Jiwa Ksatria

Jiwa Ksatria
Kutamaya Menebar Janji IV


__ADS_3

Wirayudha berjalan mengikuti tiga dari Kandaga Lante menuju pendopo megah yang berada di tengah-tengah area Balai Prajurit, termasuk Ki Indrayasa dan Citraloka.


Mereka bercengkerama sampai dengan larut malam, Wirayudha kini menjadi kebanggaan baik oleh Ki Pancar Buana maupun Kondang Hapa dan Wiradijaya.


Hyang Hawu sendiri atau Ki Jaka Perkasa sedang tidak berada di tempat dan sedang melakukan perjalanan keluar.


Ada perbedaan yang di rasakan oleh Wirayudha saat ini, semua orang menghormatinya, baik di lingkungan Balai Prajurit maupun di luaran, karena, selain parasnya yang memang menawan, pembawaan Wirayudha sangatlah baik dan ramah, membuat orang-orang sekitar banyak yang menyukai.


Semakin lama Lestaripun mulai merasa jauh, karena kini Wirayudha selalu di kelilingi oleh orang-orang penting.


Suatu ketika akhirnya Wirayudhapun mendapatkan waktu untuk sendiri, duduk menyandar di depan teras pendopo kecil yang mewah yang telah di berikan kepadanya.


Saat pandangannya menatap ke depan, terlihat Citraloka sedang berjalan melintasi pendoponya. Wajah Citraloka menunduk saat melintas dan terlihat mempercepat langkahnya.


"Nimas, mau kemanakah sepagi ini? kau melintas dan melewatiku tanpa sedikitpun menyapa, seperti kita tidak saling mengenal saja!"


Kejut Citraloka terlihat dari wajahnya, kini Wirayudha sedang berjalan menghampiri, Citraloka tidak mengira jika Wirayudha mau menyapa, membuat dirinya serba rikuh dan bingung, antara senang dan bingung akan menjawab apa.


Akhirnya Citraloka dapat menguasai diri, kemudian menjawab sapaan dari Wirayudha, "Maaf raden, aku tidak melihatmu! lagi pula aku tidak mengira kalau kau masih mengenaliku!"


"Raden?...Sejak kapan aku menyuruhmu memanggilku dengan sebutan raden? Wirayudha bertanya kembali sambil tersenyum.


"Aku harus memanggilmu apa? apalagi ku lihat sekarang kau sangat di hormati di Balai Prajurit ini, tidak mungkin aku memanggilmu hanya dengan memanggil nama!"


"Aku memanggilmu dengan panggilan Nimas! kau bisa memanggilku dengan sebaliknya!"


"Ayolah singgah ke tempatku! kita bisa saling bertukar cerita yang banyak, tidak seperti pertemuan pertama, kau menyerangku habis-habisan!"

__ADS_1


Akhirnya Citraloka pun singgah dan duduk bersama Wirayudha di teras pendopo, senyum dari keduanya terlihat mengembang.


Lestari memandangi keduanya dari jauh, muncul di hatinya bara panas, yang membuat wajahnya mengelam dan runtukan mulai menguasai pikirannya. Ia pun kemudian pergi dengan hati penuh amarah.


Semua yang terjadi tidak lepas dari tatapan seorang laki-laki yang berada di ujung benteng, dia adalah Ganda Permana, seorang putra Adipati Subang yang sekarang mengabdi di Kerajaan Sumedang Larang, dengan tujuan mencari kedudukan dan pangkat di sebuah Kerajaan besar seperti Sumedang Larang.


Dengan kemampuannya, Ganda Permana merasa percaya diri, dengan mudah akan mendapatkan apa yang dia cari, apalagi saat ini dia telah mendapatkan kedudukan yang penting, membawahi sebuah pasukan Kaveleri, atau pasukan berkuda, yang mendukung semua gerakan pasukan tempur.


Ambisi Ganda Permana tidak berhenti hanya sebagai pimpinan pasukan Kaveleri, ia menginginkan menjadi pimpinan pasukan Infanteri yang dia anggap bisa mengantarkannya ke tingkatan yang lebih tinggi lagi dengan mudah.


Tetapi setelah kehadiran Wirayudha, Ganda Permana merasakan keinginannya sangat sulit untuk tercapai, dengan kemampuan dan hubungannya sebagai keluarga dari seorang Kandaga Lante, kans Wirayudha lebih kuat.


Kejadian demi kejadian yang berhubungan dengan Wirayudha, oleh Ganda Permana di catat dalam kepalanya, karena ia berpikir...suatu saat pasti bermanfaat guna menjatuhkan Wirayudha. Kini ia pun bermaksud akan mendekati Lestari untuk menjadikan sekutu baginya.


Kita kembali ke Wirayudha dan Citraloka yang sedang asik berbicara, ada kesan yang mendalam bagi keduanya dalam pembicaraan itu, Citraloka semakin terpaut hatinya oleh Wirayudha yang dia anggap sebagai laki-laki yang mempunyai Jiwa Ksatria, sedangkan Wirayudha sendiripun hampir mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.


