
Hanan berusaha terus menghubungi istrinya, nihil, tak ada jawaban sama sekali, membuat pria itu menghela napas panjang. Suara ketukan di ujung pintu membuyarkan lamunannya sesaat.
"Pa, mama belum pulang? Kenapa mama belum pulang? Icha tidak bisa tidur," lapor gadis kecil itu menyusul ke kamar ayahnya.
"Icha tidur dulu ya, mama sebentar lagi pasti pulang," bujuk Hanan sedikit kerepotan menenangkan putrinya.
"Nggak mau," tolak gadis itu dengan wajah cemberut.
Ayah dari satu anak itu mendekat, lalu menggendongnya.
"Icha mau bobok di kamar papa, sekarang tidur ya sudah malam, besok kalau Icha bangun mama sudah di rumah," ujarnya yakin. Walau dalam hati mulai meragu sebab hampir pukul sembilan malam istrinya belum juga pulang.
Setelah berjibaku penuh drama dan kerempongan mengurus anaknya. Akhirnya Icha tertidur juga setelah lelah menanyakan ibunya. Namun, tidak untuk Hanan, pria itu tidak bisa terlelap barang sejenak pun. Pikirannya terus berkelana mengenai keberadaan Nahla saat ini. Apakah istrinya pulang ke rumah Bapak. Haruskah pria itu menghubunginya malam-malam begini?
Hanan pun mencoba menghubungi orang tua Nahla, lebih tepatnya Pak Subagio. Pria setengah abad itu masih stay di ruang keluarga saat handphone miliknya berbunyi.
"Pak, ini ada telpon dari Hanan!" seru Bu Kokom menginterupsi suaminya.
__ADS_1
"Sini Buk, tolong!" titahnya. Menerima dari tangan istrinya.
Menantu dan mertua itu nampak saling mengobrol satu sama lain. Menanyakan kabar lebih dulu sebelum bertanya tentang Nahla apakah pulang ke rumah atau belum. Namun, sebelum sempat pria itu bertanya, Pak Subagio lebih dulu menanyakan kabar putrinya lewat menantunya. Membuat Hanan sedikit bingung dan berpikir bahwa Nahla tidak pulang ke sana.
"Alhamdulillah Nahla sehat Pak. Ya sudah kalau begitu Hanan tutup telponnya ya Pak, selamat beristirahat," pamit Hanan menutup telponnya.
Ke mana Nahla kalau tidak pulang ke rumah orang tuanya? Apakah terjadi sesuatu dengan istrinya? Mendadak Hanan merasa khawatir. Niat hati ingin mencari, tetapi Icha sendirian di rumah.
Pria itu menanti esok hari dengan sabar. Berharap besok Nahla sudah pulang dan tak harus sampai mencari keluar.
Sebenarnya ia mengantuk berat karena semalam tidak bisa tidur, dan sekarang harus bangun pagi menyiapkan keperluan untuk Icha. Saat seperti ini kehadiran Nahla sangat diperlukan. Sudah berbulan-bulan Nahla yang melakukan itu jadi agak nyantai. Namun, untuk pagi ini Hanan berasa kembali di mana dirinya benar-benar menduda. Bedanya sekarang hati pria itu tak tenang sama sekali karena merasa ada sesuatu yang tak biasa.
Sementara Nahla sendiri memang tengah menyerukan aksi protes terhadap suaminya. Ia kesal, sakit hati, marah dan kecewa. Ingin menjadi egois demi kewarasan pikiran dan hatinya tetap terjaga.
Nahla sengaja singgah di rumah kost. Tempat ternyaman saat ini yang ia pilih, dari pada pulang ke rumah orang tuanya menimbulkan banyak pertanyaan kedua orang tuanya. Sembari menyiapkan mental kemungkinan yang terjadi selanjutnya. Karena Nahla sudah pasrah, dan siap jika memang tak ada cinta di hati Hanan, mending menghilang atau benar-benar berpisah dalam arti yang sesungguhnya. Daripada hidup bersama dengan orang yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya.
Sepi, tentu saja, tetapi di situ ia setidaknya bisa merenungi diri dan berpikir bagaimana seharusnya mengambil sikap. Apakah hubungan yang tak sehat ini harus berlanjut, atau berakhir dengan kepastian.
__ADS_1
Pagi harinya Nahla seperti biasa masuk mengajar sampai menjelang sore. Tidak banyak yang ia kerjakan setelah pulang. Hanya seputar kesendiriannya.Memang ini yang Nahla cari, butuh ketenangan untuk sendiri.
Sementara Hanan di kediamannya, pagi hari Icha terus menanyakan ibunya sampai pria itu sedikit kehilangan kesabaran. Gadis kecil itu tidak mau mandi, bahkan tidak mau sarapan.
"Pa, mama mana? Icha mau mandi sama mama."
"Mama nggak ada, Icha mandi sama pa-pa!" bentak Hanan hilang sabarnya. Membuat gadis kecil itu berwajah muram dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Sayang, mama belum pulang, maafkan papa Nak, bukan maksud papa marah, tapi Icha jangan rewel ya," kata pria itu menekan sabar. Setengah stress mengikuti kemauan putrinya yang apa-apa harus mamanya. Bahkan, putrinya mogok makan karena masakannya merasa tak sama.
"Icha sarapan dulu. Ini minum susunya, papa udah buatin buat Icha," kata pria itu lembut. Membujuk penuh perhatian.
"Nggak mau, ini nggak enak," ucap gadis kecil itu menjauhkan piringnya. Hanya satu suapan sudah membuat ayah dan anak itu bersitegang di ruang makan.
"Papa kan sudah bilang, mama lagi sibuk, belum bisa pulang. Icha sama papa dulu. Makan!" bentaknya gemas. Putri kecilnya malah menangis dan berlari ke kamar. Membuat Hanan dibuat pusing atas ulahnya.
"Icha, buka pintunya sayang! Papa minta maaf, ayo Icha mau apa biar papa bikinin yang enak!" seru Hanan kerepotan sendiri lantaran Icha merajuk.
__ADS_1
"Nggak mau, Papa jahat! Aku mau sama mama!" sahut Icha menangis mogok sekolah.