali kau menyusup di sarang Harimau Nisanak! aku jamin kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari benteng prajurit kami! Hiaaath...Sraaakh!"
Cengkeraman jari-jari Kondang Hapa meluncur deras ke arah dada dan perut Nini Sangga Geni....
Nini Sangga Geni tidak mau belaku ayal, tubuhnya kemudian berkelebat menggunakan Menjangan Kabut untuk menghindari serangan, Kakinya balik melancarkan beberapa tendangan dengan Selaksa Gunung, "Wusssh...Desh...Desh!"
Karena hanya konsentrasi terhadap serangan, Kondang Hapa sampai melupakan pertahanan, tendangan Kaki Nini Sangga Geni bersarang di tubuhnya.
Akibat tendangan itu, ia terjajar sampai dua tombak ke belakang.
__ADS_1
Ular-ular Nini Sangga Geni merayap dengan cepat, bersiap mematuk seluruh tubuh milik Kondang Hapa, "Zzzh...Zzzzh!"
"Rajawali Menebas Karang!" Sraasth...Kedua tangan Kondang Hapa merentang, kemudian melakukan gerakan menyapu ke sekitar tubuhnya, "Wuuusshhh!"...
"Sraaakh...Sraaakh!"
Tubuh Ular-ular yang mendekatinya terlempar bergelimpangan, mereka terbelah seperti terkena tebasan-tebasan pedang yang tajam. darah Ular pun berceceran di mana-mana, membuat Nini Sangga Geni yang memandanginya mundur satu langkah ke belakang.
"Tidak ada waktu jika kau ingin menghindar! bertarunglah sebagai seorang pendekar sejati!" Kondang Hapa mendekati Nini Sangga Geni dua langkah ke depan.
"Aku tidak akan lari dari pertarungan! suatu kehormatan juga bagiku jika mati dalam sebuah pertarungan Kisanak!" Nini Sangga Geni bersiap untuk melancakan serangan yang dia rasa paling pamungkas. Tenaga dalamnya di alirkan ke sebelah tangan yang di milikinya, tatapan mata Nini Sangga Geni berkilat seperti mata Ular yang siap mematuk.
Kondang Hapa pun bersiap, wajahnya telah berubah menjadi manusia setengah Harimau, jari-jari tangannya mengembang membentuk cakar Lodaya yang siap menerkam mangsanya.
"Graaaumh...!"
Kelebatan bayangan Kondang Hapa merangsek dan menerkam Nini Sangga Geni, sedangkan tubuh Nini Sangga Geni pun menyerang dengan jari-jari tangan mematuk.
Tubuh mereka saling menyerang di udara, terkaman dan patukan silih berganti, keduanya dengan gesit saling mengelak serangan, bau amis bisa ular dan raungan Lodaya terlihat dan tercium di sekitar arena pertarungan mereka.
Hingga suatu ketika, terdengar suara benturan tenaga dalam yang dahsyat di sekitarnya, "Blaaarh...Blaaarh!"
"Sraaarth...Brukkkh!" tubuh Kondang Hapa terseret ke belakang ia pun jatuh berlutut sambil kedua tangannya mencengkeram ke permukaan tanah.
Tubuh Nini Sangga Geni terlempar hampir dua puluh tombak ke belakang, tubuhnya tergusur di permukaan tanah berguling-guling, pakaiannya menghitam seperti hangus terbakar, dari mulutnya keluar darah hitam bergumpal, "Aaaakh...Aaaakh!"..
"Aku tidak boleh mati sebelum bertemu Wirayudha!" dalam keadaan terluka parah, Nini Sangga Geni mencoba bangun dengan wajah yang tertutup rambutnya.
Kondang Hapa sendiri telah berdiri kembali, ia memberikan waktu kepada Nini Sangga Geni untuk bangkit, dia merasa tidak layak untuk menyerang seseorang yang telah jatuh dan terluka parah.
__ADS_1
"Aku telah bertarung ratusan kali Nisanak! kau adalah pendekar wanita yang menjadi lawan paling beratku selama ini! bangkitlah lanjutkan pertarungan kita!"