Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Strategi Perang


__ADS_3

Ki Jaka Perkasa telah kembali ke Kutamaya tanpa ada yang mengetahui kedatangannya, ia sengaja tidak memberitahukan kepada siapapun agar tahu situasi Balai Prajurit saat-saat di tinggalkannya, apakah para prajurit itu tetap berlatih, atau saat di tinggalkannya mereka bermalas-malasan?


Siang itu Ki Jaka Perkasa berdiri di ketinggian tanpa ada yang mengetahui dengan kehadirannya.


Sedangkan di lapangan, Ki Pancar Buana, Ki Wiradijaya dan Kondang Hapa sedang mengawasi Wirayudha yang berada di tengah-tengah para prajurit.


Sebenarnya Wirayudha tidak buta sama sekali tentang strategi-strategi pertempuran, dalam pelatihan Pasukan Badai, Topan dan Guntur saat di Parangtritis Wirayudha selalu di libatkan oleh ayah dan guru-gurunya.


Tetapi Wirayudha sangat cerdas, kemampuan dan keahliannya dalam menghancurkan formasi-formasi pertempuran tidak dia tunjukan secara keseluruhan, dengan alasan, Wirayudha belum memahami betul situasi dan Kondisi di Kutamaya.


Sangat terasa sekali olehnya, perbedaan rantai kepemimpinan di Kutamaya dengan situasi Alas Roban.


Di Alas Roban, seluruh keputusan dan pelaksanaan kebijakan selalu di musyawarahkan sampai tingkat bawah, semua mempunyai kesempatan untuk mengemukakan saran atau pendapatnya, pemimpin dalam hal ini ayahnya hanya mengevaluasi dan menjalankan keputusan dari hasil musyawarah yang sudah di sepakati bersama.


Baru saat di lapangan Ayahnya mempunyai kewenangan yang sentral dan semua anggota mempunyai kesadaran untuk tidak membantah dalam pelaksanaan tugas-tugas yang di berikan sesuai kewenangan dan kewajibannya sebagai pelaksana.


Berbeda dengan Keadaan di Kutamaya, semua keputusan, baik saat latihan dan penugasan adalah keputusan dari Hyang Hawu atau Ki Jaka Perkasa.


Kesimpulan tersebut di peroleh Wirayudha saat berbincang dengan Kakeknya Ki Pancar Buana, Ki Wiradijaya dan Kondang Hapa, mereka tidak mempunyai keberanian memutuskan suatu permasalahan di lingkungan prajurit ketika Wirayudha menanyakan atau mengusulkan sesuatu dengan alasan menunggu kehadiran Ki Jaka Perkasa terlebih dahulu.


"Raden! tunjukan kepada kami bagaimana menangani pengepungan formasi perang Sumpit Urang milik kami!" salah satu ketua kelompok pasukan infanteri memberikan pertanyaan kepada Wirayudha.


"Formasi tempur Sumpit Urang hanya dapat di lakukan oleh pasukan besar, dan di lakukan untuk pengepungan kepada pasukan yang jumlahnya lebih kecil, dan keberhasilannya akan di pengaruhi oleh medan pertempuran, apakah itu perbukitan, atau medan terbuka. semuanya adalah faktor pendukung keberhasilan!"


"Sangat tidak cocok di pergunakan untuk medan terbuka, apalagi pengepungan dalam skala perorangan atau kelompok kecil, mari aku tunjukan!" Wirayudha kemudian bersiap di tengah, ia bersiaga dan memerintahkan beberapa prajurit menyerangnya dengan formasi Sumpit Urang.


"Bergeraklah! kalian tidak perlu sungkan kepadaku dalam melakukan serangan!"


Puluhan prajurit kemudian berdiri, tiga orang melakukan serangan dari depan dengan senjata tombak, tiga pemegang tombak maju dan langsung menusukan ujung tombaknya ke arah tubuh Wirayudha dengan tempat yang berbeda, kepala, perut dan kaki.


"Wusssh...Wussh...Wussh!"

__ADS_1


Hanya dengan melangkahkan kakinya ke samping satu langkah, ke tiga serangan tersebut dapat di elakan, sambil mengelak Wirayudha pun berteriak, "arah tombak kalian tidak boleh sejajar! mata tombak arahkan dengan jarak satu depa ke arah kiri atau kanan!"


Dua puluh prajurit yang sudah bersiaga kemudian memecahkan diri menjadi dua, bersiap di depan dan belakang tubuh Wirayudha.


Ketika Wirayudha melakukan serangan terhadap tiga orang prajurit pemukul, mereka mengundurkan diri masuk ke celah barisan, sepuluh prajurit yang berada di depan menusukan tombak secara serentak.


