Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Perpisahan


__ADS_3

Setelah Wirayudha berusaha meyakinkan Ki Pandusora dan yang lain, akhirnya merekapun dapat mengerti dan memahami Wirayudha dan Nini Sangga Geni, tetapi Maharani tetap tidak dapat menerimanya.


Sebenarnya di hati Wirayudha ada rasa suka yang terpendam, hanya saja dia masih belum merasa pantas untuk mengungkapkan perasaannya, berbeda dengan Maharani yang berterus terang jika dirinya menyayangi Wirayudha.


"Kakang, apakah kau pergi bukan hanya sekedar alasan agar jauh dariku? mungkin kau kesal melihat tingkahku seperti ini!"


"Tidak Nimas, aku memang benar-benar mempunyai tugas yang di embankan kepadaku, Wirayudha sudah kehabisan kata untuk berusaha meyakinkan Maharani.


Setelah lama keduanya berdiam diri, akhirnya Maharani berkata "Kakang, aku minta maaf membuatmu terbebani, sebagai seorang laki-laki kau memang harus memenuhi janjimu untuk menunaikan tugas, aku akan rela melepaskanmu, tetapi dengan satu syarat!"


"Apakah itu Nimas?"


"Kau harus berjanji kepadaku, setelah tugasmu selesai kau akan kembali kesini! apakah kau bersedia Kakang?"


Wirayudha dengan cepat dan tanpa berpikir panjang menyetujui syarat yang di kemukakan Maharani, dia tidak menyadari bahwa petualangan yang sedang di lakukan masih sangat panjang dan saat ini baru hanya awal petualangan. di kemudian hari nanti, janji ini akan menjadi tragedi cinta yang sangat menyedihkan untuk Wirayudha.


Ke esok harinya Nini Sangga Geni dan Wirayudha mulai akan melanjutkan perjalanan, mereka di lepas oleh seluruh warga Padepokan Bajing Loncat dengan tatapan kesedihan, terutama Maharani yang diam seribu bahasa.


"Nimas aku pamit, jangan kau rusak parasmu yang cantik dengan kesedihan!"


"Iya Kakang, selamat jalan semoga engkau dapat menunaikan tugasmu dengan baik, dan jangan melupakan janjimu kepadaku!"

__ADS_1


Ucapan Maharani terdengar oleh Ki Pandusora beserta putranya yang lain, mereka merasakan kesedihan Maharani, karena baru pertama kali inilah Maharani merasakan jatuh cinta. Pelukan eratnya kemudian melepaskan Wirayudha ketika berangkat meninggalkan Padepokan.


Sumedang Larang.


Pusat kerajaan Sumedang Larang berada di Kutamaya, penduduknya hidup dengan sejahtera dan sentosa, walaupun dari segi politik, kerajaan itu di apit oleh kerajaan besar seperti Kerajaan Cirebon, Kerajaaan Mataram dan Kerajaan Banten.


Prabu Geusan Ulun atau Pangeran Angkawijaya sangatlah arif dan bijaksana, karena sesama keturunan dari Baginda Prabu Siliwangi, Kerajaan Sumedang Larang dapat dengan baik bekerjasama dengan Kerajaan Cirebon yang di pimpin oleh Panembahan Ratu, selain itu karena keduanya juga pernah mengenyam pendidikan bersama di Kerajaan Pajang.


Tetapi dalam kedamaian pasti ada bara di dalam sekam, yang kemungkinan bisa membuat bara itu menjadi lautan api yang sangat luas.


Ketika kerajaan Pakuan Padjajaran di ambil alih oleh Syeh Maulana Yusuf, Kandega Lante atau Jawara Padjajaran yang berjumlah empat orang ini menolak untuk bergabung dengan penguasa Banten, mereka berempat lebih memilih mengabdi kepada Kerajaan Sumedang Larang, dengan membawa seluruh Panji dan Syimbol kerajaan, mereka bergabung dalam pasukan Pangeran Angkawijaya yang menjadi raja Sumedang Larang bergelar Prabu Geusan Ulun.


Ki Jaya Perkasa, Ki Pancar Buana, Wiradijaya dan Kondang Hapa mereka adalah Ksatria-ksatria pilih tanding yang terkenal dengan nama Kandaga Lante.


"Kakang Jaya Perkasa, semua tugas darimu telah aku laksanakan, daerah-daerah perbatasan dengan Cirebon telah kita susupi dengab wadyabala kita!" Ki Pancar Buana sedang melaporkan situasi mengenai rencana mereka.


Ki Jaya Perkasa masih menundukan kepalanya, entah sedang merenung atau sedang berfikir membuat yang lainnya terdiam menunggu perintah selanjutnya.


