Jodohku Mas Duda Jutek

Jodohku Mas Duda Jutek
Bab 55


__ADS_3

Dengan langkah gontai Nahla pindah ke kamar utama. Suaminya mengekor pelan tepat di sampingnya.


"Istirahat Mbak sudah malam!" seru Hanan pada kakaknya yang masih bersantai di ruang keluarga bersama suaminya.


"Icha sudah tidur?" tanya Ajeng belum beranjak.


"Sudah Mbak, kami ke kamar dulu ya," sahut Nahla mengantuk berat.


Sampai di kamarnya, Nahla langsung merebah. Diikuti suaminya sembari menarik selimut untuk keduanya.


"Dek, ngantuk banget ya," bisik pria itu mendekapnya dalam pelukan.


"Iya Mas, jangan usil!" tegur perempuan itu menyingkirkan tangan Hanan yang mulai aktif.


Pria itu menghela napas pelan, sebenarnya belum mengantuk dan lumayan kangen, tetapi sepertinya istrinya itu sedang tidak mau diajak kompromi. Alhasil semalaman pria itu tidak bisa tidur. Sudah mencoba untuk merem, tetap saja hasilnya tetap tidak mengantuk.


Hanan kembali bangkit dari pembaringan. Mengacak rambutnya frustrasi.


"Kamu tega banget sih Dek, tidur nyenyak gitu tanpa mikirin aku yang bahkan nggak ngantuk," keluh pria itu nelangsa sendirian.


Keluar kamar bertepatan dengan Mas Abi yang juga keluar dari kamar sebelah.


"Eh, Nan, belum tidur?" tanya Abi berjalan hendak mengambil air mineral.


"Belum ngantuk Mas, Mas Abi sendiri kenapa belum tidur?" tanya Hanan balik.


"Ini mau tidur, ambilin minum dulu buat kakakmu kasihan kehausan."

__ADS_1


"Hah! Kehausan?" tanya pria itu nampaknya langsung paham saja.


"Eh, maksud aku, haus," jawabnya nyengir. Berlalu tanpa banyak drama.


Hanan keluar sebentar, mencari angin segar. Berharap setelah beberapa menit mengantuk. Kembali masuk menyalakan TV, nihil, hasilnya belum juga mengantuk. Pria itu beranjak ke kamar, menemukan istrinya terjaga dari kamar mandi.


"Dari mana Mas? Kok belum tidur?" tanya Nahla kembali menempati ranjang. Kemudian berbaring, menarik selimutnya kembali melanjutkan mimpi indah yang tertunda.


"Dari luar sebentar, aku nggak bisa tidur Dek, kepalaku agak pening," keluh pria itu.


"Minum obat dong Mas, jangan sampai sakit," ujarnya memberi saran.


Pria itu mendekat, sengaja membisikkan sesuatu.


"Obatnya cuma kamu, Dek," ujarnya menyusup manja. Bapak-bapak juga kalau lagi kumat manjanya ngalahin bayi.


"Dek, yang pening bukan kepala situ, tapi yang bawah, pijetin juga dong," ucap pria itu dengan tatapan memohon.


"Eh, lah kok, aku lagi capek banget. Bisa nggak kalau malam ini nggak dulu."


Hanan terdiam dengan wajah mrengut. Tentu saja tidak mengiyakan. Kepalanya sudah pening dari tadi.


"Aku nggak bisa tidur," ujarnya sembari memijit pelipisnya.


"Ya udah sini, tapi ak—" Belum sempat merampungkan perkataannya, Hanan langsung menubruk bibir istrinya penuh damba. ******* habis tanpa sisa, mencecap, mengabsen ke seluruh sisi.


"Mas," ucapnya terengah hampir kehabisan napas.

__ADS_1


Pria itu membiarkan istrinya mengambil oksigen beberapa saat, sebelum akhirnya kembali memagut kedua kalinya dengan cecapan yang lebih menuntut, dalam, dan liar.


Nahla sendiri mulai pasrah dan membalas dengan penuh hasrat. Rasa kantuk yang sempat membelenggu dirinya lenyap sudah berganti dengan dengan napas yang saling memburu. Keduanya beradu dalam manisnya madu cinta berselimut asmara.


Malam itu, melodi cinta kembali menggema. Mengisi ruang indah di hati keduanya. Seiring dengan bisikan cinta menembus batas nirwana. Keduanya kembali menyatu dalam satu peluh.


"Mas, jangan gini, aku kurang nyaman," protes Nahla berpindah posisi. Pria itu mengiyakan, membiarkan istrinya menguasai ruang agar selalu nyaman.


"Apa seperti ini membuatmu tidak nyaman?" tanya pria itu memastikan dengan benar.


"Sepertinya ini pas Mas, jangan kenceng-kenceng," tegur perempuan itu mewanti-wanti.


Pria itu mengangguk paham. Kembali membimbingnya agar petualangan malamnya kembali memberi warna. Sensasi madu cinta yang tak terbantahkan. Membuat kedua insan itu semakin mengeratkan pelukan di dalam selimut tipis mereka.


"Makasih sayang," ucapnya lega. Serasa pening di kepala terkikis sudah berganti dengan bahagia dan perasaan plong.


Binar senang pun langsung muncul di wajahnya, rasa kantuk langsung menghampiri seiring tenangnya hati.


"Iya Mas," jawab Nahla bangkit dari pembaringan perlahan. Turun dari ranjang berjalan hati-hati menuju kamar mandi.


Usai bersih-bersih giliran Nahla yang tidak bisa tidur, sementara Hanan terkantuk-kantuk.


"Istirahatlah ... capek kan?" Pria itu mendekapnya dengan sayang. Tak lupa satu kecupan selamat malam tersemat di ujung kata. Baru terlelap dengan damai.


"Mas, kamu udah tidur? Kok cepet banget, aku nggak bisa tidur," rengek Nahla gantian tidak mengantuk. Sementara yang diajak mengobrol sudah lelap mengarungi mimpi.


"Ya ampun ... beneran udah merem," ucap Nahla kembali memejamkan matanya. Cukup lama perempuan itu kembali mengantuk, dan entah jam berapa ia benar-benar terjaga.

__ADS_1


__ADS_2