Wirayudha melompat ke atas dengan ketinggian tiga tombak, kemudian tubuhnya dalam keadaan terbalik melakukan tangkisan ke arah tombak-tombak yang melintas, "Draakh...Draakh!"


Sepuluh prajurit yang berada di belakang Wirayudha, serentak melakukan serangan dengan bersenjatakan pedang, lima orang menyerang dari sisi kanan dan lima orang dari sisi kiri, sedangkan tiga orang prajurit pemukul yang berada di posisi utama, meloncat di atas sepuluh penombak utama dengan menusukan mata tombaknya ke arah satu titik.


Jika saja yang di serang oleh mereka bukanlah Wirayudha, lawan mereka akan sulit mengelak dari Dua puluh tiga serangan yang di lakukan serentak.


Wirayudha melakukan pertahanan sekaligus serangan dengan sangat lincah, tiga tombak di elakan hanya dengan menyorongkan tubuhnya ke depan satu depa ke kiri dari mata tombak, kemudian tubuhnya berbalik dan menunduk dengan cepat sambil menyapukan kakinya ke arah kaki lima penyerang dari samping kanan, "Desh...Desh!" merekapun jatuh terguling,


Untuk menghindari serangan dari lima penyerang kiri, Wirayudha menjatuhkan dirinya sejajar dengan permukaan tanah, seraya kedua tangannya memukul ke arah bawah, "Desh...Desh...Desh!"


"Bruuukh...Bruuukh...Aaakh...Aaakh!"


Sepuluh prajurit telah terjatuh, Wirayudha berguling ke arah sepuluh prajurit yang bersenjatakan tombak, kaki-kaki nya kemudian melakukan tendangan putar dari bawah dengan kuat,


"Brukkkh...Bruukh...Bruukh!"


"Aaakh...Aaakh..Akkkh!"


Merekapun terpelanting berjatuhan.


Hanya sisa tiga prajurit utama yang memegang tombak, tetapi mereka tidak melanjutkan serangan kembali.


Wirayudha berdiri sambil mengibaskan debu-debu yang menempel di pakaiannya, "Gerakan kalian sangatlah bagus! hanya tinggal memperkuat pertahanan di bawah!"


"Raden, kami tadi tidak dapat mengembangkan formasi yang akan kami lakukan, semua gerakan rasanya seperti mengambang dan tertekan! apakah kelemahan kami raden?"

__ADS_1


"Ha...Ha..Ha, ternyata kalian menyadari kelemahan!" Wirayudha mendekati mereka.


"Formasi pertempuran bukan hanya terbatas harus di hapal dan di ingat, tetapi kalian harus pahami, agar bisa mengembangkan gerakan di luar teori yang kalian pelajari!"


"Sebagai prajurit, kalian harus mengembangkan daya cipta kreatifitas yang mumphuni, itulah gunanya latihan bukan hanya berpikir menyerang dan di serang!"


"Penerapan Strategi tempur sama seperti kita akan melukis, menyiapkan bahan, membuat sketsa, dan mulai mengores di permukaan yang mana?"


"Garis-garis dan coretan awal akan menentukan hasil lukisan kita, sama seperti pertempuran!"


"Menyiapkan prajurit yang tangguh, peralatan tempur, penempatan pasukan yang tepat, logistik yang mendukung semuanya harus kita siapkan tidak boleh abai terhadap hal-hal yang sangat kecil!"


"Memperoleh kemenangan tidak dapat di raih dengan mudah, semuanya membutuhkan proses dari bawah!"


Penjelasan Wirayudha membuat para prajurit terdiam, selama ini mereka tidak pernah di berikan penjelasan dari dasar atau bawah, "Berlatih!...Berlatih!.. Kerja keras!" selama ini hanya itu saja yang menerap di pikiran mereka.


Mereka tidak pernah di berikan kesempatan untuk berkembang sehingga daya cipta dan pemahaman mereka terbatas.


"Membunuh! atau di Bunuh!" hanya itu saja yang berada di otak mereka selama ini.


Ki Jaka Perkasa tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk mengetahui siapa pemuda yang berada di tengah-tengah pasukannya, dengan cepat tubuhnya melesat dan berdiri di depan Wirayudha.


"Sraaath...Slaaph...!"


Wirayudha memandang Ki Jaka Perkasa yang belum di kenalinya, sedangkan seluruh prajurit berdiri dengan tegap dan menjura memberikan penghormatan, kemudian mereka berteriak dengan serempak..."Sumedang Tandang Nyandang Kahayang!"....


________________________________________


Selamat berlibur...,


untuk reader yang memperingati hari Natal, izinkan kami mengucapkan "Selamat Natal, semoga damai selalu,

__ADS_1


...Karunia cinta. Karunia perdamaian. Karunia kebahagiaan....


Semoga semua ini menjadi milik kita saat Natal


__ADS_2