
Setelah dirawat tiga hari tiga malam di rumah sakit. Nahla dan bayinya terlihat sehat dan bisa pulang hari ini juga. Tentu saja itu kabar bahagia yang tak terkira. Begitu pun dengan Icha yang sudah menunggu di rumah dan selama tiga hari ini dibantu neneknya diurus. Karena kasihan, Bu Kokom yang bertugas menemani cucu sambungnya itu setiap malam.
"Nek, kenapa adek dan mama belum muncul-muncul, katanya pulang sekarang, nggak jadi ya?" Icha menunggu dengan tidak sabar. Gadis kecil itu sangat berantusias menyambut adik bayinya. Bukan hanya itu, ia juga rindu dengan ibu sambungnya yang begitu menyayangi Icha.
"Sabar ya, mungkin sebentar lagi, tadi kan papa udah ngabari. Semoga hari ini beneran bisa pulang," ujar perempuan setengah abad itu menenangkan cucunya.
Saking antusiasnya, Icha dan juga Bu Kokom berdasarkan intruksi dari Hanan yang sempat pulang beberapa kali menjenguk putrinya di rumah. Menyiapkan sambutan spesial di rumahnya. Sengaja mendekorasi ruangan kamar yang akan diperuntukkan untuk baby boy mereka.
"Icha bobok siang dulu, nanti kalau udah pulang nenek bangunin," ujar Bu Kokom merasa kasihan juga.
"Jangan, nanti aku ketinggalan moment penyambutan. Pasti adiknya sangat lucu seperti difoto." Icha mengingat beberapa gambar adik kecilnya yang dikirim ayahnya.
Bu Komariah pun mencoba menghubungi menantunya kembali. Pria itu memang tengah perjalanan pulang dari rumah sakit, tetapi tersendat macet di jalan.
"Siapa, Mas? Ibuk?" tanya Nahla yang duduk di sampingnya.
"Iya, Icha udah nungguin dari tadi," jawab Hanan menoleh sekilas lalu fokus ke jalan. Perlahan berjalan maju walau sedikit demi sedikit lantaran tersendat macet.
"Ini macet kenapa sih Mas?" Nahla terlihat tidak nyaman dan ingin segera sampai rumah.
"Kurang tahu, tapi banyak polisi di depan, mungkin ada kecelakaan," tebak pria itu menduga-duga.
Waktu yang harusnya ditempuu kurang dari setengah jam, tiba di rumah hampir satu jam lebih lantaran mobil terjebak kemacetan.
"Alhamdulillah ... akhirnya sampai juga," ucap Hanan dan Nahla hampir bersamaan.
Pria itu turun lebih dulu setelah memarkirkan mobilnya dengan benar. Membukakan pintu untuk istrinya.
"Pelan-pelan sayang, sini biar aku gendong, kamu enak jalan nggak?"
__ADS_1
"Aman Mas, udah sehat kok," jawab Nahla tersenyum tenang.
"Mama! Icha kangen!" Icha yang mendengar mobil ayahnya memasuki halaman rumahnya langsung berhambur keluar. Berlari dengan begitu antusias menyambutnya.
Bu Kokom mengekor dari belakang, langsung tersenyum senang begitu mendapati putrinya sampai rumah.
"Alhamdulillah cucu ibuk udah sampai, sini ibuk gendong," ujar Bu Kokom langsung mengambil alih Kai dari gendongan mamanya. Kai adalah nama panggilan putra mereka. Kaisar Putra Ramahendra.
"Ayo sayang, pelan-pelan!" Hanan menginterupsi istrinya yang berjalan pelan memasuki rumahnya. Sementara pria itu mengeluarkan semua barang dari mobil, beberapa pakaian kotor dan juga barang-barang yang baru dibawa.
"Mbok, tolong itu masukin semua, yang dikresek hitam itu pakaian kotor," ujar Hanan pada art rumahnya.
"Siap Pak," jawab mbok membantunya.
Hanan berjalan cepat menyusul istrinya yang masih berjalan di undakan tangga. Pria itu membawa tas pribadi Nahla dan keperluan baby mereka.
"Kuat jalan sampai atas nggak?" tanya Hanan sudah tiba di belakangnya.
"Gendong ya," ujar pria itu perhatian.
"Nggak usah, masih kuat kok," jawab Nahla yakin. Dirinya merasa sudah sehat, hanya perlu istirahat saja memulihkan paska melahirkan.
"Selamat datang di kamar Kai," ucap Hanan membuka pintu kamarnya.
"Wah ... kejutan sekali Mas," ujar Nahla terharu. Masuk ke kamar dirinya yang sudah ditinggalkan tiga hari lalu juga nampak begitu indah dengan dekorasi yang tak kalah spesial.
"Kamu kerajinan amat bikin ginian Mas," ujar Nahla tersenyum senang.
"Ya nggak pa-pa, namanya juga moment langka. Biar pun yang pasti nyuruh orang. Hehe."
__ADS_1
Nahla langsung menempati ranjang setelah lebih dulu mencuci tangannya di kamar mandi. Merasa sangat bersyukur sudah sampai di rumah lagi dengan status barunya. Rasanya terharu dan masih seperti mimpi sudah melewati fase itu.
"Istirahat saja, kamu masih kelihatan lemas." Hanan mengambilkan air putih hangat, lalu memberikannya pada istrinya.
"Makasih Mas, tahu aja kalau aku haus," ucap Nahla merasa sangat bersyukur. Suaminya begitu telaten mendampinginya.
Sementara bayi mereka sudah ditidurkan di box lantaran bobok.
"Ma, adek Kai lucu ya, gemes," ujar Icha tak mau jauh. Terus diam di sampingnya. Menunggui dengan anteng, bahkan sampai terkantuk-kantuk.
"Icha, sini bobok sebelah mama, nanti bertiga sama adik," ujar Nahla membuat Icha kegirangan. Langsung mendekat penuh minat.
"Emangnya dibolehin sama papa ya Ma?" jawab Icha membuat Nahla bingung.
"Boleh kok, emang kapan nggak bolehnya."
"Papa suka nggak ngebolehin," ucap gadis kecil itu jujur sekali. Nahla langsung menatap suaminya penuh pertanyaan. Hanan sendiri hanya tersenyum sembari menggeleng pelan. Terciduk basah bahwa suka memberi kode demikian pada putrinya.
"Boleh kok, cuma Icha kan sudah besar, takutnya nanti kalau tidur sama mama ganggu, kamu tidurnya rusuh mana mama kemarin masih mengandung, takutnya mama nggak nyaman,", jelas Hanan sungguh kurang memuaskan.
" Jahat banget sih Mas, kasihan Icha," kata Nahla melirik kesal suaminya yang nyengir tanpa dosa.
"Ya kan kemarin lagi butuh berdua, kalau Icha ngikutin gimana nasibku sayang," lirih Hanan penuh pembelaan.
"Jadi nanti aku tidur sama mama ya, adik juga. Papa di mana?"
"Papa di sini juga dong, ikut," jawab Hanan cepat.
"Dek, waktunya minum obat, harus makan dulu." Hanan mengingatkan agar istrinya cepat pulih.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Nahla mengiyakan. Hanan bukan hanya mengingatkan tetapi juga menyuapi istrinya dengan telaten.
"Aku makan sendiri aja Mas, malu ada ibuk," ujar Nahla merasa lucu. Sudah tua jadi ibu masih disuapin dengan manja.