
Keesokan paginya, Hanan terjaga lebih dulu. Pria itu sengaja membangunkan istrinya yang nampak pules. Namun, sepertinya Nahla tak menggubris. Drama bumil pagi ini sungguh membuat bapak satu anak itu kerepotan sendiri.
"Dek, bangun Dek!" Pria itu mengguncang pelan bahunya. Tidak ada respon, membuatnya iseng mencumbunya dengan sayang. Namun, hasilnya di luar ekspektasi.
"Mas, kamu tuh kenapa sih mesum banget! Semalam minta, pagi rusuh, ya ampun ... bapak-bapak ngeselin beud!" omel Nahla sembari menggeplak pundak suaminya dengan gemas.
"Aku udah bangunin pelan nggak mau, salah ya kalau pagi-pagi ngantup bibir istri sendiri," ujarnya santai.
"Salah lah ... aku hampir kehabisan napas. Nggak jelas banget. Dasar mesum!" Nahla turun dari ranjang langsung melesat ke kamar mandi begitu saja. Perempuan itu sepertinya lupa membawa handuk. alhasil terpaksa meminta tolong suaminya walau tengah merajuk.
"Mas! Mas!" seru perempuan itu menyembulkan kepalanya saja dibalik pintu.
"Apa Dek?" tanya Hanan mendekat.
"Tolong handuk, aku lupa," kata perempuan itu membuat Hanan menghela napas pelan.
"Owh ... aku kira kenapa. Bentar ya sayang," ujar Hanan berbalik. Mengambil handuk bersih dari lemari.
Usai mandi, Nahla langsung berganti dengan pakaian seragam kerjanya. Namun, sepertinya sudah mulai kekecilan. Alhasil perempuan itu mengganti dengan pakaian gamis longgar yang jelas mengcover tubuh Nahla yang makin melebar.
"Eh, belum beranjak Dek?" tanya Mas suami ikut mendekat.
"Seragam dinas aku kekecilan semua Mas, sekarang aku gendut ya?" tanya perempuan itu membuat Hanan harus pintar mengolah kata yang pas untuk menjawabnya.
"Bukan gendut sayang, tapi berisi. Namanya juga lagi hamil jadi wajar. Cantik banget kok, apalagi senyum," seloroh pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Jadi maksudnya kalau nggak senyum aku jelek gitu?"
"Eh, b-bukan! Kamu paling cantik Dek," ujarnya mendadak serba salah.
Ya ampun ... sabar Hanan, bumil sensi banget sih!
Nahla tidak menimpali lagi, perempuan itu berlalu dari kamar usai berganti baju. Menuju dapur hendak membuat sarapan. Sebelumnya lebih dulu ke kamar Icha membangunkan putrinya. Setelah menyediakan seragam Icha, Nahla bersiap menyiapkan sarapan pagi.
Perempuan itu membuat sandwich isi yang simple fan mudah untuk pagi ini. Icha juga suka jadi antusias untuk membuatnya.
"Itu kopi kamu, Mas," tunjuk Nahla pada mug yang masih mengepulkan asap.
"Iya makasih, kamu nggak buat susu?" tanya Hanan demi melihat istrinya absen pagi ini menyeduhnya.
"Eh, minta dibuatin ceritanya. Ngomong dong dari tadi biar aku ngerti," ujar pria itu langsung bergegas dari kursi. Menyeduh susu hamil, lalu menyiapkan di depan istrinya.
Icha yang melihat perhatian ayahnya pun tersenyum senang. Mereka sarapan dengan khusuk tanpa banyak drama. Setelahnya, Hanan mengantar istrinya ke sekolahan, bersamaan Icha berangkat. Pulangnya perempuan itu akan dijemput orang suruhan Hanan yang sudah standby di tempat. Semenjak tahu kalau istrinya hamil, pria itu tidak mengizinkan Nahla membawa motor sendiri. Apalagi berjalan trimester kedua, Hanan makin protektif saja.
"Aku berangkat kerja ya, kalau ada apa-apa kabari," pesan pria itu setelah menurunkan istrinya.
"Iya Mas, hati-hati juga di jalan!" ucap Nahla melambaikan tangannya.
Waktu terasa cepat berlalu, hampir setiap pagi pria itu dengan telaten mengantarkannya. Tidak membiarkan istrinya membawa kendaraan sendiri. Setiap pulang sekolah, Nahla juga sudah dijemput. Namun, kali ini Hanan sendiri yang menyempatkan menjemputnya.
"Loh, kok kamu yang jemput. Tumben pulang cepet?" tanya Nahla sedikit kaget.
__ADS_1
"Setengah hari, katanya mau mampir ke mall beli peralatan bayi," ujarnya mengingatkan. Nahla belum nyicil apa pun, menurut pengamatan Bu Kokom ibunya, sebaiknya membelinya setelah berjalan tujuh bulan. Jadi, Nahla baru beli sekarang. Nurut saja apa kata orang tua, selama demi kebaikan si utun.
"Kita pulang dulu Mas, ajak Icha sekalian biar seru. Simbok juga sekalian belanja bulanan. Kebetulan stock di rumah sudah mau habis," ujarnya menglist daftar kebutuhan dapur yang hampir habis.
"Jadi ini pulang dulu," ujar Hanan meminta pendapatnya.
"Iya, aku juga mau ganti, gerah!" sahut perempuan itu yang semakin kurang nyaman saja berpakaian selain daster. Hamil besar memang cukup repot. Kendati demikian, Nahla belum mengambil cuti, lebih memilih nanti saja cuti setelah melahirkan.
"Oke, senyamannya kamu saja," jawab Hanan lebih dulu mengiyakan pendapat istrinya. Mood istrinya modian, jadi ia harus ektra sabar menghadapinya. Walaupun kadang di luar nalar pada umumnya, biarlah ibu hamil bahagia dengan caranya.
"Asyik ... nge-mall .... Icha boleh main nggak Ma?" ujar gadis kecil itu kesempatan yang jarang. Kesibukan kedua orang tuanya, kadang membuat waktu Icha bersamanya sangat terbatas.
"Boleh dong, Icha juga boleh minta apa pun sama papa. Iya kan Mas?"
"Iya, apa sih yang nggak buat kalian," ujarnya mengiyakan setiap perkataan istrinya.
"Tuh kan, papa baik, Icha mau apa?"
"Apa ya, aku mau main aja," ujarnya kegirangan.
"Kamu mau beli apalagi Dek? Diingat dulu mumpung masih di sini?" tawar pria itu berusaha memenuhi semua keinginan istrinya. Walau kadang sedikit membingungkan, dan bahkan membuatnya shock seketika.
"Sepertinya aku ingin perhiasan beserta tokonya Mas, bagaimana?"
"Hah!" Pria itu melotot tak percaya. Yang benar saja, kalau beli beberapa perhiasan masih dinalar, tetapi kalau tokonya apa ini kemauan bumil sungguh wajar.
__ADS_1