"Citra, suatu saat nanti kau harus singgah di tempatku, Grojokan Sewu di lereng Ciremai, pemandangan di sana sangatlah indah, suara gemericik air terjunnya akan mendamaikan jiwa kita!"


"Kau pun nanti bisa singgah juga di tempatku Wira, Gunung Sawal sangat indah, kau pasti akan menyukainya. Di Puncak Karantenan kau nanti dapat melihat rembulan tanpa halangan apapun!"


"Kenapa aku harus ke Gunung Sawal? kalau hanya ingin melihat rembulan, wajahmu saja bersinar seperti rembulan Citra!"


"Hei...Kau pandai sekali merayu wanita Wira! sudah berapa banyak wanita yang mendapatkan pujianmu?"


"Ah..Itu bukan rayuan Citra! aku hanya mengatakan yang sebenarnya!" terlihat wajah Wirayudha bersungguh-sungguh sambil menatap Citraloka.


Tiba-tiba tanpa di sadari keduanya, Ki Indrayasa telah berada di depan pendopo, "Hmm...Citraloka, gurumu sedari tadi sudah menunggumu dengan perut kelaparan! apa yang kau lakukan di sini?"

__ADS_1


"Akh..Maaf guru! aku lupa membawakan makanan untukmu, Wira maaf aku pamit dahulu!"


Akhirnya Ki Indrayasa dan Citraloka pergi meninggalkan Wirayudha sendiri.


"He..He..He, aku pikir kau tidak mau dekat-dekat dengannya Citra, kau sendiri yang mengatakan belum memikirkan tentang hubungan dengan seorang pria!"


Citraloka tetap berjalan dengan menatap ke depan, ia tidak memperdulikan sindiran gurunya, hatinya sedang berbunga-bunga.


Setelah kepergian Citraloka, Wirayudha duduk sambil menyandarkan punggungnya di kayu tiang penyanggah atap, pikirannya kini melayang rindu akan kebebasan, walaupun di dalam Balai Prajurit fasilitas yang di berikan serba mencukupi, tidak membuat ia merasa nyaman.


Seandainya bukan dalam misi yang di embankan oleh Ki Sampang dan Ayahnya, mungkin dirinya akan segera pergi untuk berkelana kembali.


"Apa yang harus aku lakukan di sini? aku lihat Sumedang Larang dalam keadaan baik-baik saja, masyarakatnya pun terlihat sejahtera," hanya itu yang dapat Wirayudha renungkan, hatinya masih di liputi tanda tanya besar, semuanya masih merupakan teka teki yang belum dapat di jawab, pandangannyapun kini terbatas hanya dapat melihat sekeliling Balai Prajurit yang semakin lama membuatnya jenuh.


Dari jauh terlihat Ki Pancar Buana berjalan mendekati pendoponya, membuat Wirayudha berdiri dan kemudian menyambut. "Ah..Eyang! seharian ini aku tidak melihatmu, apakah kau dalam keadaan baik-baik saja?"


Setelah duduk di depan Wirayudha, Ki Pancar Buana menarik nafas dan kemudian keduanyapun terlibat pembicaraan, setelah lama mereka bercerita, akhirnya Ki Pancar Buana mengutarakan tujuannya datang ke pendopo yang di tempati Wirayudha, "banyak sekali yang harus aku lakukan Wira! sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tawarkan kepadamu, semoga kau tidak menolaknya Wira!"


"Apakah itu Eyang?"


"Walaupun Kakang Jaka Perkasa selaku Panglima belum kami kabarkan tentangmu, aku bersama Kondang Hapa dan Wiradijaya telah sepakat memintamu untuk menduduki jabatan sebagai seorang Pimpinan Utama pasukan Infanteri Wira! apakah kau menyanggupinya?"


Setelah Wirayudha menahan rasa terkejutnya, kemudian dia pun menjawab "Eyang, aku tidak mempunyai kemampuan untuk menduduki jabatan itu, yang aku tahu hanya tentang Olah Kanuragan, dan buta tentang strategi-strategi pertempuran!"


"Dan aku orang baru di sini, apa kata prajurit yang lain, yang telah mengabdi lama dan sudah terlibat dalam banyak pertempuran, lalu melihatku sebagai orang baru langsung menduduki jabatan setinggi itu?"


Ki Pancar Buana menatap Wirayudha dengan senyum puas, "Ha..Ha..Ha, kau bukan hanya tinggi dalam olah kanuragan saja Wira! tetapi ternyata cara pandangmu sangat bijaksana, aku kira kau seorang anak muda yang sangat ambisius, terima kasih Wira, kau telah lulus ujian dari kami bertiga, aku pamit dulu Wira! masih banyak yang harus aku kerjakan!" kemudian Ki Pancar Buana langsung meninggalkan Wirayudha yang masih penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Hmm...Aneh, apa maksudnya Eyang Pancar Buana ini? berbicara menawarkan sebuah jabatan tinggi seperti menawarkan sebuah pakaian ganti!, apa memang aku yang bodoh dan tidak memahami apa yang di utarakannya?"


__ADS_2