Setelah menegakan kepalanya kembali terdengar suara Ki Jaya Perkasa dengan lirih "Aku masih tidak habis pikir dengan Pangeran Angkawijaya, saat ini beliau merasa puas dengan pencapaian yang telah di lakukanya, kita sadari seluruh warga Sumedang Larang telah mencapai kemakmuran, tetapi beliau tidak menyadari tugasnya sebagai titisan darah Padjajaran tidaklah cukup hanya itu! kejayaan Padjajaran harus kita raih kembali dengan menegakan syimbol-syimbolnya di seluruh negeri tanah sunda."


Setelah Ki Jaya Perkasa terdiam, terdengar suara Ki Kondang Hapa, "mohon maaf Kakang! apakah rencana kita ini tidak akan membuat pertumpahan darah dengan sesama darah Padjajaran, karena kita tahu Cirebon ataupun Banten adalah saudara sedarah kita juga!"

__ADS_1


Wajah Ki Jaya Perkasa mengelam, "Tidak Adi Kondang Hapa, kejayaan Padjajaran yang harus melanjutkan adalah Sumedang Larang, karena semua syimbol-syimbol kerajaan Padjajaran telah kita bawa kesini, bukan di Cirebon ataupun Banten!" terdengar suaranya menahan kegeraman.


Ki Pancar Buana dan Wiradijaya yang sebelumnya ingin memberikan saran, akhirnya terdiam, tidak berani membuka mulut, selain karena Ki Jaya Perkasa adalah bekas seorang Panglima perang kerajaan di mana mereka mengabdi sebelumnya, mereka telah menganggap Ki Jaya Perkasa adalah bagian jiwa mereka yang tidak mungkin di pisahkan.


"Adi Pancar Buana, bagaimana dengan tugasmu mengumpulkan Ksatria-ksatria kita yang tercerai berai di seluruh pelosok negeri?"


"Aku akan berusaha Kakang, Genta Buana telah ku tugaskan untuk menyelusurinya ke setiap sudut-sudut daerah."


"Apakah benar Sangkan Urip Kakakmu telah tiada?" Benar Kakang, sayang sekali kita kehilangan seorang ahli pengobatan yang linuwih seperti Kakang Sangkan Urip!"


"Tetapi Genta Buana sampai sekarang masih mencari keponakanku bersama putranya yang hilang, mudah-mudahan saja mereka dapat di temukan dan Kakang sangkan Urip telah menurunkan ke ahliannya kepada putri atau cucunya."


"Ki Jaka Perkasa mendengarkan keterangan dari Pancar Buana sambil tangannya meloloskan sesuatu dari sebuah bungkusan kain di depannya, "Kondang Hapa! aku mempunyai tugas untukmu, kau bantulah Genta Buana dalam tugas mengumpulkan Ksatria-ksatria kita, kemungkinan dia akan menemukan kesulitan dalam menghadapi mereka," kemudian Ki Jaka Perkasa menyodorkan sebuah senjata yang berbentuk Keris dengan pamor yang sangat berwibawa, hulunya berbentuk kepala seekor Naga.


"Senjata ini adalah pusaka leluhur yang bernama Keris Naga Runting, semua Ksatria yang berasal dari Padjajaran pasti akan mengenalnya, senjata ini akan lebih memudahkan untuk meyakinkan mereka agar bergabung dengan pihak kita!"


"Aakh..Mohon izin Kakang, aku terasa berat menerimanya, pusaka ini sangatlah berarti untuk kita, aku khawatir tidak dapat menjaganya!" Kondang Hapa sangat terperanjat dengan pemberian pusaka itu, karena Kondang Hapa pun marfum pusaka Keris Naga Runting bukan pusaka sembarangan dan tidak mudah di kendalikan.


Kondang Hapa sendiri sebenarnya bukanlah pendekar biasa, ia adalah salah satu Senopati Padjajaran yang sangat sakti mandraguna, tetapi membawa Keris Naga Runting sama saja dengan membawa sebuah gunung emas, sangatlah tidak mudah untuk menjaganya.


"Kau harus ingat Kondang Hapa, pantangan bagimu menyarangkan Keris ini kepada tubuh Macan Lodaya, karena akan membangkitkan amarah seluruh Macan Lodaya yang berada di Pulau jawa ini, dan keris ini akan menuntunmu kepada Ksatria pilih tanding yang mewarisi ilmu Naga Langit milik Ki Balung Putih dari Puncak Ciremai!"

__ADS_1


"Aku akan berusaha dengan nyawa sebagai taruhannya Kakang!" tanpa dapat menolak lagi Ki Kondang Hapa kemudian mengangsurkan kedua tangannya ke depan dengan kepala terlipat ke bawah saat menerima Keris Naga Runting dari Ki Jaka Perkasa. sebelum memasukan ke dalam bajunya, Ki Kondang Hapa mencium Keris itu dengan takjim.


__ADS_2